
Aku sudah mencoba berkali-kali untuk memikirkan cara baru untuk mengatakannya, dan tetap saja aku mencintaimu.
Malam menjelang setelah makan malam, Darel tak keluar lamar lagi. Biasanya dia menghabiskan waktu dengan kedua adiknya.
"Mommy ka Darel mana?" tanya Elena yang sedang mengajak Alana main.
"Di kamar sayang," jawab Feli, yang sedang mencuci bekas makan di bantu Yudis.
"Ohh..." desis Elena.
Darel pun bersiap untuk menghubungi Sierra, dia akan membuat kejutan pada Sierra. Lama tak dapat panggilan, namun Darel tak pantang menyerah. Dia menunggu Sierra mengangkat panggilannya.
"Darel," pekik Sierra antusias sekaligus terharu.
"Hai!" sapa Darel tersenyum manis.
"Kamu jahat Rel, katanya mau kasih aku kabar setiap waktu." Ujar Sierra merajuk.
"Maaf Sie, kamu tahu sendiri aku sibuk untuk ujian kamu tau itu kan? Ya kamu enak udah keterima, aku butuh waktu lama. Beruntung ada yang bantu," jelas Darel.
Membuat Sierra mengangguk, sebenarnya Sierra ingin bertanya siapa yang membantunya tapi dia sungkan.
"Ya sudah lupakan, gimana kabar mu?" tanya Sierra.
"Aku baik, kamu?"
"Buruk, aku merindukan mu Rel."
Tentu saja Sierra berucap dalam hati.
"Baik aku juga baik, tapi sulit sekali aku punya teman di kampus Rel," ungkap Sierra.
Darel pun mengangguk, dia menatap Sierra tapi entah mengapa malah terpikir Akira. Sejak membatalkan jalan-jalan mereka, Akira tak menghubunginya lagi.
Membuat Darel menghela napas pelan, dan terlihat oleh Sierra.
"Kamu kenapa?"
"Gak papa kok!"
Darel pun mengalihkan pembicaraan, dia menanyakan banyak hal. Termasuk Sierra yang bertanya kapan Darel ke Indonesia?
"Entahlah aku gak tau Sie! Aku ingin fokus terlebih dulu menyelesaikan kuliah," ujar Darel.
"Kamu juga harus fokus oke! Kita lulus bersama, dan kerja bersama." Sambungnya kemudian.
"Iya," balas Sierra tersenyum.
"Dan aku berharap kamu datang pada melamar ku," batin Sierra tersenyum.
"Sudah dulu Sie, disini sudah mau malam. Jangan tidur terlalu larut maaf kalo aku nanti jarang menghubungi mu," ujar Darel.
"Iya aku mengerti," balas Sierra.
Mereka pun melambaikan tangan, dan Sierra mematikan panggilannya dengan tersenyum. Dia lega akhirnya bisa melihat Darel, yang menurutnya malah semakin tampan.
"Biarlah rindu ini, aku pendam sendiri. Agar saat bertemu nanti rindu ini menyatu," gumam Sierra tersenyum.
***
__ADS_1
"Akira," panggil Ailee.
"Mom," lirih Akira.
Ailee menatap sang anak yang begitu pucat, keringat dingin terlihat di dahinya.
"Kamu kenapa nak? Akira?" tanya Ailee panik.
"Perut ku sakit mom," balas Akira pelan, sambil merintih.
Ailee memanggil sang suami, dan menyuruhnya membawa ke rumah sakit.
"Sabar sayang kita ke rumah sakit."
Ailee mencoba membawa sang anak turun ke lantai bawah, di lihat Daniel sudah masuk ke dalam rumah setelah menyiapkan mobil. Daniel dengan segera menggendong sang anak, yang mengeluh sakit di perutnya.
Dengan kencang Daniel melajukan mobilnya, beruntung jalanan tak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama, Daniel sudah sampai di rumah sakit yang tak jauh dari rumah mereka.
Akira di bawa ke IGD, dan langsung mendapatkan pertolongan pertama.
"Aku takut dad, Akira anak kita satu-satunya." Isak Ailee, bersandar di dada sang suami.
"Sudah mom, jangan menangis. Akira butuh dukungan kita," Daniel mencoba menenangkan sang istri.
"Jadi kita harus kuat," sambungnya lagi.
"Bukannya dokter dulu bilang penyakitnya sudah hilang!" lirih Ailee.
"Aku tidak tahu sayang, sudah tenang."
Daniel mengusap punggung Ailee dengan sayang, dia pun tak tahu penyakit apa lagi yang di derita sang anak.
"Setelah memeriksa lebih lanjut, terdapat benjolan di ovarium nona Akira," jelas dokter
Ailee menggeleng lemah, tidak percaya sang anak kembali mengalami penyakit yang berat. Jika dia memiliki salah di masa lalu, cukup hukum dirinya jangan sang anak.
"Apa penyebabnya?" tanya Daniel dengan suara lemah.
"Nona Akira pernah mengalami penyakit kanker payudara, wanita pengidap kanker payudara yang pernah menjalankan kemoterapi dengan tamoxifen memiliki risiko adanya benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Tamoxifen dapat menyebabkan terbentuknya benjolan di ovarium, namun benjolan berisi cairan ini dapat hilang setelah pengobatan selesai," tutur dokter yang bernama Kim.
"Lakukan yang tebaik untuk Akira," kata Daniel pada akhirnya.
"Berapa pun biayanya, akan saya keluarkan untuk anak saya dok." Sambungnya lagi.
Dokter pun mengangguk dan pergi meninggalkan suami istri tersebut.
"Kenapa cobaan Akira begitu berat? Kenapa bukan aku saja? Saat remaja, dia harus melakukan kemoterapi untuk kankernya," isak Ailee.
"Sudah sayang." Daniel memeluk erat Ailee.
Perawat pun memindahkan Akira ke ruang rawat VIP, dia menatap sang anak yang terbaring dengan wajah pucatnya.
"Sayang," panggil Ailee.
"Mom?"
"Sayang kamu pasti bisa! Kamu kuat untuk melalui ini semua nak!" ujar Ailee, dia tak memberitahu Akira dulu karena takut sang anak sedih.
"Memangnya aku sakit apa mom?" tanya Akira penasaran.
__ADS_1
"Terdapat benjolan di ovarium mu sayang," lirih Ailee pelan.
"Tapi kata dokter, benjolan itu akan hilang setelah pengobatannya selesai," imbuh Ailee, menenangkan sang anak.
Akira menghembuskan napasnya pelan, baru sembuh dari penyakit ganasnya. Lalu kembali di beri cobaan kembali.
"Apa kamu mau memberitahu Darel?"
"Gak usah mom, Darel gak usah tahu. Aku gak mau merepotkannya," ujar Akira sendu.
"Tapi..."
"Mom, pleas." Pinta Akira memelas.
"Baiklah sayang," putus Ailee.
****
Terjadi perdebatan di rumah Sam, yang tak mau bertunangan dengan Sinta. Membuat Sekar murka.
"Ibu gak mau tahu, kamu harus bertunangan dengan Sinta besok." Marah bu Sekar.
"Aku gak mau ibu, aku gak cocok sama Sinta. Yona pun merasa kurang nyaman sama dia, dan satu yang harus ibu tahu. Sinta tidak menyukai anak-anak bu," terang Sam.
Dia baru tahu saat Sam bertanya apakah Sinta mau cepat punya anak atau tidak? Dan jawaban Sinta yang cepat tanpa ada keraguan, membuat Sam bisa menyimpulkan bahwa Sinta memang tak menyukai anak-anak. Dia ingin hidup bebas.
"Ibu gak percaya, jangan bilang kamu mau kembali sama wanita itu?" tebak bu Sekar menatap tajam Sam.
"Iya aku akan kembali pada Dalia, demi Yona. Dan aku akan mengejarnya kemana pun dia pergi," tekan Sam.
"Silahkan tapi jangan harap ibu memberikan mu restu," ujar bu Sekar meninggalkan ruang tamu.
Sejak tadi suami bu Sekar, pak Aryo hanya diam. Dia sudah lelah menasehati sang istri, yang menurutnya egois dan suka-suka sendiri.
Pak Aryo merasa kurang benar dalam membimbing sang istri, dia menatap putra sulungnya dengan tatapan sendu.
"Maafkan ibu mu Sam, ayah merestui kalian jika kamu dan Dalia ingin bersama." Ucap pak Aryo, dia tahu betul bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tak dia cintai.
Tapi seiring berjalannya waktu, pak Aryo dan bu Sekar akhirnya bisa saling jatuh cinta.
"Tidak ayah, seharusnya aku yang minta maaf. Dulu aku mengambil keputusan tanpa mendiskusikannya dengan kalian," ujar Sam.
"Sekarang Dalia dimana?" tanya pak Aryo mengalihkan pembicaraan.
"Dia pergi ke Makassar ayah, dan aku akan menyusulnya besok. Aku tidak ingin bersama Sinta," tutur Sam.
"Baiklah apa pun keputusan mu, ayah akan selalu mendukung mu." Ucap pak Aryo, menepuk pundak sang anak.
Kemudian meninggalkan ruang tamu, menyusul istrinya. Untuk memberikan pengertian, Sam menghembuskan napasnya secara pelan. Nanti setelah Mahesa dan Indira pulang, dia akan pergi ke Makassar menyusul Dalia.
Kalau perlu dia akan menikah dengannya di sana, tapi setelah mendapatkan alamat rumahnya. Bisa saja dia meminta teman-temannya, yang dulu tapi lebih baik dia usaha sendiri agar seperti pejuang sejati mendapatkan cinta.
tbc..
Semoga suka 💞
Maaf typo, sumber google
Visual Dalia dan Samudra
__ADS_1