Still Love You

Still Love You
Episode 5


__ADS_3

tak ada yang lebih hebat dari jatuh cinta, tak ada yang lebih sial dari yang ditinggalkan. ketika ada pertemuan akan selalu ada perpisahan, baik itu diikat atas nama cinta atau diikat persahabatan. karena hubungan manusia bersifat sementara.


karena perpisahan sudah ditakdirkan untuk jadi sahabat para manusia.


karena pahitnya perpisahan, maka Sekar menjadi wanita yang selalu menjaga hatinya yang tak pernah ia serahkan pada seorang yang berkawan dengan maut.


keesokan harinya setelah memeriksa para pasien rawat inap, Sekar kembali ke UGD namun tak mendapait Ale disana. gadis itu menimbang-nimbang langkahnya, apakah ia akan emngalahkan rasa pensaran dan mendekam di dalam kamar dengan rasa ingin tahu yang seakan-akan membunuhnya.


ataukah rasa penasaran itu akan membawa dia pada Ale.


di dalam kamar Ale mencoba untuk berguling kesana kemari, mencari posisi paling aman dan nyaman, namun sayangnya tak satu pun ia temukan, hasilnya ialah luka tersebut bertambah nyeri.


rasa bosan menggerayangnya, membuat beberapa kali pria itu menghembusan nafas kesal akibat ruang gerak yang terbatas. dan diantara rasa sakit itu wajah Sekar justru muncul bergantian.


putri dari pria yang pernah menyelamatkannya dulu kini datang untuk mencari tahu tentang kebenaran, apakah sang ayah Ridwa meninggal secara wajar atau tak wajar. semua jawaban ada di kepala Ale, walau bibir ingin bercerita tentang kejadian malam itu, namun ia justru menyimpannya.


ia tak ingin mengukir duka di wajah gadis itu.


sebuah derikan pintu membuat ia merinis karena mencoba untuk duduk. insting seorang prajurit dengan melakukan gerakan tiba-tiba membuat ia emrasakan denyut parah di lukanya.


tampak Sekar dengan wajah datar masuk ke dalam kamar.


gadis itu menenteng sebuah tas, mendekatinya yang masih dalam keadaan mengerikan.


"lukanya masih sakit?" Sekar mengeluarkan beberapa perban yang baru dan mendekatinya.


"masih"


"bisa tidur?" tanya gadis itu lagi.


"tidak"


"itu adalah upah sudah bohongin saya"


Ale menarik nafas. mencoba untuk memulai penjelasan.


"sepertinya ada hal yang perlu kamu ketahui Sekar, saya seorang perajurit khusus, lebih banyak perintah dan komando yang ebrsifat rahasia dan setiap saat saya harus siap sedia"


Sekar menggigit bibirnya menahan semua amarah dan celotehan serta seribu pertanyaan.


"aku gak tahu kenapa papa menitipkan aku pada orang sepertimu" Sekar mengganti luka Ale dengan hati-hati, dan kemudian mengompresnya dengan air hangat. telrihat wajah rileks Ale mendapatkan perawatan tersebut.


"apa kamu masih mau jadi milik saya satu-satunya?" pertanyaan dari Ale membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya geram. ia tak tahu ahrus menjawab apa.


"kita lihat saja nanti, gak tahu kenapa aku jsutru jadi ragu" Sekar menatap Ale yang kini sudah tampak sedikit mendingan.


"terimah kasih" jawab Ale pelan, dibantu oleh Sekar, ia memposisikan badan untuk tidur, Sekar mengambil bantal dan mengganjal pinggang Ale. tak lupa ia memberi resep obat penghilang rasa sakit.


"semoga cepat sembuh" ucap Sekar tersenyum.


"Sekar" Ale memanggil gadis yang hendak pergi meninggalkannya itu.


"ya?"


"cobalah untuk tidak mengkhawatirkanku"


Sekar berdiri di depan pintu, meremas gagang merasa cemas. bertanya-tanya apakah ia tampak sekhawatir itu?.


"jangan sampai terluka lagi Ale, supaya aku tidak perlu  khawatir."


Sarah pergi dan menutup pintu tersebut pelan. membiarkan Ale beristirahat. sedangkan ia kembali ke dalam kamarnya.


Sekaremngangkat telepon yang sedari tadi berdering.


"halo ma" Sarah menatap dinding tersebut, sedangkan sang ibu hanya diam.


"gimana? kamu sudah jatuh cinta sama prajurit itu?"

__ADS_1


"gak tahu ma"


"aku melahirkanmu Sekar, tidak bisa kamu pungkiri kita memiliki kemiripan. pesona mereka sangat sulit untuk ditolak, jangan kamu sangkal itu Sekar"


"mama paling pintar"


"jadi bagaimana sekarang? sebelum kamu mencintai mereka terlalu dalam, apa kamu sduah siap jika mereka pergi begitu cepat?"


"kenapa harus langusng bicra tentang kehilangan sih ma?"


"kamu tahu kan, hidup mereka itu untuk negara ini. kalau mereka meninggal ketika bertugas, negara hanya akan memberikan upacara pemakaman yang terhormat dan kemudian menggantikan posisi mereka dengan cepat. berbeda dengan kita"


Sekar terdiam menggosok wajahnya frustasi.


"dia kenal dengan papa ma"


"berhenti untuk mencari tahu kebenaran itu Sekar. mama saja tidak berani mendengar apa yang dialami oleh papamu"


"mama sudah tahu?"


"mama bisa saja tahu kalau mama mau, masalahnya mama tidak mau tahu, mama gak mau hidup dalam kebencian dan rasa dendam"


"tapi Sekar belum bisa terima ma"


"terserah kamu kalau begitu nak, semua mama serahkan padamu. tapi jika suatu saat kamu merasa lelah, berhentilah utnuk mencari tahu dan pulanglah"


telepon tersebut tertutup. dan Sekar menatap ruangan yang sepi dan terasa mencekam itu.


ia kembali ke UGD karena malam ini ia berjadwal tugas malam.


"aman" ucap Sekar sambil menyeruput kopinya. ada rasa ingin menyelinap pergi ke kamar Ale, memastikan jika pria itu tidak ebrkeliaran tengah malam.


ia punya hak sebagai dokter yang menangani kasus luka yang dialami pria keras kepala itu.


"aku mau keluar sebentar" ucap Sekar sambil tersenyum pada Hadi yang mengerling tersenyum.


"bukan gitu dokter Hadi yang terhormat, aku cuma takut dia gak istirahat tapi berkeliaran"


"emang kuntilanak? dasar pinter aja ngeles"


Hadi tersenyum membairkan juniornya itu pergi keluar dari UGD menuju kamar Ale. di dalam gelap Ale tak menyalakan lampu botolnya, ia sengaja membiarkan ruangan gelap gulita.


Sebisa mungkin Sekar masuk tanpa membuat bunyi. namun tetap saja insting Ale tahu, jika itu adalah Sekar, tak bisa dibohonig, beberapa kali Sekar mendekatinya, membuat ia hapal dengan wangi tubuh Sekar.


Sekar mencipitkan mata mencoba melihat di antara gelap. namun ia tak menemukan Ale di atas ranjang.


ketika ia hendak berbalik ia justru menabrak tubuh Ale yang berada di bealkangnya.


"saya habis dari kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi" jelas Ale yang duduk di sebelahnya.


 "oh, gimana luka kamu?"


"udah mulai mendingan"


"tetap tidak boleh terlalu banyak bergerak pak Ale"


"baik dokter Sekar" Ale tersenyum melihat Sekar yang tidak pintar menyembunyikan rasa khawatirnya.


"kamu tidak takut menyelinap ke kamar saya tengah malam begini?"


"takut sama siapa?"


"sama saya?" ucap Ale masih melihat ke arah Sekar.


"kenapa harus takut sama kamu? memang kamu bisa ngapain?"


"mau dokter saya ngapain? saya bisa ngapain aja" Ale tersenyum picik mendekatkan wajahnya melihat ke arah Sekar yang tak terlihat takut sedikit pun.

__ADS_1


alih-alih menjauhkan wajahnya Sekar jsutru mengecup pipi Ale, membaut pria itu terkejut dengan sikap berani Sekar.


"papa saya juga seroang prajurit, darah beraninya mengalir di darah saya. jadi apa kamu bisa cerita kenapa ia bisa terbunuh?"


Ale terdiam menimbang-nimbang apakah ia ahrus menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada Sekar atau tidak.


"kalau untuk menukar informasi itu saya harus jadi istri kamu, tidak apa-apa" kali ini tekad Sekar sudah bulat.


"tapi-"


kalimat tapi membuat Ale tersenyum.


"tapi apa?"


"kasih saya, ehm maksudnya aku, kasih aku waktu untuk terbiasa sama kamu"


"kalau saya ajarin biar kamu terbiasa bagaimana?"


"ckckck, saya kira kamu pria baik-baik, ternyata ada sisi kurang ajarnya ya?" ucapan Sekar direspon tawa oleh Ale sambil meringis sakit ketika pinggang yang terluka tersebut berdenyut.


"rasain" bisik Sekar sambil tersenyum.


"habisnya kamu lucu"


kalimat itu membuat Sekar bergidik aneh melihat Ale, baru kali ini ada yang mengatakan bahwa dirinya lucu.


"aku harus balik lagi, malam ini jadwal tugas malam"


"hmmm..."


"istirahat Le, sebelum aku suntik kamu dengan obat tidur"


"siap dokter"


"..." Sekar diam dan masih duduk disamping Ale, seakan-akan masih ingin berlama disamping pria itu.


"oh ya, kalau kamu mau tahu jadwal aku, ada terpampang di dinding rumah sakit"


"saya tahu"


Ale meraih kepala Sekar lembut dan mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis itu.


"maaf saya belum bisa mengantar kamu ke rumah sakit, saya takut dokter saya marah dan akan nyntik saya sama obat tidur" kelakar Ale.


Sekar tersenyum, dan berdiri pergi dari kamar pria itu, membiarkan ia berisitrahat. malam itu Sekar menata hati, membuat pagar agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Ale, pada rasa cintanya untuk Ale.


di dalam kamar Ale diam. kemudian mengambil HT nya.


"elang disini ganti"


"camar disini ganti" ucap suara diseberang.


"dokter baru dari kamar saya, tolong awasi dia dari jauh sampai di rumah sakit"


"siap kapten ganti"


untuk mengetahui kebenaran tidak semudah itu. semua yang telribat akan hancur. tak hanya soal hati, dendam dan rasa benci, namun keselamatan Sekar pun akan mulai terancam.


ia harus menjaga gadis yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta tersebut. menjaga Sekar agar ia tetap dalam ruang lingkup yang aman.


"Camar disini ganti" HT tersebut memanggil Ale yang sibuk memikirkan tentang Sekar.


"elang disini ganti"


"dokter cantik sduah sampai dengan selamat, hanya saja sedari perjalanan tersenyum terus kapten-ganti"


Ale diam dan menutup matanya, ia harus mengumpulkan kekuatan untuk melindungi gadis itu, pertama-tama ia harus pulih.

__ADS_1


__ADS_2