
William mendapat kabar jika Marien sudah pulang terlebih dahulu akibat tidak enak badan. Tentunya hal itu membuatnya cemas sehingga membuat William memutuskan untuk pulang. Dia pun mendengar jika ayah Marien datang ke kantor Marien. Dia jadi semakin mengkhawatirkan hal itu karena dia khawatir Marien memikirkannya sehingga membuatnya semakin sakit.
Akibat kejadian yang tidak menyenangkan itu, mereka tidak jadi berbulan madu. Kedua orangtua William pun sudah kembali dari berlibur dan yang lain langsung kembali ke California. Silvia dan Abraham sudah mendengar apa yang terjadi tapi mereka tidak ikut campur karena William berkata jika dia bisa mengatasinya.
William langsung mencari Marien setelah dia pulang ke rumah. Dia benar-benar cemas apalagi Marien tidak pernah seperti itu sebelumnya. Marien yang merasa tidak sehat langsung tidur begitu dia kembali. Sungguh, kepalanya terasa mau pecah akibat banyak yang dia pikirkan apalagi ayahnya datang secara tiba-tiba untuk meminta maaf.
Jas yang dipakai dilemparkan, William naik ke atas ranjang dengan perlahan lalu berbaring di samping Marien yang sedang tidur. Satu tangannya sudah berada di dahi Marien yang memang terasa panas. Ck, sepertinya Marien terlalu sibuk sampai membuatnya tidak mempedulikan kesehatannya sendiri.
"Marien, apa kau baik-baik saja?" tanya William sambil mengusap wajah Marien dengan perlahan untuk membangunkan Marien karena dia ingin tahu bagaimana dengan keadaan Marien.
"Hm, kau sudah pulang rupanya. Maaf tidak memberimu kabar, Will," Marien berusaha membuka kedua matanya tapi yang terasa berat bahkan kepalanya pun semakin terasa sakit.
"Tidak apa-apa, aku dengar kau sedang sakit. Sekarang katakan padaku bagaimana dengan keadaanmu? Apa parah? Jika parah maka sebaiknya kita pergi ke rumah sakit saja."
"Tidak perlu, Will. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan oleh sebab itu aku hanya butuh istirahat saja. Maaf telah membuatmu khawatir."
"Baiklah, sekarang katakan padaku apa yang kau rasakan saat ini? Apa yang sakit, katakan padaku?" William beringsut lalu memeluknya.
"Kepalaku sakit, aku merasa tidak enak badan. Mungkin karena aku terlalu banyak bekerja apalagi aku harus menerima banyak undangan dari beberapa majalah bisnis."
"Lain kali jangan terlalu lelah, kau pun butuh istirahat. Batasi orang-orang yang ingin bertemu denganmu agar kau tidak terlalu lelah."
"Maaf, aku terlalu bersemangat oleh sebab itu aku jadi lupa waktu. Lagi pula aku tidak berani menolak permintaan mereka untuk bertemu karena aku takut mereka menganggap aku jadi sombong."
"Tapi lain kali kau harus membatasi diri dan jangan terlalu berlebihan."
"Aku tahu, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Marien.
__ADS_1
"Baiklah, aku dengar ayahmu datang ke kantormu. Apa yang dia lakukan di sana?"
"Meminta maaf, apa lagi. Bagaimana menurutmu, Will? Kau pun tahu aku tidak memiliki hati yang tega, seandainya keadaanku tidak sedang memburuk, aku rasa aku akan semakin tidak tega dengan keadaannya."
"Abaikan saja ayahmu terlebih dahulu, untuk saat ini kau tidak perlu memikirkannya karena yang terpenting adalah keadaanmu saat ini. Aku tidak mau kesehatanmu semakin memburuk jadi kau tidak perlu memikirkan apa pun terlebih dahulu. Kau mengerti?"
"Aku tahu, tapi aku ingin ke kamar mandi sebentar," Marien berusaha untuk bangun tapi sakit kepalanya kembali kambuh sehingga membuatnya hampir jatuh. William buru-buru mencegah dan memegangi Marien yang sedang memegangi kepalanya yang sakit.
"Kepalaku semakin sakit saja," ucap Marien.
"Jika begitu aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Tidak baik menahan sakit terlalu lama."
"Lakukanlah, aku juga sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya oleh sebab itu, antar aku ke kamar mandi, Will. Sepertinya aku harus bergantung padamu dan merepotkan dirimu!"
"Stts, jangan berbicara seperti itu!" tubuh Marien diangkat sehingga Marien duduk di atas pangkuannya.
"Aku merasa semuanya tidak hanya kepalaku, perutku sakit dan aku pun tidak berselera makan. Aku pikir?" Marien diam sejenak untuk mencari tahu apa yang sedang dia alami saat ini.
"Apa yang kau pikirkan? Sebaiknya kita ke rumah sakit saja!" ucap William.
"Antar aku ke kamar mandi sekarang!" pinta Marien.
"Setelah itu kita ke rumah sakit. Aku tidak tenang melihat keadaanmu yang seperti ini."
"Tidak perlu, Will. Jika aku tidak salah tebak jangan-jangan?" Marien meraih tangan William lalu meletakkan tangan William di atas perutnya, "Jangan-Jangan sudah ada juniormu di dalam sini," ucap Marien lagi.
"Apa kau bilang?" William terkejut, perasaan bahagia pun memenuhi hatinya.
__ADS_1
"Aku rasa, Will. Aku merasa tidak begitu sehat bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku datang bulan karena sibuk. Kau tahu semenjak kerja sama dengan ayahmu berjalan denga lancar, aku jadi tidak memiliki banyak waktu bahkan untuk memikirkan hal itu pun rasanya aku tidak memiliki waktu."
"Apa benar? Apa yang kau katakan benar, Sayang?" William terlihat begitu sangat senang karena mereka sudah menantikan hal itu cukup lama.
"Entahlah, bagaimana jika kita cari tahu saja? Kita pergi membeli alat tesnya agar kita tahu tebakanku ini benar atau tidak."
"Oh Honey, aku akan meminta Steve membelikannya untuk kita!" ucap William seraya beranjak dari atas ranjang sambil menggendong Marien, "Aku akan membawamu ke kamar mandi terlebih dahulu dan setelah itu aku akan meminta Steve membelikan alat yang kau inginkan," William sudah membawa Marien ke kamar mandi. Dia sudah tidak sabar.
"Tolong ambilkan aku segelas air hangat, Will," pinta Marien karena dia haus.
"Everything for you, Honey," setelah Marien berada di kamar mandi, William bergegas mengambil air hangat yang Marien inginkan. Dia juga menghubungi Steve dan memintanya untuk membeli alat tes kehamilan. Marien dan William menunggu kedatangan Steve dengan tidak sabar. Sambil menunggu kedatangan Steve, William membuatkan sup untuk Marien.
Mereka berdua sungguh tidak sabar, mereka berdua terlihat gelisah seolah-seolah Steve begitu lama padahal pria itu datang setengah jam kemudian. Marien dan William pun bergegas untuk mencari tahu apakah dugaan mereka benar atau tidak. William menunggu Marien yang sedang melakukan pengetesan dengan perasaan tidak menentu.
Jantungnya jadi berdebar dan dia semakin tidak sabar. Jika Marien benar-benar hamil, ayah dan ibunya pasti akan sangat senang dan dia rasa keluarga besarnya pasti sangat senang.
"Bagaimana, Marien?" tanyanya tidak sabar.
"Tunggu sebentar!" Marien sedang menunggu garis dua muncul di alat tes pack dengan jantung berdebar. Semoga saja, semoga garis dua. Dia pikir tebakannya salah tapi penantiannya tidak sia-sia karena apa yang dia harapkan terjadi juga.
Marien keluar dari kamar mandi, William terkejut mendapati ekspresinya yang sedih. William mengira jika tebakan mereka salah namun Marien mendekatinya dan memeluknya sambil menangis bahagia.
"Bagaimana, apa kita salah?" tanya William.
"Tidak, aku hamil!" perkataan yang diucapkan oleh Marien benar-benar membuat rasa bahagia memenuhi hati. William memeluk istrinya yang masih menangis bahagia dengan erat. Itu benar-benar kabar yang sangat membahagiakan untukĀ mereka berdua apalagi setelah banyak yang terjadi.
"Aku sangat senang mendengarnya, Sayang!" William menggendong Marien dan membawanya menuju ranjang. Kehamilan Marien benar-benar membuat mereka bahagia karena kehadiran buah hati mereka akan melengkapi pernikahan mereka.
__ADS_1