
Kurang lebih tiga jam, Liana dan Justine sudah sampai di daerah Lembang Justine memesan sebuah penginapan, yang tak jauh dari sekitaran tempat wisata.
Sebenarnya Justine memiliki rumah sekitaran Bandung, hanya saja letaknya agak jauh dari Lembang. Rumah yang dulu pernah Indira sewa, dan sekarang menjadi milik dirinya dan sang ibu dan sudah di renovasi. Dan akan mengajak Liana ke rumahnya, setelah semua urusannya selesai.
Sebelum melihat-lihat tempat yang strategis, Liana dan Justine makan siang terlebih dulu. Sambil menunggu makan siang, mereka memakan kudapan kue balok dan es kopi.
"Kenapa bapak ngajak saya ke sini? Harusnya sama pak Vano dong!" protes Liana, pasalnya dia bingung apa yang harus dia kerjakan. Sejujurnya Management bukanlah keinginannya, Liana tak pintar-pintar amat di bidang perhitungan apalagi persentasi di hadapan orang.
"Ya kamu harus belajar, nanti saya ajarkan. Jangan khawatir," ucap Justine.
"Saya curiga, kerja itu alibinya bapak kan?" tanya Liana curiga.
"Tidak, sudahlah jangan curiga. Percaya saja sama saya,"
Tak lama makanan pesanan mereka sudah sampai, mereka makan dengan hening. Terlebih Liana dia terus menatap Justine dengan kesal.
****
Sementara itu, Dalia dan Indra yang baru kembali dari tempat lokasi. Memutuskan untuk makan siang di luar, seperti biasa Indra selalu membawa bekalnya.
Dalia tak menolak, selama Indra mau makan siang dengan dirinya.
"Terima kasih Dalia, kamu sudah mau membantu saya." Ucap Indra.
"Sama-sama pak, saya senang membantu anda. Karena saya juga kebetulan suka jalan-jalan, dan bercita-cita membuka agen Tour and Travel," jelasnya, dan Indra pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Saat mereka asik mengobrol adegan demi adegan di sengaja Dalia ciptakan, dan seseorang tengah memotretnya. Kemudian orang tersebut tersenyum puas, setelah mengirim foto tersebut pada Hana.
"Saya ke toilet, sebentar." Izinnya pada Indra.
"Silahkan."
Dalia pun menunggu seseorang yang sudah mengambil gambar dirinya dan Indra, seorang laki-laki dengan baju hitam, memakai topi dan masker.
"Gimana hasilnya?" tanya Dalia setelah laki-laki bernama Sam datang.
"Bagus, lihat saja sendiri."
Dalia pun melihat hasilnya, dan mengirimkan ke ponselnya yang satu lagi.
"Thanks Lia, lo emang temen gue yang paling ngerti."
Dalia pun tersenyum menanggapi ucapan Sam, Samudera dan Dalia adalah teman satu sekolah dulu saat mereka duduk di bangku SMA.
Dalia mengirim foto tersebut pada Hana, dan tersenyum menatap pesan yang sudah di baca oleh Hana.
"Aku pinjam suami mu," ujar Dalia, pada pesan foto tersebut.
****
Hana yang sedang menunggu Lian keluar dari kelas pun menatap foto tersebut, Hana menghela napas secara kasar.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
"Han," panggil Feli, membuat Hana terlonjak kaget.
"Fel, ngagetin aja sih." Kesal Hana.
"Ya gue panggil lo, malah melamun. Ada apa sih? Ada masalah?"
"Gak papa kok, mana Alana? Kok gak ikut?" tanya Hana mengalihkan pembahasan, membuat Feli menghembuskan napasnya secara kasar.
Dia tahu Hana, tidak ingin menceritakan masalahnya pada orang lain. Bersama Hana puluhan tahun, membuatnya tahu bahwa Hana memiliki masalah.
"Pagi-pagi sekali, dia di jemput mommy Melati. Katanya kangen sama Alana dan Elena, hari ini pun gue sama Elena mau ke rumah mommy Melati," papar Feli.
"Enak yah, mereka masih di sayang sama nenek dan kakek. Kalau anak-anak gue, orang tua Indra udah gak ada. Orang tua ge jauh, gak selalu setiap saat nemuin cucunya. Apalagi Liana, dia selalu berada di kamar jika seluruh anggota keluarga gue kumpul," ungkap Hana terkekeh.
Feli mengusap pundak Hana.
"Lo masih punya orang tua gue, Han. Bunda sama mommy pasti nerima anak-anak lo, mereka pasti seneng punya cucu banyak," kekeh Feli.
"Makasih Fel,"
Sambil menunggu jam pulang, Hana dan Feli pun memutuskan untuk menunggu anak mereka di warung baso depan sekolah. Feli sungguh gatal ingin menanyakan Dalia yang kenal dengan Indra.
Semoga suka 💞
__ADS_1