
Pagi harinya Hana terlihat biasa, dia tidak ingin Devara dan Lian mengetahui permasalahan dirinya. Dia mempersiapkan pakaian Indra seperti biasa, dan melakukan kegiatan di dapur bersama Ema.
Nanti siang dia akan melakukan rencananya sendiri, sepengetahuan siapa pun.
"Mommy... Mommy, tolong aku," teriak Lian, berlari ke arah Hana.
"Kenapa sayang?"
"Ini aku gak bisa pasang tali sepatu mom,"
"Kamu nih, udah besar loh masih aja gak bisa pake tali sepatu," cibir Liana, dari arah tangga.
Di susul Devara dan juga Indra.
"Biar dong, aku masih kecil." Protes Lian, pada Liana.
Saat duduk di meja makan, Liana tak menatap Indra sama sekali. Dia masih kesal jika ingat foto tersebut.
"Liana, kamu berangkat bareng papah yah!"
"Engga usah Pah, aku bareng Deva aja." Tolak Liana.
Membuat Indra menghembuskan napasnya panjang, dia melirik Hana yang sibuk memakaikan sepatu pada sang anak. Suasana yang kaku menurut Indra, dia mengambil sarapannya sendiri.
****
"Hari ini aku pulang malam," kata Radit, pada Rania.
"Iya," balas Rania.
Radit menatap Rania, yang semakin hari semakin cantik. Tentu karena perawatan yang dia lakukan.
"Terima kasih ya!"
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semuanya, terima kasih sudah menemani ku selama kurang lebih dua puluh tahun ini. Dan terima kasih telah memberikan anak-anak yang cantik dan tampan," ujar Radit, membuat Rania terkekeh.
"Itu sudah tugas ku, kalau aku dulu kamu gak selametin aku. Mungkin keadaannya gak seperti ini."
__ADS_1
"Ya kamu benar,"
Radit memeluk Rania, dan mencium kening sang istri.
"Aku nanti ke rumah Anisa, pulang sekolah." Beritahu Rania.
"Iya, hati-hati. Maaf tidak bisa menjemput mu."
"Gak papa,"
Rania dan Radit pun menuju lantai satu, dimana Sierra dan Kaili sudah menunggu.
"Mamah lama banget sih!" rajuk Kaili.
"Maaf sayang, mamah harus membantu papah mu."
"Huh... Papah sudah besar, gak harus di bantu." Ketus Kaili.
Sierra hanya terkekeh melihat tingkah lucu sang adik. Keluarga Radit pun memulai sarapan bersama.
"Non, di depan ada den Darel." Kata Bi Mirna.
"Pagi om," sapa Darel.
"Pagi sekali kamu datang, sudah sarapan? Ayok duduk." Ajak Radit.
"Iya om, ada yang harus aku dan Sie kerjakan."
Darel pun duduk di kursi dekat Kaili, dan menerima satu gelas susu dan roti selai coklat. Sebenarnya dia sudah sarapan di rumah, tapi namanya rezeki jangan di tolak begitulah pikirnya.
****
Setelah semua pergi, Hana bersiap untuk membuntuti Indra. Dia akan membuktikan bahwa Indra tak pernah macam-macam.
Beberapa jam Hana menunggu di dalam mobil, dia pun menyuruh Ema menjemput Lian.
Tak lama mobil Indra pun keluar dari halaman, lalu Hana mengikutinya dari jarak aman. Dalia yang mengetahui mereka di buntuti pun hanya tersenyum miring.
"Mungkin saatnya," batin Dalia tersenyum miring.
__ADS_1
Berpuluh menit kemudian, Hana sampai di sebuah hotel.
"Ngapain Indra ke hotel?"
"Dalia." Ucapnya tak percaya, saat melihat Indra turun di ikuti Dalia.
"Jadi selama ini, engga gak mungkin."
Hana pun pergi meninggalkan hotel tersebut, dia ingin menenangkan diri dari apa yang dia lihat. Dia belum berani mengikuti lebih jauh lagi, sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya.
"Kenapa tidak mengikuti kami? Takut gak bisa nerima kenyataan yah?"
"Kurang ajar," geram Hana, dia menangkan diri menuju sebuah taman.
Sedangkan di hotel, Indra nyatanya bertemu dengan pemilik tempat yang akan dia sewa. Dalia selalu menjanjikan pertemuan dengan semua orang di hotel, dan Indra pun tak curiga sama sekali.
****
Sementara di hotel, Indra juga bertemu dengan Radit yang akan melakukan pertemuan di hotel tersebut hingga malam.
"Dra, lo disini?"
"Dit, iya gue lagi ketemu sama klien."
Radit pun beroh saja, dia duduk sebentar mengobrol dengan Indra. Hanya sebentar kemudian pamit, tak lama Dalia pun sudah kembali dari toilet.
"Pak Sasono lama sekali Li, apa dia lupa?" tanya Indra.
"Bentar lagi katanya," Dalia menunjukan pesan dari pak Sasono.
Sementara itu Liana, tampak malas mengerjakan laporan kemarin. Dia rasanya ingin menuju Bangtan Area, dan memergoki Indra. Tapi tidak mungkin karena ini masih jam kerja, emosinya ingin di salurkan pada wanita itu.
"Aku membayar mu, tidak untuk malas-malasan." Ucap Justine dingin, membuat Liana memutar bola mata malas.
Sebentar lagi makan siang, Liana harus cepat mengerjakan laporan tersebut. Jika tidak dia tidak akan bisa istirahat, dan terkurung di ruangan si es batu ini.
Semoga Suka 💞
Maaf typo
__ADS_1