
Saat Dalia tengah fokus pada pekerjaannya, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul.
"Malam ini, bisakah kita ketemu? Ada hal penting, yang ingin aku sampaikan." Ujar Sam dalam pesan chatnya.
"Ya tunggu di tempat biasa Sam," balas Dalia.
Setelah membalas pesan Sam, Dalia melirik jam di tangannya. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi, dia pun dengan segera mengerjakan pekerjaannya. Sebab hanya tinggal dia sendiri yang berada di ruangan itu.
"Lebih baik, aku bawa aja ke rumah." Gumam Dalia, setelah di pikir-pikir lagi. Dia tidak sabar untuk segera tau hal penting apa? Yang akan di sampaikan oleh Sam.
Dalia pun membereskan mejanya, dan langsung pergi. Dia tidak akan pulang dulu, jika pulang bisa di pastikan ayahnya tidak akan mengizinkannya. Jadi lebih baik, pergi langsung toh Mahesa tadi tau dirinya lembur karena telat masuk.
Berkendara seorang diri tak membuatnya lelah, walau kondisinya sedang hamil muda. Beruntung sekali dirinya pun tak merasakan morning sickness, berpuluh menit kemudian Dalia sudah sampai, dan Sam pun sudah berada di meja dekat kaca jadi dia bisa melihat Dalia datang.
"Maaf lama," kata Dalia.
"Tidak apa-apa."
"Jadi ada hal penting apa?" tanya Dalia penasaran.
"Apa kita tidak makan dulu Li, memang kamu tidak lapar? Kasian anak kita, dia juga butuh makan." Ujar Sam.
"Sam jaga bicara mu, anak ini anak ku. Kamu yang setuju untuk menghamili ku kan? Jadi jangan ungkit ini anak mu," tegas Dalia sambil mengedarkan pandangan, dia takut jika ada orang yang mendengar bisa gagal rencananya.
"Tapi bagaimana pun, dia anak ku." Tegas Sam, pasalnya setelah menyentuh Dalia. Ada perasaan aneh dari hatinya dan tadi dia mengikuti Dalia sampai klinik, dan mendengar Dalia hamil anaknya membuatnya senang.
Sam ingin memiliki keduanya, tapi dia sadar posisinya yang bukan semapan dan sekaya Indra. Tapi karena cinta butanya Dalia, membuatnya tak bisa apa-apa. Tapi dia akan melindungi mereka berdua.
Dalia menatap tajam Sam, dia tak suka bayinya di sebut anaknya.
"Baiklah Dalia, aku mengalah." Ujar Sam, setalah melihat tatapan tajam Dalia.
"Tapi ingat, jika kamu gagal mendapatkan Indra. Maka kamu harus terima aku sebagai ayahnya!" tekan Sam, namun Dalia tak menanggapi ucapan Sam. Dia hanya memutar bola mata malas, dia yakin akan berhasil mendapatkan Indra.
"Ya sudahlah, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Adik mu Justine, dia sudah berpacaran dengan Liana." Ucap Sam.
"Wah... Benarkah? Ini berita yang bagus Sam, terima kasih." Ucap Dalia dengan senyum semringahnya.
"Sebagai balasannya, aku akan traktir kamu Sam. Ayok pesan lah apa pun, yang kamu mau!"
__ADS_1
Sam hanya tersenyum saja, sebenarnya moodnya sudah sangat hancur. Tapi demi sang anak yang berada di dalam kandungan Dalia, dia pun menuruti perintah dari Dalia.
****
Sedangkan Sarah dia sedang memandang Selin yang bermain, dengan boneka-bonekanya. Pintu kamar Selin pun terbuka, munculah Diana yang masuk dan duduk di dekat Sarah.
"Mamah dari mana?" tanya Sarah.
"Mamah dari rumah Melati," jawab Diana, membuat Sarah bangun dari tidurannya.
"Tante Melati? mommy-nya Yudis?" tanya Sarah.
"Iya, tapi Yudis gak ada. Katanya ke Bali, apa jangan-jangan kamu ke Bali. Karena Yudis?" tebak Diana.
"Ya," jawab Sarah lirih.
"Aku ingin Yudis, jadi ayah Selin mah. Aku bisa liat gimana sayangnya Yudis sama anak-anaknya, aku yakin dia juga bisa sayang sama Selin. Selin butuh sosok ayah seperti Yudis," ujar Sarah menatap Diana.
"Mamah berharap juga seperti itu, mamah ingin melihat mu bahagia Sarah. Kamu dan kedua putri mu, mamah ingin kebahagiaan kalian," papar Diana.
"Tapi sepertinya sulit," ujar Sarah menghela napas panjang.
"Mamah akan berusaha, berbicara pada Feli. Mamah akan bujuk Feli," ucap Diana.
****
Sementara Liana dan Justine kini sedang berada di apartemen Justine, Indira sangat bahagia mengetahui jika Liana lah. Yang Justine cintai. Kini Liana membantu Indira, masak untuk makan malam. Liana pun telah memberitahu Hana bahwa dia akan pulang telat.
"Ibu senang, kamu menerima anak ibu yang kaku dan dingin ini sayang," kekeh Indira.
"Ibu nih bukannya muji anaknya, malah jelekin anaknya," protes Justine.
"Loh! Iya dong, ibu bicara apa adanya. Kamu kan kata karyawan mu itu, dingin dan cuek." Ujar Indira.
"Ya bu betul sekali," sahut Liana.
Justine pun berdecak kesal, kini Indira ibunya memiliki sekutu untuk meledek dirinya. Tapi tak apa, dia sangat bahagia melihat Indira tersenyum selepas itu, biasanya dia tersenyum seadanya.
"Malah melamun lagi, ayok makan semua sudah siap. Ternyata calon mantu ibu pandai memasak," puji Indira, membuat Liana tersipu malu.
"Cuma bisa dikit-dikit kok bu," ujar Liana.
__ADS_1
Mereka pun makan malam dengan di selingi obrolan, memang benar masakan Liana selalu nikmat. Dan Justine sangat beruntung, memiliki kekasih yang pandai segalanya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Liana membantu Indira, membersihkan perabotan bekas masak dan makan. Sementara Justine, dia sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.
Tiba-tiba notifikasi chat masuk, dia membaca dan mengepalkan tangan.
"Berani sekali dia!" geram Justine.
"Awas saja, jika kamu berani macam-macam dengan ku. Aku tak segan akan melakukan, hal nekat yang tak akan pernah sekali pun kamu lupakan dalam hidup mu." Ancam Justine.
Setelah membalas pesan Dalia, Justine mematikan laptop dan menatap kesal foto Mahesa. Dia membuang foto tersebut ke tempat sampah.
"Justine, ayok antar Liana pulang." Perintah Indira.
Justine yang tengah memejamkan mata, karena emosi langsung membuka mata. Dan melangkah ke luar dengan senyum manis.
"Ayok antar Liana, ini sudah mau gelap. Gak baik anak gadis masih di luar," ujar Indira.
"Iya bu," balas Justine.
Liana pun berpamitan pada Indira, dan berjanji akan mampir ke apartemennya jika dia tak sibuk.
"Ibu tunggu kedatangan mu lagi nak!" ucap Indira cipika cipiki.
Liana pun melambaikan tangannya, sebelum pergi menuju lift.
"Hati-hati sayang," teriak Indira.
"Iya bu," balas Justine.
Berpuluh menit kemudian, Justine dan Liana sudah sampai di kediaman Liana. Sebelum turun Justine ingin berbicara dengan Liana, membuat Liana heran.
"Kenapa? Jangan liatin kaya gtu lah, kan malu." Ucapnya menutup wajahnya kedua telapak tanganny.
"Kamu cantik Li, sangat cantik." Puji Justine, Liana pun tersipu malu bahkan pipinya sudah. merah.
"Liana, apa pun yang terjadi nanti. Apa pun kaya orang tolong jangan percaya, aku akan selalu ada untuk mu Li." Ucap Justine.
Membuat Liana tersenyum tipis, namun juga merasa bingung akan sikap Justine. Akhirnya Liana pun mengangguk sebagai jawaban.
Semoga sehat 💞
__ADS_1
Maaf typo, nulisnya sambil ngantuk 😩