Still Love You

Still Love You
Part.96


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu Dalia makin betah di rumah Sam dan bermain dengan sang anak, namun berbeda dengan Sekar dia tak suka melihat Dalia. Sampai sang suami pak Aryo ayah Sam pulang Sekar tak menyambut sang suami.


"Kenapa sih bu?" tanya pak Aryo.


"Gak papa," jawabnya dengan ketus.


"Ibu ini, gak papa, gak papa. Tapi wajahnya di tekuk gitu kaya orang belum gajian," ledek pak Aryo.


"Ish... Ayah ni yah, ibu kesel liat cucu kita deket sama ibunya. Harusnya dia gak mau deket-deket sama ibunya," omel bu Sekar.


"Kok gitu sih bu ngomongnya? Malah bagus loh! Kalo Dalia mau ketemu anaknya, siapa tau dia mau jadi mantu ibu," goda pak Aryo.


"Hii.... Ayah ni," kesal bu Sekar, dia pun meninggalkan sang suami pergi ke dapur. Sementara pak Aryo sudah tertawa pelan.


Dia menatap ke ruang tamu, dimana Dalia dan Yona bermain. Sedangkan Sam hanya memperhatikannya saja.


"Mudah-mudahan kebahagiaan menghampiri mu nak," gumam pak Aryo.


Sebagaimana orang tua pada umumnya, dia pun mau yang terbaik untuk sang anak. Bukan hanya Sam, tapi untuk Haidar pun sama.


***


Malam pun tiba, Liana yang mendapat pesan untuk pulang cepat pun menurut. Biasanya dia pulang pukul sembilan malam, karena merasa nyaman di kantornya sendiri.


Dan sekarang dia sudah berada di rumah tepat pukul tujuh malam, dan acara lamarannya akan di adakan pukul sembilan malam.


"Ada apa sih mom?" tanya Liana, saat baru sampai dan melihat Hana yang sibuk di dapur.


"Kejutan buat kamu," balas Hana, kemudian dia sibuk mengecek kembali makanan yang sudah siap, di bantu oleh Ema asisten rumah tangganya.


"Ihh... Mommy," kesal Liana.


"Dari pada kamu disini lebih baik kamu bersiap Li, pake pakaian yang cantik dan bagus. Oh.. Jangan lupa dandan yah!" perintah Hana.


"Memang ada apa sih mom?" tanya Liana penasaran.


"Udahlah kamu gak usah tau, sana ke kamar." Usir Hana.


"Mommy tega banget sama aku," ketus Liana.


Liana pun naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Dia melihat ada Anisa dan Rania.


"Aduh sebenarnya ada apa sih?" gumam Liana, saat sudah sampai Liana melihat Devara.


"Dev," panggil Liana.


"Ya apa?"


"Ada apa sih di bawah? Kok ada tante Anisa, sama tante Rania? Ada acara apa coba?" tanya Liana.

__ADS_1


"Ada deh kepo," balas Devara, dia pun memiliki ide untuk menjahili Liana.


"Lo tau gak? Kalo ka Rumi mau datang lamar lo," bisik Liana.


"Apa?" pekik Liana.


"Serius lo? Gak bohong kan?" cercanya.


"Lo bisa liat, muka gue muka bercanda apa muka serius?"


Liana menatap Devara yang tanpa senyum sama sekali, dia menatap ke dalam mata Devara. Tapi tak ada kebohongan, Devara tertawa dalam hati senang sekali rasanya menjaili sang kakak kembarnya. Ada rasa sedih jika nanti dia harus berpisah dengan Liana, walau mereka tak akur tapi Devara begitu menyayangi Liana.


"Udah ah, gue ke bawah dulu. Bentar lagi mereka datang," ujar Devara.


Devara pun meninggalkan Liana sendiri, yang mematung di ujung tangga. Dia tak percaya bahwa Rumi akan melamarnya, dia pun tak merasakan debaran saat bersama Rumi.


"Bagaimana ini? Apa aku kasih tau Justine saja ya?"


Liana pun masuk ke dalam kamar, dia akan bersiap. Tapi merasa tak semangat saat ponsel Justine tak aktif.


"Astaga Ya Tuhan, kenapa dia gak aktif sih?" kesal Liana.


"Memangnya ka Rumi mau menikah tanpa cinta sama aku?"


Tak terasa Liana pun terlelap, bukannya pergi mandi dia malah tidur. Dengan perasaan sedih yang mendalam, sementara di bawah Gemy, dan Radit sudah berada di ruang tengah menyambut Justine dan Indira yang sebentar lagi sampai.


"Sayang coba liat Liana, takut dia ketiduran." Ujar Indra, dan Hana pun mengangguk.


"Liana," panggil Hana dengan keras, dan mengetuk pintu kamar Liana.


"Astaga anak itu, apa jangan-jangan dia tidur?"


Hana membuka pintu kamar Liana, beruntung kamar tersebut tak di kunci. Hana menggelengkan kepala menatap Liana yang tertidur, masih dengan pakaian tadi pagi.


"Astaga Liana," pekik Hana.


Membuat Liana menggeliat dan menatap Hana, suara Hana yang cukup keras membuatnya terbangun. Dia baru tidur sekitar tiga puluh menit.


"Ada apa sih mom?" tanya Liana dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ada apa, ada apa? Mommy bilang tadi apa coba?" kesal Hana.


"Aku gak mau ahh mommy, aku gak mau nikah sama orang yang gak aku cinta." Protes Liana.


Membuat Hana mengeryit bingung.


"Maksud kamu apa?"


"Aku tau mom, di bawah ka Rumi bakal lamar aku kan?" tanya Liana, Hana langsung paham anaknya ini tak tahu jika Justine lah yang akan melamar.

__ADS_1


"Aku tau dari Devara," lanjutnya lagi.


Hana mengulum senyum sekali-kali dia pun ingin mengerjai sang anak.


"Ya mau gimana lagi? Kamu terima aja, nanti juga bakal jatuh cinta." Ujar Hana.


"Mommy," rengek Liana.


"Cepat mandi ah."


Hana mendorong Liana masuk ke dalam kamar mandi, setelah memastikan Liana mandi. Hana menyiapkan bajunya, kemudian dia duduk di ranjang Liana.


Sepuluh menit kemudian, Liana sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia menatap Hana dengan cemberut, dan melirik baju yang sudah di siapkan.


"Mommy," rengek Liana lagi.


"Apa sih? cepat pakai baju mu, mommy akan merias wajah mu," ujar Hana.


Dengan wajah cemberut, dengan terpaksa Liana menuruti apa kata Hana. Dia pun kini sudah duduk di depan meja rias, Hana memoleskan bedak tipis dan lipstik berwarna bibir.


"Nah sudah selesai, pasti bakal terpesona. Walau make-up kamu sederhana," kekeh Hana, sementara Liana memutar bola mata malas.


"Ayok turun ahh," ajak Hana kemudian, dia pun menggandeng tangan Liana.


Terdengar suara riuh dari bawah.


"Pasti mereka sudah datang." Ujar Hana.


Namun Liana tetap diam, sampai lah dia di ruang tamu rumahnya. Dia di buat bingung karena kehadiran Justine.


"Kenapa Justine ada disini?" bisik Liana dalam hati, Liana pun mengedarkan pandangan dan tak mendapati Rumi dan keluarganya.


Dia pun memincingkan mata pada Devara, yang tertawa.


"Kurang ajar si Devara," geram Liana.


Dia pun menatap Hana, yang bertanya lewat isyarat mata. Namun Hana menyapa Indira, Liana pun duduk di dekat Hana dan Indra.


"Maaf cuma saya selaku orang tuanya, ayahnya saya belum beritahu." Ujar Indira.


"Tidak apa-apa Indira," sahut Indra.


"Mari kita mulai saja," ujar Radit, selaku pembicara perwakilan dari Indra. Sedangkan Gemy di minta untuk mewakili Justine.


Mahesa sendiri mengetahui tentang lamaran sang anak, namun Justine dengan tegas mengatakan pada Mahesa jangan datang. Karena tak ingin menyakiti hati keluarga Indra, apalagi Dalia yang sudah hampir merusak rumah tangga Indra dan Hana. Dan Mahesa pun dengan pasrah hanya menurut, dan dia diam termenung di ruang kerjanya.


Semoga suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


Jangan bosen, kalo ada cerita Sam sama Dalia yah 🤗


__ADS_2