
Setelah pertemuannya dengan Dalia, Hana mulai curiga bahwa wanita yang selalu di samarkan oleh si peneror. Sangat mirip dengan Dalia.
"Mudah-mudahan, ini hanya kecurigaan ku saja. Jika iya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kedepannya nanti." Lirih Hana.
Ketukan di pintu, membuat Hana cepat-cepat mengusap air matanya. Dia membuka pintu dan menatap Indra yang juga menatapnya.
"Jangan pernah berpikir buruk terhadap ku, aku sangat mencintai mu Hana. Kamu paling tahu, seperti apa perjuangan ku pada mu." Papar Indra, seolah tahu kegundahan hati sang istri.
"Entahlah, aku hanya takut saja."
"Jangan kebanyakan nonton sinetron sayang," kekeh Indra membawa Hana, dalam pelukannya.
"Sudah malam, ayok kita tidur. Jangan terlalu lelah, aku gak mau kamu sakit." Indra mengecup kening Hana, yang memejamkan matanya.
Hana pun menurut, dan masuk kedalam pelukan Indra. Pelukan yang selama dua puluh tahun lamanya, yang selalu menemani dirinya.
****
Di rumah Feli, Feli yang baru selesai menidurkan Alana. Langsung melakukan perawatan wajah di malam hari sambil menunggu Yudis yang sedang berada di ruang kerja.
"Mommy," panggil Elena, dengan ketukan di pintu.
Feli pun beranjak dari duduknya, dan membukakan pintu untuk sang anak.
"Kenapa sayang?"
"Aku takut, mau tidur sama mommy dan daddy." Pintanya merengek.
Feli menggaruk rambutnya yang tak gatal, padahal malam ini dia begitu merindukan sentuhan Yudis. Tapi harus batal karena sang anak.
"Ya sudah, ayok masuk. Mommy mau ganti baju dulu."
Elena pun masuk dan langsung membaringkan tubuhnya, di tengah-tengah ranjang yang berukuran cukup besar. Karena Alana sering tidur di tengah mereka, tapi malam ini Alana tidur di box.
"Loh! El kok di sini?" tanya Yudis, saat masuk kedalam kamar.
"Daddy, aku tadi mimpi buruk jadi takut tidur sendiri." Ucapnya.
Yudis pun menghembuskan napasnya secara panjang, dan menatap Feli yang sudah memakan piyama tidur. Bukan mengenakan Lingeri.
"Batal yah?"
"Iya," kekeh Feli. "Ya sudah masih bisa besok, atau pagi." Ucapnya mengedipkan sebelah matanya.
Feli dan Yudis pun bergabung dengan Elena, yang memeluk bonekanya erat. Dan langsung minta di peluk oleh Yudis.
"Lain kali, kamu ke kamar ka Darel saja yah!" ujar Yudis, membuat Feli mengulum senyum.
"Loh! Kenapa dad?"
"Gak papa, ayok sudah tidur. Nanti telat ke sekolah," perintah Yudis.
Feli melirik Yudis yang memejamkan mata, dia ingin membicarakan tentang kejadian tadi siang di cafe Keanu. Feli merasa jika Hana menyembunyikan sesuatu, sebagai sahabat dia mungkin salah satu orang yang peka. Sama sepertu Radit, namun kali ini mereka tidak akan terlalu ikut campur lebih dulu.
"Semoga hanya perasaan ku saja," gumam Feli.
****
Keesokan paginya Hana melakukan aktifitas seperti biasanya, walau dengan hati gundah dia tidak akan melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.
"Sayang aku berangkat dulu yah! Ada meeting penting, kemungkinan pulang malam." Ujar Indra, mencium kening Hana setelah menghabiskan sarapannya yang hanya sedikit.
"Tapi sayang..."
Belum selesai Hana berucap, Indra sudah berlalu begitu saja. Karena bagi Indra meeting ini benar-benar penting, Hana menghembuskan napasnya secara pelan. Kemudian kembali menyiapkan kebutuhan anak-anaknya.
"Pagi mom," sapa Liana.
__ADS_1
"Pagi, tumben. Biasanya juga paling telat," cibir Hana, membuat Liana cemberut.
"Mommy ini, bangun cepat salah. Telat juga salah, emang gak ada benernya hidup Liana ini," ketus Liana, membuat Hana tertawa.
"Idih malah ketawa lagi."
Tak lama Lian dan Devara pun turun bergabung bersama Liana dan Hana.
"Pagi mom," sapa mereka kompak.
"Gantengnya anak momy," puji Hana.
"Aku gak di puji sih mom, aku kan cantik."
"Udahlah ayok makan, nanti telat gue. Gue harus anter Lian dulu," ujar Devara.
"Memang papah kemana mom?" tanya Liana.
"Ada meeting penting," kata Hana, Liana bisa menangkap kekhawatiran di wajah sang ibu.
Liana pun hanya beroh saja, kemudian melanjutkan sarapannya.
"Kami berangkat dulu mom," pamit Liana, di susul Lian dan Devara.
"Hati-hati," balas Hana, di jawab anggukan oleh anak-anaknya.
Devara mengantar terlebih dulu Lian, kemudian dia akan mengantar Liana ke Wijaya.
"Kenapa lo milih di Wijaya sih! Kan ribet jadinya, kudu bulak balik." Keluh Devara.
"Ya mau aja, pengen suasana baru. Lagian gue tadi bisa bawa mobil sendiri kan?"
"Tapi mommy dan papah, larang lo bawa mobil."
Liana hanya memutar bola mata malas, tanpa menanggapi ucapan sang adik. Saat dia menatap ke luar, tak sengaja dia melihat mobil Indra tapi sekilas dia melihat seorang wanita.
"Mana?" sahut Devara.
"Engga, salah lihat." Bohong Liana.
Berpuluh menit kemudian, Liana sudah sampai di gedung Wijaya. Dia menatap sekilas gedung di hadapannya tersebut, tentu gak kalah besar dengan milik Gemy dan Rumi. Sedangkan milik papahnya sendiri, masih baru.
"Liana," pekik Dera.
"Astaga, lo ngagetin aja sih!" omel Liana.
"Ya lagian lo, malah ngelamun. Ngelamunin apaan sih?" tanyanya kepo.
"Ada deh, mana Sara?"
"Ish, Sara izin gak masuk hari ini."
Liana pun hanya beroh saja, dan masuk ke dalam lift bersama Dera. Mereka pun berbincang sebentar sebelum Dera keluar.
"Nanti makan siang bareng yah!" bisiknya.
"Oke," sahut Liana.
Liana pun keluar, setelah sampai di lantai sepuluh. Dia melangkah menuju ruangan Justine.
"Tumben belum datang," Liana pun mengedikan bahu acuh, dan menghidupkan komputer di depannya.
Selama magang di perusahaan Wijaya, dia tak pernah kesulitan dalam mengerjakan tugas karena selalu di bantu oleh Vano atau Justine. Sebenarnya Justine baik, hanya saja sifatnya yang dingin dan judes. Membuatnya tak suka, dia suka tipe laki-laki seperti Keanu dan Darel. Tapi dia pun tak mungkin suka pada mereka berdua, notifikasi pesan di ponselnya membuatnya bergegas membuka pesan tersebut.
"Rumi, tumben dia kirim pesan." Gumamnya.
Setelah membalas pesan Rumi, Liana langsung memasukan ponselnya ke dalam saku blazer-nya.
__ADS_1
Tak lama pintu terbuka, Justine dengan wajah datar dan dinginnya. Memasuki ruangan dan dengan sigap Liana meraih notebook untuk membacakan jadwal Justine.
Tidak ada pertemuan penting hari ini, membuat Liana menerima tawaran Rumi makan siang bersama. Di sekitaran kantor Wijaya, karena tidak ingin Liana mendapat masalah.
Jam makan siang pun tiba, Liana menghubungi Dera untuk mengajak makan siang bareng Rumi. Liana sudah menunggu Dera, di lobby kantor.
"Liana," panggil Dera.
"Ayok."
Liana menarik tangan Dera menuju cafe yang tak jauh dari kantor, sementara itu Justine yang baru saja keluar dari kamar mandi, sudah tak mendapati Liana di ruangannya.
"Kemana anak itu?"
Justine pun keluar, dan bertemu dengan Vano yang akan makan siang juga. Dan menanyakan keberadaan Liana, Vano pun memberitahu Liana sudah turun.
"Ikut saya," titahnya.
Vano pun mengikuti Justine, menuju cafe dekat dengan kantornya. Saat tiba di cafe tersebut matanya menangkap Liana yang sedang berbicara dengan Rumi, membuat Justine tak suka.
"Sudah mencuri start duluan, rupanya." Gumamnya, namun dapat di dengar oleh Vano.
"Gimana pak? Kita jadi makan siang di sini?" tanya Vano.
"Jadi, kita makan siang bersama mereka." Tunjuk Justine pada bangku Liana. "Dan pesankan, saya seperti biasa," sambungnya lagi.
"Baik pak."
Vano mencari pelayan, dan memesan makan siang untuk dirinya dan Justine. Sedangkan Justine sudah melangkah menuju tempat Liana dan Rumi, Dera yang menyadari kehadiran Justine pun langsung menyenggol lengannya.
"Bos," bisik Dera.
Liana pun menoleh ke arah pandang Dera, dan mendesah.
"Kenapa ada di sini sih!" kesalnya.
"Hai! Boleh gabung?"
"Meja masih kosong Jus, lo cari tempat yang lain saja." Ujar Rumi, dia tidak suka di ganggu.
"Ini tempat umum, suka-suka gue dong mau dimana." Ucap Justine.
"Sudah-sudah, disini saja." Putus Liana, dari pada nanti mengundang keributan.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang, mereka makan dalam hening. Membuat Dera tak nyaman, dia melirik pada Liana yang juga meliriknya.
"Nyesel gue, ikut Liana. Tau gini gue makan di kantin tadi," batin Dera.
****
Hana memandang kosong ke depan, lagi dan lagi si peneror. Mengirim foto kedekatan Indra dengan seorang wanita yang di blur, mereka sangat intim. Tak hanya satu, tapi banyak dari berbagai sisi.
"Apa aku harus mencari tahu?"
"Tapi aku belum siap, jika kebenarannya terungkap."
Hana pun mencoba menghubungi Indra, namun Indra tak mengangkat panggilan tersebut. Hana mencoba berpikir positif, tak lama notifikasi pun muncul dari nomor yang gak di kenal.
"Jangan menggangu, dia sedang sibuk."
Hana pun memejamkan matanya, untuk meredam sesak di dadanya. Dia ingin meminta bantuan, tapi dia pun bingung meminta bantuan siapa? Radit, tapi Hana takut Rania salah paham.
"Ya Tuhan," lirih Hana, mulai menangis.
Semoga suka 💞
Maaf kalo ngebosenin
__ADS_1
Maaf typo