
Kepercayaan yang tergambar dalam untaian mutiara
Bening epik terlucut dalam kupasan lautan biru
Untaian yang bisa sewaktu-waktu lepas terberai bila tergores kata
Tercerai di tanah bila terbanting laku menyesakkan
Ataukah untaian itu akan tetap terjalin dalam balutan kasih sebening rintik gemuruh luruh hujan biru
Seharian Hana tak pulang kerumah, dia mendinginkan pikirannya yang kacau di sebuah tempat. Hanya dirinya dan Radit yang tahu.
Tepat pukul tujuh malam, sebuah pesan masuk di ponselnya.
"Datanglah kesini, kamu ingin melihat seberapa nikmatnya suami mu bersama ku."
Dalia mengirim foto sebuah kamar, dan tangan saling bertaut. Membuat hati Hana panas, dengan segera dia berlalu meninggalkan tempat itu, dengan kecepatan penuh dia mengendarai mobilnya.
Tak butuh waktu lama, Hana sudah sampai di hotel tersebut. Dia menuju ke lantai sepuluh tempat dimana Indra berada.
"Hana," panggil Radit, namun Hana tak mendengar.
Radit yang melihat raut wajah Hana yang marah, begitu khawatir dan mengikuti Hana dengan tergesa.
"Radit," ucap Hana terkejut.
"Kenapa lo?"
Hana bergeming dia tak mungkin memberitahu Radit, jika salah dia yang akan malu. Tak menunggu lama Hana sudah sampai di lantai sepuluh, dia berjalan ke kamar bernomor 1133 yang kebetulan pintu tak terbuka.
Hana mendobrak pintu dengan kasar, air matanya jatuh saat melihat apa yang di depan matanya nyata. Indra dan Dalia, Indra telah mengkhianatinya.
"Sialan," pekik Radit.
Tanpa di duga, Radit menarik Dalia membuatnya terjungkal jatuh ke bawah. Lalu Radit membangunkan Indra, dan memukulnya. Indra yang batu sadar mengerjapkan matanya, dia sangat pusing dan menatap sekeliling dia melihat Dalia yang terjatuh tanpa baju.
Indra pun melirik dirinya, hanya mengenakan boxernya saja. Matanya tertuju pada Hana yang sudah menangis, dan memalingkan wajahnya.
"Hana." Lirih Indra.
"Brengsek lo, sialan lo." Maki Radit, kemudian dia memukul kembali Indra secara bertubi. Indra tidak melawan dia menatap ke arah Hana.
Dalia mencoba menghentikan Radit.
"Lepaskan, dia bisa mati." Pekik Dalia, namun Radit menepisnya.
"Lo... Lo brengsek Dra, tega lo khianati Hana hah." Marah Radit.
"Dit cukup Dit, ayok kita pergi." Ajak Hana, dia miris melihat keadaan Indra yang sudah babak belur.
Radit pun menurut dan meninggalkan Indra dan Dalia, dengan segera Indra memakai celananya kembali.
"Hana tunggu... Hana," teriak Indra, namun Hana sudah pergi dengan Radit.
"****! Sial!" umpatnya.
Dia masuk kedalam kamar, melihat Dalia yang sudah memakai kembali gaunnya.
"Jelaskan, kenapa kita bisa di kamar yang sama tanpa busana?" bentak Indra.
"Kamu lupa, kamu yang ajak aku ke sini. Indra,"
"Bohong, aku gak percaya. Mulai sekarang kerja sama kita batal dan jangan pernah temui aku lagi," tegas Indra.
"Indra gak bisa gitu, Indra... Tunggu Indra," teriak Dalia.
__ADS_1
Indra pun tergesa pulang kerumah, dia ingin menjelaskan semua kesalah pahaman ini. Sedangkan Dalia sudah teriak histeris.
"Tidak, aku sudah jauh. Aku akan mendapatkan mu bagaimana pun caranya, Sam," panggil Dalia.
"Ada apa?"
"Hamili aku!"
"Apa?" pekik Sam. "Lo gila Li, gak gue gak mau lakuin itu." Tolak Sam.
"Sam gue mohon, hanya lo yang mampu gue minta tolong," mohonnya memelas.
"Tapi Li,"
"Sam pleas,"
"Baiklah," putus Sam.
Pada akhirnya Sam, melakukan apa yang Dalia mau. Sebab dia gagal melakukannya dengan Indra.
****
Sesampainya di rumah Indra langsung menuju kamarnya dengan Hana, namun kosong kamar itu kosong.
"Kemana Hana!"
Indra kembali turun ke lantai satu, dan berpapasan dengan Devara.
"Papah, siapa yang bikin papah kaya gini?"
"Bukan siapa-siapa, mommy mu sudah pulang?"
"Kata bi Ema, mommy dari pagi belum pulang."
"Astaga Hana, dimana kamu."
"Ada apa Dev?" tanya Liana.
"Papah babak belur, dan dia mencari mommy. Kayanya mereka ada masalah deh," ujar Devara.
"Iya kah? Lalu dimana papah?"
"Dia pergi cari mommy."
Devara melihat Liana, akan pergi dari rumah. Namun dia mencegatnya.
"Mau kemana?"
"Cari mommy, dia pasti sedih."
"Ini udah malem Li, kasian Lian kalo kita tinggal sendiri. Kita tunggu aja di rumah,"
"Ya sudah," pasrah Liana.
*****
Malam semakin larut, namun Indra tak kunjung menemukan Hana. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Hana, tapi tak aktif. Indra pun mencoba menghubungi Radit pun sama.
"Hana dimana kamu? Kembalilah," lirih Indra.
Berbeda dengan Indra, Rania dengan setianya menunggu Radit pulang. Radit bilang dia akan pulang pukul sepuluh malam, namun waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam.
Rania mencoba menghubungi Radit, namun nomornta tak aktif.
"Kamu dimana Dit? Aku khawatir."
__ADS_1
"Mamah belum tidur?"
"Belum, mamah lagi tunggu papah kamu." Jawab Rania.
Dia menatap Sierra. "Kenapa kamu belum tidur?"
"Aku habis mengerjakan tugas Mah, bareng Darel. Lewat video call," ujar Sierra.
"Jangan sering bergadang sayang, cepat tidur."
"Baik mah, mamah juga terlalu lelah. Papah pasti pulang," ucap Sierra.
Rania pun membaringkan tubuhnya di sofa depan ruang tamu, dia akan menunggu Radit. Namun kantuk yang menyerang membuatnya tidur di sofa. Hingga pagi menjelang dia masih di sofa.
"Apa Radit gak pulang?"
Rania pun beranjak dari duduknya, dan masuk ke kamarnya. Dan benar Radit tak pulang.
"Kamu kemana sih Dit?"
Rania pun membersihkan dirinya, setelah membersihkan diri dia memulai aktifitas di dapur menyiapkan sarapan untuk sang anak.
****
Sedangkan di tempat lain, Hana mengerjapkan pengelihatannya dia mengedarkan pandangannya.
"Rumah rahasia," gumamnya.
Kemudian dia ingat melihat Indra dan Dalia, lalu Radit menghajar Indra. Hana melihat Indra yang tertidur di sofa, seperti dulu saat mereka berdua jalan bersama.
"Dit lo gak pulang?" tanya Hana, saat melihat Radit membuka mata dan menatapnya.
"Engga, gue nemenin lo."
"Rania?"
"Lo gak usah khawatir Han, gue udah kasih tahu Rania." Jawab Radit bohong.
"Lebih baik kita pulang Dit, gue gak mau hubungan lo sama Rania hancur gara-gara gue." Papar Hana.
Radit menghembuskan napasnya secara kasar, dia pun mengangguk sebagai jawaban. Radit pun mengantar Hana ke rumahnya, saat sampai Hana merasa ragu dia ingin kembali atau menenangkan diri lebih dulu.
"Kenapa?"
"Gue gak jadi pulang, kita balik ke rumah rahasia aja." Kata Hana.
Tanpa banyak kata, Radit memutar balikan mobilnya menuju rumah rahasia. Dimana hanya dirinya dan Hana yang tahu.
****
"Papah... Papah," teriak Lian menggedor kamar Hana dan Indra.
Indra mengerjapkan matanya, dia duduk dan mendengarkan Lian yang menggedor pintu kamarnya. Dia pun merasa kecewa, karena Hana tak pulang.
"Lian kenapa?" Indra me dengar suara Liana dari luar.
"Mommy belum siapin baju ku ka,"
"Ya sudah, biar kakak saja. Mungkin mommy gak enak badan," ujar Liana.
Indra pun mendengar langkah kaki menjauh dari kamarnya, dia memutuskan untuk membersihkan diri dan akan mencari Hana. Sebelum mencari Hana, dia akan memberi tahu pada Rima kalau hari ini dirinya tak akan masuk.
"Hana," lirih Indra.
Semoga suka 💞
__ADS_1
Maaf typo