
Sierra ingin sekali rasanya menyusul Darel ke Korea, jika tak ingat akan Radit yang selalu melarangnya. Alasannya hanya Sierra anak perempuan satu-satunya, aneh memang Radit terlalu berlebihan padanya.
Tapi dia berpikir bahwa itu hal yang wajar, jika Radit mencemaskan nya. Apalagi di Negara orang, dia pun berniat meminta tolong pada Devara.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Radit tak ingin Sierra sedih atas hubungan Darel dan Akira. Dia pun sempat mendengar bahwa Darel dan Akira akan menikah.
"Aku harus menemui ka Devara, supaya bantu aku pergi ke Korea." Gumam Sierra.
Sepulang kuliah, Sierra menuju kantor tour and travel yang di kelola oleh Devara. Sesampainya di sana Devara langsung menyambutnya.
"Ada apa?" tanyanya to the poin.
"Ka Dev, bantuin aku ke Korea dong!" pintanya memelas.
"Tapi Sie, nanti uncle Radit marah sama aku."
"Please ka, kali ini aja. Aku gak pernah minta bantuan sama siapa pun selama ini, kecuali sama Darel."
Devara pun menghembuskan napasnya secara pelan, tak tega namun dia sudah di wanti-wanti oleh sang ayah Indra agar tak membantu Sierra ke Korea. Bahkan para orang tua pun tahu, hubungan Darel dan Akira.
Dengan terpaksa Devara pun mengangguk, dan kebetulan dua hari lagi. Devara akan ke Korea, untuk kerjaan penting mengantikan Liana.
***
Darel sendiri sekarang sedang berada di toko perhiasan, dia memilih sendiri cincin yang akan di berikan pada Akira. Setelah semalam dia merenung, akhirnya Darel memiliki jawabannya sendiri. Membelikannya dengan uang sendiri.
Tak peduli jika Feli tak memberi restu atau mengusirnya, dia akan tetap menikahi Akira. Untuk Sierra, Darel selalu berdoa semoga dia mendapatkan yang lebih baik dari dia nantinya.
"Maafkan aku Sie," gumamnya menatap cincin manis, yang akan sangat cocok jika Sierra kenakan.
"Ya aku memang lelaki bodoh, dan plin plan." Lanjutnya lagi.
Darel ingin egois memiliki Akira dan Sierra sekaligus, Darel menghela napas dengan kasar. Dia satu sisi dia nyaman dengan Akira dan Sierra.
Setelah selesai membeli satu set perhiasan, Darel mampir terlebih dulu di coffeshope. Dia melihat-lihat internet, apa saja yang harus di bawa saat melamar gadis Korea. Dan sama saja seperti di Indonesia, hanya saja cincin di berikan saat akan menikah.
"Terima kasih," ucap Darel, saat pesanannya datang.
__ADS_1
Pesan masuk dari Feli, membuat Darel cepat-cepat pergi dari tempat tersebut. Kini Darel sudah memiliki mobil sendiri, jadi gampang untuk pergi-pergi. Tapi jika kuliah, dia senang menggunakan angkutan umum, sesekali memakai mobil.
Berpuluh menit kemudian, Darel sudah sampai di rumah. Dia begitu terkejut orang tua Akira datang ke rumahnya.
"Om, tante!" sapa Darel.
Ailee dan Daniel hanya mengangguk dan tersenyum, Darel melirik Feli yang memasang wajah dingin dan datar.
"Ada apa om, tan?" tanya Darel penasaran.
Ailee dan Daniel saling lirik, bingung dan sungkan ingin berbicara. Terlebih melihat Feli bersikap acuh, seperti menunjukan ketidak sukaan pada dirinya.
"Rel bisakah kamu menikahi Akira sekarang?" celetuk Ailee.
"Apa?" pekik Feli.
"Kenapa? Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak menunggu nanti mereka setelah lulus dan bekerja?" cerca Feli, mencoba menahan emosi.
"Tenang dulu nyonya Feli, kami akan menjelaskannya." Ujar Daniel.
"Kami akan pergi ke India, urusan pekerjaan. Dan Akira masih sangat lemah, jadi kami tidak tega untuk membawanya. Jika dia sembuh kami pun akan membawanya, kami khawatir meninggalkannya sendiri. Hanya untuk satu bulan saja nyonya Feli, jika kami sudah kembali terserah Darel mau mengembalikan Akira pada kami atau tidak." Jelas Daniel.
"Tidak om.. aku tidak akan menceraikan Akira, aku akan menjaganya selamanya." Kata Darel.
"Terima kasih Darel," ucap Ailee.
"Tidak... Tidak, aku tidak setuju Darel menikah cepat. Tapi kalian bisa menitipkan Akira pada kami," usul Feli.
Ailee dan Daniel pun saling lirik, dan menganggukan kepala tanda setuju.
"Baiklah nyonya Feli, kami akan menitipkan Akira pada anda. Mohon maaf atas permintaan kami barusan," papar Daniel, pasalnya Ailee sudah enggan bicara.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Daniel.
Bahkan minuman yang Feli suguhkan pun, belum mereka sentuh.
"Biar aku antar," sahut Darel.
__ADS_1
Darel mengantar Danie dan Ailee ke depan.
"Rel," lirih Ailee.
"Iya tante?"
"Tante mohon jaga Akira, dari kecil kami selalu menjaganya dan menyayanginya dengan baik. Dari kecil pun dia sakit-sakitan, itu karena aku saat hamil mengalami masalah dalam kehamilan," cerita Ailee.
"Aku janji tante, aku janji akan menjaga Akira sampai tante dan om pulang," janji Darel.
Ailee pun mengangguk, dan memeluk Darel. Entah mengapa perasaannya tak enak, dan terlalu berat meninggalkan Akira. Rasa khawatir pada sang anak sangat besar.
"Baiklah terima kasih Darel, om tahu kamu anak yang baik dan tanggung jawab. Kalau gitu kami pulang dulu, besok Akira akan kami antar ke sini." Jelas Daniel.
"Iya om, hati-hati."
Daniel dan Ailee pun masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan halaman rumah Darel. Saat Darel berbalik, Feli sudah menatapnya dengan tajam.
"Kenapa mom?"
"Jangan harap mommy merestui kamu Rel," ketus Feli.
"Mommy jangan begitu, kenapa mommy selalu melarang ku soal cinta? Aku sudah dewasa mom, dan aku bisa memberikan nafkah untuk Akira jika aku menikah nanti. Tolong jangan egois mommy, jika mommy egois maka bersiap mommy kehilangan anak. Seperti mommy dulu kehilangan daddy," tegas Darel menatap Feli, yang diam membeku.
"Darel," desis Feli.
Darel pun mengacuhkan Feli, dan masuk kedalam kamarnya. Dia tak butuh restu Feli atau Yudis, dia akan tetap pada pendiriannya menikah dengan Akira.
Sesak itu yang Feli rasakan, selama ini Feli memang melarang Darel berpacaran dari zaman sekolah. Karena Feli tak ingin apa yang di alami dirinya dulu, di alami oleh Darel sahabat jadi cinta. Tapi menurut Feli ini yang bikin dia pusing, Darel ingin menikah muda.
tbc..
Semoga suka 💞
Maaf typo, tenang yah kalo langsung nanti cepat tamat. Pokoknya happy ending gak akan gantung 🌚
**Makasih yg masih mau baca, lope banyak-banyak buat kalian 🤗 dan jangan pernah bosan.
__ADS_1
Follow IG: Aridwinopani11**