Still Love You

Still Love You
BAB 20


__ADS_3

Zhao Zhi berbaring di kasur dengan santai. Dia tidak pergi merapikan rumah hari ini karena Zhao Wei yang merapikan jadi dia bisa bersantai. Semenjak hari pertengkaran nenek zhao sikapnya mulai berubah. Nenek mulai menyuruh Zhao Wei bekerja meskipun bukan pekerjaan yang berat tapi itu cukup meringankan beban yang lain terutama dirinya dan Zhao Hui.


Biasanya dia yang akan membersihkan rumah tapi sekarang Zhao Wei yang menanganinya.


Zhao Zhi berbaring miring dan melihat pintu kamarnya yang tertutup. Dia masih memikirkan ucapan neneknya yang bilang ingin membuang cucu perempuannya hari itu. Hati dia menjadi dingin tidak ingin mengakui nenek yang kejam itu adalah neneknya.


Apalagi dia tidak ada tempat berlindung tidak ada orang tua. Tidak ada yang akan membantunya dan menyayanginya tanpa pamrih.


Dia merindukan orangtuanya.


Dia ingin melihat rupa seperti apa orangtuanya. Kata bibi keduanya ayahnya mirip kakek sedangkan ibunya mirip dirinya meskipun dia membayangkannya seperti apa wajah mereka tapi dia tidak bisa.


Bibi keduanya juga bilang dia anak yang dinantikan oleh orangtuanya. Jika mereka masih hidup apa mereka akan memanjakan dan menyayanginya seperti nenek memperlakukan Zhao Wei.


Dia hanya bisa berkhayal saja.


Zhao Zhi memejamkan mata. Air mata keluar dari celah matanya. Dia tidak bisa menahan tangis. Kesedihan yang dia alami rasanya menyakitkan sekali. rasa sakit yang Zhao Wei alami bukan rasa sakit fisik tapi rasa sakit mental yang menyakitkan.


Kesepian


Penderitaan yang dialami dalam keluarga tanpa tau apa yang dia inginkan dan tidak bisa mengucapkan hal yang diinginkan rasanya sesak sekali.


Zhao Zhi menangis tanpa suara.


Tidak ada yang tau Zhao Zhi menangis seorang diri.


Mengigit bibirnya dengan keras berusaha menahan isak tangis yang ingin keluar. Zhao Zhi pernah menangis tidak menahan suara neneknya mendengarnya tapi dia diomeli karena berisik. Semenjak itu dia menahan tangis.


Menyedihkan


Zhao Zhi mengusap air matanya dan bangun dari tempat tidur. Ada bekas air mata pada bantal yang ia tiduri. Zhao Zhi membalikkan bantal menyembunyikannya Zhao Hui akan pulang dari sekolah dia tidak ingin sepupunya melihat bekas air matanya.


Zhao Zhi menyemangati dirinya supaya kuat dan tidak larut dalam kesedihan.


"A zhi? Kamu sudah bangun?" suara tanya dari balik pintu menginterupsi Zhao Zhi.


"Sudah."


"Kemari, bibi minta tolong."


"sebentar, bibi."


Zhao Zhi merapikan penampilannya. Dia berharap bibinya tidak menanyakan matanya yang sendu karena menangis.


Zhao Zhi membuka pintu kamarnya melihat bibi keduanya memegang kain.


"Ada apa Bi?"


"Ini antarkan kain ke rumah Zhao Rui. Bibi ingin menjahit pakaian untuk huihui dan kamu. Ini ukuran untuk baju huihui dan untuk yang kamu bisa ukur disana saja. Dan ini kain yang buat pakaian." Zhao Yun menyerahkan kepada Zhao Zhi. Dia tidak bisa menyerahkan kain ini karena harus memasak. Pakaian yang akan di jahit merupakan pakaian yang akan dikenakan Zhao Hui dan Zhao Zhi untuk tahun baru.


Keluarga Zhao Rui membuka jasa jahit baju, penduduk desa biasa menjahit disana.


"Baik, Bi." Zhao Zhi mengambilnya.

__ADS_1


"Bibi sudah bilang waktu itu jadi kamu tinggal berikan saja."


"Baik."


"jika kamu ingin main di rumah Zhao Rui juga tidak apa-apa. Tidak perlu membantu bibi." Tambah Zhao Yun. Dia menyadari mata Zhao Zhi merah, dia pikir Zhao Zhi habis menangis. Karena itu dia ingin Zhao Zhi bermain untuk menghibur diri.


"AH, Iya bi." Jawab Zhao Zhi canggung. Tidak menyangka bibi keduanya berucap begitu. Sepertinya matanya terlihat jelas bekas menangis.


"Bibi ke dapur dulu." Zhao Yun pergi ke dapur meninggalkan Zhao Zhi.


Zhao Zhi kembali ke kamar ingin mencari cermin melihat matanya.


Mata merah dan sedikit bengkak tercermin, Zhao Zhi menghela nafas. Dia pergi ke kamar mandi mencuci wajahnya. Berharap dengan mencuci wajahnya matanya menjadi reda.


Setelah itu dia pergi ke rumah Zhao Rui dengan kain. Rumah Zhao Rui tidak terlalu jauh dari rumahnya jadi tidak lama dia berjalan. Dia melihat rumah Zhao Rui yang ramai.


Zhao Zhi memanggil orang dalam rumah.


Zhao Rui keluar dari rumah pakaian yang dia kenakan berbeda dengan biasanya.


"A Zhi ada apa?" tanya Zhao Rui.


Hari ini dia kedatangan keluarga tunangannya untuk mendiskusikan tanggal pernikahan. Mereka masih didalam dia pergi keluar sebentar untuk melihat orang yang memanggil tidak mengira Zhao Zhi yang datang.


"Kak Rui aku disuruh bibi kedua untuk antarkan kain untuk dijahit. Kata bibi sudah bilang aku tinggal berikan. Ini ukuran baju huihui dan untuk ukuran aku katanya ukur disini saja." Jelas Zhao Zhi.


"Oh tunggu sebentar." Zhao Rui kembali kedalam memanggil ibunya.


Tak lama kemudian Zhao Rui kembali. "A Zhi ayo masuk kamar aku."


Zhao Rui mengajak Zhao Zhi ke dalam.


Zhao Zhi mengikuti dibelakang, dia melihat orang-orang yang berkumpul di ruang tamu. Zhao Zhi tersenyum canggung pada mereka.


"Permisi." Kata Zhao Rui.


"A Zhi masuk dulu. Nanti diukur sama Rui." Ibu Zhao Rui berkata pada Zhao Zhi dengan ramah.


"Baik bibi." Jawab Zhao Rui.


Mereka berdua masuk ke kamar Zhao Rui dan menutupnya.


"Kakak Rui siapa mereka?"tanya Zhao Zhi setelah Zhao Rui menutup pintu.


"Keluarga calon suamiku." Jawab Zhao Rui dengan malu.


Zhao Zhi membelalakkan matanya.


"Su-suami?"


"Iya. Aku akan menikah." Zhao Rui membagikan berita Bahagia dengan senang.


"Selamat! Kapan kak?"

__ADS_1


"Kurang tau. Ini masih didiskusikan." Zhao Rui mengambil pita pengukur dan mulai mengukur tubuh Zhao Zhi.


"Aku harap pernikahan kakak Bahagia." Zhao Zhi mendoakan Zhao Rui.


Dia berharap pernikahan kakak rui dapat membahagiakannya. Karena dia menyayangi Zhao Rui seperti kakak perempuannya.


"Iya. Nanti aku datang ya." Zhao Rui mengusap rambut Zhao Zhi dengan lembut.


"Tentu. Apa kakak rui ada yang bisa aku bantu untuk persiapan pernikahan kakak?kakak jangan ragu minta tolong kepadaku" tanya Zhao Zhi semangat.


"Baik, baik. Akan aku ingat."


Zhao Rui tersenyum lucu dengan kelakuan Zhao Zhi yang bersemangat.


"Nah, sudah selesai." Zhao Rui mencatat pengukuran tubuh Zhao Zhi untuk baju yang akan di jahit.


"Kalau begitu aku pulang dulu."


"Tidak main dulu?" tawar Zhao Rui kepada Zhao Zhi.


Zhao Zhi menggelengkan kepalanya. "tidak kak. Nanti saja."


"Hmm... padahal kamu bisa main dulu." Gumam Zhao Rui.


Zhao Zhi tersenyum "kan ada calon suami kakak. Aku tidak ingin ganggu lebih lama. Kalo gitu aku pamit. Ini kainnya."


"AH iya terimakasih."


Zhao Zhi keluar dari kamar daan melangkah menuju pintu depan.


"Sudah mengukurnya?" tanya ibu Zhao Rui.


"Sudh, bibi. Kalo begitu A zhi pergi dulu. Permisi." Zhao Zhi berpamitan dengan sopan dan pergi dari rumah Zhao Rui dan kembali ke rumahnya.


Dia langsung pergi ke arah dapur menemui bibinya.


"Tidak main?" tanya Zhao Yun kepada keponakannya.


"Tidak bi. Di rumah kakak rui ada tamu."


"Besok tunangan Zhao Wei akan datang kemari. Nanti bantu bibi memasak." Zhao Zhi menganggukan kepala setuju.


"Kakak han pulang kampung? Kapan itu?"


"Hari ini. Dia akan berkunjung besok menemui Weiwei."


"Begitu."


Tidak terkejut dengan itu. Karena memang biasanya begitu.


"Kamu tidur lagi saja. Bibi sudah hampir selesai."


Zhao Zhi kembali ke kamar . "Baik bi."

__ADS_1


__ADS_2