
Silvia dan Abraham sudah kembali dengan makanan yang akan diberikan untuk menantu mereka. Mereka sudah mendengar dari William jika Marien memang tidak berselera makan beberapa hari belakangan. Pantas saja menantu mereka begitu lemah. William menyuapi makanan untuk Marien ketika mereka tiba namun selera makan Marien benar-benar sedang buruk sehingga dia menolak suapan kedua yang diberikan oleh William.
Makanan itu sedikit keras dan membuatnya merasa mual oleh sebab itu Marien benar-benar tidak mau lagi karena dia takut muntah sehingga mengotori tempat itu. Cukup sudah karena setiap kali dia muntah rasanya sungguh melelahkan.
"Satu suap lagi, Marien. Kau harus bisa!" ucap William.
"Jangan paksa aku, Will. Aku tidak mau mengotori tempat ini!" tolak Marien.
"Tapi kau baru makan satu suap jadi satu lagi agar ada nutrisi yang masuk. Jika kau tidak juga makan dan mengandalkan infus, itu tidak baik untuk kesehatanmu dan bayi kita!" keadaan istrinya benar-benar membuatnya cemas.
"Makanannya tidak enak, Will. Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan jadi kau tidak tahu!"
"Will, jangan paksa istrimu!" ucap ibunya yang baru saja masuk ke dalam ruangan bersama dengan ayahnya.
"Tapi Marien baru makan satu suap, Mom!"
"Tapi jangan paksa dia. Saat sedang hamil tidaklah menyenangkan karena mood berubah-ubah dan tidak berselera makan adalah hal wajar jadi jangan dipaksa!"
"Baiklah, aku tidak akan memaksanya lagi."
"Daddy sudah memikirkan hal ini," ucap ayahnya.
"Apa yang Daddy pikirkan?"
"Mulai sekarang kau dan Marien harus tinggal di rumah. Jangan menolak jika tidak kami yang akan pindah dan tinggal di rumahmu lalu Daddy akan menyulap semua rumahmu menjadi pink!" ancam ayahnya.
"Apa? No!" tolak William. Jangan sampai ayahnya menyulap rumahnya menjadi istana Barbie.
"Kau tidak bisa menolak. Lagi pula aku sudah memintamu untuk menjaga istrimu dengan baik, lalu kenapa tidak kau lakukan? Kenapa kau membiarkan istrimu kelelahan sampai-sampai membuatnya jadi seperti ini?" ayahnya benar-benar marah akan hal ini karena dia sudah mengingatkan mereka berdua.
"Semua salahku, Dad. Jangan menyalahkan William. Lagi pula aku memang tidak bisa makan dan tidak bisa tidur beberapa hari belakangan dan aku sibuk pergi ke penjara untuk melihat keadaan kakakku juga menyelesaikan pekerjaanku. Sebab itu keadaanku jadi buruk seperti ini. Jika Daddy ingin marah, akulah orang yang pantae Daddy marahi!" ucap Marien.
"Bukankah sudah aku katakan? Kau harus menjaga kesehatanmu dan tidak melakukan pekerjaanmu lagi tapi kenapa kau tidak mendengarkan aku?"
"Ma-Maaf," Marien menunduk dan terlihatĀ bersalah.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan marah. Oleh sebab itu tinggallah dengan kami mulai sekarang jika tidak kami yang akan pindah. Kebetulan ayahmu sedang rajin menonton film Barbie jadi Mommy rasa dia sudah mendapatkan inspirasi," ucap Silvia.
"What? Dad. Bukankah itu memalukan?"
"Untuk apa Daddy malu? Daddy tidak mencuri dan tidak merugikan orang lain jadi untuk apa Daddy malu? Daddy hanya ingin menyambut calon cucu Daddy saja!"
"Tapi jangan terlalu berlebihan seperti itu. Dad. Lagi pula kita belum tahu jenis kelaminnya!"
"Aku sudah menantikannya selama belasan tahun jadi jangan melarang aku dan cucuku sudah pasti perempuan!"
"Will, jangan mencegah ayahmu. Aku pun sangat berharap bayi kita perempuan," ucap Marien.
"Kau dengar itu, menantuku saja tidak keberatan jadi jangan melarang!"
"Baiklah, baik!" ucap William sambil menggeleng.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Marien? Apa kau baik-baik saja?" Silvia menghampiri Marien dan duduk di sisinya.
"Maaf telah membuat Mommy khawatir, aku terlalu berlebihan sehingga kurang beristirahat."
"Bagus, apa kau mau makan bakpao?" Silvia mengeluarkan bakpao daging yang baru dia buat dan masih hangat.
"Bakpao?" dia tidak terlalu tahu akan makanan itu karena Marien jarang makan chines food. Mungkin makanan yang berbeda membuatnya lebih berselera.
"Yes, cobalah!" Silvia memberikannya pada Marien.
Satu gigitan, membuatnya merasa lebih baik dari pada makanan yang membuatnya mual itu. Marien bahkan bisa menghabiskan satu bakpao, akhirnya dia tidak merasa mual lagi setelah menghabiskan makanannya.
"Apa masih mau?" tanya Silvia.
"Cukup, Mom. Aku takut muntah jika terlalu banyak."
"Baiklah, aku membuatkan sup sarang burung walet untuk kesehatan untukmu. Kau bisa memakannya nanti setelah beristirahat."
"Thanks, Mom," entah makanan apa tapi dia ingin mencobanya nanti.
__ADS_1
"Mom, apa kau tidak membawa makanan untukku? Aku belum makan!" akhirnya dia merasa lapar setelah keadaan istrinya membaik.
"Tidak, bagaimana jika kita pergi makan? Kita tinggalkan Marien agar dia bisa beristirahat."
"Apa tidak apa-apa?" William tampak enggan meninggalkan istrinya.
"Tidak apa-apa, Will. Aku baik-baik saja."
"Baiklah, kami akan segera kembali!" sebelum pergi, William memberikan ciuman di dahi Marien dan memintanya untuk beristirahat.
William dan kedua orangtuanya pergi untuk makan siang, sedangkan Marien berbaring untuk beristirahat. Dia sangat ingin tidur tapi tidak bisa. Lagi-Lagi Marien terlihat gelisah dan tidak bisa tidur, itu karena dia memikirkan keadaan kakaknya.
Rasanya ingin bertanya, tapi pada siapa? Sepertinya dia harus menghubungi ayahnya, mungkin saja persidangannya sudah selesai. Marien mengambil ponselnya yang ditinggalkan oleh William di atas meja, untuk menghubungi ayahnya yang baru saja selesai menjenguk kakaknya dan untuk memberinya kabar.
"Marien, apa kau sudah sadar?" ayahnya terdengar sangat senang mendengar suara putrinya.
"Maaf telah membuat Daddy khawatir, aku sudah baik-baik saja. Bagaimana dengan persidangannya, apa hukuman Alexa bisa diringankan?"
"Tentu saja, kakakmu hanya perlu menjalani hukuman enam tahun saja setelah kami melakukan banding. Setidaknya jauh lebih ringan dari pada sebelumnya dan Daddy sangat senang mendengarnya."
"Aku juga senang, Dad. Aku tidak bisa datang, semoga saja Alexa tidak marah."
"Daddy sudah menjelaskan keadaanmu padanya. Maafkan Daddy yang tidak bisa menemanimu di rumah sakit karena Daddy harus menjadi saksi kakakmu. Jangan salah paham, Daddy tidak pilih kasih sama sekali."
"Aku tahu, Dad. Aku tidak akan menyalahkan Daddy, aku tahu Daddy harus menjadi saksi jadi aku tidak akan marah."
"Baiklah, sekarang Daddy akan pergi ke rumah sakit untuk menjengukmu."
"Sebaiknya Daddy pulang untuk beristirahat. Jangan mengkhawatirkan aku, aku sudah baik-baik saja. Daddy harus menjaga kesehatan oleh sebab itu, Daddy tidak boleh terlalu lelah."
"Baiklah, Daddy akan datang besok dan akan membawakan makanan kesukaanmu!"
"Baiklah, Dad. Aku tunggu!" rasanya sangat senang setelah mendengar masa tahanan kakaknya sudah berkurang. Marien kembali berbaring, dia pikir kali ini dia bisa beristirahat tapi sayangnya, dia kembali merasa gelisah padahal dia tidak sedang memikirkan apa pun. Entah kenapa perasaan gelisahnya tak juga pergi. Jangan katakan dia akan merasa gelisah selama dia hamil karena itu tidaklah menyenangkan.
Marien sedang duduk di sisi ranjang saat William kembali bersama dengan kedua orangtuanya. Mereka bergegas menghampiri karena mereka khawatir dengan keadaan Marien yang masih belum sembuh total. Marien tersenyum, dia sangat bahagia di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Entah kenapa dia jadi memikirkan keadaan kakaknya dan entah kenapa dia jadi berharap. Steve dan Alexa berjodoh. Tidak ada manusia yang terlahir sempurna, semua memiliki salah oleh sebab itu semua bisa diperbaiki jika ada kemauan dan dia jadi benar-benar berharap, Steve dan kakaknya berjodoh agar kakaknya juga memiliki kehidupan yang bahagia
__ADS_1