
Liana memincingkan matanya saat Justine duduk dengan santai di meja makan, dia tak habis pikir dengan atasannya tersebut. Pagi-pagi ke rumahnya hanya untuk sarapan atau untuk apa?
"Kenapa bapak pagi-pagi kesini? Gak ada yang bikinin sarapan yah?" ledeknya.
"Ya begitulah," jawabnya mengedikan bahunya acuh, dan kembali menyesap kopi. Membuat Liana sebal.
Liana pun pergi meninggalkan Justine menuju kamarnya, dia akan bersiap merapihkan rambutnya dan memoleskan sedikit make-up.
Saat menaiki tangga, Liana berpapasan dengan Indra.
"Pah," sapa Liana, dia memeluk Indra terlebih dulu.
"Kenapa balik lagi?"
"Di bawah ada Justine, aku mau siap-siap. Belum siap soalnya," kata Liana, Indra pun mengangguk sebagai jawaban.
"Selamat pagi pak Indra," sapa Justine.
"Selamat pagi Justine, tumben pagi-pagi ke sini? Ada apa?" tanya Indra, menerima kopi dari Ema pembantunya.
"Jemput Liana pak,"
"Ohh... Berarti saya tidak perlu mengantar anak saya," kekeh Indra.
Justine hanya tersenyum, tak lama semua anggota keluarga Hana dan Indra sudah berkumpul di meja makan. Untuk pertama kalinya Justine merasakan kehangatan keluarga yang utuh, Justine menatap satu persatu mereka.
Dia menatap Hana yang melayani suaminya, kemudian anak bungsunya. Dan terakhir dia mengambil makanannya sendiri, bagi Justine menu di meja cukup sederhana. Namun yang menjadi istimewa adalah kebersamaannya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka, nak?" suara lembut Hana membuyarkan lamunan Justine.
"Tidak tante, saya suka. Saya pemakan segala asal jangan racun," kekeh Justine.
Membuat semua orang tertawa, sedangkan Liana memutar bola mata malas.
"Ka Justine bisa aja," sahut Devara.
"Ya sudah ayok makan, nanti kalian telat," tegur Indra, mereka pun memulai makan dengan berdoa di pimpin oleh Lian.
****
Hari ini Dalia akan menemui Indra kembali, dia akan membahas dan mencari tempat untuk agen Tour and Travel yang akan di geluti oleh Indra. Dalia berdandan secantik mungkin, dan memakai pakaian yang bagus dan terbuka. Sebisa mungkin akan selalu ada, kesempatan untuk berdua dengan Indra.
"Cantik," pujinya pada diri sendiri.
Setelah siap, dia pun keluar dari kamar dan menuju meja makan. Dimana kedua orang tuanya sudah menunggu, Dalia melihat Arumi sedang mengambilkan sarapan untuk Mahesa.
__ADS_1
"Pagi yah, bu." Sapa Dalia.
"Pagi sayang," jawabnya serempak.
Dalia duduk dan mengambil roti, setiap pagi dia biasa sarapan roti panggang dan segelas susu. Setelah habis Dalia berpamitan pada Mahesa dan Arumi.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Mahesa.
"Aku ada janji sama seseorang Yah! Kita mau cari tempat, buat usahanya yang baru." Jelas Dalia, Mahesa pun mengangguk sebagai jawaban.
"Jika butuh bantuan, jangan lupa hubungi ayah ya!"
"Siap, aku berangkat dulu." Pamit Dalia, dia mencium punggung tangan Mahesa. Kemudian mencium pipi sang ibu.
****
Kembali ke kediaman Hana, setelah selesai sarapan Indra berangkat terlebih dulu. Dia ingat ada janji dengan Dalia, mencari tempat untuk usahanya yang baru.
"Aku berangkat dulu mom," pamit Devara.
"Iya hati-hati."
Hana memberikan bekal makan siangnya untuk Devara dan Lian, dan menasehati sang anak bungsu untuk menunggunya sebelum dia datang menjemput.
"Iya mommy," balas Lian, mencium punggung tangan Hana.
Justine pun mengangguk sebagai jawaban, Liana menatap Justine yang duduk santai.
"Apa bapak akan bekerja dari rumah saya"
"Tidak, kita akan mengambil libur selama empat hari."
"Hah? Libur?"
"Ya,"
"Tante Hana, saya izin membawa putri anda ke Lembang Bandung."
Liana melotot tak percaya, dia menatap Hana dan menggeleng. Bahwa dia tidak ingin pergi.
"Memang ada acara apa?" tanya Hana, menghiraukan tatapan Liana.
"Aku ingin mencari tempat strategis untuk membuka cafe baru tan, Lembang kan salah satu tempat tujuan wisata. Jadi mungkin aku bisa bangun penginapan atau cafe di sana," jelas Justine, tak sepenuhnya berbohong.
Hana berpikir sejenak, kemudian dia menatap sang anak yang memelas.
__ADS_1
"Ya sudah, tante izinkan." Putus Hana, no debat membuat Liana mendesah.
"Terima kasih, tante."
"Sama-sama, kalau gitu tante ke kamar dulu."
"Mom," rengek Liana, namun Hana tak menanggapi ucapan Liana.
"Sudah cepat, kita harus ke kantor dulu,"
Dengan terpaksa Liana pun menurut, dan membereskan barang yang akan dia bawa. Selama membereskan barang-barangnya dia tak henti mengomel.
"Mommy bener-bener tega sama aku, masa anak gadisnya di suruh pergi sama cowok berdua," gerutunya kesal.
"Kalo demi kerjaan kenapa engga sih Li! Kamu mah di ajak liburan gratis sekalian gak mau aneh," sahut Hana dari ambang pintu, sejak tadi dia melihat sang anak yang mengomel membuat Hana menahan tawa.
"Tau ahh, aku berangkat mom." Liana mencium punggung Hana, beralih ke pipi.
"Hati-hati, jangan lupa bawa oleh-oleh ya!" kekeh Hana, membuat Liana cemberut.
"Saya sudah siap pak," ketus Liana.
Justine pun membawa barang milik Liana, dan memasukannya ke dalam bagasi. Sementara baju ganti dirinya selalu sedia di dalam mobil.
***
Dalia sudah sampai di Bangtan Area sebelum Indra datang, dia memastikan dandanannya. Dia ingin terlihat sempurna, dan cantik di depan Indra.
Dalia tahu bahwa Gemy, Radit dan Yudis sangat tampan, tapi entah kenapa hatinya malah terpaut pada ayah tiga anak tersebut. Selain baik, Indra juga dewasa.
"Aku gak sabar, ingin segera memiliki mu. Tapi aku harus sabar dengan rencana ku." ucap Dalia, menatap foto Indra di ponselnya.
Tak lama dia melihat mobil Indra yang baru memasuki halaman parkir, sekali lagi Dalia memastikan tampilannya.
"Sempurna," pujinya pada diri sendiri, Dalia pun turun dari mobil.
"Pagi pak," sapanya.
"Oh.. Dalia, selamat pagi. Pagi sekali kamu datangnya," kekeh Indra.
"Iya biar cepat ketemu sama tempat yang strategis," ujar Dalia, dan di jawab anggukan Indra.
"Karena aku merindukan kamu," sambungnya dalam hati.
Mereka pun masuk kedalam gedung Bangtan Area, tanpa Indra tahu. Dalia selalu membayar orang untuk membuntuti dirinya dan Indra, dan memotret setiap moment yang selalu menimbulkan salah paham, dan foto tersebut selalu Dalia kirim pada Hana.
__ADS_1
Semoga Suka 💞
Maaf typo