
"Kenapa kamu menatap ayah seperti itu?" tanya Mahesa, setelah menyadari bahwa sang anak menatapnya dengan lekat.
"Ada yang ingin aku tanyakan!"
Mahesa pun mengangguk sebagai jawaban.
"Apa Dalia anak ayah dan tante Arumi?" tanya Justine, pasalnya saat pertengkarannya dulu. Dia tak sempat menanyakan kepada Mahesa.
Mahesa tersentak kaget saat Justine menanyakan hal tersebut, dan mungkin ini saatnya untuk memberitahukan kebenarannya pada sang anak.
"Ya dia bukan anak ku." Jawab Mahesa.
Justine tidak terlalu terkejut, dia hanya ingin jawaban dari sang ayah. Melihat Justine yang biasa saja, Mahesa menduga Justine sudah tahu atau ahh entahlah Mahesa pun di buat pusing.
"Kenapa kamu tidak terkejut?"
Justine hanya tersenyum tipis.
"Aku hanya menebak, setelah di lihat-lihat antara Dalia dan ayah tidak ada kemiripan sama sekali. Sedangkan untuk tante Arumi hanya di bagian," papar Justine.
"Tuan acara akan di mulai," umum panitia WO.
"Baiklah," balas Justine.
Tanpa menunggu jawaban Mahesa, Justine meninggalkan sang ayah sendiri. Mahesa menatap punggung sang anak yang sudah keluar kamar, Mahesa menerka-nerka kenapa Justine bisa tahu. Ucapan Justine pun seperti penuh teka teki.
Mahesa pun menghembuskan napasnya secara kasar, dia pun ikut keluar saat keluar dia berpapasan dengan sang mantan istri Indira. Namun sikap Indira yang cuek membuatnya tak suka, dia ingin Indira menatapnya dengan tatapan memuja. Tidak tahu diri memang, sudah tua masih memikirkan cinta.
***
Acara ijab kabul pun berjalan dengan lancar, kini Liana sudah resmi menjadi nyonya Wijaya. Liana dan Justine pun melakukan sungkem kepada orang tua masing-masing, Mahesa pun berdiri bersebelahan dengan Indira.
Setelah acara sungkem selesai, mereka pun melakukan sesi foto bersama dengan keluarga dan para sahabat. Acara tersebut akan langsung mengadakan resepsi pukul dua belas siang, ada jeda satu jam untuk Justine dan Liana istirahat.
Feli dan Yudis pun hadir di acara pernikahan Liana dan Justine, mereka menyempatkan pulang terlebih dulu selama satu minggu bersama Alana dan Elena. Dan akan mengambil Ijazah milik Darel serta keperluan untuk masuk ke universitas di Korea, sedangkan Darel tidak ikut, karena mempersiapkan ujian masuk universitas.
"Tante Feli," sapa Sierra.
"Hai Sie, apa kabar?" tanya Feli mencium pipi Sierra.
"Baik tante," balas Sierra.
"Kamu sendiri apa kabar?" tanya Feli pula.
"Aku baik tan," ucapnya tersenyum.
Sedangkan Feli hanya mengangguk, Sierra pun ragu ingin menanyakan kabar dari Darel. Selama ini Darel hanya sekali menghubungi dirinya.
"Kamu lanjut kuliah dimana Sie?"
"Di Universitas Erlangga tan, kebetulan sudah keterima." Ujar Sierra.
"Ohh bagus, Darel baru daftar kemarin-kemarin. Dia maunya di sini tapi tante larang," kekeh Feli.
Sierra hanya tersenyum menanggapi Feli.
__ADS_1
"Gimana keadaannya tan?" tanya Sierra malu-malu.
"Baik Darel baik, dia juga makin tampan loh!" goda Feli, membuat Sierra merona.
"Tante," rengek Sierra salah tingkah.
Feli dan Sierra pun mengobrol bersama, sementara Alana dan Elena bersama dengan Yudis dengan Gemy dan Radit.
Dalia termenung di kamar, dia sangat ingin bertemu dengan Indra. Namun Justine sudah mengancam dirinya, ancaman Justine tak main-main Justine akan menjauhkan Yona dari Dalia. Dan akan mencari ibu yang tepat untuk Yona.
Dalia tidak ingin itu terjadi, dia tak siap di jauhkan dengan sang anak. Walau secara diam-diam dia selalu menemui Yona, yang selalu Sam ajak ke kantor.
"Kamu cantik dan sehat, ayah mu merawat mu dengan baik sayang." Gumam Dalia.
"Apa bunda boleh menemui mu sayang? Apa nenek mu tidak marah?"
Dalia menghela napas secara panjang, dia pun bangkit dari duduknya. Dan berjalan menuju balkon kamarnya, dia menatap lurus ke depan mengingat awal mula dia bisa menyukai Indra. Sampai nekat dan berakhir dengan hadirnya Yona.
Berbeda di Indonesia di Korea Darel, tengah membeli keperluan untuknya ujian masuk ke universitas ternama di Korea. Dia di temani Akira seperti hari-hari kemarin.
"Kamu liat apa Rel?" tanya Akira.
"Ini aku lihat pernikahan anak dari sahabatnya mommy, seandainya ujiannya bulan depan tentu saja hari ini aku ada di Indonesia," keluh Darel.
Akira pun duduk di dekat Darel, dan melihat acara pernikahan dari ponsel Darel. Ternyata Darel menonton live yang di lakukan oleh Devara.
"Bagus, kapan-kapan ajak aku ke sana." Pinta Akira.
"Oke, aku juga bakal kenalin kamu ke teman aku. Namanya Sierra," ujar Darel antusias.
Namun Akira yang melihat binar di wajah Darel, membuat senyum di wajah Akira menyurut.
Akira pun tersentak kaget, dan kembali sadar dari lamunannya.
"Ahh... Maaf Rel,"
"Kamu melamun? Ngelamunin apa sih? Pasti pacar yah?" goda Darel.
"Apaan sih kamu," kekeh Akira.
Dia menatap Darel, laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta pada pandanganuq pertama. Laki-laki yang bisa membuatnya berdebar, dan selalu membuatnya memikirkan Darel.
"Apa aku harus mengakui perasaan ku? Tapi jika aku mengaku, aku takut dia menjauh dari ku. Tidak.... Tidak biarlah seperti ini," batin Akira menggeleng.
"Kenapa?" tanya Darel.
"Gak papa ko."
****
Dera dan Sara mengantar Liana ke kamar ganti, Liana akan beristirahat sampai pukul dua belas sebelum acara resepsi di mulai.
Saat Dera dan Sara keluar, mereka bertemu dengan Devara dan Keanu dan juga pengantin pria.
"Pak Liana sudah menunggu di dalam," goda Dera dan Sara kompak.
__ADS_1
Membuat Devara dan Keanu tertawa.
"Sana masuk, jangan lakuin siang hari ya! Malam aja, biar beneran jadi malam pertama," goda Keanu.
"Ish... Lo, banyak anak di bawah umur." Tunjuknya pada Dera, Sara dan Devara.
Membuat mereka kompak memutar mata malas.
"Pak jangan di kira kita ini bocah ya! Gini-gini juga kita bisa bikin bocah," ketus Dera.
"Iya nih bapak, mentang-mentang udah dapet ehh malah menghina kita," cibir Sara.
"Iya betul kakak ipar, dan kita sudah 21 tahun yah mau 22 ingat itu!" ketus Devara.
"Iya, iya gitu aja ngambek," kekeh Justine.
"Sudah sana masuk," titah Keanu.
Justine pun masuk ke dalam kamar ganti Liana, dia mendapati Liana yang tengah mengganti kebayanya dengan baju biasa. Justine menyuruh tukang rias keluar terlebih dulu.
"Nanti setengah dua belas, saya ke sini lagi tuan, nyonya." Ujar sang asisten penata rias.
"Baik," jawab Justine.
Kini tinggalah mereka berdua di dalam kamar.
"Ya Tuhan, aku gugup sekali." Batin Liana terus menunduk.
Apalagi saat Justine duduk di sebalahnya, dan mengusap pundaknya. Dan tanpa sengaja mengusap tengkuknya, yang membuatnya merinding seperti kedatangan hantu.
Liana menelan ludah dengan kasar, dia mendadak ingin keluar dari kamar dan menemui Hana.
"Mommy tolong aku," jeritnya dalam hati.
"Tenang jangan tegang, rileks saja." Bisik Justine.
"I-ini pertama kali aku bersama kamu, dalam status berbeda Justine." Jujur Liana.
"Ya aku tau sayang, kamu tenang aku gak akan melakukannya sekarng. Tapi nanti malam, Keanu bilang kalo siang jadi siang pertama dong," kekeh Justine.
Liana pun tersenyum menatap Justine yang kini menjadi suaminya.
"Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Liana.
"Bolehkah aku mencicipi ini?" Justine mengusap lembut bibir Liana, bibir yang sudah lama jadi incarannya.
Bibir Liana sedikit tebal, dan merah alami jika tanpa lipstik. Dan Justine sudah lama benar-benar penasaran akan rasanya.
Liana hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, dia tak kuasa menolak saat dirinya pun. Ingin merasakan yang namanya ciuman, selama 21 tahun hidupnya dia tak pernah dekat dengan pria. Dalam artian menjalin hubungan serius, sikap dan sifat Liana yang cuek dan terlampau cerewet.
Cup!
Kecupan itu mendarat dengan sempurna di bibir Liana, Justine pun menatap reaksi Liana. Dia melihat rona merah jambu di pipi Liana, dan menunduk malu Justine melanjutkan ciuman tersebut. Bukan ciuman singkat seperti barusan, sedikit panjang membuat Liana kehabisan napas. Dan kaku membalas ciuman Justine.
__ADS_1
Semoga suka 💞
Maaf typo