
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar, walau tanpa Mahesa. Dan penetapan tanggal pernikahan Liana dan Justine satu bulan setelah lamaran.
Mereka pun makan malam bersama, Liana dan Justine curi-curi pandang. Tak menyangka bahwa Justine akan benar-benar serius padanya, Liana kira Justine hanya main-main.
Tepat pukul sepuluh semua orang berpamitan pulang, Justine pun tak di beri kesempatan untuk berbicara pada Liana.
Saat Liana naik ke lantai dua, dia pun berpapasan dengan Devara. Yang menahan tawa.
"Rese lo ya! Lo ngerjain gue kan? Pake bilang ka Rumi mau lamar segala," sungut Liana.
"Hahaha." Tawa Devara meledak, membuat Liana kesal bukan main.
Dia pun mengejar Devara, namun sayang Devara masuk ke kamarnya dan sudah menutup pintu dengan keras. Dan hampir mengenai Liana.
"Devara," pekik Liana.
"Awas aja ya lo, gue bakal bilang sama papa. Buat jadiin lo asisten gue," teriak Liana.
Dengan perasaan kesal Liana menendang pintu kamar Devara, kemudian Liana berjalan gontai ke dalam kamar. Dia merebahkan diri di kasur dan menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, dia pun tersenyum menatap cincin tersebut.
"Kok bisa cincinnya pas di tangan ku?" kekeh Liana.
Kemudian Liana pun mengirim pesan pada Justine, yang sudah aktif kembali. Terlihat pada centang birunya.
"Terima kasih untuk kejutannya."
Setelah pesan terkirim, Liana bersiap untuk membersihkan wajahnya dan memakai krim malam.
****
Berbeda dengan Liana yang bahagia, Dalia harus pasrah saat bu Sekar mengusir dirinya. Padahal dia masih merindukan sang anak.
"Nanti kau boleh ke sini lagi?" tanya Dalia, dia menatap Sam yang bersikap datar.
"Gak boleh," sahut bu Sekar dengan dingin.
Dalia pun menunduk, dia menyadari rasa benci pada bu Sekar akibat dirinya. Yang membuang Yona dan Sam.
"Maafkan saya bu," lirih Dalia.
"Maaf mu gak berlaku," ketus bu Sekar.
"Bu sudah," tegur Sam.
"Kamu jangan terlalu baik sama wanita ini, ingat Sam. Kamu sudah di buang olehnya," cetus bu Sekar.
__ADS_1
Dalia hanya bisa menunduk, sedangkan Sam menghela napas dengan panjang.
"Dalia lebih baik kamu pulang saja," ujar Sam.
"Baiklah Sam,"
Sebelum Dalia masuk ke dalam mobil, dia sempat mendengar bu Sekar berbicara cukup keras.
"Ibu akan carikan Yona ibu yang pantas untuknya Sam, yang bisa menerima mu yang miskin ini." Cetus bu Sekar.
"Ibu," tegur Sam, melirik ke arah Dalai yang akan masuk ke dalam mobil.
"Sudah ayok kita masuk." Bu Sekar menarik tangan Sam, dan menutup pintu dengan keras.
Membuat Dalia menghela napas panjang, rasanya sesak saat mengetahui bahwa Sam akan di jodohkan. Itu artinya dia akan jarang bertemu dengan sang anak.
"Seandainya waktu bisa aku putar kembali," gumamnya.
Dalia pun meninggalkan rumah Sam, dengan perasaan bersalah karena telah menolak Sam, dan menelantarkan sang anak. Dan ada tak rela jauh dari sang anak.
Berpuluh menit kemudian, Dalia sudah sampai di rumahnya. Dia pun di sambut oleh Arumi yang cemas dengan sang anak.
"Dalia nak, kamu dari mana saja?" tanya Arumi.
Arumi menatap wajah Dalia yang murung.
"Aku gak papa bu," jawab Dalia, dia pun masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, kenangan singkat akan Sam pun terbayang dalam benaknya. Bagaimana dirinya memperlakukan Sam, dan saat sang anak lahir Dalia pun masih bersikap ketus.
Dia masih ingat di kamar ini pula, Dalia meminta Sam untuk menceraikan dirinya dan meminta Sam membawa sang anak. Saat itu, Yona menangis tak hentinya karena akan terpisah dengan sang ibu.
"Maafkan aku," isak Dalia.
"Maafkan bunda Yona, bunda sudah menelantarkan kamu nak." Gumam Dalia terisak.
Arumi yang khawatir hanya memperhatikan sang anak dari ambang pintu, hatinya sakit melihat Dalia seperti itu. Namun saat dia di suruh untuk kembali pada Sam, Dalia selalu menolak dan tak tau malunya mengharapkan Indra.
"Ibu berdoa agar kebahagiaan secepatnya datang pada mu nak, dan ibu berharap kamu di cintai oleh laki-laki yang tulus menerima mu." Doa Arumi untuk Dalia.
Dia pun kembali ke kamarnya, setelah memastikan Dalia tertidur.
***
Cacao Green
__ADS_1
Terletak di lantai tiga sebuah bangunan yang Berjejer di jalan Myeongdong, Cacao Green merupakan tempat bagi para pecinta coklat. Kafe ini menyajikan semua hal tentang coklat mulai dari minuman coklat, truffle dan dessertnya.
Menu yang favorit di sini yaitu The Triple Chocolate Bingsu, dibuat dengan es serut coklat dan diberikan topping brownies, truffle coklat, gelato, dan manisan kenari. Atau suka yang segar seperti strawberry juga ada. Cocok disantap sebagai penutup manis setelah seharian mengeksplor Seoul.
"Kamu pasti suka Sie jika aku ajak kamu ke sini," gumam Darel, saat sedang menikmati minuman coklat hangatnya dan cake coklat favoritnya.
Dia baru saja mendaftar di sebuah universitas terkenal di Korea, mengambil jurusan Management Bisnis atas permintaan Yudis, awalnya dia sempat menolak karena dia ingin ke jurusan lain. Tapi Feli memberikan dia nasehat untuk menuruti apa kata Yudis, namun Feli pun memberikan ke bebasan pada Darel untuk memilih jurusan lain.
Dan Darel pun setuju, setelah dia lulus dia akan melanjutkan kuliah di jurusan yang dia sukai. Yaitu musik dan kebetulan sekali di Korea terkenal akan musiknya.
"Mommy selalu mempersiapkan yang terbaik untuk ku," gumam Darel.
Tanpa dia tahu pun Yudis, sedang belajar merintis sebuah agency yang di beri nama Darwin Entertainment. Yang nantinya akan di berikan pada sang anak Darel.
"Maaf boleh saya duduk disini?" tanya seseorang dengan suara lembut, yang membuat Darel mengangkat wajahnya dan menatap gadis cantik di depannya. (Anggap aja percakapannya dalam bhs.Inggris ya guys 😂)
Wajahnya cantik perpaduan Asia dan barat, namun lebih dominasi Asia tetapi hidungnya mancung dan rambut pirang. Darel mengedarkan pandangan, memang cafe tersebut sangat penuh.
"Silahkan," balas Darel, kemudian mereka pun sibuk dengan ponselnya kembali.
Sementara gadis tersebut melirik sedikit ke arah Darel, awalnya dia terpesona akan ketampanan Darel. Dan pasti Darel bukan orang asli Korea.
"Kamu bukan asli sini?" tanya gadis tersebut setelah lama saling diam.
"Bukan," balas Darel singkat, dan Darel dapat melihat senyum manis gadis yang sudah mengulurkan tangannya di hadapan Darel.
"Akira Ailee Areum." Ujarnya, Darel pun menerima uluran tangan gadis yang bernama Akira.
"Darelano Kai Darwin, aku dari Indonesia." Tutur Darel.
"Kamu bisa panggil aku Darel," lanjutnya lagi.
"Ohh... Kamu dari Indonesia? Wow, aku sangat ingin kesana. Kapan-kapan boleh dong kamu ajak aku kesana," ujarnya dengan antusias.
Darel hanya tersenyum tipis, dia memandang Akira tak ada salahnya dia memiliki teman disini.
"Boleh setelah aku menyelesaikan pendidikan ku," katanya.
"Aku baru daftar masuk Universitas," lanjut Darel kemudian, melihat kebingungan Akira.
Akira pun mengangguk sebagai jawaban, mereka pun mengobrol dan dengan sepakat menjadi teman mulai dari sekarang, dan bertukar ponsel Darel pun baru mengetahui bahwa bahwa Akira pun sama baru daftar.
Semoga suka 💞
Maaf typo 💜
__ADS_1
Maaf aku kemarin gak update, soalnya lagi gak mood 😩