
William melewatkan terapinya hari ini karena dia ingin melihat keadaan Marian dan menemaninya. Dia sedikit lalai tapi dia tidak menduga yang diincar justru perusahaan Marien. Seharusnya dia tetap waspada agar hal itu tidak terjadi. Semua gara-gara dirinya yang lalai dan dia harus meminta maaf untuk hal ini.
William pulang ke rumah, dia tahu Marien pasti pulang dan menangis oleh sebab itu dia harus menemani Marien di saat dia sedang mendapatkan masalah. Dia bahkan tidak peduli dengan yang lain karena keadaan Marien lebih penting tapi dengan kejadian itu, dia harus semakin waspada agar kejadian seperti itu tidak terulang kembali.
Marien termenung di depan jendela saat dia kembali. Marien masih menangisi musibah yang baru saja dia alami. William benar-benar tidak tega melihatnya. Jika kedua kakinya tidak seperti itu, mungkin dia bisa menjaga Marien dengan lebih baik lagi.
"Kenapa kau sudah pulang?" Marien menghapus air matanya yang masih mengalir. Padahal dia pulang ke rumah untuk menangis agar tidak ada yang melihatnya.
"Kau sendiri? Kenapa pulang sendiri tanpa mengabari aku dan menangis seperti ini?" William membawa kursi rodanya mendekati Marien lalu berhenti di sisinya.
"Maaf, Will. Aku mengacaukannya dan perusahaan yang kau percayakan padaku terancam bangkrut gara-gara aku," ucap Marien dengan penuh sesal. Dia harus mengecewakan William yang sudah mempercayai dirinya.
"Hal itu tidak akan terjadi. Perusahaanmu tidak akan bangkrut jadi jangan berkata demikian!"
"Aku minta maaf, Will." Marien menunduk tanpa bisa membendung air matanya.
"Apa yang terjadi bukan salahmu, Marien. Aku yang telah lalai sehingga semua itu terjadi. Aku benar-benar suami yang tidak berguna dan ini pertama kali aku merasa jika aku tidak berguna karena aku telah membuatmu menangis."
"Kenapa kau jadi menyalahkan dirimu?" Marien berpaling, dia tidak suka William menyalahkan dirinya seperti itu karena yang terjadi bukanlah kesalahan William.
"Seandainya kedua kakiku tidak seperti ini, mungkin aku tidak akan lalai. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan yang lainnya sampai melupakan dirimu."
"Will, jangan berkata seperti itu!" Marien memeluk William dari samping, "Ini musibah, tolong jangan menyalahkan diri karena aku menangis. Aku tidak menyalahkan dirimu, kau bukan superman yang bisa melakukan apa saja. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Anggap aku sedang diuji apakah aku mampu melewati semua ini atau tidak. Bukankah kau berkata tidak ada satu orang pun yang bisa sukses dalam satu malam? Semua orang yang sudah sukses pasti melewati prosesnya dan aku, sedang diuji apakah aku mampu melewati prosesnya atau tidak. Maaf, aku hanya ingin menumpahkan kesedihanku saja tapi aku berjanji tidak akan menangis lagi untuk hal seperti ini."
"Jadi, kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
__ADS_1
"Tentu saja, Will. Hanya kehilangan dua pengusaha kecil itu saja, aku tidak boleh menyerah. Aku curiga jika Alexa yang melakukan hal ini tapi sayangnya aku tidak memiliki bukti!" Marien kembali menegakkan duduk, dia tidak akan memaafkan Alexa jika terbukti kakaknya itulah yang melakukannya.
"Soal itu serahkan padaku. Aku yang akan mencari buktinya. Aku tidak akan tinggal diam saja, Marien. Kejadian ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Aku berjanji padamu."
"Aku selalu percaya padamu, Will. Maaf jadi membuat kau khawatir!"
"Kemarilah!" William meminta Marien untuk duduk di atas pangkuannya. Marien beranjak lalu duduk di atas pangkuan William seperti yang suaminya inginkan. Kejadian yang tidak menyenangkan membuat mereka jadi saling menyalahkan diri seperti itu.
"Maafkan kelalaianku, Marien," air mata Marien dihapus dengan perlahan.
"Sudah aku katakan, kau bukan superman yang bisa melakukan apa pun, Will. Jadi jangan merasa bersalah karena tidak ada yang sempurna dan jalan tidak selalu mulus."
"Baiklah, tapi aku harap kau tidak menangis lagi. Berikan proposal yang sedang kau periksa, aku akan membantumu memperbaikinya agar kau mendapatkan kerja sama itu!" tentu saja yang dia maksud adalah kerja sama dengan ayahnya. Tadinya dia tidak mau ikut campur tapi akan dia buat Marien mendapatkan kerja sama itu. Dengan begitu pengusaha yang telah berani memutuskan kerja samanya dengan Marien secara mendadak akan menyesal dan mereka akan berada di dalam daftar hitam.
"Kau mau membantu aku?" wajah Marien mulai terlihat berseri.
"Oh, Will," Kedua mata Marien kembali berkaca-kaca. Bantuan William memang sangat dia perlukan disituasi yang sedang kacau itu, "Kau benar-benar memberikan semangat untukku!" Marien memeluknya. Dia tidak akan menolak bantuan William karena dia memang membutuhkan bantuan suaminya. Sekarang dia tidak sendirian lagi, William pasti membantunya membalas Alexa.
"Sesungguhnya aku tidak mau melibatkan dirimu akan dendamku, Will. Tapi sepertinya aku harus melibatkan dirimu. Maafkan aku, kau jadi mengalami kesulitan karena menikah denganku."
"Jangan berkata seperti itu. Bukankah sejak awal aku sudah mengatakannya padamu? Libatkan aku dan andalkan aku meski keadaanku seperti ini."
"Aku akan selalu mengandalkan dirimu tapi kenapa kau pulang? Apa kau tidak pergi menjalani terapi?"
"Besok aku akan mengambil waktu lebih untuk menjalani terapi. Yang terpanting adalah dirimu dan katakan padaku, apa yang telah membuat kakakmu begitu benci denganmu?" mungkin dengan mencari tahu akar permasalahannya, dia bisa memberikan keadilan untuk Marien.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Will. Alexa membenci aku karena karena ibunya bunuh diri."
"Ibunya bunuh diri, apa hubungannya denganmu?"
"Dia selalu berkata jika ibunya bunuh diri gara-gara ibuku. Ibuku memang istri kedua, aku dan ibuku masuk ke rumah itu saat aku berusia tiga tahun. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya namun Alexa selalu berkata jika ibunya bunuh diri gara-gara ibuku. Entah apa yang terjadi di antara mereka, aku pun tidak tahu karena ayahku tidak pernah membahas hal ini pada kami."
"Baiklah jika memang begitu, aku akan mencari tahu penyebab ibunya bunuh diri. Mungkin saja ada kesalahpahaman yang telah terjadi di antara ibu kalian. Mungkin saja ada yang ayahmu sembunyikan dan yang tak bisa dia katakan pada kalian berdua."
"Apakah perlu?" tanya Marien.
"Sudah pasti, bukan? Kita harus tahu penyebab sebenarnya karena mungkin saja kematian ibunya tidak ada hubungannya dengan ibumu. Dengan begini kita bisa membersihkan nama ibumu."
"Baiklah, yang kau katakan memang sangat benar. Aku pun sudah muak berselisih dengannya tanpa henti!"
"Jika begitu aku akan mencari tahu kebenarannya untukmu agar ibumu tidak selalu disalahkan."
"Thanks, selama tidak merepotkan dirimu dan mengganggumu menjalani terapi maka aku tidak akan menolak bantuan darimu!"
"Tentu saja tidak, aku akan memerintahkan Steve untuk mencari seseorang untuk melakukannya dan pelaku yang menghancurkan kantormu pasti aku dapatkan meski aku sudah curiga dengan pelakunya tapi kita membutuhkan bukti."
"Yeah, kita memang membutuhkan bukti karena aku sudah tidak sabar menghajar pelakunya sampai babak belur."
"Kau jadi bersemangat sekarang. Apa perasaanmu sudah membaik?"
"Yes, semua berkat dirimu. Terima kasih sudah bersedia pulang untuk menghibur aku."
__ADS_1
"Lain kali jangan menangis sendiri. Cari aku, aku pasti akan pulang untukmu."
Marien mengangguk, meski hari ini dia mendapatkan cobaan yang tidak menyenangkan tapi tidak masalah karena yang paling penting adalah hubungannya dengan William. Selama tidak ada yang mengganggu hubungan mereka maka mereka akan baik-baik saja bahkan dia merasa hubungan mereka semakin hari semakin dekat saja jadi tidak mustahil jika hubungan mereka benar-benar akan menjadi hubungan spesial seiring berjalannya waktu.