Still Love You

Still Love You
Part.58


__ADS_3

Rasa cinta ku lebih besar, dari pada rasa benci ku. Selemah itu memang aku.


Begitulah yang Rania rasakan saat ini, dia selalu lemah jika berhadapan dengan Radit. Mungkin dia adalah orang paling bucin di dunia.


Radit memeluk Rania, di tengah-tengah pintu yang terbuka. Untuk pertama kalinya Radit menangis, dia terus menggumamkan kata maaf berulang kali dan mencium sisi kepala Rania.


Rania bergeming, dia ingin membalas pelukan Radit. Namun dia teringat bahwa Radit pernah memeluk wanita lain, sekuat tenaga dia ingin menahan air matanya. Namun tak bisa akhirnya luruh juga, dia menangis terisak.


"Maafkan aku Rania, jangan menangis." Radit berusaha menenangkan Rania yang menangis.


Radit melepaskan pelukan mereka, dia menghapus air mata di pipi Rania.


"Kamu masih mencintai Hana kan? Jika iya, maka lepaskan aku, aku rela mas." Lirih Rania.


"Aku mencintai mu Rania, bukan Hana." Balas Radit, Radit pun memeluk Rania kemudian dia menatap Kaili dan Sierra yang berjalan ke arah mereka.


Namun Sierra membuang muka enggan melihat Radit, sementara Kaili dia berlari menghampiri Radit.


"Papah," pekik Kaili.


Radit pun menyambut sang anak, dan memeluknya.


"Aku kangen sama papah, jangan tinggalin aku lagi yah Pah!" pintanya dengan polos.


"Papah juga kangen sama kamu sayang, papah juga janji. Gak akan ninggalin kamu dan kakak," ujar Radit, menatap Sierra yang masih enggan menatapnya.


****


Di rumah sakit, Liana yang baru tiba pun langsung menuju ruang perawatan Indra. Dia membuka pintu dengan kasar, membuat Hana dan Justine menatapnya.


"Pak Justine, mommy." Gumam Liana.


"Liana," panggil Hana, Hana ingin memeluk sang anak. Namun Liana mundur awalnya Liana iba pada Hana, namun sikap Hana yang membuatnya jadi benci pada sang ibu.


"Sayang," lirih Hana.


"Aku kecewa sama mommy, mommy buat papah masuk rumah sakit lagi." Ujar Liana.


"Maafkan mommy sayang," mohon Hana.


Justine mendekati Liana dan menenangkannya, sedangkan Devara yang baru masuk langsung memeluk Hana.

__ADS_1


"Li sudah, sekarang bukan waktunya kita hakimi mommy. Kita fokus aja sama papah," kata Devara menengahi.


Liana melirik Indra yang sejak tadi sudah bangun dan memperhatikan Hana.


"Papah sudah bangun," ucap Liana, dia menghampiri Indra begitupun Hana.


"Maafkan aku Indra," ucapnya memegang tangan Indra.


Indra hanya tersenyum tipis, dia bahagia akhirnya Hana bisa kembali. Dan dia akan berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya.


"Kalian jangan khawatir, aku baik-baik saja." Ujar Indra lemah.


Tadi saat Indra di rumah, dia lupa makan dan minum obat. Padahal sebelum Liana dan Devara pergi, Ema pembantu rumah mereka sudah menyuruh indra makan. Dan Ema izin untuk membeli kebutuhan dapur.


Justine menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut, dia akan berkata jujur tentang Dalia. Dia pun tidak peduli, jika nanti Liana akan membencinya.


****


Indira mendengarkan curhatan Justine, tentang dia yang menyukai Liana. Dan juga permasalahan keluarga Liana dan Dalia, Justine takut jika nanti Indra dan Hana akan mempersulit hubungan mereka. Belum lagi Liana yang akan membencinya.


"Aku harus bagaimana bu? Aku mencintai Liana, sejak pertama bertemu." Curhat Justine pada Indira.


"Maafkan ibu nak, karena ibu yang telat memberikan anak pada ayah mu. Semua jadi seperti ini," lirih Indira.


"Tidak bu, ini bukan salah ibu. Jika ayah benar-benar mencintai ibu, dia tidak mungkin terpesona pada wanita lain. Dia juga bisa menentang keinginan nenek," ujar Justine.


Justine yang dingin, datar dan kaku di luar rumah, nyatanya dia juga lemah dan butuh perhatian. Mahesa pun dulu sangat perhatian pada Delia, bahkan Melati ibu dari Mahesa. Lebih menyayangi Dalia di banding Justine.


Justine berbaring di pangkuan Indira, yang mengusap rambutnya.


"Jika dulu, aku gak tahu kebenarannya. Mungkin aku akan selalu membenci mu bu," lirih Justine.


"Sudahlah nak, lupakan masa lalu. Dan kamu harus menerima takdir, jika nanti Liana menolak mu, maka kamu harus lebih berusaha." Ujar Indira.


Justine tak menjawab, dia masih nyaman dalam pangkuan Indira. Indira menatap kosong jika dulu dirinya lebih sabar, dan terus menentang Melati mungkin rumah tangga dirinya dan Mahesa akan baik-baik saja.


"Semua sudah terjadi, waktu tidak bisa di putar kembali ke masa lalu. Untuk mengubah takdir yang dulu aku jalani," batin Indira.


****


Lamunan Justine buyar saat Liana, menyentuh lengannya. Dan dia menatap Liana yang tersenyum, senyum yang manis.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Justine.


"Terima kasih pak, bapak sudah mengantar papah saya. Saya berhutang banyak pada bapak," ucap Liana.


"Bisakah kamu berhenti panggil aku bapak? Ini bukan di kantor Liana," protes Justine, membuat Liana terkekeh.


"Maaf, lalu aku harus panggil apa? Mas? Kakak? Abang" kekeh Liana.


"Terserah kamu lah," ketusnya.


"Dih... Malah marah," tawa Liana pun pecah.


Justine menatap tajam Liana yang tertawa, kini mereka sudah di kurai tunggu depan ruang perawatan Indra.


Melihat tatapan tajam Justine, Liana buru-buru mengehentikan tawanya.


"Maaf ka," ucap Liana.


"Apa? Sekali lagi!"


"Kakak."


Senyum Justine mengembang. " Nah gitu dong, jangan Pak... Pak... Pak, emangnya aku bapak mu," omel Justine.


Saat Liana dan Justine berbincang, Gemy, Anisa, Feli dan Yudis sudah tiba di rumah sakit. Tadi mereka mampir terlebih dulu ke toko buah.


"Tante, om." Sapa Liana, Gemy pun tersenyum.


"Justine kamu disini juga?" tanya Gemy.


"Iya pak Gemy, saya nemenin tante Hana barusan ke rumah sakit." Jelas Justine, di jawab oleh anggukan olehnya.


"Baiklah, kami masuk dulu." Ujar Gemy.


"Silahkan om," sahut Liana.


Liana menatap pintu yang tertutup betapa beruntungnya, Hana dan Indra mendapat sahabat seperti Gemy, Yudis, Anisa dan Feli. Mereka selalu peduli satu sama lainnya. Bahkan selalu membantu, menyelesaikan masalah di antara mereka.


Semoga suka 💞


Maaf typo

__ADS_1


__ADS_2