Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Amarah


__ADS_3

William dan Steve segera pergi mencari keberadaan Marien tapi yang mereka datangi pertama kali sudah pasti Gavin Douglas karena William tahu pria itu pasti tahu di mana keberadaan Marien dan Alexa. Steve juga sudah menyebar orang untuk mencari keberadaan Alexa.


Mereka bergerak cepat agar dapat segera membebaskan Marien dari Alexa yang jahat. Bagaimanapun William terlahir sebagai seorang pengusaha yang mengikuti jejak ayahnya. Meski ibunya berasal dari keluarga mafia, kakek dan pamannya adalah mafia tapi dia tidak mengikuti jejak mereka.


Dulu dia pikir tidak perlu belajar strategi atau apa pun karena dia pikir tidak perlu karena dia tidak akan terlibat dengan apa pun tapi ibunya tetap mengajarkan bagaimana caranya memegang senjata dan bagaimana caranya melempar pisau. Tidak menyangka dia akan berada di dalam situasi seperti ini, jika dia tahu dia pasti mengikuti jejak kakek dan pamannya lalu menjalani pelajaran yang berat untuk mengikuti jejak mereka.


Tapi meski dia tidak punya keahlian itu, dia tetap akan menyelamatkan Marien dengan segala kemampuan yang dia miliki. Dia pun tidak akan mengampuni Alexa jika dia berani melukai Marien. Steve membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya mereka tiba di rumah Gavin Douglas.


Tanpa basa basi, Steve menendang pintu rumah Gavin hingga terbuka dan William melangkah masuk tanpa permisi lagi. Kedatangan mereka mengejutkan Gavin yang sedang bersantai sambil membaca koran. Gavin beranjak dan terkejut melihat William menghampirinya dengan amarah tertahan.


"Ada apa? Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau mau datang?" tanya Gavin basa basi.


"Cukup basa basinya. Sekarang katakan padaku di mana putrimu berada?" tanya William tanpa mau berbasa-basi karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Marien. Semoga saja tidak terjadi apa pun pada Marien, dan semoga saja Marien bisa mengulur waktu sampai dia tiba.


"Apa maksud pertanyaanmu, William? Bukankah Marien ada bersama denganmu?"


"Bukan Marien yang aku maksudkan. Yang aku tanyakan adalah putri pertamamu jadi katakan padaku di mana Alexa?"


"Alexa sedang pergi berlibur, kenapa kau mencarinya?"


"Jangan basa basi denganku, Tuan Douglas. Katakan sekarang juga di mana Alexa? Dia menculik Marien jadi jangan membuang waktuku karena Marien sedang berada di dalam bahaya saat ini!" William benar-benar kesal bahkan untuk memanggil Gavin Douglas sebagai ayah mertuanya lagi pun dia sudah tidak sudi karena semua gara-gara keegoisannya yang tidak mempedulikan keadaan kedua putrinya.

__ADS_1


"Kenapa tidak sopan seperti itu? Aku tidak tahu di mana Alexa dan apa maksudmu Marien diculik oleh Alexa? Jangan mengatakan ketidakbenaran hanya untuk mencari kesalahan Alexa!"


"Aku tidak mengatakan ketidakbenaran!" teriak William penuh emosi. Gavin sampai terkejut dibuatnya tapi William masih tidak juga berhenti karena dia melangkah mendekati Gavin dengan kemarahan yang hampir memuncak.


"Apa maumu? Meski kau adalah menantuku tapi kau tidak boleh semena-mena padaku!"


"Meski kau adalah ayah mertuaku tapi aku tidak akan segan padamu!" sepucuk pistol dikeluarkan lalu diarahkan ke dahi Gavin. Pria tua itu terkejut melihat senjata api itu, kedua tangan diangkat secara otomatis dan dia tampak takut sampai gemetar.


"Ja-Jangan bercanda dengan benda itu, William!" teriaknya.


"Aku tidak bercanda oleh sebab itu, segera katakan padaku di mana Alexa jika tidak, sebelum membuatnya lumpuh maka aku akan membuatmu lumpuh terlebih dahulu dan percayalah, sekalipun kau mati, Marien tidak akan datang untuk menguburkan jasadmu jadi katakan padaku, di mana Alexa? Sebaiknya kau tidak menunda lama karena jika terjadi sesuatu pada Marien, aku tidak akan segan menghabisi putri kesayanganmu itu!"


"Orang yang menerima Marien dan memperlakukannya dengan baik, itulah keluargaku tapi untuk orang seperti kalian berdua, aku tidak menganggap dan aku tidak akan ragu!"


"Jangan berbuat bodoh, kau akan masuk penjara!" ucap Gavin namun dia dikejutkan oleh letusan pistol karena William melepaskan satu tembakan akibat sudah banyak waktu yang terbuang. Kedua kaki Gavin gemetar, kedua mata melotot dan keringat bergulir di dahi saat peluru melesat melewati pipinya.


"Selanjutnya tidak akan meleset!" ucap William.


"Ba-Baiklah, aku akan membawamu ke tempat Alexa. Jangan tembak lagi, jangan tembak!" ucap Gavin ketakutan.


"Bagus, bawa dia Steve. Jika dia berani lari atau melawan, patahkan satu kakinya dan lakukan tanpa ragu!" perintah William.

__ADS_1


"Baik, Sir!" ini kali pertama William begitu marah padahal dia tidak memperlihatkan amarahnya ketika Fiona menghinanya dan mendorongnya hingga jatuh bahkan dia tidak perah melihat William semarah ini selama dia bekerja dengan William. Senjata api memang selalu ada di dalam mobil tapi tidak pernah digunakan dan untuk pertama kali, benda itu dikeluarkan untuk digunakan.


Gavin ditarik pergi, dia yang akan menuntun mereka kepada Alexa. Kali ini tidak akan dia biarkan Alexa melakukan perbuatan itu lagi dan hari ini juga, tidak ada yang boleh membenci istrinya apalagi sampai mencelaki Marien. Dia akan memaksa Gavin untuk buka mulut tentang apa yang terjadi agar perselisihan Marien dan Alexa berakhir.


Untuk melampiaskan kekesalan hatinya, Alexa tidak saja menggunting rambut Marien tapi dia pun memukul wajah Marien. Dia akan membuat Marien mengalami sakit dengan perlahan seperti yang dia katakan. Tidak akan ada yang mengganggunya jadi dia akan melakukan aksi balas dendamnya sampai dia puas.


"Bagaimana rasanya, Marien? Bagaimana rasanya dipukul olehku?" teriak Alexa sambil memukul.


"Lakukan sampai kau puas, Alexa!" jawab Marien. Rasa sakit berusaha dia tahan agar dia tidak terlihat terlalu lemah bahkan satu tetes air mata berusaha untuk tidak dia teteskan jika tidak, Alexa akan semakin puas melihat keadaannya yang tidak berdaya.


"Aku memang akan memukulmu sampai puas karena kau harus merasakan bagaimana rasa sakitnya kehilangan ibu dan seorang bayi bahkan aku akan membunuh bayimu serta jika kau sedang hamil!" teriak Alexa.


"Hentikan perbuatan kejimu. Ibumu bunuh diri gara-gara Daddy dan aku adalah korban dari amarahmu begitu juga ibuku!" setiap kali dia berbicara, mulutnya terasa sangat sakit tapi dia harus meyakinkan Alexa jika semua itu adalah kesalahan ayah mereka berdua.


"Jangan membual!" teriak Alexa dan satu pukulan lagi dia berikan ke wajah Marien. Marien berteriak, darah mengalir dari hidungnya. Alexa benar-benar sudah dibutakan oleh dendam. Entah bagaimana reaksi Alexa nanti saat tahu kebenarannya, dia harap William bener-benar membawa ayahnya agar semuanya terungkap.


William dan Steve sudah tiba bersama dengan Gavin Douglas. Ternyata mereka berada di tempat sepi, Marien memang di bawa ke sana karena Alexa bersembunyi di mana orang tidak bisa menemukannya. William meminta Steve membawa Gavin sedangkan dia melangkah di depan dan masuk ke dalam untuk memeriksa situasi. Tidak ada siapa pun karena pembunuh bayaran yang dibayar oleh Alexa sudah pergi.  Itu karena Alexa tidak memerlukan tenaga mereka lagi.


Suara teriakan Alexa yang mencaci maki terdengar dari sebuah ruangan. William bergegas berlari ke arah datangnya suara begitu juga dengan Steve yang mendorong Gavin menuju ruangan itu. Alexa sudah mengangkat guntingnya karena dia ingin merusak wajah Marien.


"Sekarang aku ingin lihat, apakah kau masih bersama dengan suamimu setelah aku menghancurkan wajahmu ini!" teriak Alexa. Gunting diangkat tinggi, siap di hujamkan tapi pada saat itu, pintu ruangan terbuka lalu suara letusan senjata api terdengar. Alexa terkejut dan berteriak, gunting yang ada di tangan terpental jatuh. Alexa berpaling ke arah pintu dan kembali terkejut saat melihat William berdiri di depan pintu dengan ekspresi menakutkan dengan sepucuk pistol yang ada di tangan dan sudah terarah ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2