
Hubungan keluarga yang sudah membaik, membuat hubungan mereka yang sebelumnya tidak baik menjadi indah. Waktu banyak yang terbuang sia-sia tidak akan kembali lagi tapi mereka bisa memperbaiki hubungan mereka sebelum semuanya terlambat.
Kebahagiaan yang mereka dapatkan tidak terlambat. Seperti yang pepatah katakan, habis gelap terbitlah terang. Mereka memang harus melewati banyak kejadian yang tidak menyenangkan sebelum mendapatkan kebahagiaan. Alexa yang dulunya jahat pun sudah berubah. Memang sejak awal dia tidak jahat tapi karena hanya kebencian saja yang ditanamkan di dalam hatinya membuat Alexa dipenuhi oleh dendam tapi kini, dia sudah berubah dan jauh lebih baik bahkan dia pun mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Menikahi Zack adalah awal petaka yang terjadi di dalam hidupnya dan akibat pernikahan itu dia sudah menghancurkan dirinya sendiri dengan perlahan. Niatnya untuk mencelakai Marien tapi justru berbalik untuk dirinya sendiri. Alexa justru menghancurkan masa depannya sendiri oleh sebab itulah, dia berada di dalam titik terendah dalam hidupnya tapi siapa yang menduga, dari sanalah dia mendapatkan kebahagiaan.
Alexa belajar banyak hal dari adiknya yang memiliki hati yang begitu tulus. Kebaikan hati Marien mempengaruhi banyak orang dan yang paling berdampak adalah Alexa karena berkat kebaikan hati Marien pulalah yang membuatnya bisa berdamai pada diri sendiri dan pada ayahnya.
Apa yang bisa dikatakan? Marien benar-benar luar biasa tidak saja bagi Alexa tapi juga bagi mereka semua terutama bagi William yang kala itu mengalami kelumpuhan lalu dicampakkan oleh kekasih yang sangat dia cintai. Dia tidak menduga menjadi batu loncatan bagi Fiona untuk mensejahterakan kehidupan kekasihnya namun pertemuannya dengan Marien, mengubah segalanya.
Dia tidak pernah menduga, tidak pula pernah menyangka jika dia akan dibayar untuk menjadi suami seseorang dan konyolnya, dia menerima begitu saja demi menyelamatkan harga diri agar tidak terlalu diremehkan oleh Fiona namun kejadian itu justru mempertemukan dirinya dengan sosok wanita yang luar biasa baik.
William yang telah menikahi wanita luar biasa tentu saja merasa sangat beruntung. Pernikahan mereka yang terjalin di atas kontrak akhirnya menjadi nyata. beruntungnya Marien bukan sosok yang keras kepala. Dia adalah wanita paling baik yang pernah dia jumpai dan dia adalah sosok istri yang sengat setia dan pengertianya.
Semua yang telah mereka lalui, William ingat semuanya dan dia akan selalu bersama dengan wanita yang mencintainya dengan tulus karena waktu itu Marien memang tidak tahu latar belakangnya. Dia tidak mengatakan siapa dirinya, dia bahkan mengakui dirinya sebagai pecundang seperti yang orang-orang pikirkan. Dia tidak peduli dengan tanggapan orang-orang apalagi Marien pun tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1
Semua yang mereka lalui berbuah dengan sangat manis karena hari ini adalah hari yang mereka nantikan sebab Marien akan melahirkan buah hati mereka karena memang sudah waktunya. William yang kala itu berada di kantor sangat terkejut mendapati kabar dari kedua orangtuanya jika Marien mengeluh perutnya terasa mulas. Silvia yang sudah tahu akan gejalanya segera mengajak Abraham untuk membawa menantu mereka. Tanpa membuang banyak waktu, Silvia dan Abraham pun bergegas membawa menantu mereka ke rumah sakit karena mereka tidak mau terlambat apalagi mereka sudah sangat tidak sabar untuk menyambut cucu pertama yang sangat mereka nantikan.
William yang sedang mengadakan rapat saat mendapatkan kabar jika istrinya akan melahirkan pun bergegas tanpa membuang waktu. Rapat dibubarkan begitu saja, tak ada yang lebih penting dari pada kelahiran bayinya tapi yang paling ingin dia lakukan adalah, dia ingin menemani istrinya saat Marien melahirkan bayi mereka.
Begitu tiba, William bergegas masuk ke dalam ruangan di mana istrinya sedang menahan rasa sakit akibat kontraksi. Melahirkan bukanlah perkara mudah, setiap wanita yang hendak melahirkan pasti akan merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika proses demi proses harus dilewati sebelum bayi yang dikandung dilahirkan apalagi untuk yang pertama kali.
Marien sedang berbaring miring, sesuai dengan saran seorang perawat namun rasa nyeri yang dia rasakan, benar-benar membuatnya merintih kesakitan. William yang melihat itu tentu saja tidak tega, William buru-buru menghampiri Marien yang sedang berbaring membelakanginya.
"Marien, apa kau baik-baik saja?" kedatangan William benar-benar membuat Marien senang. Meski rasa sakit luar biasa yang dia rasakan namun Marien berusaha untuk tersenyum.
"Kau lebih penting dari pada rapat itu, Sayang. Katakan padaku bagaimana dengan keadaanmu? Apakah sakit?" William mengusap punggung dan bagian pinggang Marien. Mungkin dengan begitu dia dapat mengurangi rasa sakit yang istrinya rasakan.
"Aku baik-baik saja, Will!" Marien yang sedari tadi berbaring memutuskan untuk duduk. Mungkin tidak akan terasa lebih sakit jika dia dalam posisi duduk. William buru-buru membantu sampai akhirnya Marien duduk di sisi ranjang.
"Jangan menipu aku, Sayang. Aku bisa melihat jika kau sedang kesakitan jadi kau tidak bisa menipu aku!" ucapnya.
__ADS_1
"Semua wanita yang hendak melahirkan pasti akan mengalaminya, Will. Aku masih bisa menahannya jadi kau tidak perlu khawatir!"
"Jangan meminta aku untuk tidak khawatir karena aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat ini!" William memeluknya dengan erat, dia tidak akan tenang melihat keadaan istrinya yang seperti itu.
"Aku pasti bisa, akh!" Marien memegangi perutnya yang mendadak terasa nyeri. William memegangi tangan Marien, dia pun kembali mengusap punggung Marien. Marien merasakan rasa sakit itu untuk beberapa saat lalu rasa nyeri itu pergi tapi dia kembali merasa sakit untuk beberapa kali.
William semakin tidak tega, proses panjang yang harus dijalani oleh istrinya tidaklah mudah. Merien mengalami kontraksi untuk waktu yang cukup lama, kira-kira dua jam lamanya dan setelah melewati masa kontraksi, Marien siap melahirkan bayinya.
Dua perawat akan membantunya melakukan proses persalinan tentu dibantu oleh seorang dokter. William diperintahkan untuk memberikan semangat untuk istrinya saat melakukan proses persalinan. William memegangi satu tangan Marien dengan erat, dia pun memberikan semangat untuk Marien ketika Marian berjuang untuk melahirkan bayi mereka.
"Semangat, Sayang. Kau pasti bisa melahirkan bayi kita!" ucap William sambil mengusap keringat yang mengalir di dahi Marien. Dia harap bayi mereka cepat lahir agar Marien tidak terlalu lama mengalami rasa sakit.
"Tidak apa-apa, aku?" Marien menghentikan ucapannya karena dia kembali mengeluarkan tenaganya untuk mendorong agar bayinya segera lahir. Marien benar-benar berjuang dengan keras, segala rasa sakit dia rasakan untuk melahirkan putri pertamanya. William pun tak henti memberinya semangat karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan. Marien pun tak menyerah berkat dukungan suaminya, meski rasa sakit tak tertahankan yang dia rasakan, meski rasanya sekujur tubuh sakit luar biasa dan tulang-tulangnya seperti remuk tapi dia berhasil melahirkan bayi perempuannya.
Suara tangisan bayi yang terdengar membuat senyuman penuh kebahagiaan terukir di bibirnya. Meski masih merasakan rasa sakit yang luar biasa tapi Marien merasa perjuangan yang dia lakukan tidak sia-sia. Senyuman Marien semakin lebar ketika William menunduk untuk mendaratkan kecupan lembut di dahi. Mereka berdua benar-benar bahagia, sangat bahagia. Kini pernikahan mereka terasa lengkap dengan kelahiran buah hati mereka.
__ADS_1