
Sebelum Marien dibawa pulang dan tinggal di rumah mertuanya, ayahnya datang untuk melihat keadaannya. Gavin juga membawa makanan kesukaan Marien sejak kecil, dia pula yang membuatnya sendiri. Sebisa mungkin dia ingin menjadi ayah yang baik bagi Marien. Dia pun ingin menebus kesalahan yang telah dia lakukan pada putrinya selama ini dan memberikan perhatian yang selama ini tidak dia berikan pada Marien. Belum terlambat menebus kesalahan untuk menjadi ayah yang baik.
Marien yang sedang berbaring sangat senang ketika ayahnya datang. William sedang keluar untuk berbicara dengan dokter yang menangani Marien. Dia ingin tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh Marien lakukan agar kandungannya baik-baik saja. Mereka juga harus tahu banyak hal agar kejadian kemarin tidak terulang. Meski akan dijaga oleh ibunya mulai sekarang tapi mereka tetap harus banyak belajar.
"Untunglah kau datang sebelum aku pulang, Dad," Marien duduk dengan tegak saat ayahnya menghampiri.
"Apa kau sudah boleh pulang hari ini?" tanya ayahnya.
"Ya, tapi aku tidak akan pulang ke rumahku. Mulai sekarang aku akan tinggal di rumah mertuaku sampai aku melahirkan jadi jika Daddy ingin mencari aku, carilah aku di sana."
"Baiklah, itu lebih baik. Setidaknya ada yang menjagamu. Jika kau ingin pulang ke rumah, Daddy yang akan menjagamu."
"Terima kasih, Dad. Aku akan mengajak William menginap sesekali agar Daddy tidak kesepian. Saat akhir pekan datanglah ke rumah mertuaku agar Daddy punya teman."
"Daddy tidak enak hati, Marien. Sebaiknya Daddy di rumah saja atau menjenguk kakakmu di dalam penjara."
"Nanti aku akan membicarakannya dengan William, Daddy tidak perlu khawatir."
"Baiklah, Daddy membawakan makanan kesukaanmu sejak kecil. Ayo makan, Daddy akan menyuapimu makan," Gavin mengeluarkan makanan yang dia bawa untuk kedua putrinya.
"Thanks, Dad. Aku tidak bisa makan banyak, sepertinya aku tidak bisa menghabiskannya."
"Tidak apa-apa, kau bisa makan lagi nanti tapi mana asisten suamimu? Daddy ingin meminta bantuannya!"
"Apa yang Daddy maksud adalah Steve?"
"Yes, Daddy membuat makanan kesukaan kakakmu juga tapi Daddy ingin bersama denganmu hari ini jadi Daddy ingin meminta bantuannya untuk mengantarkan makanan ini untuk kakakmu."
"Kebetulan, sepertinya kita harus mencoba mendekatkan mereka berdua," ucap Marien.
"Apa maksudmu?" tanya ayahnya tidak mengerti.
"Dad, aku rasa Steve cocok untuk Alexa. Meski aku tidak tahu motif Steve yang ingin menikahi Alexa tapi aku rasa tidak ada yang lebih baik dari Steve apalagi Steve sudah tahu apa yang terjadi dengan Alexa tapi yeah, kita juga tidak akan memaksa karena belum tentu Steve bisa menerima kehidupan Alexa sebelumnya."
__ADS_1
"Sudahlah, jangan menjodohkan mereka. Kakakmu sudah memutuskan untuk menjadi biarawati untuk menebus kesalahannya jadi biarkan dia dengan keputusannya."
"Tapi untuk menebus kesalahan tidak harus menjadi biarawati, Dad. Banyak cara untuk menebus kesalahan. Siapa tahu Steve dan Alexa berjodoh? Kita harus mencoba mendekatkan mereka. Jika memang tidak berjodoh, kita tidak memaksa."
"Baiklah, tiba-tiba kau jadi ingin menjodohkan mereka tapi Daddy tidak akan mencegah karena Daddy memang kurang setuju kakakmu menjadi biarawati."
"Jika begitu sudah diputuskan. Serahkan saja semuanya padaku, aku yang akan mendekatkan mereka nanti!" ucap Marien. Senyuman menghiasi wajahnya, dia akan memanfaatkan situasi yang ada nanti karena dia tahu Steve tidak mungkin menolak permintaannya.
"Sekarang makan!" ucap Gavin sambil menyuapi putrinya makanan yang dia buat, "Daddy yang membuat ini untukmu. Selama ini Daddy tidak pernah peduli padamu dan tidak pernah melakukan hal ini jadi Daddy ingin melakukannya untuk menebus kesalahan Daddy," ucapnya saat Marien menerima suapan darinya.
"Thanks, Dad. Makanan ini mengingatkan aku dengan Mommy karena dulu Mommy akan membuatkan makanan ini saat aku menangis lalu Alexa akan memberikan bonekanya padaku untuk menghibur. Aku jadi teringat dengan masa lalu."
"Daddy sangat bersalah karena telah menghancurkan hubungan kalian berdua," Gavin menunduk dan terlihat sedih jika mengingat hubungan indah yang telah dia hancurkan.
"Sudahlah, Dad. Tidak perlu dibahas lagi. See, kebetulan Steve datang!" ucap Marien karena William telah kembali bersama dengan Steve.
"Ada apa dengan Steve?" tanya William seraya melangkah mendekat.
"Daddy ingin meminta bantun Steve mengantarkan makanan untuk Alexa. Kau tidak keberatan, bukan?" bagaimanapun dia harus mendapatkan ijin dari suaminya karena Steve adalah tangan kanannya.
"Tentu saja boleh, tapi setelah Steve membereskan barang-barang Marien yang akan dibawa pulang!" ucap William. Dia tidak mungkin keberatan apalagi itu adalah permintaan istrinya.
"Terima kasih, Will. Sepertinya kami akan merepotkan Steve mulai sekarang dan aku harap Steve tidak keberatan."
"Bagaimana, Steve. Apa kau keberatan?" tanya William pada sang asisten.
"No, Sir. Apa pun perintahmu akan aku lakukan!" jawab Steve yang memang tidak bisa menolak perintah bosnya.
"Aku sangat senang mendengarnya, Steve. Sekarang bawa makanan ini ke penjara dan pastikan Alexa menghabiskannya. Tidak perlu memikirkan barang-barangku yang hanya sedikit, aku bisa membereskannya!" ucap Marien yang terlihat bersemangat. Awal baik pasti akan berakhir baik, dia yakin itu.
"Pergilah, lakukan permintaan istriku!" perintah William.
"Baik, Sir!" Steve mengambil makanan yang diberikan oleh Gavin. Kebetulan dia bisa sekalian mengunjungi Alexa seperti yang dia katakan waktu itu pada Alexa.
__ADS_1
"Kau harus memastikan Alexa menghabisi semua makanan itu, Steve!" Marien kembali mengingatkan supaya Steve tidak lupa.
"Pasti, Nona. Aku akan melakukan tugasku dengan baik!"
"Aku yakin kau bisa melakukannya!" ucap Marien.
William memperhatikan ekspresi istrinya yang mencurigakan. Dia yakin pasti ada yang sedang direncanakan oleh Marien karena dia tidak pernah mengurusi hal seperti itu tapi sekarang dia terlihat begitu antusias.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Sayang? Kau terlihat merencanakan sesuatu pada Steve dan Alexa?"
"Yes, aku ingin mendekatkan mereka. Siapa tahu mereka berjodoh?"
"Aku sudah mencegah tapi Marien masih saja melakukannya!" ucap Gavin.
"Tidak apa-apa, mungkin dengan demikian Steve akan menemukan pengganti istrinya!" ucap William.
"What?" Marien sungguh terkejut karena dia tidak pernah tahu akan hal ini.
"Sepertinya aku belum mengatakannya padamu, Steve pernah menikah tapi istrinya meninggal saat melahirkan dan bayinya juga meninggal. Sebab itu Steve tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun lagi."
"Oh my God, kenapa kau baru mengatakannya?" ini di luar dugaan karena dia mengira Steve adalah bujangan tapi nyatanya dia seorang duda.
"Kau tidak pernah bertanya jadi aku pikir kau tidak perlu tahu!"
"Baiklah, aku jadi bersemangat untuk menjodohkan mereka. Daddy harus membantu aku dan bekerja sama denganku!" pinta Marien yang semakin bersemangat saja untuk mendekatkan Alexa dan Steve.
"Apa yang bisa Daddy lakukan, Marien. Jika untuk kebaikan kakakmu, tentu Daddy tidak akan menolak!" ucap ayahnya.
"Bagus, kita bertiga harus mendekatkan mereka sampai jadi!" ucap Marien.
"Hei, kenapa aku dibawa?" protes William.
"Karena kau adalah bosnya, jadi kau harus ikut membantu!"
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan menolak permintaan istriku!" ucap William yang memang tidak bisa menolak permintaan istrinya.
"Bagus!" Marien tersenyum penuh arti, mendadak dia ingin melihat kedekatan Steve dan Alexa. Dia harap rencana mereka berhasil dan dia harap Alexa tidak bersikap menyebalkan seperti yang sudah-sudah. Mungkin saja mereka memang berjodoh? Tidak ada yang tahu dan dia sangat mengharapkannya.