
Jam tujuh malam, Liana dan Justine turun ke bawah untuk makan malam. Awalnya Justine sudah meminta makan di kamar, namun Liana menolak. Dia masih ingin berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya, sebelum Liana dan Justine pergi bulan madu.
"Pengantin baru, udah goal belum?" goda Radit.
"Ihh... Uncle Radit, apaan sih? Banyak anak-anak tau," protes Liana, saat mereka tiba di restauran hotel dan seluruh keluarga dan sahabat sudah berkumpul.
"Tau nih Radit, lo enak gak di goda sama kita-kita kan? Karena Feli mau melahirkan," sahut Gemy.
"Nah iya, gue lahiran Darel waktu itu." Kekeh Feli, sambil sibuk menyiapkan makanan untuk Alana dan Elena.
"Kalian gak gabung sama yang lain?" tanya Hana.
"Ya udah deh aku gabung sana," ujar Liana.
"Kayanya aku salah masuk geng ibu-ibu dan bapak-bapak," lanjutnya lagi, sambil menarik Justine untuk bergabung ke meja Devara dan lainnya.
"Dasar anak lo, Dra. Persis seperti Hana nyebelin," cibir Indra.
"Udah-udah kita makan saja," tegur Gemy.
"Liana sini," panggil Dera.
Dengan terpaksa Liana duduk di dekat sahabatnya Dera dan Liana, sementara Justine duduk di antara Devara dan Rumi.
"Li tadi ngapain aja?" bisik Dera.
"Apaan sih kepo," bisik Liana pula.
"Lebih baik, kita makan dulu. Nanti ceritain tadi ngapain aja," ujar Sara.
__ADS_1
Liana hanya menggeleng saja, dia melirik Justine yang sudah mulai makan. Mereka pun makan tanpa bicara, karena tadi saat resepsi mereka makan sedikit.
***
Dalia mengendarai mobilnya menuju rumah Sam, rasa rindu pada sang anak tak bisa dia tahan. Selama dua hari dia tak bertemu Yona, kini Yona sudah berusia empat bulan.
Saat tiba di depan rumah Sam, Yona menatap kamar yang di pakai Yona tidur yaitu kamar Sam.
"Kamu sedang apa nak? Bunda kangen," lirih Dalia.
Saat sedang asik melamun, pintu kaca mobilnya di ketuk membuatnya sedikit terkejut.
"Sam."
Dalia pun membuka pintu mobil, dan keluar dia tersenyum pada Sam.
"Dalia? Sedang apa kamu disini?" tanya Sam.
"Aku rindu Yona Sam," jujur Dalia.
"Beberapa hari ini aku memimpikannya, mengajaknya bermain dan lain-lainnya." Cerita Dalia.
"Tapi saat kamu datang, kalian tak bisa aku gapai dan sudah jauh dari jangkauan ku." Lirihnya lagi, Dalia dengan cepat menghapus air mata di pipinya.
Sam menghembuskan napasnya secara kasar, dia tak tau harus apa membujuk sang ibu. Untu Dalia di izinkan bertemu Yona, namun ibu Sekar dengan tegas menolak Dalia.
Sam tahu sakit hati sang ibu, tapi setidaknya kini Dalia menyesali semua kesalahannya di masa lalu.
"Kamu tahu Sam? Saat ini keinginan ku pada Indra sudah hilang, debaran itu sudah tak pernah aku rasakan," ujar Dalia menatap Sam, namun Sam mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Namun debaran itu, aku rasakan saat bersama kamu." Batin Dalia menatap lekat Sam.
"Itu bukan urusan ku Dalia, kamu bukan siapa-siapa lagi bagi ku. Hanya sebagai ibu dari anak ku yaitu Keiyona," tegas Sam.
"Lebih baik kamu pulang Dalia, ini sudah malam. Aku tahu tadi kamu menghadiri acara resepsi adik mu," kata Sam.
Membuat Dalia terkejut, bagaimana dia bisa tahu bahwa Dalia diam-diam datang ke sana?
"Kamu tahu?"
"Iya, sudah lebih baik kamu pulang, besok aku akan membawa Yona ke cafe. Dan kamu bisa bertemu dengannya di sana," papar Sam.
"Iya Sam, terima kasih banyak." Ucap Dalia.
Dalia pun menatap mobil Sam yang masuk ke pekarangan rumahnya, Dalia pun menghembuskan napasnya secara kasar. Dan pergi dari sana.
Berpuluh menit kemudian, Dalia sudah sampai di rumahnya.
"Dalia kamu dari mana?" tanya Arumi, yang baru mengisi air untuk di bawa ke kamar.
"Ke rumah Sam bu, aku kangen sama Yona." Ungkapnya jujur, dia tidak ingin ada yang di tutupi lagi dari Arumi.
Arumi mengusap pundak Dalia, dan tersenyum tipis.
"Mudah-mudahan nanti, ibunya Sam mau menerima mu sayang." Doa tulus Arumi, namun Dalia malah menunduk.
"Aku gak pantas untuk Sam bu, aku terlalu jahat padanya dan Yona. Aku menyesal menyia-nyiakan mereka," isak Dalia pada akhirnya, siapa tahu Arumi mau membantu dirinya.
Arumi membawa Dalia dalam dekapannya, membuat Dalia terisak di dadanya. Sebagai ibu dia ingin yang terbaik untuk sang anak.
__ADS_1
Semoga suka 💞
Maaf typo