Still Love You

Still Love You
Part.80


__ADS_3

Diana pulang dengan kekecewaan yang begitu besar, saat dia sampai di rumahnya. Sarah sudah menyambut sang ibu dengan wajah berbinar.


"Bagaimana mah? Berhasil?" tanyanya antusias.


"Gagal, mamah malah di usir dari rumah Yudis," kesal Diana.


Sarah menghembuskan napasnya secara pelan, dia pun mengekor Diana dan duduk di ruang tengah.


"Sepertinya aku harus menemui Yudis, bersama Selin. Aku yakin Yudis akan luluh pada Selin," cetus Sarah dengan percaya diri.


"Temui Yudis di kantornya, karena Feli kan sekarang berada di rumah mengurus anak." Usul Diana.


"Iya mah ide bagus," balas Sarah.


Sarah dan Diana tersenyum senang, jika Imam papah Sarah tau. Maka Imam akan marah besar, dan akan menentang keputusan Sarah untuk menjadi istri ke dua. Maka dari itu Diana dan Sarah, menyembunyikan rencana mereka dari Imam.


Saat jam istirahat, Dalia sendiri dia sudah memantau rumah Indra, tapi Indra tak kunjung keluar. Dia pun begitu sulit untuk mendapatkan informasi tentang Indra.


"Akhhh.... Sial sekali," marah Dalia.


"Tenang yah nak, sebentar lagi. Kita akan bertemu dengan papah mu," gumamnya berbicara pada sang jabang bayi.


Dari kejauhan Sam mengikuti Dalia, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada anak yang di kandung Dalia. Semalaman Sam telah berpikir, bahwa dirinya haruslah berubah. Dia harus bisa menghidupi Dalia dan sang anak, tapi jika Dalia tak ingin bersamanya. Maka dia akan meminta anaknya saja, dan akan merawatnya.


Setelah gagal bertemu dengan Indra, Dalia melajukan mobilnya menuju perusahaan. Karena waktu makan siang akan habis, Walau Dalia anak dari pemilik perusahaan, tapi jika dia telat maka akan di hukum. Di depan lift sudah ada Mahesa yang akan naik.


"Astaga ayah," lirih Dalia.


"Dari mana kamu?" tanya Mahesa setelah masuk ke dalam lift.


"Makan siang yah!" cicitnya takut.


"Makan siang? Makan siang dimana kamu?"


"Di luar kantor yah, maaf yah aku bosan dengan masakan kantin. Dan sekitaran sini," kilah Dalia jantungnya berdebar, takut ketauan jika dia berbohong.


Mahesa pun tidak menjawab, sampai Dalia turun. Dalia menatap nanar pintu lift yang tertutup, entah mengapa sang ayah berubah padanya. Dulu dia selalu di sayang dan di manja, menjadi prioritas Mahesa. Bahkan saat kecil Mahesa mengabaikan Justine yang sedang sakit, dia malah berlibur satu keluarga meninggalkan Justine yang sedang sakit.


Dalia menghembuskan napasnya secara pelan, dia mencoba mengatur emosi agar tidak meledak. Dia selalu ingat akan calon anak yang ada dalam kandungannya.


****


Feli yang baru sampai rumah dengan Rania, langsung masuk dan duduk sebentar sebelum Rania pamit pulang.


"Makasih ya Feli," ucap Rania.


"Iya sama-sama, kapan kalian berangkat?"

__ADS_1


"Malam ini, aku harus mempersiapkan segala kebutuhan yang akan di bawa. Dan aku titip anak-anak yah!" papar Rania.


"Iya kamu santai aja, Kaili dan Sierra akan aman di sini." Kekeh Feli.


"Lagian, ada Darel yang selalu jaga Sierra," sambungnya lagi.


Rania pun tertawa dan mengangguk, Rania pun berharap akan menjadi besan dengan Feli.


"Aku pulang dulu," pamit Rania.


"Iya hati-hati," balas Feli, Feli pun menunggu sampai motor Rania pergi kemudian dia masuk. Dan sudah di sambut oleh celotehan Alana bersama dengan pelayan.


"Sayang, kamu rindu mommy hemm?" tanya Feli mencium sang anak, kemudian dia membawa Alana naik.


Saat masuk ke dalam kamar, terlihat Yudis sedang melakukan pekerjaan. Feli pun duduk di samping Yudis.


"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Yudis.


"Tidak ada," Feli mengedikan bahunya acuh.


"Oh... Aku baru ingat, hari ini Rania dan Radit mau liburan ke Bali. Dan nitipin anak-anak di sini," ujar Feli.


"Ya tidak apa-apa, lagian Sierra dan Kaili memang nyaman di sini." Balas Yudis, di jawab anggukan oleh Feli.


Feli ingin Yudis jujur tentang kedatangan Diana, ibu dari Sarah namun Yudis tak membahas apa pun. Feli pun menghembuskan napasnya secara pelan, dia lihat Alana yang sudah tidur.


"Aku mandi dulu," ucap Feli, setelah menaruh Alana.


****


Sore pun tiba, Dera dan Sara janjian untuk pergi ke tempat Liana. Berpuluh menit kemudian, taxi online mereka sudah sampai. Mereka menatap takjub bangunan, yang berdominan ungu.


"Wah... Gue gak nyangka, bokap Liana punya usaha sekeren ini." Ucap Dera.


"Bener banget, ayok sekarang telepon Liana. Kita sudah sampai," ujar Sara.


Dera pun mengirim pesan pada Liana, bahwa mereka sudah ada di cafe Bangtan Area. Setelah mendapatkan balasan dari Liana, mereka pun menunggu di salah satu meja dekat jendela.


"Dera, Sara." Pekik Liana.


"Liana kita kangen," seru Dera dan Sara, mereka berpelukan layaknya Teletubbies.


"Yang udah jadi bu bos," goda Dera.


"Ish... Apaan sih kalian ini," Liana benar-benar malu di sebut bu bos, padahal dia hanya menggantikan Indra.


"Aku cuma, gantiin papah doang!" ujar Liana.

__ADS_1


"Ayok kita ke ruangan ku, kita ngobrol di atas. Biar bebas," ajak Liana.


Dera dan Sara mengekor Liana menuju lift, tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di lantai empat.


"Wah... Keren banget Li, ada poster BTS." Ucap Dera antusias, pasalnya Dera penggemar salah satu Grup K-pop tersebut.


"Ayok duduk," ajak Liana, setelah masuk ke dalam ruangannya.


Tak lama pelayan masuk dengan membawa minuman dan camilan untuk teman-teman Liana.


"Ohh ya betewe ada berita apa sih? Kayanya penting banget!" tanya Liana.


"Lo tau gak Li, anaknya pemilik perusahaan Wijaya, dia kerja di bagian personalia. Dan gue gak suka sama dia, dia bersikap sok bos di tempat kerja dan suka datang semaunya," ungkap Dera dengan kekesalannya.


"Iya kah? Anaknya pemilik Wijaya kan Justine?" tanya Liana.


"Jadi pak Mahesa itu punya anak dua, dari istri yang berbeda. Yang pertama namanya Dalia anak dari Arumi, yang ke dua Justine anaknya Indira," jelas Dera.


Liana mengingat-ngingat pertemuan dengan wanita yang bernama Dalia, saat pertama kali magang bersama Justine. Memang dia orangnya sombong dan angkuh.


"Nanti aku tanya Tante Indira," batin Liana.


Dera dan Sara pun menceritakan, pengalaman mereka di kantor Wijaya kadang mereka selalu di suruh ini dan itu.


"Gue pengen banget Li, keluar dari sana! Gak enak, senior suka semaunya," keluh Dera.


"Gue juga Li, lo enak pas magang sama bos. Lalu ngelola bisnis bokap lo," cetus Sara.


"Bisa gak kita magang di sini?" tanya Dera.


"Gak tau sih, gue harus tanya papah dulu. Kalo boleh, gue bakal bantu lo keluar dari sana." Ujar Liana.


"Bener yah? Awas kalo bohong, gue gak mau jadi teman lo!" ancam Dera dan Sara.


Liana sudah memberitahu Hana dan Justine, kalo dia pulang terlambat. Karena teman-temannya mampir ke Bangtan Area, mereka pun mengobrol panjang lebar. karena lama tak bertemu, padahal mereka masih selalu berkirim pesan lewat chat.


****


Dalia dengan usahanya, dia masih setia menunggu di depan gerbang rumah Indra. Berharap di beri izin masuk.


Namun sekuat apa pun dia berusaha, hasilnya akan tetap sama. Dalia membuat Arumi khawatir dan sedih sekaligus.


Pasalnya saat dia akan membereskan baju kotor sang anak, Arumi tak sengaja menemukan alat tes kehamilan di tempat sampah.


"Siapa yang menghamili mu nak? Aku gagal jadi ibu," lirih Arumi.


Dia takut akan kejadian dirinya terulang kembali, kejadian di masa lalu yang menghadirkan Dalia. Lalu menikah dengan Mahesa, merusak rumah tangganya.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Maaf typo


__ADS_2