Still Love You

Still Love You
Pengumuman Karya Baru


__ADS_3


Awal pertemuan


Saat itu Anyelir yang baru bekerja di sebuah cafe, mengantarkan minuman ke meja yang di isi mahasiswa dan juga teman-teman Dika.


"Kemana nih Dika?" tanya Roby.


"Dia lagi anterin si Dela, mereka ini udah kaya orang pacaran aja. Gak mau jauh satu sama lain," kekeh Hendra.


"Nah tuh dia baru datang," tunjuk Irpan.


"Sorry gue telat," ucapnya.


"Gak papa, gak masalah makanan pun baru datang. Lo mau pesan apa Dik?" tanya Roby.


"Samain aja deh."


Roby pun mengangguk dia memanggil pelayan, dan menyebutkan pesanan untuk Dika. Tak butuh waktu lama Anyelir datang dengan nampan pesanan Dika.


Sesaat Dika memang terpana akan kecantikan Anyelir, namun teriakan teman-temannya membuatnya malu. Sebab dia terpergok menatap Anyelir.


"Silahkan," ucap Anyelir, suaranya yang lembut dan senyumnya yang manis membuat Dika terpesona.


"Dik ngelamun aja lo," kekeh Irpan.


"Jangan-jangan lo, naksir ya?" tebak Roby, di sambut tawa yang lain.


"Rese lo semua," ketus Dika.


Mereka pun mengobrol khas anak muda, tepat pukul delapan mereka membubarkan diri.


"Dik gue duluan yah!" ujar Robby dan Irpan kompak.


"Gue juga," sambung Hendra.


"Iya...iya," balas Dika.


Dika masih betah di cafe, karena Anyelir hilir mudik mengantar pesanan.


"Mbak," panggil Dika, saat Anyelir lewat di depannya.


"Iya mas,"


"Pesan lagi, capuccino ice yah!"

__ADS_1


Hanya itu yang bisa dia katakan, Walau pun laki-laki. Dika tidak cukup berani untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Baik mas, tunggu sebentar." Balas Anyelir, dan di jawab anggukan Dika.


"Hufff.... Ya Tuhan, gugup banget gue. Biasanya gue berhadapan dengan cewek centil macam ponakan gue," gerutu Dika.


Tak butuh waktu lama pesanan Dika sudah sampai.


"Silahkan mas," ucap Anyelir.


"Tunggu, nanti pulangnya bisa bareng gak?" tanya Dika dengan harap-harap cemas.


Membuat Anyelir menautkan alisnya, dia tidak kenal orang ini. Namun tiba-tiba ngajak pulang bareng? Aneh itu lah pemikiran Anyelir.


"Maaf mas, tidak bisa saya tidak kenal anda." Kata Anyelir.


"Ya sudah kalau gitu, kita kenalan. Kenalin nama ku Radika," ucap Dika mengulurkan tangannya.


Ragu Anyelir menatap tangan Dika, yang mulus. Dan Anyelir bisa tebak bahwa tangan Dika halus, dengan ragu Anyelir menerima uluran tangan Dika.


"Anyelir," balas Anyelir dengan lirih, namun Dika mampu mendengar.


Dika tersenyum senang.


"Nama yang bagus, untuk wanita cantik." Pujinya, membuat Anyelir tersipu.


"Iya mbak," teriak Anyelir.


"Maaf mas Dika, saya harus bekerja kembali."


"Ohh... Maaf Nye, aku ganggu kamu."


"Tidak apa-apa, aku kesana dulu." Pamit Anyelir, yang di jawab anggukan Dika.


Anyelir pun berlalu di hadapan Dika, Dika masih bisa mendengar Anyelir yang di marahi.


"Jadi pelayan baru? Kasian banyak di bully, aku liat yang lain banyak diam. Gak bisa di diemin ini," ucapnya penuh emosi.


Selama menunggu Dika menatap Anyelir yang bekerja ke sana ke mari, sesekali Anyelir menyeka keringatnya. Tepat pukul sepuluh malam, cafe tersebut akan tutup dan Anyelir pun bersiap pulang.


Dika sendiri, sudah menunggu di dalam mobil. Bahkan sejak tadi tak hentinya ponselnya terus berdering.


"Hallo," jawab Dika dengan ketus.


"Astaga, uncle rese. Ini udah jam berapa coba? Mau nginep di cafe apa? Granny udah khawatir tuh," omel Dela di sebrang telepon, membuat Dika berdecak.

__ADS_1


"Ya bentar lagi gue pulang, mau anter teman dulu. Ya udah gue tutup bye," ucap Dika, dia langsung memutus panggilan secara sepihak.


Dia tahu bahwa Dela sedang mengomel padanya, Dika pun mengirim pesan pada sang ibu. Agar tak mengkhawatirkan dirinya.


Saat melihat Anyelir, Dika pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri Anyelir.


"Anye," panggil Dika.


"Mas Dika? Belum pulang mas?" tanya Anyelir.


"Belum aku tungguin kamu, aku mau antar kamu pulang. Mau yah?"


"Tapi mas, aku gak enak sama tetangga kalau malam-malam pulang di antar laki-laki." Ujar Anyelir.


"Gak papa, nanti biar aku jelaskan. Ayok,"


Tanpa menunggu jawaban Anyelir, Dika menarik Anyelir menuju mobilnya.


"Sekarang tunjukan dimana rumah mu?"


"Baik mas," pasrah Anyelir.


Anyelir pun menunjukan kontrakan yang selama ini dia tempati, tak membutuhkan waktu lama. Mereka sudah sampai.


"Sampai sini saja mas, soalnya masuk gang. Mobil gak muat," kata Anyelir


"Gak papa aku antar kamu, aku gak masalah jalan kaki kok!"


Anyelir menghembuskan nafasnya secara kasar, sulit sekali menentang Dika. Anyelir dan Dika pun berjalan beriringan, tak lama mereka sudah sampai di kontrakan Anyelir.


"Itu rumah kontrakan ku mas," ucap Anyelir dan Dika pun mengangguk.


"Terima kasih mas, kalau gitu aku masuk dulu."


"Iya Nye, hati-hati jangan lupa kunci pintu yah!"


"Baik mas."


Dika pun memutuskan menunggu sampai Anyelir masuk, setelah memastikan Anyelir masuk dan mengunci pintunya. Dika pun memutuskan untuk pulang, tanpa sepengetahuan Dika beberapa tetangga julid mengintip lewat jendela.


~Sequel Twins~


kisah Dika dan Anyelir di sini aja yah, kalo yang mau lanjut baca boleh mampir di karya baru ku 🤭


Di sana babnya dari awal Anyelir kenal Dika, Dela dan Auriga juga ada pokoknya sayang sih berpisah sama Dela dan Auriga 😂

__ADS_1


Di awal bab belum ada pelakor ko, mau santai dulu. Jangan lupa mampir yah guys! Tambah ke daftar favorite kalian makasih 💜💜💜


Maaf juga jika di awal membosankan 😩 saya masih perlu belajar


__ADS_2