Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Merasa Tidak Berguna


__ADS_3

William kembali terlebih dahulu dari pada Marine karena dia ingin pulang untuk beristirahat akibat kepala yang sedikit sakit. Entah jam berapa Marien akan kembali dia tidak tahu apalagi Marien pasti sibuk dengan perusahaan baru yang dia berikan.


Selama ini memang Marien yang membantunya untuk mandi, tentunya setelah menikah dengan Marien dan hari ini, dia ingin melakukannya seorang diri karena dia tidak boleh bergantung pada seorang wanita. Lagi pula dia bisa melakukannya saat di rumah tapi karena kamar mandinya yang sempit membuat ruang gerak yang dia miliki sedikit sehingga membuatnya kesulitan.


William sudah berada cukup lama di kamar mandi, satu kaki sudah diturunkan dan kini satu kakinya lagi. Dia ingin mencoba untuk beranjak dari atas kursi roda untuk berpindah. Dia sering melakukannya tapi kamar mandi yang sempit dan tidak dilengkapi dengan fasilitas membuatnya kesulitan. William kembali terduduk, sial. Kedua kaki dipukul dengan keras, sekarang dia benar-benar tidak berguna dan tidak berdaya.


Marien baru saja kembali. Pintu yang sudah tidak terkunci membuatnya heran. Marien kira ada pencuri namun setelah melihat sepatu milik William membuatnya tersenyum karena suaminya sudah kembali. Makanan yang dia bawa disimpan di atas meja sebelum masuk ke dalam kamar namun suara umpatan William yang terdengar dari kamar mandi membuat Marien terkejut.


"Wiliam, apa kau di dalam?" tanya Marien yang sudah berada di depan kamar mandi.


"Yeah," jawab William yang semakin merasa tidak berguna saja karena dia baru saja terjatuh.


"Apa yang kau lakukan? Bolehkah aku masuk?"


"Yeah, tentu!" mau tidak mau di harus mengandalkan Marien lagi. Padahal hari ini dia ingin berusaha sendiri tapi dia sungguh tidak berguna.


Marien melemparkan tasnya ke atas ranjang sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Pintu dibuka dengan perlahan, Marien mengintip ke dalam, dan terkejut mendapati William sedang duduk di atas lantai.


"Apa yang terjadi?" Marien masuk ke dalam dengan cepat untuk melihat keadaan suaminya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau duduk di atas lantai?" Marien tampak panik, kursi roda didorong menjauh agar dia bisa membantu William.


"Aku tidak berguna, Marien!" rasanya memalukan dan tidak berguna. Pantas saja Fiona mencampakkan dirinya setelah melihat keadaannya. Fiona pasti tidak mau repot mengurusi pria cacat seperti dirinya.


"Apa yang kau katakan, kenapa kau tidak mau menunggu aku?" Marien sudah berjongkok, dia tidak boleh melihat William dengan tatapan menyedihkan karena itu bisa melukai perasaan William.


"Aku hanya ingin berusaha sendiri, Marien. Aku tidak bisa selalu mengandalkan dirimu!" William melihat ke arahnya, dia ingin lihat apakah Marien akan melihatnya dengan tatapan menghina seperti tatapan Fiona waktu itu, tatapan yang tidak akan pernah dia lupakan tapi Marien tidak melihatnya seperti itu. Marien justru tersenyum dan mengusap bahunya seperti yang biasa dia lakukan.


"Tapi kau harus. Kita suami istri, aku sudah berjanji akan melayani dirimu sebagai istrimu meski bagian yang lain tidak jadi kau harus menunggu aku dan mengandalkan aku."


"Bagaimana saat kita sudah berpisah? Apa aku masih mengandalkan dirimu?"

__ADS_1


"Tentu tidak tapi aku yakin sebelum waktu itu tiba kau pasti sudah bisa berjalan. Kau pasti sudah mencari dokter yang bisa menyembuhkan kakimu ini, bukan?"


"Aku sedang mencarinya."


"Jika begitu, percayalah jika kedua kakimu akan sembuh. Sekarang aku akan membantu dirimu!" Marien memegangi kedua lengan William karena dia akan membantu William untuk bangun dari atas lantai yang dingin. Marien menarik William sekuat tenaga namun pria itu cukup berat.


"Oh, Tuhan. Kenapa kau begitu berat?"


"Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri!" ucap William.


"Aku pasti bisa. One.. two..!" Marien menarik dengan sekuat tenaga namun kakinya tergelincir akibat terlalu bersemangat. Marien terkejut, William pun sama apalagi gara-gara hal itu membuat Marien jatuh ke arahnya. William menangkap tubuh Marien yang menimpa dirinya. Kedua mata William melotot karena dada Marien mendarat tepat di wajahnya. Dia bahkan bisa mendengar suara jantung Marien yang berdegup dengan kencang.


"Astaga, maafkan aku!" Marien hendak menyingkir namun William memeluknya.


"Sekarang kita berdua seperti orang bodoh!"


"Maaf, seharusnya aku memapahmu."


"Hei!" Marien mendorong William lalu memandangi wajahnya, dia tidak suka William selalu mengatakan hal itu.


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka. Aku tidak menganggapmu seperti itu. Dari pada berputus asa seperti ini, lebih baik berpikiran positif akan kedua kakimu."


"Aku selalu melakukannya setiap hari."


"Jika begitu, aku rasa baterai yang kau miliki sudah mau habis oleh sebab itu kau putus asa seperti ini!" Marien mengusap rambut William ke belakang lalu mendaratkan kecupannya di dahi William.


"Apa kau sudah mendapatkannya?"


"Sepertinya kau belum memberikannya di tempat lain!" ucap William.


"Oke, kau benar-benar raja gombal!" Marien kembali memberikan ciuman di tempat lain. Meski hanya sebuah ciuman di dahi dan pipi tapi ciuman yang diberikan oleh Marien membuat perasaan William menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Terima kasih, Marien. Padahal aku pulang cepat ingin menyambutmu tanpa merepotkan tapi apa yang terjadi, kau sudah lelah bekerja tapi kau pun harus membantu aku!" William memeluknya erat, dapat bertemu dengan wanita tulus seperti Marien adalah sebuah keberuntungan.


"Tidak perlu mengatakan hal itu, sekarang aku akan membantumu. Tidak baik duduk terlalu lama di lantai yang dingin!" Kali ini Marien beranjak dari atas pangkuan William dan membantunya dengan cara yang berbeda. Meski sedikit sulit karena berat namun Marien berhasil membantu William.


"Bagaimana dengan keadaan ayahmu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya William karena dia ingin tahu apakah Marian mendapatkan hinaan lagi dari kakaknya atau tidak.


"Baik-Baik saja tapi Alexa curiga pada kita berdua sebagai pelaku yang telah membuatnya malu. Dia ingin mencari bukti apakah kita berdua terlibat atau tidak dengan kejadian itu."


"Lalu, apa yang ingin dia lakukan setelah tahu?"


"Aku rasa kau tahu, William. Dia pasti tidak akan melepaskan kita berdua apalagi kejadian itu benar-benar membuatnya malu luar biasa."


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, dia tidak akan menemukan apa pun!"


"Kau yakin?" tanya Marien sambil menatapnya.


"Percayalah padaku, Marien. Selama kau masih berstatus sebagai istriku maka aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu jadi percayalah padaku!"


"Kau berkata jika kau tidak berguna tapi nyatanya? Kau sangat berguna, William. Bahkan aku menikahimu bukan untuk memanfaatkan dirimu sampai sejauh ini. Aku hanya ingin terbebas dari pernikahan itu saja tapi aku justru telah menyeretmu begitu jauh tapi kau masih menganggap dirimu tidak berguna. Bagiku kau pria sempurna yang pernah aku kenal meski kedua kakimu tidak bisa digunakan. Itu bukan yang paling penting karena yang paling penting adalah hati dan ketulusanmu!"


Marien melangkah pergi untuk mengambil handuk, sedangkan William tersenyum tanpa melepaskan pandangannya dari Marien. Apa lagi yang bisa dia katakan? Marien wanita yang begitu tak terduga sama sekali dan terlalu memuji pria bodoh yang tertipu dengan cinta yang diberikan oleh seorang wanita berparas lugu. Benar yang Marien katakan, yang terpenting adalah hati karena rupa bisa menipu.


"Kenapa memandangi aku seperti itu?" tanya Marien karena William masih tak melepaskan pandangan darinya.


"Aku merasa bersyukur dapat bertemu denganmu," jawab William.


"Terima kasih, tapi aku tetap memiliki kekurangan apalagi yang aku lakukan saat ini sesuai dengan kesepakatan yang kita lakukan!"


"Itu lebih baik, setidaknya kau tidak menipu aku!"


"Baiklah," Marien berjongkok untuk mengeringkan kedua kaki William lalu meletakkannya ke atas pijakan kursi roda. Setidaknya mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan karena mereka memang melakukan perjanjian itu untuk sebuah keuntungan diri masing-masing dan selama itu, dia akan tetap melayani William sebagai istrinya namun tidak dalam hubungan badan sesuai dengan apa yang mereka janjikan.

__ADS_1


__ADS_2