Still Love You

Still Love You
Part.64


__ADS_3

Rania dan Radit menghabiskan waktu berdua tanpa anak-anak mereka, mereka menonton, makan dan belanja. Hal yang tak pernah mereka lakukan saat sebelum ada anak.


"Ayok pulang, kasian Kaili. Nanti kemalaman lagi," ujar Rania.


"Ya sudah ayok."


Jam sepuluh malam, Radit sudah sampai di rumah Feli. Dan dia langsung masuk sementara Rania menunggu di mobil, Yudis membuka pintu rumah karena dia sedang berada di ruang tamu bersama Darel, dan Sierra. Sementara Feli sudah tidur bersama Alana dan Elena.


Radit pun berpamitan kepada Yudis dan Darel, setelah mengambil Kaili. Setelah perginya Radit, Yudis berbicara sebentar dengan Darel dan menyusul ke kamar.


Sesampainya di kamar, Yudis menatap Feli dengan tatapan lekat. Dia mengusap rambut Feli dan menciumnya, kemudian memindahkan Alana ke dalam box tidurnya sendiri. Lalu memindahkan Elena ke kamarnya, Yudis ingin tidur berdua bersama Feli.


"Aku mencintai mu sangat," ucap Yudis, memeluk Feli.


****


Pagi harinya Liana sudah rapih, hari ini dia akan ikut Rima melihat tempat untuk agen Tour and Travel. Serta ingin melihat siapa wanita yang menganggu hubungan orang tuanya.


Saat Liana turun, dia menyipitkan matanya melihat dua kulkas berjalan ada di rumahnya.


"Astaga, Tuhan tolong hamba." Batin Liana.


"Selamat pagi Liana," seru Justine dan Rumi kompak, membuat Devara yang mendengar sapaan Pagi yang kaku tersebut tertawa.


Liana mendelik menatap tajam Devara.


"Kenapa kalian ada di sini? Mau minta sarapan? CEO kok susah sih!" cibir Liana.


"Sayang gak boleh gitu," tegur Hana, yang turun bersama Indra di susul Lian.


Liana cemberut dan melangkah menuju meja makan, duduk di sebelah Devara.


"Kayanya mereka, mau ngejar lo deh!" bisik Devara.


"Gue ogah sama mereka," ketus Liana.


"Awas lo, jangan terlalu benci nanti cinta." Goda Devara.


Liana mencubit pinggang Devara, membuat pemuda tersebut meringis.


"Devara, Liana sudah. Ayok makan," perintah Hana.


"Justine, Rumi. Kalian ikut sarapan juga sini," ajak Hana.


"Ayok jangan malu," sahut Indra.


"Terima kasih om, tante." Jawab mereka kompak.


Justine dan Rumi pun duduk bersebelahan di depan Liana, Liana sudah menatap tajam mereka berdua. Hana memfoto Rumi dan mengirimkan pada Feli.


****


"Kenapa?" tanya Yudis.


"Aku dapat foto Rumi, dari Hana. Ngapain dia pagi-pagi udah di rumah Hana?"


Feli melirik pada Yudis yang masih mengenakan handuk di pinggangnya.

__ADS_1


"Mungkin Rumi, lagi usaha buat deketin Liana." Kekeh Yudis mencoba menerka-nerka, apa yang di lakukan oleh adik iparnya tersebut.


"Pake baju dulu sana ihh, risih aku liatnya," ketus Feli.


"Risih apa tergoda?" goda Yudis, membuat Feli mendelik namun pipinya terlihat memerah.


Yudis pun melirik box bayi, ternyata putri kecilnya sudah bangun. Alana jarang menangis, dia selalu anteng jika bangun pagi.


"Gadis cantik, udah bangun? Mau mandi apa mau nen dulu?" tanya Feli sambil mengambil Alana, dia melihat Yudis yang sudah memakai kemeja dan ****** ***** saja.


"Nanti kita, kalo liburan. Ajak Alana saja, gimana?" tanya Yudis.


"Kalo mommy izinin aku sih oke," balas Feli.


"Aku yakin, mommy gak akan izinin." Sambungnya lagi.


"Ya gak papa, kan cuma tiga hari," kata Yudis.


"Ya sudah," ucap Feli.


Feli pun meletakan Alana di box bayi yang selesai menyusui, dia membantu Yudis memasangkan dasi. Yudis sendiri menatap lekat wajah Feli, yang semakin hari semakin cantik.


"Sudah, aku mau ke kamar Elena dulu. Kamu bawa Alana," pinta Feli, membawa tas kerja Yudis dan jasnya.


"Iya," balas Yudis.


Feli pun berjalan ke luar, dan masuk ke kamar Elena. Elena sudah siap dengan baju seragamnya, lalu di rapihkan kembali oleh Feli.


"Mommy nanti jemput aku?"


"Iya nanti mommy jemput,"


Hana yang melihat itu pun menggaruk pipinya , dia melirik Indra.


"Liana kamu bawa mobil saja," putus Indra.


"Tapi om, aku duluan loh yang ke sini!" protes Rumi tak terima, jika Liana harus naik mobil sendiri.


"Gak bisa Liana harus sama gue," sahut Justine.


Indra yang masih pusing pun, di buat pusing oleh perdebatan yang gak penting sama sekali.


"Gini saja, Rumi kamu antar Lian ke sekolah. Biar Devara yang antar Liana," putus Hana.


Justine dan Rumi pun menghembuskan napasnya secara kasar, dengan berat hati. Rumi mengantar Lian ke sekolah. Sedangkan Justine dia sudah di suruh lebih dulu pergi.


"Mereka kayanya suka sama kamu Li," celetuk Indra.


"ihh... Papah, tapi aku engga. Kemarin sih sempat Justine nembak aku, tapi aku gak jawab." Jujur Liana.


"Tuh kan, kenapa gak lo terima aja?" sahut Devara.


"Sudah-sudah, kalian ini. Cepat berangkat nanti keburu siang," tegur Indra.


Liana pun mencium tangan Indra dan Hana, di susul oleh Devara. Liana pun berakhir di antar oleh Devara.


"Anak kita sudah dewasa," celetuk Indra, menatap kepergian mobil Devara. "Dan salah satu dari mereka, menyukai putri kita." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Membuat Hana tertawa, mudah-mudahan Liana mendapat pasangan yang baik. Bisa saja Liana membawa mobil sendiri, tapi Indra tak mengizinkannya.


****


Berpuluh menit kemudian, Liana sudah sampai di Bangtan Area. Devara yang baru pertama kali ke sini pun, berdecak kagum menatap bangunan di depannya. Yang bernuansa ungu.


"Keren banget, Papah hebat bisa bangun bisnis ini sampe kaya gini."


"Kemana aja lo!" cibir Liana.


"Ya lo tau sendiri, gue selalu sibuk." Jawabnya, membuat Liana memutar bola mata malas.


"Ohh yah, nanti di jemput atau gimana?" tanya Devara, sebelum sang kakak keluar.


"Liat aja nanti, mungkin gue pulang bareng mbak Rima."


"Oke,"


Setelah berpamitan Devara pun melajukan mobilnya, Liana masuk ke dalam gedung, yang masih sepi. Karena cafe buka pukul delapan, sedangkan sekarang baru pukul tujuh pagi.


"Liana, selamat pagi." Sapa Rima.


"Selamat pagi mbak," balas Liana.


"Mbak, aku ke atas dulu," ujar Liana.


"Iya, nanti aku tunggu di tempat penyimpanan yah!"


"Oke."


Liana pun bergegas menuju ruangan milik Indra, dengan cepat dia kembali lagi ke bawah. Dan membantu Rima mengecek kebutuhan dapur yang habis.


Sementara itu di rumah Mahesa, terjadi perdebatan antara Arumi dan Mahesa.


"Mas aku mohon, sudahi hukuman Dalia. Kasian dia," pinta Arumi.


"Jangan terlalu memanjakannya, Arumi. Ini baru satu minggu, aku menghukumnya satu bulan. Dia ada di rumah pun, semua tersedia lalu dia mau apa?" tanya Mahesa.


"Tapi Mas..."


"Gak ada tapi-tapian Arumi, urusan Dalia biar aku yang urus. Aku akan menemui tuan Indra, dan meminta maaf pada keluarganya." Tegas Mahesa, Mahesa pun meninggalkan kamarnya dia akan langsung menuju Wijaya Grup.


Arumi pun berdecak kesal, dia pun keluar dari kamarnya. Menuju kamar Dalia.


"Ibu, gimana? Ayah mau ngasih kan?" tanya Dalia.


"Engga, ayah mu menolak memberikan semuanya." Balas Arumi.


"Sudahlah Dalia, jangan ganggu keharmonisan rumah tangga orang lain." Ujar Arumi.


"Tapi ibu, aku mencintainya." Pekik Dalia.


"Itu salah nak, salah." Arumi pun meninggalkan kamar Dalia.


"Akhhh.... Sialan! Semua gara-gara lo, Jus. Awas aja gue bakal bales," ucapnya marah.


Dalia pun menghubungi Sam, dia ingin mengikuti semua gerak-gerik Justine. Rencana licik sudah dia susun dengan rapih, untuk menghancurkan Justine.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Maaf typo


__ADS_2