
Marien terbangun akibat sentuhan tangan William di area perutnya. Entah apa yang William lakukan yang pasti tangannya tak henti memberikan usapan di bagian perut. Selain melakukan hal itu, William pun mencium leher bagian belakang Marien. Bibirnya tak bisa berhenti bahkan dia merasa sesuatu bergejolak di dalam dirinya.
Marien yang tadinya diam saja terkejut karena William menariknya mendekat dan tangannya semakin bergerak naik ke atas. Yang membuat Marien terkejut tidak saja apa yang dilakukan oleh William tapi suatu benda keras yang mengenai bokongnya dan Marien tahu apa itu.
"William!" Marien menahan tangan William yang sudah berada di dekat dadanya.
"Kau sudah bangun rupanya, itu bagus!" William masih tak henti mencium leher Marien. Mereka sudah tidur bersama begitu lama bahkan Marien melihat tubuhnya setiap hari tapi sampai sekarang, tidak satu kali pun mereka bermesraan.
Mereka memang sudah berciuman tapi dia tidak pernah menyentuh tubuh Marien dan pagi ini, sesuatu yang ada pada dirinya sudah pasti bergejolak karena dia pria normal.
"Hentikan tanganmu, Will. Apa yang mau kau lakukan?" Marien masih berusaha menahan tangan William agar tidak semakin jauh.
"Marien, bukankah kau berkata ingin menanggung kemarahan kedua orangtuaku bersama denganku?"
"Yeah, apa ada hubungannya dengan apa yang kau lakukan saat ini?" tanya Marien tidak mengerti.
"Apa kau tahu?" William menarik tangannya keluar lalu memutar tubuh Marien dengan perlahan hingga Marien menghadap ke arahnya. Kini tangan William berada di wajah Marien, mengusapnya dengan perlahan.
"Sesungguhnya kedua orangtuaku memberikan sebuah syarat padaku jika aku ingin mereka memaafkan aku," ucap William.
"Syarat?" Marien mengernyitkan dahi. Syarat apa? Apa kedua orangtua William ingin mereka berpisah sebagai syaratnya?
"Hm, mereka memberikan aku syarat. Cobalah tebak, aku yakin kau tahu jawaban dari syarat yang diberikan oleh mereka," ucap William seraya memberikan ciuman di pipi Marien.
"A-Apa mereka ingin kita berpisah?" tanya Marien dengan perasaan was-was.
"Tidak, mereka tidak mungkin meminta hal itu. Cobalah kau menebak yang lainnya!"
"Mereka ingin menginterogasi aku yang sudah begitu berani menawarkan pernikahan padamu?"
"Aku rasa bukan hal ini. Cobalah tebak lagi, mereka menginginkan sesuatu yang sangat diinginkan oleh setiap orangtua," William kembali mengusap waiah Marien dengan perlahan.
Marien tampak berpikir dengan keras, sesuatu yang diinginkan oleh orangtua? Marien benar-benar serius sampai akhirnya dia menyadari apa yang William maksud. Wajah Marien memerah, William tahu jika Marien sudah bisa menebaknya.
"Bagaimana, apa kau sudah tahu?"
"Ti-Tidak!" jawab Marien dengan cepat.
__ADS_1
"Aku rasa kau sudah tahu, Marien. Mereka menginginkan seorang cucu. Ayah dan ibuku akan memaafkan perbuatanku jika aku kembali bersama denganmu yang sedang mengandung cucu mereka."
"A-Apa? Kenapa syaratnya seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu, mereka memang menginginkannya dan adik kecilku ini?" William melihat ke bawah, melihat ke arah sesuatu yang menonjol di balik celanya begitu juga dengan Marien yang semakin tersipu malu, "Adik kecilku juga menginginkannya!" ucap William lagi.
"Me-Mesum!" Marien menutupi wajahnya yang memerah dengan menggunakan kedua tangan. William sangat heran, kenapa tingkah Marien seperti perawan saja?
"Marien, ini bukan yang pertama kalinya bukan?"
"Tentu saja bukan!" Marien masih mengatakan demikian agar tidak ditertawakan oleh William.
"Baiklah, jadi bagaimana menurutmu. Apa yang harus kita lakukan pada syarat yang diberikan oleh kedua orangtuaku? Jika kau bersedia, kita bisa memenuhi syarat itu!" ucap William.
"Untuk kali ini, aku minta maaf padamu, Will. Aku belum bisa memenuhi permintaanku."
"Kenapa?" William sangat heran dengan jawaban yang Marien berikan.
"Aku belum siap, Will. Menjadi orangtua tidak mudah jadi aku?" Marien menghentikan perkataannya, dia harap William mengerti dan tidak memaksanya. Lagi pula dia belum tahu bagaimana perasaan William padanya dan dia pun tidak tahu bagaimana perasaannya pada William.
Mereka memang selalu harmonis, tanpa adanya pertengkaran tapi dia justru takut kebersamaan mereka yang seperti itu ternyata hanya kebersamaan selayaknya sahabat tanpa adanya perasaan spesial karena sampai sekarang, William tidak pernah mengucapkan perkataan cinta untuknya.
"Kita pelan-pelan saja, Will. Masih banyak yang harus kita lakukan. Lagi pula kita belum memiliki perasaan satu sama lain jadi aku pikir lebih baik kita melakukannya setelah kita saling mencintai agar tidak ada unsur paksaan nantinya!"
"Apa kau belum memiliki perasaan padaku, Marien? Apa sampai sekarang kau belum juga jatuh cinta padaku?"
"Ke-Kenapa kau jadi bertanya seperti itu?"
"Jawab aku, Marien. Apa belum ada perasaan cinta di dalam hatimu untukku walau hanya sedikit saja?" kebetulan Marien sedang membahas hal ini jadi dia ingin tahu.
"A-Aku tidak tahu!" jawab Marien dengan wajah tersipu. Dia memang ingin tahu bagaimana perasaan William tapi jika ditanya secara tiba-tiba seperti itu, dia jadi bingung.
"Apa maksudmu tidak tahu? Ini bukan pertama kalinya kau jatuh cinta, bukan?"
"Tentu saja tidak, aku sudah menjalin hubungan dua kali jadi aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."
"Jadi?" William memainkan rambut Marien, dia sangat ingin tahu apakah Marien sudah memiliki perasaan untuknya atau belum.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu, Will. Selama ini aku merasa nyaman bersama denganmu. Seperti yang kau tahu, aku tidak suka hubungan yang rumit dan aku menikmati kebersamaan kita berdua. Aku bahkan tidak keberatan menjadikan pernikahan kontrak kita menjadi pernikahan nyata. Bagaimana menurutmu, apakah aku hanya merasa nyaman saja denganmu ataukah sudah ada perasaan di hatiku untukmu?"
"Kenapa kau jadi bertanya padaku? Seharusnya itu adalah pertanyaanku, Marien. Aku ingin tahu perasaanmu padaku. Aku yakin sudah ada rasa di sini walau sedikit saja!" ucap William seraya menunjuk ke dada Marien.
"Anggap saja demikian, Will. Sekarang saatnya aku bertanya, bagaimana denganmu? Apa sudah ada perasaan di hatimu untukku?"
"Tentu saja sudah. Sudah aku katakan aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu. Memang kita orang asing waktu itu tapi sekarang, semakin aku mengenal dirimu, semakin aku ingin memperjuangkan dirimu dan mempertahankan rumah tangga kita."
"Apa itu artinya kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Marien.
"Yeah, perasaan ini tumbuh tanpa sadar. Aku sudah jatuh cinta padamu, Marien. Aku sudah mengenal banyak wanita tapi ini kali pertama aku bertemu yang tulus seperti dirimu. Jika aku menyia-nyiakan dirimu, maka bodohlah aku dan jika aku tidak jatuh cinta padamu setelah melihat kebaikan dan ketulusanmu, maka aku adalah pria terbodoh di dunia."
"Baiklah, padahal aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan tanpa mengharapkan apa pun. Terima kasih sudah mencintai aku tapi maukah kau menunggu? Aku akan mencari tahu apakah aku sudah jatuh cinta padamu atau belum!"
"Baiklah, aku tunggu. Jika kau sudah tahu jawabannya, segera katakan padamu!"
"Pasti!" Marien memeluk William dengan erat, begitu juga dengan William.
"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya William yang sedang mencium wajah Marien tanpa henti.
"Apanya yang bagaimana?"
"Adik kecilku, bagaimana mengatasinya?"
"Pe-perintahkan adikmu untuk tidur lagi!" ucap Marien dengan wajah memerah.
"Adikku tidak mendengar perintah, Sayang. Bagaimana sekarang, apa kau mau membantu aku untuk menidurkannya kembali?" goda William.
"Apa?" Marien terkejut mendengar permintaan William.
"Kamar mandi, bagaimana?" Wiliam masih saja menggodanya.
"La-Lakukan sendiri pakai sabun!"
"Wah, kau benar-bebar tahu fungsi lain dari sabun!"
"Will, kau menyebalkan!" Marien menutup wajahnya yang memerah karena malu.
__ADS_1
William terkekeh dan semakin mempererat pelukannya. Dia hanya bercanda dan ingin menggoda Marien saja. Dia akan pelan-pelan sampai Marien siap nanti, lagi pula dia tidak akan lupa dengan perkataan Marien yang tidak mau di atas jadi dia harus menyembuhkan kedua kakinya terlebih dahulu.