
Marien mengeluh sakit pinggang saat bangun dari tidurnya. Semua gara-gara permainan mereka semalam. William benar-benar menyalurkan hasratnya yang dia pendam selama ini. Lagi pula mereka memang harus rajin agar permintaan ayahnya cepat terkabul.
William sudah mulai banyak bergerak dan menggunakan kedua kakinya tanpa ragu meski tidak dipungkiri kedua kakinya akan gemetar dan sakit ketika dia gunakan terlalu lama untuk berjalan oleh sebab itu dia butuh istirahat sebentar jika rasa sakit itu datang tapi untuk kegiatan yang dia lakukan semalam dengan istrinya, tidak mendapatkan kendala.
Akibat terlalu bersemangat itulah, membuat Marien kembali berbaring di ranjang setelah mereka mandi. William membantu memijitkan pinggang istrinya dengan perlahan. Mau bagaimana lagi, mereka sedang kejar target agar permintaan ayahnya segera terpenuhi. Jika mereka tidak rajin maka keinginan ayahnya untuk memiliki cucu tidak akan terpenuhi.
"Masih sakit tidak?" tanya William sambil mengusap pinggang Marien.
"Aku minta cuti satu minggu!" ucap Marien.
"Apa? Tidak boleh cuti mendadak!" tolak William.
"Ayolah, jangan sampai aku tidak bisa berjalan dan menjadi penghuni baru kursi rodamu!"
"Maaf jika aku terlalu berlebihan. Hari ini di rumah saja, tidak perlu pergi ke mana-mana!" William berbaring di sisi Marien dan memeluknya.
"Bagaimana denganmu, Will? Apa kau tidak mau pergi ke mana pun?"
"Aku harus pergi sebentar untuk berkonsultasi jadi istirahatlah di rumah. Aku tidak akan lama dan akan segera kembali jadi jangan pergi ke mana-mana!"
"Baiklah, aku memang harus mengawasi para pekerja itu agar rumah kita segera selesai oh, aku lupa satu hal," Marien berbalik karena dia sedang membelakangi William saat itu.
"Apa? Apa terlalu banyak sehingga membuatmu lupa?" goda William.
"Bukan itu, astaga!" Marien menyembunyikan wajahnya yang memerah ke dada suaminya.
"Aku hanya bercanda, katakan. Apa yang kau lupakan?" William mendekapnya erat tapi tangannya masih memijat pinggang Marien dengan perlahan.
"Aku belum mengatakan padamu untuk merombak kamar untuk anak-anak. Mungkin saja usahamu semalam sudah membuahkan hasilnya," ucap Marien.
"Ck, aku kira kau melupakan apa. Sudah aku katakan padamu, bukan? Rumah ini untukmu jadi kau boleh melakukan apa saja bahkan kau boleh menghancurkannya jika kau mau!"
"Ck, aku tidak segila itu. Bagaimana menurutmu? Kita akan memiliki anak perempuan atau laki-laki, Will?"
"Sepertinya kita harus semakin rajin karena kau sudah menginginkan seorang anak jadi tidak ada cuti satu minggu!"
"Enak saja, cuti dulu!"
__ADS_1
"Jadi, apa kau suka dengan anak-anak?"
"Yes, aku ingin memiliki keluarga karena aku tidak pernah dianggap oleh ayahku jadi aku ingin membangun sebuah keluarga yang bahagia, tidak seperti yang aku alami."
"Kau akan mendapatkannya, Marien. Kita berdua akan membangun keluarga kita berdua dan berlaku adil pada anak-anak kita kelak agar tidak ada yang mengalami apa yang kau alami."
"Aku akan memukulmu jika kau berani membanding-bandingkan mereka."
"Tentu saja tidak, aku tidak mungkin melakukannya!"
"Aku percaya padamu," Marien semakin memeluk suaminya erat, dia butuh waktu seperti itu sebentar sebelum William pergi menjalani terapi dan memeriksakan kedua kakinya dan dia pun akan sibuk dengan kegiatannya di rumah.
Para pekerja sudah datang, Marien dan William pun terpaksa mengakhiri kebersamaan mereka berdua. William pamit pergi karena Steve sudah datang, dia akan segera pulang dan membawa asisten yang akan menjaga istrinya nanti.
Marien sedang sibuk berbicara dengan seorang pekerja karena dia ingin merombak sebuah kamar menjadi kamar anak-anak. Sudah terlanjur ada pekerja jadi sekalian siapkan kamar untuk anak mereka karena cepat atau lambat mereka pasti akan memiliknya.
Sambil mengawasi para pekerja itu, Marien melakukan hal yang lainnya. Beberapa benda yang dia butuhkan untuk mengisi lemari yang masih kosong harus dia beli. Dia ingin mencari beberapa pajangan yang menarik oleh sebab itu dia sedang mencari beberapa barang-barang yang bagus melalui internet dan yang bisa dia beli dengan mudah namun kegiatannya justru terhenti ketika seseorang menghubungi dirinya.
Marien segera menjawab karena benda itu memang ada di tangannya. Dia kira sekretarisnya yang menghubungi tapi ternyata itu dari ibu mertuanya.
"Tidak, Mom. Aku sedang mengawasi para pekerja yang merenovasi rumah. Ada apa?"
"Tidak, aku ingin kau datang ke rumah untuk makan malam bersama dengan William. Kalian bisa, bukan?" tanya Silvia.
"Tentu saja, Mom. Aku akan pulang bersama dengan William."
"Bagus, jangan sampai tidak pulang. Kami menunggu."
"Baiklah," Marien tersenyum tanpa tahu jika ada yang ingin bertemu dengannya saat makan malam nanti. Setelah berbicara dengan ibu mertuanya, Marien menghubungi William untuk menyampaikan kabar itu pada suaminya namun Willian sedang sibuk.
Marien kembali memilih barang-barang yang hendak dia beli, rumahnya sudah harus terlihat rapi besok agar dia bisa pergi ke kantor karena dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Para pekerja juga diminta untuk cepat, agar semua cepat selesai.
Sementara itu, Silvia sedang berbincang dengan ibu dan kakak iparnya. Silvia dan Samantha curiga dengan ibu mereka karena mereka yakin ada rencana tersembunyi dari wanita tua itu yang suka memberikan kejutan secara mendadak tanpa terduga.
"Bagaimana, mereka akan pulang, bukan?" tanya Xiau Yu.
"Tentu saja, Mom. Jangan katakan Mommy ingin mengerjai dirinya!" ucap Silvia curiga.
__ADS_1
"Tidak, untuk apa aku mengerjai dirinya. Aku tidak akan melakukannya!"
"Benarkah?" tanya Silvia dan Samantha secara bersama-sama.
"Tentu, aku hanya ingin bertemu dengan mereka dan berbicara dengan mereka saja. Kita juga harus membahas hari pernikahan mereka, bukan? Berikan dia pernikahan yang megah meski dia tidak mau."
Mendengar perkataan itu, Silvia dan Samantha justru saling pandang dengan tatapan curiga. Apa benar tidak ada drama nanti? Entah kenapa rasanya jadi tidak percaya.
"Apa kau yakin tidak akan ada drama apa pun, kakak ipar?" bisik Silvia pada kakak iparnya.
"Mana aku tahu, aku tidak percaya tidak ada drama apa pun apalagi dia ibumu."
"Loh, kenapa kakak ipar berkata seperti itu?" tanya Silvia.
"Aku curiga saja, jangan-jangan sudah ada ide gila untuk menantumu. Berhati-hatilah, jangan sampai menantumu kabur!" ucap Samantha.
"Kakak ipar juga harus berhati-hati. Ingat, kakak ipar punya dua anak laki-laki dan kemungkinan keduanya akan mendapatkan kejutan yang tak terduga. Jangan sampai pula mereka lari sehingga kakak ipar tidak memiliki menantu."
"Ck, kau menakuti aku!" Samantha mendadak jadi was-was. Jangan sampai calon menantu yang ada di depan mata justru lari akibat keisengan ibu mertuanya.
"Oh, aku tidak mau membayangkannya. Semoga saja tidak ada drama. Aku harus mengawasinya dengan baik saat Jacob dan Edward sudah memiliki pacar."
"Berhati-hatilah, kakak ipar. Jangan sampai terjadi!" Silvia justru menakuti.
"Ck, kapan Samuel akan pulang?"
"Sepertinya dua hari lagi, bagaimana dengan Jacob dan Edward?" Samuel adalah anak keduanya yang sedang belajar bisnis di London.
"Sama, mereka akan datang dua hari lagi."
"Bagus, sebentar lagi kita akan berkumpul!"
"Kalian berdua, kemarilah!" pinta Xiau Yu.
"Apa Mommy sudah mendapatkan ide?" tanya Silvia dan Samantha.
"Apa? Enak saja!" ucap Xiau Yu tapi Samantha dan Silvia justru semakin curiga dengan sikap ibu mereka yang justru terlihat mencurigakan. Apa benar tidak ada rencana? Mereka bertiga pergi ke dapur karena mereka hendak menyiapkan makan malam di mana mereka akan bertemu dengan istri William.
__ADS_1