
Kesetiaan bermula dari kebersamaan, berkembang karena pengertian, dan bertahan karena rasa saling percaya. Seperti itulah Hana dan Indra, dulu Indra yang selalu ada saat dirinya terpuruk bahkan pada saat Radit mendua.
Awalnya cinta itu belum tumbuh, hanya rasa nyaman dan berjanji setia pada Indra. Tapi seiring berjalannya waktu mereka menikah dan memiliki anak, Hana mulai jatuh cinta pada Indra hingga sekarang anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Hana selalu percaya pada Indra begitu pun sebaliknya, tak pernah Indra marah padanya dia selalu mengerti dirinya.
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, tapi Indra tak kunjung datang.
"Mommy belum tidur?" tanya Liana.
"Nungguin papah mu, kenapa kamu belum tidur?" Hana balik bertanya.
"Itu aku emm... Aku lagi nonton drakor," Liana menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Hana menatap Liana, dulu pada saat zaman putih abu. Dirinya pun sangat suka nonton drama Korea tersebut, dan sekarang anaknya pun melakukan hal yang sama.
"Cepat tidur, jangan bergadang." Tegas Hana.
"Iya mom, mommy juga tidur jangan terlalu cape." Ucap Liana mencium pipi Hana dan menemani Hana di ruang tengah.
"Ehh... Di suruh tidur malah duduk," protes Hana, Liana hanya tertawa saja.
"Memang papah kemana? Tumben pulang malam!"
"Entahlah, papah mu gak ngasih tahu. Mommy coba telepon tapi ponselnya gak aktif," kata Hana.
"Positif thinking aja, mungkin batrenya habis." Ujar Liana menenangkan, dan Hana pun mengangguk.
Liana dan Hana mengobrol banyak hal, sampai pukul sebelas malam terdengar deru mesin mobil. Pintu rumah terbuka, membuat Indra terkejut sebab Hana dan Liana belum tidur.
"Kalian belum tidur? Ini sudah hampir larut."
"Aku nemenin mommy, nungguin papah pulang. Lagian papah tumben pulang jam segini?" tanya Liana.
"Papah tadi keluar kota ada meeting dengan klien," kata Indra, Hana menatap mata Indra tak ada kebohongan di sana.
"Ya sudah aku ke atas dulu," pamit Liana, meninggalkan Hana dan Indra.
Setelah memastikan Liana masuk kamar, Hana meninggalkan Indra sendiri di ruang tamu dengan sejuta kebingungannya.
"Hana sayang, kamu kenapa?" tanyanya menyusul Hana.
"Aku gak apa-apa, aku ngantuk."
"Hana."
"Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian mu. Kamu sudah makan?"
"Aku sudah makan di luar, tidurlah jika lapar aku akan memasak sendiri." Ujar Indra, tak tega melihat raut wajah lelah Hana.
Beberapa menit kemudian Indra sudah selesai mandi air hangat, dan sudah memakai pakaian tidur. Dia menatap Hana yang sudah terlelap, dan bergabung masuk ke dalam selimut memeluk Hana dari belakang.
"Aku menyayangi mu Hana," bisiknya mencium pipi Hana.
****
Sementara itu di apartemen Justine, Indira masih duduk di balkon menatap pekatnya langit malam.
"Kenapa belum tidur?" tanya Justine.
"Belum ngantuk," jawab Indira.
"Ibu masih memikirkan dia?"
"Tidak hanya saja, tidak semua masalah bisa kita ceritakan Justine."
Justine menghembuskan nafasnya secara pelan, dia tidak ingin memaksa pada Indira. Yang terpenting Indira akan selalu ada di dekatnya dalam pantauannya.
"Baiklah jangan terlalu larut bu, aku gak mau ibu sakit." Ucap Justine mencium pipi Indira.
Indira pun tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Selamat malam sayang."
"Selamat malam juga bu."
Pagi pun tiba seperti biasa setiap orang melakukan aktifitas mereka mencari nafkah, Justine berencana ke kantor siang dia akan ke suatu tempat terlebih dulu.
"Aku berangkat dulu bu," pamit Justine, setelah menghabiskan roti bakar favoritnya masakan Indira selalu saja membuatnya rindu.
"Hati-hati sayang, nanti siang ibu akan mengirim makan siang mu."
"Tidak usah bu, aku akan makan siang di luar dengan sekretaris ku."
"Baiklah, hati-hati."
Justine pun mengangguk sebagai jawaban, dan mencium punggung tangan Indira dan berakhir mencium pipi sang ibu.
****
Sementara itu di kediaman Liana, pagi ini entah mengapa Liana merasa bahwa Hana menjadi lebih diam. Biasanya mommy-nya itu, selalu berisik.
"Kamu baik-baik aja mom?" tanya Indra.
"Aku baik-baik aja ko," jawabnya tersenyum, namun Liana melihat senyum terpaksa.
"Jangan terlalu lelah, aku pergi dulu. Nanti malam mungkin akan pulang malam lagi, jangan di tunggu," ujar Indra mencium kening Hana.
"Iya." Balas Hana singkat.
"Liana maaf papah gak bisa antar kamu, berangkat bareng Devara saja."
"Iya pah,"
Setelah mengucap salam, Indra pun berlalu meninggalkan ruang makan. Dia ada urusan dengan klien di Bandung, mungkin akan lama sebab ini menyangkut masa depan perusahaan yang mulai dia rintis lima tahun belakangan ini.
"Nanti mommy antar Lian saja, kasian ka Deva kejauhan harus antar kamu dan ka Liana." Papar Hana.
"Iya mom, aku seneng di antar mommy. Lebih senang lagi kalau di antar mommy dan papah," ucapnya.
Liana menatap Hana sedikit curiga, ada yang dia sembunyikan tapi entah apa.
****
Liana sudah sampai di perusahaan Wijaya, namun dia belum melihat bos dinginnya tersebut.
"Kemana dia? Tumben belum datang. Bukan contoh yang baik," gerutu Liana.
"Siapa contoh yang gak baik?" tanya Justine dingin, membuat Liana gelagapan.
"Emm... Bukan siapa-siapa pak." Cicitnya takut, karena Justine menatapnya tajam.
"Vano berikan pekerjaan mu pada Liana, sekarang juga." Perintah Justine.
Tak lama Vano datang dengan berkas-berkas yang harus dia siapkan untuk meeting dan lain-lainnya, Vano pun meletakan tumpukan kertas tersebut di meja.
"Kenapa banyak sekali? Pak ini terlalu banyak." Protes Liana.
"Apa? Sedikit. Vano tambah lagi," titah Justine, membuat Liana membelalakan matanya.
"Tidak-tidak, cukup." Pekiknya, langsung mengerjakan pekerjaan yang melelahkan tersebut.
Justine tersenyum miring menatap wajah kesal Liana, yang menurutnya sangat lucu. Justine melirik Vano yang masih saja berdiri.
"Kenapa kamu masih di situ?" tanyanya pada Vano.
"Maaf pak, saya kira masih ada hal lain lagi." Ujar Vano. "Permisi." Pamitnya pada Justine.
Justine pun melirik sekilas pada Liana, yang cemberut. Dan bergumam tak jelas, Justine yakin Liana sedang mengumpat dirinya dalam hati. Pintu di ketuk mengalihkan perhatiannya dari laptop.
"Masuk." Perintah Justine.
__ADS_1
Pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang pernah dia panggil dengan sebutan ibu, namun dia sangat membencinya. Untuk apa wanita ini ke sini?
"Apa kabar Justine? Mamah merindukan mu, sudah lama kamu tidak ke rumah." Ujar Arumi, semalam Arumi meminta izin pada Mahesa untuk ke kantor bertemu Justine karena merindukan anak lelakinya tersebut.
"Baik, saya sibuk." Balasnya singkat dan dingin, Justine tidak ingin di ganggu oleh Arumi atau melihat Arumi lagi.
Liana yang mendengar pembicaraan yang terkesan dingin tersebut hanya diam saja, dia tidak ingin ikut campur urusan mereka.
"Justine, mamah merindukan mu nak." Lirih Arumi.
"Tapi aku tidak, sekarang anda boleh keluar. Kerjaan saya banyak," usir Justine, dia tidak peduli kalau dia melukai Arumi.
Arumi pun pergi meninggalkan ruangan Justine, dia akan ke ruangan Mahesa. Sekilas dia melirik Liana yang menunduk, Liana mengehela napas secara pelan. Jantungnya berdetak kencang seperti habis kepergok nyontek.
****
Makan siang pun tiba, Justine mengajak Liana untuk makan di luar.
"Tapi pak, saya bawa bekal sendiri." Tolak Liana, dia sudah janji akan makan siang bersama Dera dan Sara.
"Ya sudah makannya bareng sama saya saja, kamu makan bekal mu. Saya pesan beres," ucapnya enteng, membuat Liana kesal.
"Tapi pak, teman-teman saya juga sudah menunggu."
"Batalkan," perintah Justine seenaknya.
"Pak," protes Liana.
"Jangan protes, atau saya buat kamu lembur mau?" ancamnya.
"Engga," pasrah Liana.
Dengan terpaksa Liana, mengirim pesan pada Dera dan Sara. Bahwa dia tak jadi ikut makan siang bersama, sebab bos nyebelin nya. Maksa buat makan siang bersama.
"Udah kamu kasih tahu?"
"Udah," jawab Liana ketus.
Justine pun mengajak Liana makan siang di luar yang jauh dari kantor, kebetulan hari ini sabtu jadi dia bisa mengajak Liana lebih kama di luar. Modus mungkin tapi Justine tidak peduli, apakah dia sudah jatuh pada pesona Liana atau belum. Justine pun belum tahu jawabannya, dia akan memastikan hatinya dan hati Liana terlebih dulu.
****
Seperti biasa Hana akan pergi menemui Feli, kali ini dia akan menemui Anisa. Dan saat sampai kebetulan Feli dan Rania ada di rumah Anisa.
"Hai," sapa Hana, bersahabat lama membuat Feli dan Anisa tahu bahwa Hana sedang dalam masalah.
"Lo okey Han?" tanya Feli.
Hana hanya tersenyum saja, dan memangku Alana yang mendekat pada dirinya.
"Gue baik-baik aja, emang kenapa?" tanya Hana.
"Gue rasa lo, sedang gak baik-baik aja Han. Kalo ada masalah cerita sama gue," kata Feli, Hana pun mengangguk sebagai jawaban.
Anisa dan Rania pun datang dengan dua nampan makanan dan minuman, mereka mengobrol seputaran anak mereka. Tapi Hana yang selalu semangat dan cerita tak menikmati obrolan dengan sahabat-sahabatnya tersebut.
Hana hanya memperhatikan dua balita di hadapan ibunya, Alana dan Shela. Melihat mereka Hana teringat akan Devara dan Liana saat kecil, mereka sangat sulit lepas dari Hana terutama Liana yang menempel terus pada Indra.
Tapi ketakutan akan Indra mengkhianatinya membuat hatinya resah, tapi tidak ada bukti menunjukan Indra selingkuh.
"Berpikir positif lah Hana, jangan bersikap kekanak-kanak. Kamu sudah memiliki anak tiga," bisik kata hati Hana terdalam.
Hana pun menyemangati diri sendiri, dan mencoba tak memikirkan pesan dari yang tak di kenal tersebut.
Semoga suka 💞
tbc
Maaf typo
__ADS_1
Mungkin part-part selanjutnya, akan kasih cobaan di rumah tangga Hana dan Indar, Radit dan Rania. Seling-seling sama kisah Justine dan Liana dan yang lainnya.