Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Jadi Merindukanmu


__ADS_3

Marien baru saja kembali setelah selesai bertemu dengan pengusaha yang dia tawari kerja sama. Hasilnya tidak langsung dia dapatkan karena masih harus melewati tahap seleksi. Rasanya cukup lelah, sepertinya dia membutuhkan air hangat untuk merenggangkan otot tapi dia masih memiliki tanggung jawab yaitu membantu William mandi.


Hari yang cukup melelahkan tapi dia tidak akan menyerah untuk memajukan perusahaan yang dipercayakan oleh William padanya. Dia tidak boleh mengecewakan William oleh sebab itu dia harus menunjukkan kemampuannya. Begitu kembali, Marien sangat heran karena pintu masih terkunci. Rumah pun begitu gelap seperti belum ada yang kembali.


"Will?" Marien memanggil sambil menyalakan lampu. Aneh, seharusnya William sudah kembali tapi kenapa dia tidak ada? Apa telah terjadi sesuatu dengannya?


"Will, apa kau di rumah?" Marien kembali memanggil sambil melangkah menuju kamar namun William juga tidak ada. Karena cemas dengan keadaan William, Marien mengambil ponselnya lalu melemparkan tasnya ke atas ranjang.


Ponsel William berbunyi tapi dia tidak tahu itu karena William masih mendapatkan ceramah dari kedua orangtuanya akibat tindakan yang dia lakukan. Marien semakin khawatir karena tidak ada kabar sama sekali dari suaminya. Dia takut terjadi sesuatu pada suaminya yang memiliki kekurangan tapi dia tidak tahu harus mencari William di mana.


"Ayolah, di mana kau?" Marien kembali menghubungi William namun hal sama yang dia dapatkan. Sekarang dia hanya bisa menunggu tentunya dalam keadaan cemas.


William yang sudah mendapatkan ceramah dari kedua orangtuanya pun masuk ke dalam kamar. Masalah kedua kaki sudah selesai, tinggal menyembunyikan masalah pernikahannya saja dengan Marien dan dia percaya kali ini tidak akan ketahuan karena dia bisa mengajak Marien bekerja sama.


Ponselnya kembali berdering karena Marien menghubungi kembali. William segera menjawab, dia lupa untuk memberi tahu Marien jika dia tidak bisa pulang malam ini.


"Will, apa kau baik-baik saja?" Marien bertanya begitu ada yang menjawab panggilan darinya.


"Tentu, maaf aku tidak memberitahu dirimu."


"Oh my God, kau benar-benar membuat aku khawatir," Marien menghembuskan napas, lega.


"Maafkan aku, Marien. Aku tidak berniat membuatmu khawatir tapi terjadi sesuatu hal yang tidak terduga."


"Ada apa? Apa wanita itu kembali lagi dan menculikmu lalu memaksamu? Atau kau sedang diganggu oleh preman? Katakan padaku, aku akan membawa pasukan untuk mencarimu!"


William terkekeh, apa ini? Kenapa Marien seperti pahlawan yang sedang melindunginya saja?


"Hei, Nona. Aku tidak selemah itu. Lagi pula aku tidak akan bisa menjawab panggilan darimu jika aku sedang disandera."


"Baiklah, kau benar. Jadi apa yang terjadi, apa kau tidak akan pulang malam ini?" kini dia sudah tenang setelah mendengar suara William.


"Yeah, sepertinya. Kau tidak keberatan karena tidak ada yang memelukmu malam ini, bukan?"


"Hm, te-tentu saja!" jawab Marien.


"Sayang sekali, aku rasa aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu malam ini!"

__ADS_1


"Jangan menggombal! Sekarang katakan padaku, apa yang telah terjadi?"


"Sedikit masalah karena kedua orangtuaku telah kembali," jawab William.


"Lalu? Apa mereka memarahi dirimu?"


"Yeah, selama ini mereka tidak tahu akan keadaan kedua kakiku ini. Mereka marah padaku, ayahku bahkan tidak mau berbicara denganku tapi semua sudah teratasi."


"La-Lalu bagaimana dengan pernikahan kita" mendadak dia jadi ingin tahu bagaimana dengan pernikahan mereka berdua.


"Itu tergantung dirimu, Marien. Aku hanya akan mengikuti permainanmu."


"Apa maksudmu?" tanya Marien tidak mengerti.


"Besok siang temui aku di restoran biasa. Aku ingin membicarakan hal ini padamu."


"Apa kau tidak bisa pulang? Aku lebih suka kita berbicara di rumah sehingga tidak ada yang tahu akan masalah ini karena ini masalah pribadi yang tidak boleh orang tahu. Aku hanya takut ada yang mendengar pembicaraan kita lalu rahasia kita berdua terbongkar. Jangan sampai ayahku tahu akan pernikahan kontrak yang kita jalani," jangan sampai ayahnya tahu apalagi Alexa karena jika sampai mereka tahu maka ayahnya pasti akan menariknya pulang lalu menjualnya pada pria lainnya yang bisa memberikan keuntungan. Jika sampai hal itu terjadi, maka sia-sia semua yang dia lakukan.


"Baiklah, aku akan mendengarkan perkataan istriku tapi kau sudah di rumah, bukan? Apa kau sudah makan?"


"Tentu saja, aku sudah kembali sedari tadi."


"Entahlah, aku harus menunggu untuk itu. Doakan saja aku bisa mendapatkannya."


"Tentu, aku yakin kau bisa. Jika kau tidak mendapatkannya masih ada kesempatan lain untukmu jadi jangan menyerah."


"Thanks, Will. Aku akan membuktikan padamu jika aku memiliki kemampuan untuk memajukan perusahaan itu!"


"Aku percaya padamu, Marien. Mendadak aku jadi merindukanmu," ucap William.


"Oh, yeah? Apa kau tidak sedang menggoda aku?"


"Tentu saja tidak, semenjak mengenalku aku jadi terbiasa dengan keberadaanmu dan sekarang, rasanya aneh tidak ada dirimu!"


Marien tersenyum, tatapannya sudah berpaling ke arah ranjang di mana William biasanya duduk di sana sambil memainkan ponselnya tapi malam ini pria itu tidak ada dan rasanya jadi sedikit berbeda. Apa dia juga merindukan William?


"William keluar sebentar. Mommy ingin bicara!"  Silvia memanggil putranya karena ada yang belum mereka bahas.

__ADS_1


"Ibuku memanggil,  kita sudahi sebentar. Besok pagi aku akan pulang ke rumah sebelum ke kantor."


"Baiklah, aku tunggu!"


"Aku matikan," ucap William tapi dia enggan melakukannya.


"Yeah, matikan saja!" Marien pun seperti enggan. Mereka berdua diam sampai akhirnya panggilan dari ibunya membuat William tidak memiliki pilihan untuk menyudahi percakapan mereka.


"Jangan tidur terlalu malam. Ibuku sudah memanggil!" setelah berkata demikian, mau tidak mau William harus menyudahi percakapan mereka.


Marien melihat ponselnya, kenapa jadi terasa berat? Mereka hanya suami istri yang terikat kontrak saja jadi jangan sampai dia menganggap hubungan mereka terlalu serius. William memiliki kehidupan pribadi dan dia pun tidak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadi William.


William sudah membuka pintu di mana ibunya sudah menunggu. Satu hal yang dilupakan oleh William, dia berkata dia sudah memiliki seorang perawat yang bisa membantunya tapi mana? Ibunya tidak melihat perawat itu sedari tadi.


"Ada apa, Mom?"


"Kau berkata sudah ada yang merawat dirimu, mana? Mommy tidak melihatnya sedari tadi!" ucap ibunya.


"Karena ada urusan, dia tidak bisa datang jadi?"


"Apa-Apaan itu?" sela ibunya dengan nada tidak senang, "Kau membutuhkan perawat dua puluh empat jam untuk membantu dirimu melakukan kegiatan jadi jangan main-main dengan hal ini. Mommy akan mencari perawat yang berpengalaman jadi jangan membatah!"


"Mom, sudah aku katakan sudah punya. Aku tidak butuh lagi. Perawat yang aku miliki jauh lebih baik dari pada perawat mana pun jadi Mommy tidak perlu repot tapi dengarkan perkataanku ini," William meraih kedua tangan ibunya.


"Saat ini aku sedang menyamar menjadi orang biasa demi sebuah tujuan, aku pun sedang berencana mengambil semua yang telah aku berikan pada Fiona jadi aku akan jarang pulang ke rumah sampai aku membalas perbuatan Fiona!"


"Kenapa harus begitu, William? Untuk apa kau menyamar menjadi orang biasa?" tanya ibunya curiga.


"Aku tidak ingin ditipu lagi untuk yang kedua kali, Mom. Aku ingin jadi orang biasa agar aku menemukan wanita yang benar-benar tulus menyukai aku, bukan uangku lagi. Jadi Mommy tidak keberatan aku tinggal di luar sebentar, bukan? Aku ingin lihat apakah ada yang mau denganku yang tidak memiliki apa pun dan dengan keadaanku yang seperti ini," meski dia sudah menikah dengan Marien yang tulus namun pernikahan mereka adalah pernikahan kotrak dan ketulusan yang Marien tunjukkan bisa saja didasari oleh kontrak yang telah mereka sepakati.


"Baiklah, kali ini Mommy harap kau menemukan wanita yang tepat tapi kau harus kembali sesekali agar Mommy tahu keadaanmu. Jangan lupa mencari dokter untuk menyembuhkan kakimu. Mommy akan mendukung apa yang kau lakukan dan carilah wanita yang jauh lebih baik dari pada Fiona!"


"Terima kasih, Mom. Akan aku lakukan!"


"Sekarang beristirahatlah, Mommy akan membujuk Daddy-mu yang sedang mogok bicara itu!"


"Thanks, Mom. Maaf aku sudah menyembunyikan keadaanku ini!"

__ADS_1


"Sudahlah, segera beristirahat!" Silvia melangkah pergi, jika putranya ingin hidup menjadi orang biasa untuk mendapatkan yang lebih baik maka dia akan mendukung tapi sesungguhnya tanpa dia tahu, William benar-benar sudah menemukan seseorang yang tulus namun mereka berdua tetap membutuhkan waktu.


__ADS_2