
Dua hari berlalu kini keluarga Yudis akan pergi ke Negara tujuan mereka, yaitu Korea. Di sana Yudis sudah membeli sebuah rumah untuk mereka tinggal beberapa bulan.
"Kamu berapa lama di Korea?" tanya Sierra pada Darel.
"Satu bulan mungkin," jawabnya ragu.
Sierra menghembuskan napasnya secara kasar, dia menatap kedua orang tuanya yang sedang berbicara dengan orang tua Darel. Mereka mengantar sampai bandara, sementara Hana, Indra, Gemy dan Anisa tak mengantar.
"Aku bakal rindu kamu Rel," gumam Sierra.
"Apa?"
"Ehh... Apa?" tanya Sierra salah tingkah.
"Nanti kelulusan kamu gimana?"
"Gak papa lah, nanti bakal di wakilkan sama om Rumi atau ka Keanu buat ngambil ijazah." Terang Darel.
Darel mengusap rambut Sierra, membuat Sierra merona dan salah tingkah.
"Jaga diri kamu baik-baik Sie," ujar Darel.
Selalu bersama tak ayal membuat sebuah rasa tumbuh antara dirinya dan Sierra, namun Darel selalu berusaha untuk fokus pada masa depannya.
"Darel ayok," panggil Yudis.
__ADS_1
"Iya dad bentar," balas Darel.
"Aku pergi, tunggu aku Sie!"
"Hah? Maksudnya apa?"
"Tidak ada, ya sudah aku berangkat dulu. Bye,"
Darel pun bergegas mengendong tasnya, dan membawa hadiah pemberian dari Sierra. Dia pun melambaikan tangan pada Sierra, dan masuk ke pintu ke berangkatan.
Feli tersenyum menatap Darel, yang merasa berat pergi dari Indonesia. Tapi demi kebahagiaannya Darel mengikuti keinginan dirinya, Feli duduk bersama Darel dan Alana. Sedangkan Yudis dengan Elena.
****
Sementara Sam, dia sudah keluar bersama Keiyona dari rumah Dalia. Dia akan pergi jauh dari hidup Dalia, setelah pulang dari rumah sakit Dalia tetap menolak memberikan ASI pada anaknya.
"Terima kasih, sekarang bawa pergi anak itu. Aku gak mau melihatnya," ketus Dalia pada saat itu.
Sam selalu ingat akan kata-kata menyakitkan yang terlontar dari mulut Dalia, dia memandangi sang anak yang terlelap di box tidurnya.
Orang tua Sam pun mengetahui semua itu, dan sempat kecewa. Tapi pada akhirnya mereka luluh saat melihat wajah cantik dari Keiyona, dan Sam pun tinggal bersama orang tuanya dan satu orang adik laki-laki. Dia pun tetap bekerja di Bangtan area, sambil menjalankan bisnis cafenya bersama sang adik.
"Dalia?" panggil Arumi.
Dalia hanya menoleh tanpa berbicara, dia kembali menatap kosong keluar.
__ADS_1
"Apa kamu tidak merindukan anak mu? Selama sembilan bulan dia bersama mu, dalam kandungan. Apa kamu benar-benar tak merindukannya?" cerca Arumi.
"Tidak," jawabnya singkat.
Arumi menghembuskan napasnya secara pelan, Dalia sangat keras kepala. Persis seperti ayah biologisnya.
"Tidak semua yang kamu mau bisa kamu dapatkan Dalia, apalagi itu sudah menjadi milik orang." Papar Arumi, Arumi pun keluar dari kamar sang anak.
Dalia yang mendengar perkataan Arumi hanya mampu menahan tangis, ada yang kosong di bagian hatinya. Entah apa itu tapi di satu sisi dia sangat menginginkan Indra, dia sudah jatuh hati pada suami dari Hana tersebut.
***
Kabar kelahiran Dalia memang di ketahui oleh Liana dan Justine, Liana sendiri sering diam-diam bertemu dengan Justine. Saat kedatangan Justine ke rumahnya, Hana dan Indra tidak memberitahukan lamaran Justine.
Dan kini Justine sedang bertemu dengan Liana, di Bangtan area. Walau waktu sudah menunjukan jam pulang kerja, tapi Liana masih betah di tempat kerjanya dan Justine memutuskan untuk menemani Liana.
"Jadi kamu belum ketemu sama keponakan mu?" tanya Liana.
"Belum setelah keluar dari rumah sakit, Sam langsung membawanya pergi dan menceraikan Dalia." Ujar Justine.
Justine menatap cemas wajah Liana, dia tahu apa yang membuat Liana cemas.
"Kamu tenang saja Li, aku jamin Dalia tidak akan menganggu mu." Ucap Justine
Liana hanya tersenyum mendengarkan ucapan Justine, memang ada rasa takut jika Dalia menganggu kebahagiaan Hana dan Indra.
__ADS_1
Semoga suka 💞
Maaf typo