Still Love You

Still Love You
Part.111


__ADS_3

Gemuruh ombak menerpa karang Sehangat mentari menyinari bumi dari ufuk timur, semilir angin yang menyejukkan tapi membuat ku merindu yang jauh di sana.


Waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi, tapi Dalia sudah duduk termenung menatap luasnya lautan di depannya. Tadi dia berpamitan pada oma Widi, kalau dia akan joging pagi menggunakan sepedah miliknya, walau sudah lama di tinggalkan tapi sepedah tersebut masih bagus karena sering di rawat.


Dan disinilah Dalia sekarang, berada di Pantai Losari. Salah satu pantai yang menjadi ikonik kota Makassar.0


Lokasi Pantai Losari sendiri berada di pusat kota Makassar, tepatnya berada di Jalan Metro Tanjung Bunga, Maloku, Ujung Pandang, Makassar, Sulawesi Selatan.


Rute menuju Pantai Losari sangatlah mudah, setiap orang pasti mengetahui lokasinya. Atau bisa juga dengan mengandalkan maps yang terpasang di hp-mu.


Jika dari arah Bandara Hasanuddin, Makassar akan memakan waktu tempuh sekitar 30 hingga 1 jam perjalanan. Lokasinya berada di pinggir jalan, sehingga dapat dilalui oleh kendaraan jenis apapun.


Dalia tak membawa ponselnya, dia hanya membawa uang tunai sebesar tiga ratus ribu rupiah. Dalia menikmati matahari terbit, belum lama di Makassar. Dalia sudah merindukan Yona, rasanya dia ingin melakukan panggilan video pada sang anak.


Tapi dia harus menahannya, karena sang anak akan mendapat pengganti dirinya yang lebih baik lagi.


Sementara itu kini Sam sudah tiba di Bandara Hasanuddin Makassar, dia memesan taxi untuk menuju rumah oma Widi. Menurut Justine, jarak tempuhnya hanya memakan waktu satu jam saja.


Tepat pukul sebelas siang, Sam sudah sampai di perumahan Bukit Indah Recident. Dia pun memberitahu bahwa dia cucu menantu oma Widi, dan Sam pun di beri izin masuk.


Saat turun Sam menatap rumah oma Widi, dan terlihat wanita paruh baya Sam tebak dia adalah oma Widi. Sam pun turun dari dalam mobil, di bantu oleh supir taxi menurunkan barangnya.


"Terima kasih pak," ucap Sam menyerahkan ongkosnya.


"Sama-sama tuan," balas si supir taxi.


Oma Widi menatap Sam yang tengah menghampirinya.


"Oma," sapa Sam.


"Ya? Siapa yah?" tanya oma Widi heran karena kedatangan pemuda dengan seorang bayi yang mengingatkannya pada Dalia saat bayi.


Sebelum Sam berbicara, tiba-tiba Arumi datang dari dalam.


"Ibu Dalia kemana yah? Kok belum..."


"Sam," celetuk Dalia, saat dia melihat Sam ada disini.


"Kenapa kamu ada disini? Bagaimana kamu bisa tahu rumah ini?" cerca Arumi.


"Kamu kenal dia Rum?" tanya oma Widi.


"Salam kenal oma aku Samudra, dan ini anak saya. Keiyona cicit oma," ujar Sam.


"Cicit?" pekik sang oma.


Oma Widi memegang dadanya yang merasa sesak, Arumi pun memegangi sang ibu yang akan rubuh.


"Oma... Oma, tidak apa-apa?" tanya Sam, dia kesulitan membantu karena dia menggendong Yona.


"Mas bantu aku," teriak Arumi pada Mahesa.


Mahesa pun muncul, menatap terkejut akan kedatangan Sam. Namun dia terlebih dahulu menolong oma Widi, memapahnya masuk ke dalam rumah.


"Mbak bawa obat oma," teriak Arumi, pada Senja. Asisten rumah tangga oma Widi.


Senja pun datang, dengan obat dan air di tangannya. Oma Widi meminum obat tersebut, dan memejamkan mata.


"Senja tolong buatkan minum, dan susu untuk mereka." Perintah Mahesa pada Senja, Sam pun memberikan susu dan dot kepada Senja.


"Kenapa kamu bisa ada disini nak Sam?" tanya Mahesa, sementara Arumi tengah memberikan obat yang lain pada sang ibu.


"Saya ingin menyusul Dalia om, saya ingin menikah dengannya!" kata Sam dengan penuh keyakinan.


Mahesa menghembuskan napasnya secara pelan, dia menatap Arumi. Untuk meminta pendapatnya, tapi Arumi hanya mengedikan bahu.


"Kita tunggu Dalia saja Sam," putus Mahesa dan Sam pun pasrah saja.


"Boleh oma gendong?" pintanya, setelah kondisinya membaik.


"Boleh oma," jawab Sam, Sam pun menyerahkan Yona pada oma Widi.

__ADS_1


Membuat mata oma berkaca-kaca, dan mengingat akan Dalia saat masih bayi.


"Kamu mirip sekali ibu nak," ucap oma, mencium pipi sang cicit.


"Dia memang mirip Dalia bu," balas Arumi tersenyum.


Tak lama Senja datang, membawa empat gelas teh dan satu botol susu serta cemilannya.


"Silahkan tuan, nyonya."


"Terima kasih senja," balas Arumi.


"Ayok di minum Sam," ucap oma Widi.


"Terima kasih oma."


Mereka pun berbincang singkat, namun lebih banyak menggoda Yona. Oma Widi pun merasa senang, bisa bertemu dengan cicitnya tersebut.


Tal lama terdengar suara Dalia dari luar, membuat semua orang melirik ke arah pintu.


"Aku pul..ang, Yona." Pekik Dalia, dia pun berjalan cepat namun Arumi menghentikan Dalia.


"Kenapa sih bu?" protes Dalia.


"Badan kamu penuh keringat Dalia, masa mau gendong Yona. Kasian dia kebauan," omel Arumi.


"Mandi sana," titah oma Widi.


"Baik oma," balas Dalia, saking senangnya bertemu Yona. Dalia tak melihat Sam yang duduk di sofa single.


Membuat Sam menggeleng pelan, dan menikmati minuman hangatnya.


****


Darel yang kecewa tak bisa bertemu dengan Akira, secara diam-diam menunggu dari jauh. Kurang lebih tiga puluh menit akhirnya mobil milik Ailee keluar dari halaman rumah, beruntung Sam memesan sebuah taxi dan sabar menunggu dirinya dengan janji akan membayar lebih.


"Ayok pak, ikuti mobil itu." Tunjuk Darel.


Taxi yang di tumpangi oleh Darel melaju di belakang Ailee, tanpa Ailee sadari. Karena Ailee mengira itu adalah hal biasa.


Tak butuh waktu lama, Ailee dan Darel sudah sampai di sebuah rumah sakit. Membuat Darel menatap Ailee yang berjalan masuk dengan bingung.


"Siapa yang sakit? Aku harus ikuti tante Ailee."


Darel pun mengikuti Ailee diam-diam, Ailee kini menyadari jika dirinya di ikuti. Namun dia pura-pura tak tahu, dia ingin Akira sembuh saat ada Darel di dekatnya.


Darel bertanya pada salah satu suster yang lewat.


"Sus tunggu, siapa yang di rawat di ruangan ini?"


"Ohh... Nona Akira, dia masuk kemarin malam." Balas suster tersebut, dan berlalu dari hadapan Darel.


"Akira? Dia sakit?"


Darel pun ingin masuk, namun dia ragu keberadaannya tak di inginkan oleh Akira. Tapi dia pun penasaran, bagaimana keadaan temannya tersebut.


Saat Darel akan mengetuk pintu, pintu terbuka dari dalam.


"Darel!" ucap Ailee terkejut, dia tahu Darel mengikutinya tapi dia tak menyangka bahwa Darel akan sampai ke ruangan Akira.


"Ta-tante," balas Darel gugup, seperti ketauan mengintip.


"Kamu sedang apa disini?" tanya Ailee.


"Menjenguk Akira tan, aku tau Akira ada di dalam."


Ailee menghembuskan napasnya secara pelan.


"Masuklah temui dia," putus Ailee.


Dia ingin Akira cepat sembuh, jika Darel ada di sisinya. Sempat terpikir untuk menjodohkan mereka berdua, dan Ailee akan melakukan untuk kebahagiaan Akira jika bahagianya adalah Darel.

__ADS_1


"Akira," panggil Darel.


Akira menoleh, dan terkejut dengan kedatangan Darel.


"Darel, kenapa kamu ada di sini?" lirih Akira, dia tak mau jika Darel tahu dia sakit dan mengasihani dirinya.


"Memangnya aku gak boleh datang ke sini hem?"


"Bu-bukan begitu Rel,"


"Lalu bagaimana Akira?"


Ailee yang melihat interaksi Darel dan Akira merasa gemas sendiri, pasalnya dulu dirinya dan sang suami gak ada malu-malunya.


Ailee pun meninggalkan ruang rawat dan menunggu di luar, memberikan waktu untuk Darel dan Akira.


"Mommy," pekik Akira, saat tahu sang ibu pergi dari ruangan.


"Mommy malah ninggalin aku sama Darel sih! Astaga Tuhan, jantung ku gak aman. Please aku butuh Dokter Jantung," pekik Akira dalam hati, dia tersenyum pada Darel.


"Darel aku..."


"Aku apa sih? Kamu gak mau aku tengok? Kamu anggap aku apa sih?" cerca Darel.


Akira berdecak kesal akan pertanyaan Darel.


"Kamu teman aku Rel," jawab Akira pada akhirnya.


Darel tersenyum, dia menatap lekat mata Akira. Ada kebohongan dalam matanya, Darel tak sebodoh itu. Dia tahu Akira menyukai dirinya.


"Yakin hanya teman?" goda Darel.


"Apaan sih kamu Rel?"


"Gak papa kok Ra, aku cuma mau jadi pacar kamu aja kok!" celetuk Darel, membuat Akira melotot tak percaya.


"Kamu nembak aku Rel?"


"Bukan aku cuma ajak main kok," omel Darel, membuat Akira terkekeh.


"Waktu jawab mu cuma lima detik Akira, kamu mau jadi pacar ku atau tidak?"


"Satu"


"Dua"


Darel pun menghitung secara perlahan, membuat Akira tak bisa mengambil keputusan.


"Ish... Darel," desis Akir.


"Tiga"


"Empat"


"Empat setengah"


"Li...."


"Iya aku mau," jawab Akira cepat.


"Nah gitu dong."


Darel berjongkok di depan Akira, dia mengusap pipi Akira yang sedikit pucat. Kemudian mencium pipinya, membuat pipi Akira merah merona.


"Kata mommy gak boleh cium bibir, kalo belum halal." Kekeh Darel, membuat Akira semakin merah.


tbc...


semoga suka 💞


Maaf typo menuju nikahan Dalia dan Sam.

__ADS_1


__ADS_2