
Hari ini, Marien akan pergi menemui Abraham Archiles untuk memberikan proposal yang sudah selesai dikerjakan. Menemui pria itu tentu membuatnya merasa gugup karena dia benar-benar harus menunjukkan jika proposal kerja sama itu sangat menjanjikan.
Marien bahkan sudah mempelajari berulang-ulang kali proposal yang diperbaiki oleh William agar dia tidak membuat kesalahan. Bisa celaka jika sampai dia salah. Jangan sampai Abraham tahu jika bukan dia yang memperbaiki proposal itu.
Marien sudah siap menjalani harinya, dia berencana mampir ke kantor sebentar sebelum pergi menemui Abraham tapi sebelum itu dia harus melayani suaminya terlebih dahulu . Mereka sudah selesai sarapan, Marien sedang mencuci piring kotor sebelum mereka pergi.
"Apa kau mengenal Abraham Archiles?" tanya Marien basa basi pada suaminya. Mungkin saja William kenal tapi jujur dia curiga pada hubungan di antara kedua pria itu.
"Tentu saja kami saling mengenal. Tidak perlu khawatir, Marien. Yang kau butuhkan hanya percaya diri saja. Percayalah, dia akan menyukai proposal itu."
"Sepertinya kau tahu apa yang aku khawatirkan, William."
"Tentu saja, aku sudah mengenal dirimu dengan sangat baik."
"Baiklah, aku sudah harus pergi agar aku tidak terlambat. Steve tidak akan lama, bukan?"
"Spertinya sebentar lagi!" ucap William.
Marien mengelap tangannya yang basah dan setelah itu dia melangkah mendekati William karena ada yang hendak dia tanyakan pada suaminya. Marien mengambil kursi lalu duduk di hadapan suaminya.
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu saja, kau tidak perlu meminta ijin!" William mengangkat tangan Marien lalu memberikan kecupan lembut di atas telapak tangannya, "Katakan, apa yang ingin kau ketahui?"
"Aku hanya ingin tahu. Steve bukan sahabatmu, bukan?" tanya Marien.
"Bagaimana menurutmu, Sayang? Apa kau akan keberatan dengan statusku nanti?"
"Bukan itu, Will. Aku tidak keberatan siapa pun kau. Aku hanya ingin tahu saja karena Steve tidak seperti sahabatmu pada umumnya."
"Steve asistenku, Marien. Dia juga sahabatku. Tidak lama lagi, kau akan tahu siapa aku yang sebenarnya!"
"Aku menantikannya, William. Jika begitu aku pergi dulu. Aku tidak mau terlambat."
"Percaya dirilah, kau pasti bisa," ucap William.
__ADS_1
"Tentu saja, terima kasih!" Marien mendekati suaminya lalu memberikan ciuman di pipi, "Aku bantu kau pakai sepatu terlebih dahulu agar kau bisa langsung pergi saat Steve datang," ucapnya.
"Sebentar lagi kau tidak akan melakukan hal ini lagi."
"Aku akan selalu melakukannya meski pun kedua kakimu sudah sembuh. Meski hal kecil, tapi aku harus tetap melayanimu sebagai istrimu."
"Aku tidak akan mencegah tapi nanti, setelah kedua kakiku sembuh maka giliranku yang memakaikan sepatu di kedua kakimu!"
Marien mengangkat wajah sejenak karena saat itu dia sedang membantu William mengenakan sepatu. Marien tersenyum lalu dia kembali menyelesaikan apa yang sedang dia lakukan. Steve datang saat Marien hendak pergi. Karena waktu yang bersamaan oleh sebab itu William mengantar Marien ke kantor.
"Percaya dirilah dan yakinlah pada diri sendiri jika kau bisa mendapatkan kerja sama itu," William memberi semangat sebelum Marien keluar dari mobilnya.
"Thanks, kau juga harus bersemangat!" ucap Marien.
"Tentu!" ciuman mesra diberikan sebagai semangat untuk menjalani hari mereka. Marien bergegas karena dia tidak mau terlambat sedangkan William pergi menjalani terapi tanpa mempedulikan pemintaan Zack yang sudah sangat ingin bertemu dengannya.
Zack yang benar-benar marah hanya bisa menahan diri karena Alexa belum juga kembali. Cukup sudah, dia menunggu seperti orang bodoh. Sebaiknya dia menghubungi Alexa dan mencari tahu kapan dia akan kembali karena dia harus pergi menemui William untuk meminta maaf padanya.
Itu yang paling penting tapi sampai sekarang, Steve belum memberinya kabar apakah William mau menemuinya atau tidak. Zack semakin tidak tenang, perusahaannya sedang dipertaruhkan. Dia sangat berharap William mau menemuinya secara pribadi tapi jika tidak, maka dia harus memaksa Alexa atau Gavin untuk menghubungi Marien dan memintanya untuk pulang bersama dengan suaminya. Hanya itu jalan satu-satunya yang dia miliki agar dia dapat bertemu dengan William.
Zack menunggu, menunggu dengan amarah tertahan. Dia berusaha menghubungi Steve namun Steve mengabaikan sesuai dengan perintah William karena William ingin menjalani terapinya dengan tenang agar kedua kakinya cepat sembuh.
Marien dan Abraham sudah saling bertemu. Marien tampak gugup saat Abraham sedang memeriksa proposal yang dia berikan. Dia gugup bukan karena dia tidak percaya diri tapi dia gugup karena dia takut Abraham curiga dengan proposal itu.
"Bagus, Nona Douglas. Aku sangat senang kau benar-benar memperhatikan semua kekurangan dan kelemahan yang ada di dalam proposal ini dan aku sangat senang kau bisa memperbaikinya bahkan jauh lebih baik lagi!" ucap Abraham yang sudah selesai memeriksa proposal yang diberikan oleh menantunya.
"Apa artinya aku bisa bekerja sama denganmu, Tuan Archiles?" ekspresi Marien sudah terlihat senang.
"Tentu saja, ini yang aku harapkan dari pengusaha muda seperti dirimu. Selain memiliki semangat yang bagus tapi kalian benar-benar serius untuk memajukan perusahaan kalian."
"Terima kasih, Sir!" Marien beranjak dari tempat duduk lalu mengulurkan tangan. Dia benar-benar senang proposal itu diterima dengan baik.
"Ini baru awal, Nona Douglas," Abraham pun beranjak dan menyambut uluran tangan Marien, "Aku harap kau tidak mengecewakan untuk dikemudian hari!"
"Tentu saja, aku mendapatkan kerja sama ini dengan susah payah tentu aku tidak akan mengecewakan dirimu!" ucap Marien.
__ADS_1
"Bagus, sayangnya putraku sudah menikah jika tidak, aku akan memperkenalkan dirimu dengannya!" ucap Abraham basa basi.
"Terima kasih, aku juga sudah menikah!"
"Benarkah? Wah, aku minta maaf."
"Tidak apa-apa, aku tahu kau hanya bercanda."
"Memang, mari kita bahas lebih lanjut bisnis kita!" Abraham kembali duduk begitu juga dengan Marien. Mereka membahas bisnis mereka cukup lama sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat. Marien sangat senang bahkan dia sudah tidak sabar untuk memberitahu William akan kabar baik ini.
"Aku sangat berterima kasih, Sir. Kau memberikan kesempatan besar ini pada pemula seperti aku," ucap Marien sebelum dia berpamitan pergi.
"Aku berharap besar padamu jadi perbanyak belajar dalam berbisnis agar kau bisa menjadi pembisnis handal dan jangan lupa, jangan mengecewakan aku."
"Tentu, terima kasih nasehat yang kau berikan serta kepercayaannya," ucap Marien.
"Jadikan ini kesempatan dan jangan kau sia-siakan."
"Tentu," jawab Marien. Dia sangat beruntung dapat menjalin kerja sama yang diimpikan oleh banyak orang. Kegagalan waktu itu, hancurnya kantor miliknya serta dua pengusaha yang telah memutuskan kerja sama dengannya, bukanlah akhir dari segalanya karena dia mendapatkan kerja sama yang bisa membuat perusahaannya lebih maju. Memang jalanan tidak mulus, oleh sebab itu dia tidak boleh menyerah karena kerja keras akan memberikan hasil yang tak terduga.
Marien pamit pergi, dia akan menghubungi William untuk mengabarinya kabar baik itu namun kebahagiaannya justru terganggu karena ayahnya menghubungi dirinya. Marien tahu akan ada hal yang tidak menyenangkan tapi dia tidak bisa mengabaikan telepon dari ayahnya.
"Ada apa, Dad?" tanya Marien.
"Pulang, ada yang hendak Daddy bicarakan!" pinta ayahnya.
"Aku sibuk, lain kali saja!"
"Pulang sekarang juga, Marien!" perintah ayahnya.
"Menyebalkan. Hanya sebentar saja, aku tidak akan lama!" Merien jadi kesal karena permintaan ayahnya padahal dia sedang sibuk.
"Jangan lupa ajak suamimu. Daddy ingin berbicara dengannya."
"Tidak bisa, William sibuk!"
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, kalian harus pulang!" perintah ayahnya.
Marien mengumpat. Ada masalah apa lagi? Sungguh tidak bisa membuat orang hidup tenang. Sepertinya mau tidak mau dia harus pulang untuk melihat apa yang telah terjadi tapi dia curiga, Alexa sedang merencanakan sesuatu yang tidak menyenangkan tapi dia tidak akan menduga jika Alexa akan mendapatkan ganjaran dari apa yang dia lakukan.