
Setelah menemui Gavin Douglas, Silvia dan Abraham pergi ke bandara untuk menjemput kedua orangtua Silvia yang datang dari California. Tidak saja mereka, kakak Silvia juga datang bersama dengan istrinya. Mereka datang terlebih dahulu, sedangkan ketiga keponakan Silvia akan menyusul nantinya karena William mengatakan jika dia akan mengadakan pesta pernikahan dengan Marien. Sebab itulah mereka tidak bisa berlama-lama di rumah ayah Marien.
Silvia dan Abraham sudah berada di bandara, mereka menunggu beberapa saat sampai akhirnya Michael Smith dan Xiau Yu, ibu dan ayah Silvia sudah terlihat di susul dengan John Smith, kakak Silvia dan istrinya Samantha Jackson.
"Guys!" Silvia memanggil sambil melambaikan tangan.
Ibunya menghampiri dengan terburu-buru, walau putrinya baru saja kembali tapi rasa rindu sudah dia rasakan. Xiau Yu memeluk putrinya untuk melepaskan kerinduan begitu juga dengan sang ayah.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya ibunya.
"Tidak, Mom. Aku dan Abraham baru saja tiba!"
"Mana William, Silvia?" tanya kakaknya.
"Sedang pergi dengan istrinya. Ke mana anak-anak kalian? Kenapa tidak datang bersama dengan kalian?"
"Jacob dan Edward sedang sibuk, dia akan menyusul nanti jadi Olivia akan ikut dengan mereka nanti," jawab kakak iparnya.
"Baiklah, ayo kita pergi!" ajak Silvia.
"Kau berkata William menikah secara diam-diam, apa itu benar?" tanya ayahnya pula.
"Yeah, seperti yang Daddy katakan."
"Mana dia sekarang? Kenapa tidak datang?"
"Sedang pergi dengan istrinya, Mom. Aku akan memintanya pulang nanti malam!"
"Tidak perlu, bagus jika dia tidak tahu kami datang jadi jangan memberinya tahu. Lagi pula mereka tidak akan menghindar nantinya!" ucap ibunya.
"Maksud, Mommy?" tanya Silvia tidak mengerti.
"Sepertinya akan ada drama lagi, aku harus menontonnya!" ucap Samantha.
__ADS_1
"Sepertinya kau mau ikut karena ingin menyaksikan hal ini, Baby!"
"Tentu saja karena sebelum terjadi pada menantu kita nanti, aku harus mencari ilmu lebih banyak!"
"Baby?"
"Sudah, tradisi keluarga harus di jaga sampai anak cucu meski kita sudah tiada nanti!" memang dari dirinyalah, cara aneh menyambut menantu menjadi tradisi keluarga.
"Terserah kau saja!" Jhon hanya bisa menggeleng. Dulu istrinya yang diisengi tapi kini, dia justru mulaiĀ belajar dari ibunya dan menjadikan keisengan itu sebagai tradisi. Silvia mengajak mereka pergi dan tidak mengatakan pada William jika kakek dan neneknya sudah datang. Lagi pula William sudah mengatakan pada mereka jika dia akan menghabiskan waktu dengan istrinya hari ini di rumah baru yang baru dia beli.
Meski rumah itu baru dia beli tapi Williams sudah mengisi rumah itu dengan semua yang diperlukan bahkan Marien tidak perlu memusingkan apa pun yang akan dia pakai karena semua sudah tersedia di dalam lemari tapi meski begitu, ada beberapa dekorasi yang ingin Marien rubah.
William hanya memperhatikan Marien yang sedang mengatur beberapa pekerja yang dia panggil untuk membantu Marien merombak rumah berlantai tiga yang dia beli untuk istrinya. Tidak banyak yang perlu di rubah, hanya beberapa dekorasi yang tidak Marien sukai saja.
Setelah dilihat-lihat, Marien merasa ada yang kurang. Hiasan dinding yang sangat diperlukan di setiap rumah oleh sebab itu, Marien melangkah mendekati William dan duduk di sisinya karena dia ingin menyampaikan apa yang dia inginkan.
"Bagaimana? Apa ada yang kau inginkan? Jika ada yang kurang, katakan padaku!" ucap William.
"Memang ada yang kurang, Will. Dan aku rasa kita harus segera mendapatkannya!"
"Tidak, tentu saja tidak. Yang belum kita miliki hanya foto pernikahan saja. kita belum memilikinya sama sekali apalagi tidak ada yang mengambil foto kita saat itu."
"Itu perkara mudah, Sayang. Kita akan memilikinya banyak nanti saat kita mengadakan acara pernikahan kita."
"Oh, yeah? Kapan kita akan mengadakan acara pernikahan kita?" mendadak dia jadi tidak sabar. Bagaimanapun dia menginginkan sebuah pernikahan yang disaksikan banyak orang meski tidaklah megah.
"Segera, Sayang. Jika tidak ada pekerjaan kau bisa memilih tempat untuk acara pernikahan kita. Aku sudah membicarakan hal ini pada ibuku dan dia memang menginginkan kita melakukan resepsi pernikahan. Dia sana aku akan mengenalkan dirimu pada keluargaku!"
"Tunggu, apa keluargamu banyak?"
"Untuk sekarang tidak tapi akan bertambah banyak nanti apalagi kita juga akan memiliki anak setelah ini!"
"Hei, pembicaraan kita jangan tertuju ke sana!" ucap Marien seraya memukul dada William. Mendadak wajahnya memerah, kedua kaki William sudah mulai sembuh dan dia sudah bisa berdiri, lalu?
__ADS_1
"Kenapa? Jangan katakan kau melupakan hal ini dan lihat, kedua kakiku sudah sembuh jadi?" tangan William sudah berada di pinggang Marien lalu bergerak ke arah perutnya, "Kau sudah tidak perlu berada di atas lagi!" ucapnya.
"Wi-William! Ststt!" Marien meletakkan jari ke bibirnya dengan wajah memerah. Bagaimana jika ada yang mendengar? Para pekerja sedang sibuk di dekat mereka dan dia harap tidak ada yang mendengarnya.
"Mereka tidak akan mendengarnya jadi tidak perlu malu!"
"Aku mau membuat makan malam saja, awasi mereka baik-baik!" pintanya.
"Baik Nyonya tapi ingat, kau tidak bisa menghindar malam ini!"
Marien melangkah pergi dengan wajah memerah. Dia tidak mungkin menghindar karena itu adalah kewajibannya sebagai istri William tapi tetap saja, rasa gugup itu dia rasakan. Selama William mengawasi para pekerja yang ada di luar sana, Marien membuat makan malam untuk mereka berdua. Kulkas sudah terisi penuh dengan bahan-bahan makanan jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi.
Setelah makanan siap, Marien mengajak William untuk makan. Lagi pula sudah sore saat dia selesai, para pekerja pun sudah pulang dan akan melanjutkannya besok. Mereka berdua menikmati makanan sederhana yang Marien buat karena William menyukainya selama mereka sudah menikah. Dia tidak pernah mengeluh karena menurutnya makanan Marien lebih baik dari pada makanan di restoran.
Setelah selesai makan, mereka berdua berendam bersama di dalam jacuzzi yang ada di dalam kamar mandi. Aroma terapi yang menenangkan, waktu berdua yang tidak akan diganggu oleh siapa pun. Mereka berdua memiliki waktu sempurna sebagai suami istri. Marien bersandar dengan nyaman di dada William sambil menikmati sentuhan tangan William yang bermain di lengannya dan juga bagian perutnya.
"Aku lupa menyampaikan hal ini padamu, Marien," ucap William.
"Menyampaikan apa?"
"Dengar, besok akan ada seorang asisten untukmu dan dia akan selalu mengikuti dirimu ke mana pun kau pergi serta yang membantu dalam pekerjaanmu!"
"Asisten? Pria atau wanita?" tanya Marien.
"Tentu saja wanita, aku tidak mungkin membiarkan seorang pria berada di dekatmu!"
"Baiklah, kebetulan aku memang tidak memiliki asisten."
"Bagus, jadi?" kedua tangan William bergerak naik dan berhenti di dada Marien, "Sudah boleh berada di atasmu, bukan?" tanyanya.
"Hm," jawab Marien sambil mengangguk.
"Oh, aku sudah tidak sabar!" kedua tangannya tak henti bermain, Marien juga tidak mencegahnya. Mereka melakukan pemanasan sebentar di kamar mandi dan setelah itu, mereka berpindah tempat.
__ADS_1
Kali ini Merien tidak perlu melakukannya sendiri seperti waktu itu karena William yang memberikannya kenikmatan. Rasanya tentu jauh berbeda seperti waktu itu di mana hanya ada rasa sakit saja yang dia rasakan karena sensasi yang dia rasakan dari percintaan mereka saat ini adalah rasa nikmat. Seperti yang William duga, setelah ini yang tidak bisa berjalan adalah Marien karena dia tidak akan berhenti.