Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Perjamuan Makan Malam


__ADS_3

Kabar bahagia itu tentu saja membuat kebahagiaan di rumah keluarga Archiles sangat terasa. Keinginan Abraham yang sangat mengharapkan cucu perempuan akhirnya terkabul. Abraham sibuk sendiri, tentu untuk membeli perlengkapan yang akan cucunya gunakan. Sekarang dia tidak akan menahan diri untuk mempersiapkan semua perlengkapan cucu pertamanya yang akan hadir di dalam keluarga mereka.


Silvia pun memberi kabar baik itu pada ibunya serta kakak iparnya yang ada di California. Tidak saja Abraham yang senang, dia pun sangat senang tapi tidak terlalu heboh seperti suaminya. Begitu kembali, Marien justru merasa lapar dan ingin makan.


William menemani istrinya di dapur saat ayah dan ibunya begitu sibuk dan heboh. Nutrisi istri dan anaknya lebih penting dari pada mengikuti kehebohan ayah dan ibunya. Lagi pula dia tidak akan mencegah apa yang ayah dan ibunya lakukan.


"Sepertinya kita tidak perlu repot lagi membeli perlengkapan bayi kita, Will!" ucap Marien.


"Memang tidak, serahkan saja semuanya pada mereka."


"Tapi aku sangat ingin melakukannya. Membeli sepatu bayi lalu mencari baju yang lucu untuk bayi kita. Kapan kita bisa melakukannya?" Marien menatap suaminya dengan penuh harap. Sebagai calon ibu, tentu dia sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menyiapkan perlengkapan untuk bayinya, dia benar-benar ingin merasakan karena dia tahu pasti menyenangkan saat melakukannya.


"Besok kita akan melakukannya. Tidak perlu melarang apa yang ayah dan ibuku lakukan, kita bisa melakukannya untuk mempersiapkan perlengkapan untuk bayi kita dan besok, kita pergi melakukan apa yang kau mau."


"Benarkah?" wajah Marien berseri, sudah lama tidak pergi ke mana pun semenjak dia tinggal di rumah mertuanya. Dia pun sangat bosan dan sangat ingin keluar tapi yang paling ingin dia lakukan adalah menjenguk kakaknya di penjara.


"Yes, jika kau menghabiskan semua makanan ini maka besok kita akan pergi!" ucap William seraya menyuapi istrinya.


"Tapi, apa Mommy dan Daddy mengijinkan?"


"Sudah pasti, aku yang akan berbicara dengan mereka nanti. Percayalah, mereka tidak akan melarang."


Marien tersenyum dan mengangguk, dia tahu suaminya pasti bisa membujuk kedua orangtuanya. Makanan yang ada di habiskan, dia harus mengatakan pada ayahnya akan kabar ini. Sudah lama juga tidak pulang, entah bagaimana dengan kabar ayahnya saat ini karena ayahnya jarang datang ke rumah dan jarang menghubunginya.


Semoga ayahnya baik-baik saja, jujur saja dia khawatir dan takutĀ  terjadi sesuatu dengan ayahnya yang hanya tinggal bersama dengan pelayan di rumah.


"Marien, apa kau sudah selesai?" Silvia yang sudah selesai memberi kabar pada keluarga yang ada di California masuk ke dapur karena ada yang hendak dia sampaikan.


"Tentu saja sudah, ada apa?"


"Hubungi ayahmu dan undang dia datang. Kita akan merayakannya dengan makan malam bersama malam ini."


"Kebetulan aku memang ingin menghubunginya, Mom. Aku akan menyampaikannya pada ayahku nanti."


"Baiklah, sebaiknya kau segera beristirahat agar tidak begitu lelah nantinya!"


"Mom, besok aku ingin mengajak Marien untuk membeli beberapa barang. Tidak apa-apa, bukan?" tanya William.


"Apa yang ingin kalian beli?"


"Merien ingin membeli beberapa perlengkapan bayi. Dia ingin melakukannya jadi Mommy jangan melarang!" pinta William.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak melarang asalkan pergi bersama denganmu. Dulu aku juga melalukannya saat sedang hamil dirimu. Aku menyiapkan banyak barang untuk anak pertamaku dan rasanya menyenangkan saat membeli perlengkapan yang bayi kita perlukan. Besok pergilah dengan istrimu, jangan sampai kesenangan itu terlewatkan akibat di rebut oleh tua bangka itu tapi ingat, jangan terlalu berlebihan dan jangan terlalu lelah!"


"Thanks, Mom. Aku tidak akan berlebihan." ucap Marien.


"Jika begitu segeralah beristirahat dan hubungi ayahmu."


Marien mengangguk, sebelum beranjak segelas air hangat diberikan oleh suaminya. Marien pergi ke kamar ditemani oleh suaminya. Seperti yang biasa William lakukan, dia akan memijit kedua kaki Marien secara bergiliran agar Marien merada nyaman.


"Bagaimana dengan kedua kakimu, Will? Apa kau tidak pernah merasa sakit lagi?" semenjak mereka menikah, William memang tidak pernah terlihat kesulitan berjalan bahkan kedua kakinya tampak baik-baik saja.


"Baik-Baik saja, kedua kakiku memang tidak sakit tapi aku tetap melakukan pemeriksaan di rumah sakit sebulan sekali. Maaf tidak mengatakan hal ini padamu."


"Tidak apa-apa, Will. Kau memang harus pergi memeriksa keadaan kedua kakimu agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan."


"Tentu, aku tidak bisa merepotkan dirimu lagi karena istriku sudah tidak bisa membantu aku seperti dulu apalagi mulai sekarang, aku yang akan menjagamu dan bayi kita."


"Kau memang harus melakukannya!" jawab Marien yang sedang menghubungi ayahnya.


"Dad, apa kau baik-baik saja?" tanya Marien saat ayahnya sudah menjawab panggilan darinya.


"Tentu saja, maaf jika Daddy tidak menjenguk dan menghubungimu beberapa hari belakangan. Daddy sedikit sibuk karena ada masalah di kantor," ucap ayahnya.


"Apakah ada masalah serius?"


"Tentu saja, Dad. Aku ingin Daddy selalu menjaga kesehatan Daddy agar Daddy dapat menyambut cucu perempuan Daddy tahun depan."


"Tentu, eh.. Apa kau bilang?" ayahnya cukup terkejut mendengarnya.


"Yes, Daddy akan memiliki cucu perempuan nantinya!"


"Wah, padahal Daddy sangat menantikan cucu laki-laki tapi tidak apa-apa, mau perempuan atau laki-laki, Daddy sangat senang mendengarnya!"


"Baiklah, karena aku mengandung bayi perempuan jadi kedua mertuaku sangat senang karena mereka memang menginginkan cucu perempuan oleh sebab itu, akan ada jamuan makan malam dan mereka mengundang Daddy untuk datang malam ini." ucap Marien.


"Baiklah, Daddy akan datang setelah pekerjaan Daddy selesai. Katakan apa yang kau inginkan? Daddy akan membuatkannya untukmu."


"Terima kasih, Dad. Tidak perlu membawa apa pun, asalkan Daddy datang, aku sudah sangat senang."


"Baiklah jika begitu, sampai jumpa nanti malam, Sayang."


"Bye, Dad. Jaga kesehatanmu baik-baik," ucap Marien sebelum mengakhiri percakapan mereka berdua.

__ADS_1


"Ayahmu bisa datang, bukan?" tanya William.


"Tentu, dia berkata ada kendala di perusahaan. Aku sangat ingin membantu, Will. Tapi kau tahu aku sudah lama tidak pergi ke perusahaan jadi aku?"


"Tidak perlu khawatir, aku akan membantu nanti."


"Terima kasih, sekarang aku ingin beristirahat agar aku tidak terlalu lelah nantinya."


"Aku temani!" William sudah merangkak mendekat lalu berbaring di sisi Marien.


Marien berbaring dengan nyaman di dalam pelukan suaminya. Kabar yang sangat membahagiakan sehingga membuat Silvia sibuk untuk menyiapkan perjamuan makan malam yang akan mereka lewatkan dengan ayah Marien. Hubungan mereka tidak sebaik itu sebelumnya, mereka juga tidak begitu akrab tapi semenjak Marien tinggal dengan mereka, ayahnya sering datang dan menghabiskan waktu dengan Abraham. Mereka berdua bermain catur di taman tapi tidak pernah satu kali pun, Gavin membicarakan bisnis seperti yang sudah-sudah karena dia benar-benar sudah belajar dari kesalahan dan dia sudah tidak mau mengulanginya lagi.


Para pelayan sibuk membantu Silvia, makan malam sederhana di rumah untuk merayakan kebahagiaan mereka atas jenis kelamin cucu pertama mereka yang sudah sangat mereka nantikan dan harapkan. Beberapa hidangan pun sudah tersaji, tinggal menunggu kedatangan ayah Marien saja yang tidak lama kemudian sudah datang. Gavin datang tanpa tangan kosong, karena dia tidak enak hati meski Marien menikah dengan keluarga yang sangat baik karena dia tidak pernah ditolak saat mengunjungi putrinya.


"Akhirnya kau datang juga, cepat masuk!" Abraham menyambut besannya yang baru datang, bisa dilihat jika dia sedang senang.


"Selamat untukmu, aku sudah mendengarnya dari Marie," ucap Gavin.


"Selamat untukmu juga karena kau juga akan menjadi kakek."


"Kau benar. aku hanya bisa membawa ini," Gavin memberikan buah tangan yang dia bawa.


"Tidak perlu repot, Gavin. Kita nikmati bersama nanti."


"Dad, kau sudah datang?" Marien menghampiri ayahnya sedangkan mertuanya berlalu pergi untuk menyimpan barang yang diberikan oleh Gavin.


"Selamat untukmu, Marien," Gavin memeluk putrinya, dia benar-benar hampir menghancurkan masa depan putrinya jika mengingat apa yang telah dia lakukan di masa lalu.


"Thanks, Dad," Marien pun membalas pelukan ayahnya dengan perasaan bahagia.


"Jika ibumu masih hidup, dia pasti bahagia. Dia benar-benar wanita hebat yang telah Daddy sia-siakan. Meski dia sudah meninggal tapi dia sukses mendidikmu menjadi putri yang luar biasa. Ibumu pasti bangga padamu."


"Aku tahu itu, Dad. Karena aku memiliki ibu yang hebat, sebab itulah aku bisa seperti ini. Meski Mommy sudah tidak bersama denganku, tapi aku selalu ingat dengan apa yang dia ajarkan padaku!"


"Sebab itulah, aku adalah pria paling bodoh yang telah menyia-nyiakan wanita hebat yang masuk ke dalam rumahku!"


"Sudahlah, yang penting Daddy mau memperbaiki diri. Belum terlambat untuk itu. Mommy pasti memaafkan Daddy, aku percaya itu."


"Daddy pun percaya karena kau cerminan dari ibumu. Kebaikan hati kalian berdua, tidak diragukan lagi."


"Baiklah, sekarang ayo masuk ke dalam. Yang lain sudah menunggumu!" Merien melepaskan pelukannya lalu mengajak ayahnya untuk masuk.

__ADS_1


Lagi-Lagi Gavin disambut dengan baik apalagi dia sudah ditunggu. Keluarga yang luar biasa baik dan putrinya memang pantas bersama dengan mereka karena kebaikan hatinya dan dia bangga istrinya telah melahirkan putri sebaik Marien dan dapat mendidiknya menjadi seperti itu meski tidak ada kasih sayang yang dia berikan waktu itu pada putrinya.


__ADS_2