
Tiga hari berlalu, Hana tak pulang kerumah. Hanya Radit yang pulang dan mengganti baju saja saat pagi hari.
Sebenarnya Liana kesal pada Indra, namun melihat kondisi sang papah memprihatinkan. Membuatnya iba, saat pulang dari kantor. Liana melihat Indra tak sadarkan diri dan demam, menurut dokter karena luka yang berada di wajahnya.
"Papah makan yah! Kalo papah gak makan, nanti cari mommynya jadi lama," kata Liana membujuk Indra.
"Biarkan papah mati saja Liana, jika membuat mommy mu bahagia." Ucap Indra terdengar putus asa.
"Pah, jangan ngomong gitu. Papah mau tinggalin aku? Kalo papah lama sembuh, nanti lama juga keluar rumah sakitnya."
"Biarin tinggalin papah sendiri," pinta Indra.
Liana pun keluar dari ruang rawat Indra, dia menatap Justine yang setia menunggu dirinya. Karena Devara hanya malam hari berada di rumah sakit.
"Gimana? Papah mu, mau makan?" tanya Justine.
"Engga, papah nolak." Jawabnya lirih.
Justine menatap Liana, dia bisa merasakan kesedihan yang terjadi pada Liana.
"Aku penasaran siapa wanita yang bersama papah," celetuk Liana, membuat Justine tersedak.
"Pak Justine kenal?"
"Hah? Si-siapa? Engga kok," jawabnya gugup, sebenarnya dia ingin memberitahukan kecurigaannya pada Liana tentang sang kakak Dalia yang mencurigakan akhir-akhir ini.
Liana pun menghembuskan napasnya secara kasar, dia menatap Justine. Sebenarnya dia curiga, namun dia tak akan menuduh tanpa bukti.
"Sebaiknya bapak pulang saja, aku bisa menjaga sendiri papah ku."
"Tidak aku akan menemani mu,"
"Ya sudah terserah, aku akan mengajukan cuti magang. Kalau semua kondusif aku akan masuk kembali," ujar Liana, di jawab anggukan oleh Justine.
Hening kemudian, terdengar suara langkah kaki. Liana melihat Feli dan Yudis, Liana beranjak dari duduknya dan menyambut sahabat Indra dan Hana.
"Tante," Liana langsung memeluk Feli, rasanya dia ingin menangis saja. Tapi dia harus kuat, sebagai anak pertama Liana tak boleh lemah.
"Gimana keadaan papah mu?" tanya Feli, setelah mereka melepas pelukannya.
__ADS_1
"Papah baik-baik saja, cuma dia gak mau makan tan."
"Lalu Hana kemana?" sahut Yudis.
"Mommy," Liana menunduk tak kuasa mengatakan segalanya.
"Sudah nanti kita kasih tau Hana, jangan kaya anak kecil. Jika ada masalah dia pergi gitu aja," papar Feli, kemudian Feli, Yudis dan Liana masuk ke ruangan Indra.
"Indra," panggil Feli, Indra menatap Feli dengan mata merah menahan tangis.
"Liana, tante sama om. Mau bicara sama papah mu,"
"Baik tan,"
Liana pun keluar dari ruangan Indra, dan kembali bergabung bersama Justine yang setia menunggu Liana.
***
Radit baru sampai di rumahnya saat makan siang, dia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa Rania.
Rania menatap Radit yang sedang mengemasi baju-bajunya.
"Aku harus pergi, mungkin selama beberapa hari." Kata Radit.
"Kemana?"
"Aku pergi dulu," pamit Radit, mengabaikan pertanyaan Rania.
Rania tidak mengejar atau menahan, dia percaya pada Radit bahwa Radit tidak akan macam-macam. Namun ada sakit di hatinya.
Sore pun tiba, Rania sudah selesai masak untuk anak-anaknya. Sebuah notifikasi muncul di ponselnya.
"Aku liat Radit sama Hana. Kamu ikut Ran? Aku panggil tapi Radit sama Hana tak menoleh," kata Anisa pada kolom chatnya.
"Engga aku di rumah Nis, aku gak kemana-mana sejak tadi." Balas Rania, pikiran buruk mulai bermunculan.
Anisa tak membalas lagi pesan Rania.
"Gak mungkin, aku tau Hana mantannya Radit. Tapi..."
__ADS_1
Rania mencoba menghalau pikiran buruk tentang Radit dan Hana.
****
"Ada apa sih Dra? Ada masalah?" tanya Feli langsung.
"Hana salah paham sama gue, dia liat gue di cumbu sama Dalia." Kata Radit jujur, dia tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dia butuh sahabat-sahabatnya.
"Dalia? Siapa dia?"
"Lo inget gak? Pas kita kumpul di cafe Keanu, tiba-tiba ada cewek yang nyapa kita?"
"Ya gue inget, lo selingkuh?" tuduh Feli, sementara Yudis hanya mendengarkan saja.
"Gue gak selingkuh, sumpah. Gak ada niat buat gue duain cinta Hana," lirih Indra.
"Lo tahu, luka ini. Radit yang lakuin," ungkap Indra.
Feli berdecak, dia menatap Indra iba. Kenapa Hana seperti anak kecil? Seharusnya dia bisa menyelesaikan masalah secara keluarga.
"Lo tenang aja Dra, gue bakal cari Radit dan Hana."
Tak lama ponsel Feli berdering, ada chat masuk dari Anisa. Mengirim foto Radit dan Hana tengah berdua di sebuah cafe.
"Gue pamit ya Dra, cepet sembuh." Ujar Feli, Yudis menepuk pundak Indra dan menyusul Feli yang sudah keluar.
Tujuan Feli ke rumah Gemy dan Anisa, dia akan membahas ini dengan Gemy. Feli menatap Yudis.
"Kenapa sih? Kok, liatnya kaya gitu?"
"Kalo kamu selingkuh, aku gak akan segan-segan bikin kamu menderita." Ancam Feli, setelah mereka masuk ke dalam mobil.
Yudis tertawa dan langsung mendapat cubitan di paha Yudis, membuat Yudis meringis.
"Mana mungkin aku selingkuh, kamu tau. Dulu saat kamu pergi aku hampir gila, aku tidak bisa tanpa kamu sayang. Aku sayang kamu dan anak-anak,"
Yudis mencium kening Feli, membuat Feli tersenyum dan memeluk Yudis kemudian. Mereka pun melajukan mobilnya menuju rumah Gemy.
Semoga suka 💞
__ADS_1
Maaf typo