
Dalia menatap kosong ke depan, kini dia sudah berada di dalam kamarnya. Malam ini dia ada janji untuk periksa kehamilannya.
"Dalia kamu makan dulu," pinta Sam.
"Aku tidak lapar," tolaknya.
"Dalia aku mohon demi anak kita," mohon Sam.
"Ini anakku dengan Indra, bukan kamu." Teriak Dalia tak terima.
"Pergi kamu pergi, aku benci melihat mu. Aku muak," pekik Dalia, melempar makanan yang berada dalam pegangan Sam.
Arumi yang mendengar teriakan Dalia dan pecahan piring jatuh pun langsung menghampiri kamar sang anak.
"Astaga ya Tuhan, Sam kamu gak papa nak?" tanya Arumi.
"Aku tidak apa-apa tante," jawab Sam.
"Kamu kenapa Dalia?" tanya Arumi, memeluk sang anak.
"Aku mau Indra ibu, aku mau Indra." Isak Dalia memeluk Arumi.
Sam menghembuskan napasnya secara kasar, dia mencoba membereskan piring yang jatuh. Tak lama pembantu rumah tersebut datang, dan membantu Sam.
Sam pun keluar dan meninggalkan rumah Mahesa untuk sementara, dia pun perlu menenangkan hati dan pikirannya.
Beruntung Manager cafe Bangtan memberikannya libur satu hari, Liana pun tahu jika Sam bekerja di salah satu Bangtan Area. Tapi tak mempermasalahkan itu semua.
***
Sementara Justine masih setia memantau Liana dari jauh, berharap ada kesempatan untuk dirinya bersama dengan Liana setelah masalah mereka selesai.
"Aku akan berusaha untuk mendapatkan mu," gumam Justine.
Justine pun melajukan mobilnya meninggalkan Bangtan Area, dia tak ingin terlalu mencolok memperhatikan Liana.
"Gimana hasilnya?" tanya Dera, dan Sara hanya menyimak.
Kini mereka sedang duduk di ruangan Liana, dan semua pekerjaan mereka sudah selesai.
"Belum keluar, katanya besok." Ujar Liana, di jawab anggukan Dera dan Sara.
"Gimana kalo itu adik lo Li?" tanya Dera penasaran.
"Entahlah, mungkin mommy bakal mengasuhnya. Gue gak tau juga sih," ucap Liana mengedikan bahunya acuh.
Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing, Liana lebih merindukan Justine dari pada harus memikirkan anak yang di kandung Dalia.
"Guys, bantuin gue dong!" pinta Liana.
"Bantu apa?"
Liana pun membisikan rencananya pada Dera dan Sara, dia memelas menatap kedua sahabatnya tersebut. Berharap dapat membantunya.
"Ayo lah plis, guys bantuin gue." Rengek Liana.
"Ya udah deh, kita bantuin lo." Putus Dera dan Sara pada akhirnya.
"Nanti malam ya, lo jemput gue. Dan lo Sara kasih tau Justine," perintah Liana.
"Siap lo tenang aja pokoknya," ucap Sara.
Malam pun tiba, Liana harap-harap cemas menunggu Dera dan Sara.
"Mereka lama banget sih," gerutu Liana, dia terus menatap ke luar jendela berharap sang sahabat cepat datang.
Sementara Justine yang mendapat pesan dari Sara, tersenyum senang. Sara mengatakan bahwa mereka akan bertemu di sebuah mall, yang tak jauh dari rumah Liana dan Justine menyanggupinya.
__ADS_1
Hampir dua jam menunggu akhirnya para gadis pun sudah tiba, Justine melambai pada Liana. Membuat Liana berlari ke arah Justine dan memeluknya dengan erat.
"Aku kangen," bisik Liana.
Justine pun membalas pelukan Liana tak kalah erat, sementara Dera dan Sara sudah ke tempat lain.
"Aku juga, terima kasih atas kesempatan ini Liana." Ujar Justine bahagia.
"Ayok."
Liana menarik Justine, untuk melakukan kencan pertamanya. Sedangkan Dalia dia sedang memeriksakan diri ke dokter kandungan bersama Sam, Arumi tidak bisa ikut karena Mahesa mengajaknya ke salah satu pesta rekan kerjanya.
Harusnya Justine yang hadir, tapi dia menolak begitu saja.
Sam menatap layar yang menunjukan janin di dalam perut Dalia, dengan mata berbinar dan berdebar.
"Kemungkinan anak kalian perempuan," ucap dokter.
"Iya kah dok?" tanya Sam antusias.
Sementara Dalia hanya memutar bola mata malas, jika bersama Indra beda lagi dia akan bahagia.
"Iya tuan, jika tidak berubah kita bisa melihat kembali melalui USG empat dimensi di bulan berikutnya." Ujar dokter.
Membuat Sam mengangguk, dia pun membantu perawat membersihkan bekas gel USG di perut Dalia.
Setelah menuliskan resep vitamin, Dalia dan Sam keluar dari ruang dokter.
"Tunggu disini, aku akan menebus vitamin." Titah Sam, namun Dalia tak menjawab.
Dalia sibuk melihat orang-orang yang berlalu lalang, tiba-tiba matanya menangkap sosok Hana dan Indra.
"Sedang apa mereka disini?" gumamnya.
Dalia melirik Sam dan Indra, dia memutuskan untuk mengikuti Hana dan Indra.
"Indra," pekik Dalia.
"Mau apa kamu disini?" tanya Hana ketus.
"Aku habis memeriksakan kandungan ku, kamu mau tau Indra. Anak kita perempuan," ucap Dalia antusias.
Hana tersenyum miring menatap Dalia.
"Suami ku tidak membutuhkan anak perempuan lain, selain Liana. Dia anak gadis kesayangan Indra," cetus Hana.
"Sudahlah Dalia, pergi dari sini. Aku yakin dia bukan anak ku," tegas Indra.
Indra pun menarik Hana untuk pergi dari hadapan Dalia, sebelum pergi Hana tersenyum mengejek.
"Akhhh... Kurang ajar," teriak Dalia.
"Dalia," panggil Sam.
"Aku cari-cari kamu, ternyata disini. Sedang apa kamu disini?" tanya Sam.
"Bukan urusan mu," ketus Dalia.
Dalia meninggalkan Sam yang mematung menatap Dalia, Sam mengembuskan napasnya secara kasar. Dia mulai lelah tapi demi anak yang ada dalam kandungan Dalia, dia harus sabar.
"Setelah kamu lahir, kita akan pergi jauh nak. Hanya ada ayah dan kamu," gumam Sam.
Dia pun melangkahkan kakinya, menuju parkiran. Saat tiba di parkiran Dalia sudah duduk manis di belakang dengan cemberut.
"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Sam setelah masuk ke dalam mobil.
"Aku mau ketemu Indra," ucap Dalia.
__ADS_1
"Dalia aku mohon, fokuslah pada anak kita. Lupakan tuan Indra," cetus Sam.
"Siapa kamu? Apa hak mu mengatur ku? Jangan pernah ikut campur urusan ku, kalau bukan karena anak ini aku ogah nikah sama kamu," teriak Dalia.
"Yang aku mau hanya Indra... Indra Sam, bukan kamu," pekik Dalia.
Sam memejamkan matanya, sakit tentu saja. Laki-laki mana yang tak sakit jika wanitanya terus menyebut nama lelaki lain, dan mengakui sang anak milik orang lain.
"Dia milik ku Dalia," desis Sam.
Sam pun melajukan mobilnya, dengan cepat dia memang tidak memiliki apa pun. Tapi dia percaya bahwa cintanya akan cukup untuk Dalia dan sang anak.
Tapi Dalia sendiri tidak ingin memberikannya kesempatan, jika hasil tes membuktikan tidak ada kecocokan dengan dirinya. Maka Sam harus bercerai dengan Dalia hari itu juga, tapi jika anak itu adalah miliknya. Maka Sam akan menceraikan Dalia saat melahirkan.
Tapi siapa yang tahu, Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. Dia masih berharap Dalia mau berubah, dan berhenti mengejar Indra.
***
Malam beranjak semakin larut, namun tak masalah bagi Justine selama dengan Liana. Teman-teman Liana sudah Justine antar pulang, sementara dirinya akan membawa Liana ke apartemennya.
Dengan alasan menginap di rumah kontrakan Dera dan Sara, Hana mengizinkan Liana menginap.
"Liana," ucap Indira.
"Ibu."
Liana memeluk Indira dengan erat, bagi Liana Indira sudah seperti ibu kedua baginya.
"Kok kamu disini nak?"
"Justine yang culik aku bu," kekeh Liana.
"Syukurlah hubungan kalian baik-baik saja, ibu senang banget. Anak ibu gak jadi jomblo lagi," cetus Indira.
"Ibu." Tegur Justine.
Indira mengabaikan tatapan tajam Justine, dia membawa Liana duduk di ruang tamu. Sementara Justine membuatkan minuman hangat.
"Kamu nginap disini?" tanya Indira.
"Iya bu, boleh?"
"Boleh, boleh banget. Kamu tidur sama ibu yah?"
"Iya bu,"
Justine meletakan tiga minuman coklat hangat, dan memilih bergabung dengan dua orang wanita yang dia cintai.
"Bagaimana hasil dari Dalia?" tanya Indira memecah keheningan.
"Hasilnya akan keluar besok siang bu, aku berharap anak itu. Bukan anak kandung papah, jika benar maka. Ini pertemuan terakhir aku dan Justine," ungkap Liana sedih.
Indira menggenggam tangan Liana, mencoba menyalurkan kekuatannya. Indira selalu berdoa yang terbaik untuk Justine dan Liana.
"Ini sudah malam, lebih baik kalian beristirahat. Kalian harus bekerja besok," ujar Indira.
"Baik bu," jawab Justine dan Liana kompak.
Indira sudah terlelap, Liana membuka ponselnya ada pesan masuk dari Devara.
"Gue tau, lo gak nginep di kontrakannya Dera dan Sara. Lo harus tau, kalau Dalia adalah kakaknya Justine Li. Lo harus hati-hati," ucap Devara dalam pesannya.
"Gue tau, tapi gue juga cinta sama dia. Lo jangan bilang sama mommy atau papah," balas Liana.
Setelah membalas pesan Devara, Liana pun ikut bergabung bersama Indira, menuju alam mimpi. Berharap besok hasil dari tes DNA itu negatif.
***
__ADS_1
Semoga suka 💞
Maaf typo