Still Love You

Still Love You
Part.68


__ADS_3

Feli menatap tajam Sarah yang menunduk di belakang Yudis, dia ingin marah. Namun tak enak ada anak-anak di sini, Feli mencoba meredam amarahnya.


"Suruh dia pergi, jika tidak ada keperluan." Ujar Feli dengan dingin.


"Tapi Feli, aku sudah janji dengan Yudis." Sahut Sarah cepat.


"Janji? Kapan memangnya kamu janji?" tanya Yudis.


"Sudahlah Sarah, kamu bukan siapa-siapa. Jika tidak ada kepentingan kamu bisa kan? Pergi dari sini! Yudis harus memprioritaskan aku dan anak kami," tegas Feli, dia pun masuk dan menutup pintu dengan sedikit kencang.


Sarah menatap Yudis, berharap Yudis akan luluh.


"Yudis aku sudah menunggu lama," lirih Sarah.


"Aku tidak menyuruh mu menunggu ku, sudahlah Sarah. Lebih baik kamu pergi," usir Yudis.


"Reno jangan biarkan dia masuk lagi, atau perlu panggil keamanan jika dia sulit pergi." Kata Yudis.


"Baik tuan," balas Reno.


Yudis pun masuk ke dalam ruangannya, mengabaikan teriakan Sarah. Dan menatap Feli yang sedang menggoda Alana di atas sofa.


"Daddy," pekik Elena.


Elena pun berlari ke arah Yudis, Yudis pun menangkapnya dan menggendongnya.


"Aku kangen daddy," ucap Elena tertawa.


"Daddy juga, kamu sudah makan?" tanya Yudis sambil melirik Feli.


"Belum kata mommy, makan siangnya bareng daddy." Ungkap gadis kecil tersebut.


"Ya sudah nanti kita makan bersama, setelah daddy menyelesaikan pekerjaan daddy."


"Oke daddy,"

__ADS_1


Elena pun kembali sibuk dengan gambarnya, Yudis sendiri sudah duduk di samping Feli.


"Aku bisa jelaskan," kata Yudis.


"Jelaskan apa lagi? Kamu kan mau makan siang sama dia? Apa dia sering ke sini?" cerca Feli dengan ketus.


"Engga baru pertama kali dia kesini," jawab Yudis.


"Kok bisa lama di ruangan mu? Ahh... Aku tahu, dia kan mantan mu jadi bebas keluar masuk ruangan mu," cibir Feli.


"Feli."


Yudis menyandarkan kepalanya di pundak Feli, dia bisa menatap Alana yang sedang tertawa dan sesekali berceloteh.


"Percayalah cinta ku, hanya untuk kamu." Kata Yudis, tapi Feli malah memutar bola mata.


"Tunggu aku habiskan kerjaan ku dulu, habis itu kita makan siang bersama."


Feli hanya mengangguk sebagai jawaban, Yudis mencium pipi Feli dan melanjutkan mengerjakan pekerjaannya.


Liana sendiri sedang berpikir, dan ingin tahu siapa wanita yang sudah merusak rumah kebahagiaan orang tuanya. Mengapa dia tak datang?


"Jika ketemu, awas saja kamu." Geram Liana menatap foto kedua orang tuanya.


Sedangkan Dalia sendiri, dia baru sampai rumah dan mengembuskan napasnya secara panjang.


"Untung ayah belum kembali," gumamnya.


Dalia pun bergegas keluar dari mobil, dan masuk kerumah mencari Arumi. Dalia terkejut karena ternyata dugaannya salah, Mahesa sudah pulang.


Dalia menelan salivanya dengan susah payah, seketika dia menciut. Mendapati tatapan tajam Mahesa, sementara Arumi hanya menunduk di belakang Mahesa.


"Ayah aku bisa jelaskan," katany dengan gugup.


"Jelaskan apa? Apa yang mau kamu jelaskan, Dalia? Kamu sudah melanggar aturan ku," ujar Mahesa menatap tajam sang anak, walau Dalia bukan anaknya. Tapi Mahesa tetap menyayangi Dalia.

__ADS_1


"Maafkan aku ayah, aku gak bermaksud melanggar. Aku jenuh di kamar terus ayah," protes Dalia dengan lirih.


Mahesa mengembuskan napasnya secara kasar, dia menatap Arumi yang menunduk.


"Baiklah jika kamu jenuh, mulai besok bekerjalah di kantor ayah. Ayah tidak ingin melihat mu, kesana kemari tidak jelas." Papar Mahesa.


"Tapi ayah, aku gak kesana kemari gak jelas. Aku sedang membantu Indra menjalankan bisnisnya yang baru," jelas Dalia.


"Batalkan, jangan membantah," tegas Mahesa.


"Ayah aku mohon," rengek Dalia.


"Arumi urus anak mu."


Mahesa pun meninggalkan ibu dan anak tersebut, Arumi menatap Dalia dan mengusap punggung sang anak.


"Ibu mohon Dalia, turuti apa kata ayah mu." Lirih Arumi.


"Tapi ibu, aku gak mau kerja di kantor ayah. Aku mau bangun bisnis ku sendiri," ucap Dalia.


"Lalu menghancurkan rumah tangga orang lain begitu!" bentak Arumi.


"Berhenti Dalia, berhenti ibu mohon. Sebelum semuanya terlambat," pinta Arumi.


Dalia meninggalkan Arumi dan tak mendengarkan kata-kata Arumi, membuat Arumi menatap nanar sang anak.


Dalia membanting pintu kamarnya dengan keras, dan menyingkirkan barang-barang yang ada di meja riasnya.


"Aku tidak akan menyerah, sekali pun ibu ku yang melarang. Aku akan mendapatkan Indra."


"Jika cinta satu malam ku berhasil, maka aku akan menggunakan kehamilan ku untuk merebut Indra. Ya aku akan melakukannya," Dalia tersenyum sinis, menatap pantulannya di cermin.


Semoga suka 🌚


Maaf typo

__ADS_1


Sekretarisnya Yudis itu cowok yah 😅 aku lupa jadi udah di ganti namanya jadi Reno di bab sebelumnya.


__ADS_2