Still Love You

Still Love You
Part.102


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Liana di bawa menjauh dari meja para laki-laki.


"Pak Justine, kita pinjem sebentar yah!" ucap Dera dan Sara kompak.


Justine hanya mengangguk sebagai jawaban, dia akan memberikan waktu pada sang istri bersama sahabatnya. Sebelum mereka pergi berbulan madu.


"Sabar yah, malam masih panjang." Ejek Keanu tertawa puas.


"Sial lo, puas banget ledek gue." Kesal Justine.


"Yalah gak ada lagi, yang bisa gue ledekin setelah ini. Hanya uncle Rumi yang bisa, tapi dia pun terlalu datar." Kekeh Keanu, mendapatkan pelototan dari Rumi.


"Kamu segera menikah Rum, kamu sudah tua loh!" cibir Justine.


"Gimana gue bisa nikah, calonnya lo rebut," balas Rumi santai.


Mereka pun tertawa lepas, kapan lagi bisa berkumpul seperti ini. Mereka sibuk dengan kerjaan masing-masing, apalagi Rumi yang menjadi Direktur di perusahaan ayahnya. Membuatnya sibuk bulak balik ke luar Negeri, berbeda dengan Keanu yang hanya wakil dari Gemy.


Dera menyerahkan sebuah kotak yang sudah di bungkus pada Liana.


"Wah... Apa nih?" tanya Liana, menerima kotak tersebut.


"Baju dinas," bisik Sara.


"Baju dinas? Maksudnya?" tanya Liana tak mengerti.


"Udah lo pake aja nanti di kamar ok!" perintah Dera.


"Kalo lo gak pake berarti lo, gak ngehargain kita sebagai sahabat." Ucap Sara tegas.


"Astaga, iya iya. Nanti gue pake," ujar Liana.


"Li kita masih bisa kumpul-kumpul gak?" tanya Dera, malam yang sejuk di taman hotel membuat suasana mulai haru.


"Masih lah, walau gue punya suami. Gue bakal izin sama dia," papar Liana.


"Bener yah?" tanya Sara.


"Iya benar, kalian berdua sahabat gue yang tak tergantikan." Kata Liana.


Liana, Dera dan Sara pun berpelukan, Justine yang melihat itu pun tersenyum tipis. Dia berjanji tak akan pernah membatasi aktifitas Liana bersama sahabat-sahabatnya, kecuali kalau dia hamil Justine akan membatasi semua kegiatannya.


Justine pun berpamitan pada yang lain untuk ke kamar.


"Ya ampun pengantin baru, gak sabaran banget sih," celetuk Keanu, membuat Devara tertawa sedangkan Rumi seperti biasa tersenyum tipis.


"Yeay iri bilang bos," balas Justine.


Justine pun meninggalkan mejanya, dan menghampiri Liana.


"Ayok kita ke kamar," ajak Justine saat sudah sampai di meja Liana.


"Yah! Pak baru juga bentar sih," protes Dera.


"Ini sudah malam, kalian istirahatlah." Cetus Justine.


"Malam apa sih pak? Baru juga jam sembilan," kekeh Sara.


"Ya sudah kalau mau ke kamar, jangan lupa yah kadonya di pake Li." Ujar Dera.


"Oke." Balas Liana.


Liana pun berpamitan pada Dera dan Sara, para orang tua sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka. Terutama Feli dan Yudis, yang membawa anak kecil.


Di sepanjang jalan, Justine tak pernah melepas genggamannya. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di kamar mereka, Justine terlebih dulu ke kamar mandi.


"Astaga aku benar-benar gugup sekali," gumam Liana.

__ADS_1


"Ini apa yah? Jadi penasaran!"


Liana menatap kotak kado di sampingnya, dia berniat membuka kotak tersebut di kamar mandi saja. Tak lama Justine pun sudah selesai, dan tersenyum pada Liana.


"Jangan lama-lama yah," bisiknya.


"Iy-iya," balas Liana, dia pun dengan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lupa kado dari Dera dan Sara, Liana pun membuka kado tersebut. Dan betapa terkejutnya dia melihat kain tipis, yang kurang bahan dan pendek sekali.


"Lingeri? Apa-apaan mereka ini? Masa aku pake ini sih! Sama aja bohong kalo gitu," omel Liana.


"Tapi aku udah janji sama mereka."


Liana menutup wajahnya, dia sungguh malu jika harus memakai Lingeri seperti ini. Lebih baik telanjang saja begitu pikirnya, tapi jika tidak di pakai Dera dan Sara bakal marah.


Liana harus mengirim bukti robekan Lingeri pada mereka, Liana kesal sungguh kesal pada mereka. Jika bukan sahabatnya, dia sudah membuang Lingeri tersebut.


"Tenang Liana, Justine suami mu. Dia berhak atas tubuh mu," gumamnya.


Liana pun membersihkan wajahnya, dan menyikat gigi kemudian dia memakai wewangian yang sudah di siap kan pula oleh Dera dan Sara.


"Sayang sudah belum?" tanya Justine berteriak, pasalnya Liana sudah lebih dua puluh menit di kamar mandi.


"Sebentar," balas Liana.


Dia pun bergegas memakai Lingeri berwarna hitam, Liana pun menatap pantulan dirinya di depan cermin. Lingeri tersebut sangat pendek, bahkan jika dia menungging bokongnya akan terlihat. Lalu dua tali di pundak sangat tipis sekali tarik akan lepas, semuanya transparan membuat Liana frustasi ingin menggantinya.


"Astaga Tuhan, aku malu sekali. Aku ganti saja lah," gumamnya.


"Liana? Kamu baik-baik saja kan sayang?"


"Iya Justine aku baik-baik saja," balas Liana.


Liana pun menghembuskan napasnya secara pelan, dia mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan Justine. Saat dia memegang handel pintu, Liana menarik napas dan menghembuskannya kembali.


Liana pun membuka pintu, dia terkejut saat Justine ada di hadapannya. Membuatnya salah tingkah, bukan hanya Liana yang terkejut. Justine pun sama dia kira Liana akan memakai baju piyama tidurnya, namun di luar dugaan Liana memakai Lingeri.


"In-ini permintaan Dera dan Sara," ucap Liana salah tingkah, karena Justine menatap ke arahnya.


Liana berusaha menutupi bagian dadanya, dada yang lumayan besar ukurannya. Justine tersenyum tipis, dia pun menggengam tangan Liana. Mencoba memperlihatkan keindahan yang jelas hanya bisa dia nikmati.


"Kamu cantik sayang," puji Justine.


"Dan mereka sudah benar memberikan mu kado ini," lanjutnya lagi.


"Ish... Nyebelin," kesal Liana.


Justine pun mengajak Liana berbaring di kasur, dia tak akan langsung pada intinya. Walau Justine menahan mati-matian hasrat yang menggebu.


"Kayanya aku harus kasih hadiah buat mereka," kata Justine.


"Halah jangan, keenakan nanti mereka. Kasih aja bekas robekan Lingeri ini," sungut Liana, bukannya pelit Liana kesal sekali pada mereka berdua.


"Kok gitu sih sayang? Mereka kan sahabat mu!"


"Iya... Iya terserah kamu lah," omel Liana, membuat Justine tertawa.


Liana memutar bola mata malas, melihat Justine tertawa. Pasalnya tak perlu berlebihan pada dua sahabatnya, mereka kan hanya minta foto robekan Lingerinya saja.


"Udah ayok sini, jangan cemberut. Kita ngobrol saja dulu," ujar Justine, dia pun berbaring dan menepuk sisi sebelahnya agar Liana masuk ke dalam pelukannya.


Liana pun menurut, dia tidur berbantalkan lengan Justine.


"Kamu gak akan melakukannya sekarang kan?" tanya Liana pelan.


"Kenapa? Pembaca pada nunggu loh! Ehh... Gak tau deh, mereka nunggu apa engga." Kekeh Justine.

__ADS_1


"Ihh... Kamu." Liana mencubit perut Justine, membuat Justine meringis.


"Coba panggil aku sayang dong, dari tadi kamu panggil aku Justine terus. Mas ke atau Oppa atau Jagiya apalah terserah kamu," protes Justine, Liana pun tertawa.


"Iya... Iya, sayang." Ucap Liana pelan.


"Apa aku gak denger sayang," goda Justine, Liana mencebik kesal namun dia tetap menurut mengucapkannya lagi.


"Sayang... Sayang... Sayang," pekik Liana.


Justine tiba-tiba mencium Liana, sambil membelai dua buah dada yang pas dalam genggamannya. Membuat Liana terpaku seketika, dia terkejut namun ada rasa anak yang dia rasakan.


"Rileks saja yah!" bisik Justine, dia pun mengecup tengkuk Liana membuat Liana meremang.


Namun sekuat tenaga Liana tak mengeluarkan suara sama sekali, dia menahannya karena malu.


"Jangan di tahan keluarkan suara mu."


Sesuai keinginan kedua sahabat Dera dan Sara, Justine merobek Lingeri tersebut. Membuat Liana mengerjapkan matanya, sekarang Liana benar-benar polos tanpa penghalang. Bahkan selimut pun Justine jauhkan.


"Aku malu," lirih Liana, menutupi dua gunung kembarnya.


"Jangan malu aku kan suami mu," balas Justine, dia pun mencium kembali Liana dan kali ini Liana membalasnya walau sedikit kaku.


Sementara itu tangan Justine sudah bekerja, di bagian depan dua bulatan kenyal milik Liana. Padat dan kenyal masih terjaga, lalu tangan yang satunya mengusap perut rasa Liana dan turun ke bawah.


Membuat Liana melenguh pada akhirnya, Liana memejamkan matanya kedua tangannya meremas sprei.


Kemudian Justine pun menurunkan tubuhnya, untuk melihat keindahan inti dari Liana. Membuat Liana merapatkan kedua kakinya.


"Sayang," rengek Justine, Justine pun mengusap paha Liana sensual dan melebarkan kakinya.


Justine pun bermain-main di bawah sana, menggunakan lidah dan jarinya. Membuat Liana mendesah dan gelisah, membuat Justine makin cepat di bawah sana.


Liana pun mendapatkan pelepasan pertamanya.


"Siap pada intinya?" tanya Justine, dia pun membuka piyamanya dan memamerkan bentuk tubuh yang selama ini dia jaga.


Liana pun menatap takjub pada tubuh Justine, pasalnya dia hanya melihat roti sobek di drama yang dia tonton.


"Sudah mengaguminya?" kekeh Justine.


"Kamu akan melihat ini setiap hari sayang, ini milik mu."


Justine membawa tangan Liana untuk menyentuh, roti sobek miliknya. Dengan gemetar Liana mengusapnya.


"Sayang kok kamu diam saja sih?" kekeh Justine, pasalnya dari tadi Liana hanya bungkam dan mendesah.


"Bukan gitu, aku terlalu gugup sayang." Kata Liana.


Justine pun melepaskan penutup terakhirnya, membuat Liana melebarkan matanya. Saat pertama kali melihat benda panjang milik lelaki, pasalnya dulu dia hanya melihat sekilas milik Devara itu pun tak sengaja. Dan lebih wow milik Justine.


"Punya mu besar sayang," celetuk Liana, Justine tertawa.


Dia tak ingin banyak bicara lagi, cukup sudah pemanasannya. Kini giliran pada intinya. Justine pun memposisikan miliknya, di lubang sempit milik Liana.


"Tahan ya, sedikit sakit."


"Iya."


Justine pun mencium Liana, menyesap dadanya meninggalkan tanda di dadanya. Kemudian dia mendorong miliknya, membuat Liana meringis. Dengan sekali hentakan Justine berhasil memasukan miliknya, walau dia mendapatkan hadiah tamparan dari Liana.


Semoga suka 💞


Aku bukan ahli begituan pemirsa 😂


Maaf typo nanti siang satu lagi ok 😚

__ADS_1


__ADS_2