
Sebelum mereka pergi berbulan madu, mereka berdua memilih menyelesaikan pekerjaan penting yang harus mereka selesaikan agar mereka bisa menikmati masa bulan madu mereka dengan tenang. Sebelum mereka pergi ke kantor, Marien bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Meski itu bukan aktivitas baru tapi dia tidak akan pernah bosan melakukan tugasnya sebagai istri.
Semoga saja mereka seperti itu tapi perasaan was-was masih dia rasakan karena dia tidak tahu apakah Alexa akan berbuat jahat lagi atau tidak. Semua karena keegoisan ayahnya tapi jika mengingat Alexa, dia jadi teringat dengan mantan William yang dia sudah dia pukul beberapa kali. Semenjak kejadian waktu itu, dia tidak mendengar lagi kabarnya dari William dan hal itu membuatnya penasaran.
Jangan sampai mereka melupakan wanita itu akibat terlalu nyaman dengan kebahagiaan yang telah mereka dapatkan. Jujur saja, dia juga ingin hidup damai dan tenang tanpa adanya musuh tapi beberapa orang benar-benar tidak menyukai kebahagiaan mereka berdua.
Marien sedang menunggu telur matang ketika William memeluknya dari belakang. Senyuman menghiasi wajah, rasa bahagia memenuhi hati ketika William mencium pipinya.
"Apa yang sedang kau buat?"
"Telur mata sapi, apa ada yang kau inginkan?"
"Tidak ada, apa pun yang istriku buat akan aku makan," ucap William.
"Jika begitu duduk di sana, aku akan membuatkan kopi untukmu!"
"Aku bantu, Sayang. Katakan padaku apa yang harus aku lakukan!" William sudah menggulung lengan kemejanya dan pergi mencuci tangan.
"Tidak perlu, Will. Aku saja. Nanti bajumu kotor!"
"Baju bisa diganti tapi waktu yang telah aku lewatkan begitu saja tidak bisa digantikan oleh sebab itu biarkan aku membantumu karena aku ingin kita saling berbagi dalam segala hal!"
"Baiklah, aku belum membakar dagingnya jadi kau bisa membantu aku melakukan hal itu!"
"Perkara mudah!" setelah mencuci tangan, William mengambil peralatan yang diperlukan serta daging yang sudah dimanirasi untuk dibakar sebentar di atas panci anti lengket.
"Aku jadi teringat dengan mantan pacarmu, Will. Apa yang telah terjadi dengannya?" tanya Marien.
"Fiona?" William sibuk membalikkan lembaran daging satu persatu agar cepat matang.
__ADS_1
"Yeah, apa kau tidak mendengar kabarnya?"
"Kenapa kau bertanya tentangnya? Apa dia mengganggumu?"
"Bukan begitu, jika dia mengganggu aku maka aku tidak akan bertanya. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana keadaannya karena aku khawatir, tiba-tiba dia datang dan mengganggu kita berdua. Selain mewaspadai Alexa, kita pun harus mewaspadainya!" tiba-tiba dia merasa memiliki banyak musuh padahal dia tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun.
"Aku akan mencari tahu nanti, kau tidak perlu mengkhawatirkan dirinya karena aku rasa dia tidak akan mengganggu kita lagi!"
"Apa kau yakin?" tanya Merien.
"Yes, percayalah padaku. Dari pada mengkhawatirkan Fiona, aku lebih ingin kau mewaspadai kakakmu itu karena dia lebih berbahaya dari pada Fiona. Kematian Zack masih belum jelas dan aku yakin pelakunya sudah pasti kakakmu."
"Tapi bagaimana cara dia melakukannya, Will? Sampai sekarang belum ada bukti, bukan? Aku tidak yakin dia bisa melakukan hal itu!"
"Tidak ada yang mustahil, Sayang. Penjahat lebih cerdik dari pada kita, percayalah. Mereka akan melakukan segala cara agar tujuan mereka tercapai bahkan cara yang mereka gunakan tidak terpikir oleh kita. Mungkin saja Alexa dendam karena Zack sudah menganiaya dirinya, tidak ada yang tahu, bukan?"
"Kau benar, sepertinya Alexa dendam akan kehilangan bayinya!"
"Itu lebih baik, Will. Sungguh, aku tidak suka berselisih dengan siapa pun!"
"Apa semua gara-gara aku, Marien? Apa gara-gara menikah denganku?"
"Apa yang kau katakan? Perselisihanku dengan Alexa sudah lama jadi bukan gara-gara kau dan Fiona adalah bonus karena aku merebutmu darinya!"
"Jadi kau merebutku dari Fiona?"
"Yes, aku yang merebutmu!" jawab Marien sambil membawa telur mata sapi yang sudah matang ke meja makan.
"Aku tidak menyesal direbut olehmu, Marien. Aku merasa sangat beruntung!" William pun mengikuti istrinya dengan daging yang sudah matang.
__ADS_1
"Baiklah, saatnya kita sarapan!" Marien membuat kopi terlebih dahulu sebelum mereka sarapan.
Semoga saja Fiona sudah tidak mengganggu mereka lagi tapi mereka harus tetap waspada karena dia tidak tahu apa yang sedang Alexa lakukan. Ayah yang diam akan hal itu membuat situasi semakin buruk apalagi keberadaan Alexa yang tidak diketahui. Dia sudah bertanya pada ayahnya sebelum ayahnya pulang di hari pernikahannya tapi ayahnya hanya berkata jika Alexa sedang berlibur untuk menenangkan diri akibat kehilangan bayinya. Tapi apakah demikian?
Steve sudah datang menjemput ketika mereka sudah selesai sarapan. William akan mengantar Marien terlebih dahulu seperti yang dia lakukan tapi sebelum mereka tiba di kantor Marien, William akan menanyakan keberadaan Fiona pada Steve agar Marien mendengar sehingga dia bisa tenang.
"Apa kau mendengar kabar Fiona, Steve?" tanya William.
"Sepertinya dia berada di rumah sakit, Sir."
"Rumah sakit? Apa yang terjadi?" mendadak dia pun jadi penasaran dengan keadaan si manta.
"Akibat kecelakaan yang dia alami, satu kaki dan satu tangannya diamputasi!" ucap Steve.
"Oh my God, bagaimana bisa?" kabar itu cukup mengejutkan baginya tapi tidak untuk William karena dia sudah tahu apalagi keadaan Fiona memang akibat anak buah yang dia perintahkan.
"Fiona mengalami kecelakaan saat ingin melarikan diri dan bertengkar dengan kekasihnya. Kecelakaan yang dia alami cukup parah dan aku mendengar akibat kejadian itu, dia menjadi gila dan sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa!" ucap Steve.
"Ya Tuhan, kenapa jadi begitu parah?" sungguh dia tidak percaya dengan kabar itu.
"Semua perbuatan pasti ada balasannya, Marien. Kau percaya dengan karma, bukan? Sekarang Fiona menuai hasil dari apa yang dia perbuat. Hidup sudah singkat, tidak perlu menjadi jahat untuk sebuah tujuan karena karma pasti akan mengikuti dan kita akan mendapatkan karma dari apa yang kita lakukan!"
"Aku tidak menyangka kau mempercayai karma, Will?"
"Tentu saja. Nenekku berasal dari Cina jadi dia menanamkan hal ini pada kami jika setiap perbuatan yang kita lakukan pasti ada karmanya mau itu perbuatan baik mau pun jahat!"
"Baiklah, aku percaya padamu!"
"Apa kau mau melihat kekasih Fiona, Sir?" tanya Steve.
__ADS_1
"Boleh saja!' jawab William. Dia pun ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasih Fiona setelah dia membuat pria itu gulung tikar.
Steve membawa mereka pergi ke sebuah tempat kumuh. Di sana seorang pria terlihat sedang berbaring di atas jalanan. Pria itu terlihat compang-camping dengan keadaan yang menyedihkan. Tentu saja dia adalah kekasih Fiona yang Fiona bela selama ini. Tidak ada siapa pun yang peduli dengannya, bahkan keluarganya pun tidak. Begitulah kehidupan, di saat ada uang semua sahabat dan keluarga akan bersama tapi ketika tidak ada uang, jangan harap mereka akan ada. Keadaan yang cukup mengerikan tapi semua itu adalah karma yang harus mereka berdua dapatkan karena mereka telah memanfaatkan orang lain untuk tujuan mereka.