
Steve sudah kembali dari melayat, dia pun sudah mendapatkan beberapa informasi mengenai kematian Zack bahkan beberapa polisi datang untuk berbicara dengan istri Zack. Kematian yang mendadak, makanan yang dipesan malam itu pun diperiksa dan anehnya, hanya minuman milik Zack yang beracun sedangkan semuanya tidak padahal Wishky dituangkan dari botol yang sama.
Semua yang bertemu dengan Zack malam itu diperiksa tapi tidak ada yang mengaku. Pelayan yang menuangkan Wishky pun diperiksa tapi racun yang terkandung di dalam minuman Zack tidak ditemukan. Sungguh aneh, penjahat yang bekerja dengan begitu bersih dan yang paling harus William tahu adalah, dua pengusaha yang dia curigai tidak ada di pertemuan itu.
Entah ada konspirasi apa, kasus yang perlu didalami dengan benar karena pelaku yang cukup cerdik namun kecurigaan Steve justru tertuju pada kakak Marien. Wanita itu tidak ditemukan di mana pun. Alexa bagaikan ditelan oleh bumi karena keberadaannya tidak ditemukan.
William diantar menggunakan kursi roda oleh seorang perawat. Akibat terapi terakhir dan obat dengan dosis yang cukup tinggi membuat kedua kakinya belum bisa berdiri lama. Kedua lututnya akan sakit luar biasa jika dia berdiri hanya dalam waktu lima menit saja. Itu memang efek yang harus dia terima. Dokter bahkan menyarankan agar untuk tidak menggunakan kedua kakinya terlalu berlebihan selama dua puluh empat jam oleh sebab itulah, kursi roda harus kembali dia gunakan.
Begitu melihatnya, Steve berlari menghampiri. Ini terapi terakhir, seharusnya bosnya keluar dengan gagah tanpa menggunakan kursi roda lagi tapi kenapa dia masih menggunakan benda itu?
"Ada apa dengan kakimu, Sir?" tanya Steve yang sudah mengambil alih karena perawat yang mengantar William pergi.
"Tidak ada apa-apa, aku membutuhkannya akibat efek obat dan terapi yang aku terima. Besok kau sudah bisa memberikan kursi roda ini pada seseorang!" ucap William.
"Aku senang mendengarnya, Sir. Usahamu menjalani terapi yang menyakitkan itu tidak sia-sia!" Steve mendorongnya menuju mobil yang tidak jauh.
"Semua ini untuk istriku dan karena dialah, aku ingin berjalan kembali. Kau juga pergi carilah jodoh, pasti kau akan menemukan seseorang yang cocok untukmu."
"Terima kasih, Sir. Aku akan mencobanya nanti!" ucap Steve. William masuk ke dalam mobil dengan hati-hati, kedua kakinya tidak dia gunakan untuk berdiri terlalu lama. Jangan sampai dia terjatuh sehingga mengalami cedera otot. Jika sampai hal itu terjadi maka sia-sia usahanya selama ini.
Setelah menyimpan kursi roda, Steve masuk ke dalam mobil dan setelah sabuk pengaman terpasang, mobil pun di jalankan saat William memintanya membawanya pulang ke rumah pribadi di mana istrinya sudah menunggu. Mungkin hari ini dia akan merepotkan Marien lagi tapi ini untuk yang terakhir kali.
"Bagaimana, Steve? Apa kau mendengar sesuatu di acara pemakamannya?" tanya William.
"Pelakunya belum diketahui, Sir. Para polisi masih mengusut dan kedua pengusaha itu tidak berada di tempat pertemuan. Terus terang saja, Sir. Satu orang saja yang aku curigai, aku yakin pelakunya sudah pasti kakak Nona. Sayangnya aku tidak menonton waktu itu, meski sudah ada popcorn tapi aku yakin apa pun yang dilakukan oleh Zack, sepertinya telah membuat wanita itu marah. Wanita yang sakit hati dan memiliki dendam lebih menakutkan dari pada laki-laki karena kita akan langsung membunuh musuh secara langsung tapi wanita memakai akal licik untuk melenyapkan musuh."
__ADS_1
"Kau benar, aku pun curiga dengannya. Hari pernikahanku sebentar lagi, Steve. Jika dia pelakunya maka kita harus waspada karena Marien sudah pasti menjadi incarannya yang kedua. Aku tidak mau ada yang mengganggu acara pernikahanku dengan Marien dan aku juga ingin kau mengutus beberapa orang untuk mengawasi Marien secara diam-diam!"
"Baik, Sir. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
"Bagus, aku percaya denganmu. Aku harap semua baik-baik saja dan jika wanita itu berani, aku akan mengirimkan ke penjara untuk seumur hidup dan aku tidak akan ragu sama sekali!" ucap William.
"Apa tidak mau di bawa ke California. Sir? Sepertinya dia bisa menjadi nutrisi bagi buaya yang sedang bertelur!"
"Terlalu jauh, tidak perlu. Penjara sudah cukup untuknya."
"Baiklah, aku akan memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga!"
"Bagus!" ucap William. Dia harap Alexa tidak bisa menyakiti Marien akibat dendamnya itu.
Mereka sudah tiba, Steve membantu William dan mendorongnya masuk ke dalam. Marien yang sudah menunggu tentu saja terkejut mendapati suaminya kembali duduk di kursi roda padahal dua hari belakang William sudah tidak menggunakan benda itu saat kembali.
"Ada apa dengan kakimu, Will? Apa terapi terakhirmu gagal?" tanyanya.
"Tidak, Sayang. Obat terakhir yang disuntikkan memiliki dosis yang cukup tinggi sehingga kedua kakiku tidak boleh terlalu lama digunakan agar otot-otot syaraf di kedua kakiku kembali normal. Aku harus menggunakan kursi roda ini untuk sementara waktu tapi besok, sudah tidak perlu lagi!"
"Jadi kedua kakimu baik-baik saja?" kini dia mulai terlihat lega.
"Tentu saja, tapi hari ini aku harus merepotkan dirimu lagi karena aku tidak bisa menggunakan kedua kakiku terlalu berlebihan. Tidak apa-apa, bukan?" tanya William seraya memegangi kedua tangan Marien, "Hanya hari ini dan setelah itu, kita akan seperti pasangan yang lainnya dan aku berjanji akan menggendongmu saat acar pernikahan kita!" ucapnya lagi.
Merien tersenyum lalu berjongkok untuk melepaskan sepatu yang William gunakan. Dia justru rindu melayani suaminya seperti dulu, mungkin sudah faktor kebiasaan oleh sebab itu dia tidak keberatan sama sekali apalagi hanya untuk satu hari, setiap hari pun akan dia lakukan.
__ADS_1
"Mandi dulu, atau makan terlebih dahulu?" tanya Marien.
"Mandi, makan lalu menghabiskan waktu denganmu!"
"Seperti keinginanmu, Sir!" Marien beranjak untuk menyimpan sepatu dan setelah itu dia membawa William ke kamar.
Mereka berdua mandi bersama dan beremdam di dalam bathtub seperti yang sering mereka lakukan. William memeluk Marien dari belakang dan memberikan usapan lembut di bagian perutnya.
"Bagaimana, apa kau sudah berbicara dengan ayahmu?" tanyanya.
"Sudah, apa kau tahu? Dia benar-benar tidak mau putrinya tahu dan dibenci olehnya!" ucap Marien.
"Sungguh ayah yang egois. Ayahmu benar-benar tidak mempedulikan perseteruan di antara kalian!"
"Aku juga tidak mengerti tapi mulai sekarang, aku tidak mau mempedulikan mereka lagi. Ayah yang egois, aku rasa dia tidak memerlukan aku karena yang dia miliki hanya Alexa saja!"
"Kau tidak perlu mempedulikan mereka. Abaikan saja agar kau tidak semakin sakit hati!"
"Kau benar, Will. Aku pun sudah tidak mau mempedulikan ayahku lagi. Terserah mereka, aku tidak mau tahu dan ikut campur!"
"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati pada Alexa karena aku semakin curiga dengannya. Aku harap kau tidak pergi menemuinya seorang diri karena wanita itu berbahaya. Aku takut dia ingin berbuat jahat padamu jadi jangan pernah pergi menemuinya. Berjanjilah kau tidak melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan dirimu sendiri apalagi aku tidak bisa memantau dirimu selama dua puluh empat jam!"
"Aku tahu, Will. Aku tidak sebodoh itu. Aku pasti akan berhati-hati!"
"Aku senang mendengarnya, Sayang," William mengangkat dagu Marien lalu memberikan kecupan lembut di bibirnya.
__ADS_1
Marien tersenyum dan bersandar dengan nyaman di dada suaminya. Mereka berdua menikmati waktu berharga mereka meski sebenarnya ada perasaan was-was di dalam hati karena selama Alexa tidak mengetahui kebenarannya maka dia tidak akan berhenti.