Still Love You

Still Love You
Part.92


__ADS_3

Dan mereka tidak bisa mengerti, apa yang lebih menyakitkan, merindukan orang lain atau berpura-pura tidak melakukannya.


"Darel udah sampe belum yah?" tanya Sierra pada diri sendiri.


Kini dia sedang menatap foto dirinya dan Darel, yang mereka ambil saat study tour ke Bandung. Di sana Darel menjaga Sierra dengan baik, sesuai janjinya pada Radit.


"Sie, makan dulu nak!" panggil Rania.


"Ya mah," balasnya.


Sierra pun meletakan foto mereka ke tempat semula, dia tak menampik merindukan Darel. Biasanya jika malam, Darel selalu menghubungi dirinya dan menanyakan dia sudah makan atau belum?


Sierra pun sudah bergabung di meja makan bersama keluarganya, dia ragu ingin bertanya pada Radit atau Rania tentang keluarga Darel.


"Makan nak," perintah Rania.


"Iya mah."


Radit dan Rania terlampau peka terhadap sang anak, Radit dan Rania pun saling pandang menatap Sierra yang diam saja.


****


Di rumah Liana, Liana yang baru pulang pun langsung bergabung bersama keluarganya. Setelah dia mencuci tangan terlebih dulu.


Dan makan malam terlebih dulu, sebelum Liana memberitahukan pada Indra bahwa Dalia sudah melahirkan.


Berpuluh menit kemudian mereka sudah selesai makan malam, Devara berpamit langsung ke kamarnya. Sedangkan Liana masih bertahan di meja makan.


"Kenapa?" tanya Indra, saat melihat Liana menatap lekat dirinya.


"Papah udah tau belum? kalo Dalia sudah melahirkan?"


"Sudah, papah juga sudah tau. Kalo Dalia meminta cerai dari Sam," jawab Indra santai.


"Kok papah santai aja sih? Gak takut tuh uler ganggu papah lagi? Nanti mommy kabur nangis," cibir Liana begitu kesal.


"Kamu nih mommy gak akan kabur lagi yah!" protes Hana, datang membawakan cemilan malam untuk Indra dan Lian.


"Ya kali, siapa yang tau." Kesal Liana.


"Jika dia menganggu keluarga kita lagi, mommy pastikan akan menghajar dia." Ucap Hana antusias, membuat Liana memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Udah ahh aku mau ke kamar mau mandi," pamit Liana, Liana pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Kita gak akan kasih tau Liana?" tanya Indra, menatap sang anak yang menjauh.


"Entahlah, aku juga bingung. Aku belum siap dia pergi dari rumah, walau bagaimana pun Liana adalah anak perempuan kita satu-satunya." Papar Hana.


Beberapa hari yang lalu, Indira datang menemui Hana dan menanyakan kesiapan mereka. Jika Justine datang melamar, namun Hana belum memberikan jawaban dan akan menanyakannya terlebih dulu pada Liana.


Tanpa mereka tahu Liana dan Justine, sering bertemu secara diam-diam. Dan Justine pun tidak memberitahukan lamarannya pada Liana, dia ingin memberi kejutan pada Liana nanti.


"Menurut mu sayang, apa Justine yang terbaik?" tanya Hana, dia selalu ingin memastikan yang terbaik untuk semua anak-anaknya.


"Menurutku Justine laki-laki yang baik, dan bertanggung jawab. Aku sih yakin Justine mampu menyayangi Liana, Indira saja menyayangi Liana." Ungkap Indra.


"Sudah nanti kita bicarakan lagi dengan Liana, jika kita sudah siap. Aku tau ketakutan mu adalah Dalia."


Indra mengusap pundak Hana, dan mencium pipi sang istri.


"Mommy apa Elena sudah sampai?" celetuk Lian.


"Mommy gak tau sayang, tante Feli belum menghubungi mommy." Balas Hana.


"Kenapa mereka pindah ya mom? Apa Elena bakal kembali lagi?" tanya Lian lagi.


Hana menatap Indra, mereka tahu bahwa Sarah menganggu hubungan Yudis dan Feli. Sampai mereka harus pergi dari Indonesia, satu yang mereka harapkan adalah Sarah menemukan jodohnya dan berhenti mengejar Yudis.


****


Arumi dan Mahesa mendatangi rumah Sam, mereka merindukan Yona. Dan kedua orang tua Sam menerima mereka dengan hangat.


"Aku sangat merindukan Yona, maafkan anak ku bu Sekar atas sikapnya." Ujar Arumi dengan lirih.


"Tidak apa-apa nyonya Arumi, kami memaklumi. Sam hanya orang miskin yang kebetulan selalu membantu Dalia," ucap Sekar ibu Sam.


"Bukan seperti itu bu, kami tidak membedakan kasta sama sekali." Sela Mahesa, Mahesa pun memandangi wajah cantik baby Yona.


Dia tidak pernah memandang seseorang dari jabatan atau kastanya, nyatanya dulu Indira adalah pekerja biasa.


"Bolehkah kami datang ke sini jika kami merindukan baby Yona?" tanya Mahesa.


"Boleh tuan, Sam pun mungkin tidak akan masalah." Jawab ibu Sekar.

__ADS_1


Baby Yona nampak tenang dalam dekapan Arumi, Arumi mengambil gambar sang cucu. Dan nanti akan dia tunjukan pada Dalia, siapa tau Dalia akan luluh dan kembali menerima Sam dan Yona.


Kembali ke rumah Sierra, setelah makan malam Sierra menatap ponsel yang sekarang sepi. Tidak ada Darel yang selalu mengganggunya, kebiasaan itu yang membuatnya rindu.


"Sie," panggil Rania.


"Boleh mamah masuk?" tanyanya kemudian.


"Boleh mah."


Rania pun masuk dan menatap sang anak, dan tersenyum padanya.


"Kenapa mamah menatap ku?"


"Gak papa, kamu lagi galau?"


"Engga kok," kilah Sierra.


Rania mengusap lengan sang anak.


"Kamu pasti khawatir kan sama Darel?" tebak Rania.


"Iya," jujur Rania.


"Pasti dia sudah sampai sayang, mungkin dia harus beres-beres barang-barangnya atau dia jet lag." Kekeh Rania.


"Entahlah aku gak tau, memang tante Feli atau om Yudis. Gak ada hubungi papah?" tanya Sierra.


"Engga ada, ponsel mereka belum aktif." Kata Rania, Rania pun mengetahui itu dari Gemy.


"Lebih baik kamu fokus masuk ke Universitas yang kamu mau sayang, jika Darel jodoh kamu. Dia gak akan kemana-mana," goda Rania.


"Apaan sih mamah," Sierra pun menutup wajahnya dengan bantal, dia malu sungguh malu di goda oleh Rania.


"Ya sudah ini sudah malam, kamu tidur jangan bergadang." Ujar Rania.


"Iya mah," balas Sierra.


Rania pun menutup pintu kamar sang anak, Sierra menatap pintu yang sudah tertutup dan menghembuskan napasnya secara kasar.


"Darel." Gumam Sierra tersenyum.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Maaf typo


__ADS_2