
Keesokan harinya Akira dan Darel sudah sampai di rumah Feli, Akira ragu untuk masuk. Bahkan kini, dia bisa mendengar suara ramai dari dalam rumah. Namun Darel terus menariknya.
"Rel aku malu," ucap Akira, dia mencoba menarik tangannya yang di genggam oleh Darel.
"Sudah jangan malu, kamu pake baju ini kok!"
Akira memutar bola mata malas, mendengar ucapan Darel. Ingin rasanya dia meremas mulut Darel, namun dia hanya bisa mencubitnya.
Membuat Darel meringis.
"Rel sudah pulang? Dari mana pagi-pagi sekali?" tanya Radit.
"Iya om, aku abis jemput teman. Kita mau berangkat ke kampus bareng," bohong Darel.
Padahal hari ini dia memang ingin bolos saja, karena dia akan mengajak Sierra dan Akira jalan-jalan.
Radit beroh saja menanggapi ucapan Darel, Sierra pun datang membawa makanan untuk mereka sarapan. Akira memperhatikan itu, dia merasa Sierra sempurna bisa semuanya dia cantik juga khas Indonesia.
"Sie," panggil Darel, Sierra memang tak sadar Darel ada di ruang tamu.
"Apa?"
"Aku mau kenalin kamu sama Akira, sini!"
Sierra pun menghampiri Darel, dia penasaran bagaimana gadis yang bisa merebut hati Darel dengan cepat. Padahal dirinya butuh waktu yang lama.
"Akira kenal kan ini Sierra, Sie. Ini Akira," ujar Darel.
Akira berdiri dan menunduk, namun Akira pun menyambut uluran tangan Sierra.
"Senang berkenalan dengan mu Sierra," kata Akira.
"Aku juga," Sierra tersenyum tipis.
"Kalian sudah sarapan? Kalau belum, ayok kita sarapan bersama." Ajak Sierra, Sierra pun lebih dulu menuju meja makan tapi sebelumnya dia berbelok ke arah dapur dan menghembuskan napasnya dengan panjang.
"Kamu pasti biasa Sie, jangan cemburu!"
Sierra pun kembali ke depan, dan dia duduk dekat Feli yang otomatis berhadapan dengan Darel dan Sierra, dan ternyata mereka tengah bervideo call dengan Liana.
"Mommy," rengek Liana di sebrang video.
"Kenapa sih?"
"Aku mau nyusul," pekik Liana.
"Tapi Justine tak mengizinkan aku," kesal Liana.
"Liana, Justine sudah bagus melarang mu. Karena kandungan kamu masih lemah belum kuat juga, nanti kalau terjadi apa-apa gimana?" omel Hana.
Liana pun mengerucutkan bibirnya, dia kesal tapi tak mau terjadi sesuatu pada kandungannya.
"Ya sudahlah, tapi aku mau oleh-oleh yah! Om Radit, beliin aku oleh-oleh pokoknya aku gak mau tau, titik!" jelas Liana.
"Loh kok aku sih? Engga yah!" ledek Radit.
Liana yang kesal pun mematikan sambungan videonya, setelah berpamitan pada Hana.
***
Tepat pukul sepuluh Devara dan Sierra akan pergi ke Busan, Devara akan mengunjungi tempat aksesoris yang selalu mengirim barang ke Bangtan Area.
Sedangkan Darel dan Akira sudah lebih dulu ke Busan.
__ADS_1
"Bagaimana Akira menurut mu?" tanya Devara pada Sierra.
"Dia cantik, cocok sama Darel." Balas Sierra.
"Kamu gak cemburu?"
"Buat apa? Toh Darel bukan siapa-siapa aku," cetus Sierra.
"Jatuh cinta ternyata ribet yah? Liana dan Justine pun sempat terhalang restu, mommy dan papa sempat akan berpisah. Lalu om Radit dan tante Rania pun sama, kemarin masih anget tante Feli dan om Yudis." Papar Devara.
"Itu namanya ujian rumah tangga ka Dev! Kalo pasangan kita setia, dan gak ada gangguan masa lalu cinta itu indah." Jelas Sierra.
Devara mengedikan bahu acuh, pasalnya Devara pun tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Dari SD sampai kuliah mungkin, selalu bersama dengan Liana. Dan banyak yang menyangka bahwa, Liana adalah kekasihnya.
Seoul Forest menjadi tempat yang di kunjungi oleh Darel dan Akira, berupa taman kota yang sering di jadikan tempat piknik di Seoul.
Darel dan Akira duduk berdua menatap indahnya bunga sakura yang sedang bermekaran.
"Kalo Sierra ikut pasti akan lebih seru," celetuk Darel, membuat Akira tersenyum miris.
Pasalnya saat bersama dirinya pun, Darel tetap mengingat Sierra. Akira ingin sekali bertanya pada Darel, apakah dia cinta atau tidak pada Sierra.
Akira tak ingin menikah dengan orang yang masih memikirkan wanita lain, atau masih ada wanita lain di hatinya.
"Sebenarnya kamu cinta gak sih sama Sierra?" tanya Akira, dari pada penasaran lebih baik dia bertanya lebih dulu agar jika Darel menikahinya. Darel tak terus ingat wanita lain.
"Kok kamu nanyanya gitu sih?" balas Darel heran.
"Perasaan ku mengatakan kamu mencintainya Rel, bagaimana dari cara mu menatapnya dan memperlakukannya." Tutur Akira.
Darel hanya terdiam mendengarkan penuturan Akira, dia tak yakin pada siapa hati ini berlabuh.
Akira dan Sierra, mereka sama pentingnya di hidup Darelano. Darel pun menghela napas pelan, menatap lurus ke depan.
"Kalian sama pentingnya bagi ku, mommy, kamu dan Sierra. Kalian adalah tiga wanita terpenting dalam hidup ku," cetus Darel.
Akira menatap Darel sekilas, dan kembali menatap ke depan.
"Kita makan siang dulu," ajak Darel, mengurangi kecanggungan di antara mereka.
"Ya."
Darel dan Akira pun berjalan mencari cafe terdekat, karena sebentar lagi jam makan siang. Padahal baru pukul sebelas.
***
Devara pun sudah selesai melakukan pertemuan, dia menatap Sierra yang asik menikmati makanan khas Korea.
"Maaf lama," kata Devara.
"Gak papa ka," balas Sierra tersenyum, sesaat Devara memang terpana akan senyum Sierra yang manis.
Tapi tak kalah manis dengan senyum seseorang yang akhir-akhir ini mengusik hatinya, apakah ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama?
"Kenapa ka Dev?" tanya Sierra.
"Engga papa, kita langsung pulang? atau kamu mau jalan-jalan dulu gitu."
"Jalan-jalan dulu boleh deh!"
Devara dan Sierra pun meninggalkan gedung tersebut, dan melajukan ke tempat yang terkenal di Korea. Tapi sebelum itu mereka akan mengisi perut terlebih dulu.
"Kayanya aku kangen nasi deh," kekeh Devara, membuat Sierra tertawa pula.
__ADS_1
"Bukannya semalam makan nasi juga?"
"Iya tapi... nasi Indonesia lebih aku rindukan." Ucap Devara.
Membuat tawa Sierra meledak, mereka pun sampai di salah satu cafe. Dimana Darel dan Akira pun berada, saat masuk pandangan Sierra jatuh pada Darel dan Akira yang sedang bercanda. Terkadang Darel mencuri kecupan di pipi Akira, yang membuatnya cemberut.
"Itu Darel sama Akira?" tanya Devara.
"Iya,"
"Kita ke sana," putus Devara.
"Ehh... Ka Dev," protes Sierra.
"Dasar ka Dev," kesal Sierra.
Dia pun mengikuti langkah Devara, membuat Darel dan Akira menoleh secara bersamaan.
"Ka Devara, Sierra." Sapa Darel, sementara Akira hanya tersenyum saja.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Darel kemudian.
"Ohh... Kita mau makan siang, abis dari tempat kerja." Ujar Devara.
"Ohh... Ayok duduk di sini, kita makan siang bersama." Kata Darel.
Devara pun duduk di sisi Darel, sedangkan Sierra di sisi Akira. Sierra sudah menatap tajam Devara, tapi Devara tak ngerti kalau Sierra tak suka berada di antara Darel dan Akira.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Darel.
"Apa saja, kita ikut kalian." Balas Devara.
"Oke,"
Darel pun memesan berbagai macam makanan, karena dia tahu kalau Devara tak akan kenyang jika hanya makan mie saja. Maklumlah perut Indonesia, jika belum nemu nasi kek belum makan.
Tak lupa Darel pun memesankan capuccino ice untuk Sierra dan cheese cake seperti biasa Darel selalu tahu apa yang dia suka, dan Americano dan dua buah wafel.
"Habis makan siang, kalian mau kemana?" tanya Darel.
"Kita mau ke taman tadinya, tapi kalo ketemu kalian di sini. Kita ngikut aja, iya gak Sie?" tanya Devara menyenggol lengan Sierra, yang tengah asik dengan kopi dan cakenya.
"Terserah aku ikut saja," kata Sierra.
"Gimana kalo kita ke, Oryukdo Skywalk saja?" usul Akira.
"Oryukdo Skywalk?" gumam Sierra, dan di jawab anggukan oleh Akira.
"Ahh... Yang ada di film Haeundae itu kan?" tebak Sierra.
"Iya."
"Wahh... Aku mau coba dong Rel, Ra. Ka Dev kita ke sana yah?" pinta Sierra sudah seperti anak kecil pada Devara.
"Iya...iya, bawel." Ketus Devara, Akira dan Darel pun tersenyum tipis.
Obrolan mereka pun terputus, karena makanan pesanan mereka sudah tiba. Akira dan Sierra berbicara layaknya sahabat, mereka pun tak canggung lagi. Seolah melupakan keresahan dan rasa yang tak pasti di hati mereka masing-masing.
tbc...
semoga suka 💞
Maaf typo, tenang Devara juga bakal nikah kok 🤭
__ADS_1