
Justine dan Rumi saling menatap tajam, membuat Liana jengah. Waktu makan siang yang akan habis sebentar lagi pun terpaksa dia percepat, niat hati makan berdua bersama Dera. Ehh malah makan siang bersama dua kulkas berjalan ini, Liana mendengus tak suka. Salahnya juga mengiyakan ajakan Rumi, dan melupakan janjinya dengan Dera.
"Cepetan abisin makanan lo, abis ini kita langsung balik ke kantor," bisik Liana pada Dera, Dera pun menurut dia menghabiskan makan siangnya.
"Nanti sore aku jemput Li," ucap Rumi.
"Gak bisa," sahut Justine cepat, pasalnya nanti sore dia akan mengajak Liana jalan-jalan dulu.
"Kenapa gak bisa? Memang lo siapa?" tanya Rumi sengit.
"Gue bosnya," jawabnya angkuh.
"Astaga," Liana mendesah lelah.
"Sudah-sudah, kalian ini kenapa sih. Aku pulang sama Devara," putus Liana. "Ayok Ra, makasih ka Rumi traktirannya," ujar Liana, dia pun menarik Dera yang selesai makan.
"Permisi pak," pamitnya.
"Liana tunggu," teriak Justine.
Justine pun mengejar Liana, dia melupakan pembayaran untuk makan siangnya.
"Sial! Gue lagi kan yang bayar," gerutu Vano.
"Biar saya saja, yang bayar." Ujar Rumi, dia pun menuju kasir dan membayar semua tagihan.
"Terima kasih, tuan." Ucap Vano, dan Rumi pun mengangguk.
Tiba di ruangannya, Justine membuka pintu dengan kasar. Membuat Dalia yang berada di dalam ruangan Justine terkejut.
"Kenapa kamu disini?" tanyanya pada Dalia.
"Memang kenapa?"
"Sudah katakan, apa mau mu?"
"Aku hanya ingin, mengunjungi adik ku. Memangnya gak boleh?"
Justine hanya mendengus sebal, dan duduk di kursinya. Dan melirik ke meja Liana.
"Kemana gadis itu?" batinya.
"Cepat katakan, ada apa? Kerjaan ku banyak,"
"Aku cuma minta tolong sama kamu, bantu perusahaannya Indra untuk mendapatkan investor," ucapnya.
"Indra? Ayahnya Liana?" tanya Justine.
"Ya, perusahaannya bergerak di bidang kuliner, dan kini dia ingin merambah di bidang Tour and Travel. Indra ingin mengembangkan bisnisnya, awalnya hanya kuliner kan? Dan dia merambat ke Tour and Travel. Dan aku tertarik untuk investasi di perusahaannya," jelas Dalia.
"Dan aku juga, tertarik pada orangnya," batinnya kemudian tersenyum samar.
"Kenapa kamu repot-repot membantunya?"
"Aku membantunya sebagai teman,"
"Kamu lupa Dalia, dia memiliki sahabat yang semuanya sukses. Kenapa harus kamu yang repot?"
"Sudahlah, kalo kamu gak mau bantu." Kesalnya, berlalu meninggalkan ruangan sang adik.
Tanpa mereka tahu, Liana mendengar di balik pintu. Saat mendengar langkah kaki, dia cepat-cepat sembunyi. Liana menghembuskan napasnya secara kasar, papahnya menyembunyikan ini semua. Bahkan Hana pun tak tahu, jika Indra merambat ke bisnis lain. Dan berkerja sama dengan wanita lain. Kenapa Indra tak meminta bantuan sahabat-sahabatnya? begitu pikir Liana.
Memang Indra bergelut di bidang kuliner, dan Hana membuka usaha toko bunga. Liana tak tahu jika papahnya tersebut, membuka bisnis lain bersama Dalia.
__ADS_1
Nanti Liana akan menanyakan pada Indra, Liana menatap lurus ke depan.
"Saya membayar mu, bukan untuk melamun," sindir Justine, membuat Liana langsung mengerjakan pekerjaannya.
***
Setelah Hana menjemput Lian, dan mampir ke toko bunga. Dia langsung pulang, karena tidak ada kepentingan yang lain.
Tapi entah kenapa di pertengahan jalan, dia ingin melihat perusahaan yang Indra bangun, dia memutuskan untuk mampir ke Bangtan Area. Usaha yang di tekuni Indra merujuk ke masakan khas Korea, dan Nusantara. Ada juga oleh-oleh khas negara Korea, dan pernak-pernik tentang BTS. Awalnya hanya satu tapi kini Indra berhasil membuka beberapa cabang usaha.
Tak butuh waktu lama, Liana sudah berdiri di depan gedung yang terdapat empat lantai. Masih sedikit karena perusahaan Indra tersebut dia bangun dari nol. Awalnya menyewa, namun lambat laun dia membelinya dengan menyicil.
Dan saat Hana bertanya, kenapa usahanya di beri nama Bangtan. Jawaban Indra membuatnya tertawa, karena Hana suka BTS dan BTS banyak di gemari kalangan muda mudi. Begitulah jawabnya dan jadilah namanya Bangtan Area.
Hana berjalan masuk ke lantai satu, dimana terdapat semacam cafe dan juga pusat oleh-oleh. Di lantai dua pun masih tempat makan jika penuh di lantai satu, kemudian di lantai tiga untuk pertemuan atau acara. Sedangkan ruangan Indra berada di lantai empat dengan para karyawan lainnya, dan tempat mereka beristirahat.
"Bu Hana," sapa Rima, salah satu orang kepercayaan Indra masih teman SMA hanya beda jurusan saja dulu.
"Hai, Rim. Apa kabar?"
"Baik bu, sudah lama ibu gak kesini yah."
"Rim jangan panggil ibu lah, kita kan teman." Ujar Hana.
"Baiklah Hana, aku gak enak kamu kan istrinya bos ku Indra," kekeh Rima.
"Kamu nih bisa aja, oh ya. Indra ada?"
"Ada di dalam, tapi lagi ada tamu." Kata Rima.
"Oh... Ya sudah, aku tunggu saja."
"Mommy aku lapar," rengek Lian.
"Ohh.. Astaga maafkan mommy sayang, mommy lupa."
Mereka duduk di dekat jendela yang menghadap keluar, Rima memesan pesanan lewat aplikasi yang tersedia di sana. Mirip dengan cafe milik Keanu.
"Ohh.. Ya Rim, tamunya cewek atau cowok?" tanya Hana, entah kenapa dia jadi kepo.
"Cewek, dia sering datang ke sini." Kata Rima.
Hana dan Rima pun mengobrol banyak hal, tapi Rima tidak membicarakan tentang usaha baru Indra yaitu Tour and Travel. Mungkin Rima mengira Hana sudah tahu, pesanan mereka sudah datang Lian sangat antusias dengan makan khas Korea.
Saat Hana menatap ke luar, dia tak sengaja melihat Dalia yang baru saja masuk ke dalam mobil. Tapi dia berusaha menepis rasa yang tak mungkin benar.
"Papah," pekik Lian, Indra mendapatkan informasi dari karyawannya bahwa Hana ada di lantai dua.
"Kok kamu gak bilang sih, kalo mau ke sini?" tanya Indra.
"Memang kenapa? Apa aku menggangu mu?"
"Maksudnya?"
"Sudahlah lupakan," ketus Hana, Indra menghembuskan napasnya secara pelan.
"Ini untuk anak kita Hana, demi masa depan Devara, Liana dan Lian. Aku harus mempersiapkan masa depan anak-anak ku," batin Indra menatap Hana.
****
Sesuai janjinya Justine membawa Liana keluar dari kantor pukul tiga, beruntung ada pertemuan dengan salah satu klien penting. Harusnya Justine pergi dengan Vano, namun Justine meminta Vano mengerjakan pekerjaan Liana. Dan dirinya membawa Liana keluar.
Dan sekarang dia akan mengantarkan gadis itu pulang, dia memotret diam-diam Liana. Dan mengirim pada Rumi. Membuat Justine tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang pak?" tanya Liana, dia menatap jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul setengah enam.
"Bentar lagi, aku ingin jalan-jalan sebentar sebelum pulang."
Liana mendengus, dan mengikuti langkah bosnya tersebut. Astaga kakinya sudah pegal, karena memakai sepatu hak tinggi.
"Sejak satu jam yang lalu hanya jalan-jalan, pertemuan pun tak ada satu jam," gerutu Liana pelan.
Justine membawa Liana masuk kedalam toko baju pria, dia memilah milih yang cocok untuk dirinya. Dan baju-baju itu dia serahkan pada Liana.
"Astag, pak. Saya pegal," keluh Liana.
Justine membawa baju yang dia pilih, kemudian menuju kasir dan membayarnya. Setelah selesai dia mengajak Liana ke tempat pakaian wanita.
"Pilih," titahnya.
"Hah?"
"Ayok pilih, apa yang kamu mau. Bukan Hah... Hah!"
"Ba-baik pak,"
Liana pun memilih baju yang dia suka, tanpa memikirkan harga. Toh Justine yang membayar begitu pikirnya.
Liana membeli dua setel kemeja, berwana putih dan Dongker. Tak lupa membeli sebuah Blazer berwana coklat, dan hitam. Justine pun membayar belanjaan Liana, dan mengajaknya pulang.
Satu jam kemudian, Justine sudah sampai di kediaman Liana.
"Terima kasih pak," ucapnya setelah keluar dari mobil.
"Ya," jawabnya singkat.
Justine pun meninggalkan kediaman Liana, saat Liana berbalik datang mobil yang dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Rumi.
"Astaga satu lagi," gumamnya.
"Ka Rumi, tumben. Mau ketemu Deva yah?" tebak Liana.
"Bukan, aku mau ketemu kamu." Katanya dengan nada datar.
"Hah?"
"Ayok masuk ka," ajak Liana, tersadar dari keterkejutannya.
Liana sungguh pusing, dengan kelakuan ajaib Justine dan Rumi akhir-akhir ini. Setelah menyuruh Rumi menunggu dan meminta asisten membuatkan minum, Liana pamit untuk bersih-bersih terlebih dulu.
"Mom," panggilnya, mengetuk pintu.
"Ada apa?" tanya Hana dengan wajah sembab.
"Mommy nangis?"
"Engga tadi abis nonton sinetron, jadi nangis." Kekehnya. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Ada Rumi, temani dia mom. Aku mau mandi dulu gerah, Devara mana?"
"Ohh tumben dia, kesini! Devara main futsal tadi."
"Oh.. Ya sudah aku ke kamar dulu,"
Hana pun mengangguk dan berlalu menuju lantai satu, Liana menatap punggung Hana. Dia tahu Hana menangis bukan karena sinetron.
Semoga suka 💞
__ADS_1
Maaf typo
Makasih kepada yang masih mau baca cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak. Makasih 🙏