Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

Tenggelam dalam pekerjaan itulah yang mereka lakukan. Beberapa pengusaha yang harus ditemui mereka temui untuk membahas pekerjaan dan setelah itu mereka sibuk di kantor karena mereka berencana pergi berbulan madu selama dua minggu. Berkas-Berkas penting pun harus mereka selesaikan agar mereka dapat menikmati perjalanan mereka tanpa memikirkan pekerjaan oleh sebab itu Marien dan William begitu sibuk sampai-sampai mereka belum sempat bertukar informasi.


Sebagai pengusaha yang sedang merangkak naik, Marien benar-benar serius mengelola perusahaan yang William percayakan. Lagi pula dia tidak ingin mengecewakan William begitu perusahaan itu berada di tangannya. Meski dia sudah menjalin kerja sama dengan ayah mertuanya tapi dia tidak boleh terlalu berpuas diri karena masih banyak yang harus dia lakukan untuk memajukan perusahaannya.


Entah berapa banyak panggilan yang dia terima hari ini, Marien sibuk sepanjang waktu namun satu panggilan dari wanita bernama Becky cukup menarik perhatian karena wanita itu dari perusahaan besar yang ingin mengajaknya bertemu dan membahas bisnis karena Becky berkata, perusahaannya tertarik untuk bekerja sama dengan Marien namun Marien tidak langsung mengiyakan karena ada beberapa pertanyaan yang akan dia berikan pada Becky sebelum dia setuju untuk membahas bisnis lebih lanjut di antara mereka.


"Perusahaanku masih kecil, Nona Becky. Banyak perusahaan yang lebih besar yang bisa memberikan keuntungan besar bagi perusahaanmu tapi kenapa kau ingin bekerja sama dengan perusahaanku?" tanya Marien pada Becky sebelum dia setuju untuk menemui wanita itu. Dia tahu itu kesempatan tapi dia harus mencari tahu secara rinci apa yang membuat perusahaan yang menaungi Becky tertarik untuk menjalin kerja sama dengannya.


"Cukup sederhana, Nyonya Archiles. Pertama kau adalah menantu Tuan Archiles, meski perusahaanmu masih kecil dan belum ada namanya tapi kami yakin suatu saat perusahaanmu pasti akan maju dengan pesat dan kami ingin menjadi bagian yang berada di dalam perusahaanmu sehingga kita bisa maju bersama."


"Tapi perusahaanmu adalah perusahaan besar, untuk apa perusahaan besar menjalin kerja sama dengan perusahaan kecil yang hanya bisa memberikan keuntungan kecil?" pertanyaan yang cerdik tentunya tapi Becky tidak akan kehabisan akal untuk bisa bertemu dengan Marien.


"Tentu saja tidak tapi kami melihat peluang besar jika kami bekerja sama dengan anda. Ini kesempatan untuk kita, Nyonya Archiles dan aku yakin sebagai pengusaha aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini untuk mencari kolega agar perusahaanmu bisa cepat maju."


"Yang kau katakan sangat benar, Nona Becky. Ini memang kesempatan tapi aku tidak boleh terlalu tamak untuk mengambil semua kesempatan yang ada."


"Baiklah, begini saja. Kita bertemu secara pribadi, aku akan menunjukkan proposal kerja samanya padamu terlebih dahulu. Jika kau tertarik, barulah kita bahas lebih lanjut tapi jika tidak, tidak jadi soal."


"Baiklah, itu lebih baik," jawab Marien. Dia tidak bisa menolak karena dia khawatir dianggap sebagai pengusaha baru yang sombong apalagi dia sudah menjadi menantu pengusaha terkaya di kota itu, dia akan semakin dianggap sombong dan hal itu bisa berdampak buruk bagi perusahaannya.


"Senang mendengarnya, Nyonya. Bagaimana jika kita bertemu sore ini? Kita bisa berbincang sambil makan malam?" tanya Becky. Ini kesempatan yang tidak boleh dia sia-siakan.


"Tentu saja. Katakan saja di mana dan jam berapa, aku akan pergi ke sana."


"Aku akan segera mengaturnya, Nyonya. Tunggu kabar dariku."

__ADS_1


"Baiklah, aku tunggu!" ucap Marien. Percakapan mereka berakhir, Marien kembali tenggelam dalam pekerjaannya namun dia harus mengatakan pada William jika dia akan pulang terlambat karena harus menemui Becky untuk membahas bisnis. Marien kembali mengambil ponsel namun sebelum dia menghubungi William, ternyata William sudah melakukannya terlebih dahulu.


"Baru saja aku ingin menghubungimu." ucap Marien.


"Oh yeah? Apa kau sudah tidak sibuk?" tanya William.


"Pekerjaanku banyak, Will. Bagaimana denganmu?"


"Seperti dirimu, Sayang. Tapi aku ingin mendengar suaramu karena aku sangat merindukan dirimu dan aku ingin tahu apa yang sedang kau lakukan. Apa kau sudah makan siang?"


"Makan siang?" Marien melihat jamĀ  yang ada di atas meja, "Oh, tidak. Aku tidak sadar jika sudah jam dua!" ucapnya.


"Ck, sesibuk apa pun dirimu, jangan sampai lupa makan. Itu tidak baik untuk lambung dan kesehatanmu!"


"Rekan bisnis, siapa?" tanya suaminya.


"Apa kau ingat dengan wanita itu? Wanita yang berbicara denganku saat kau pergi mengambil air minum di pesta pernikahan kita?"


"Yeah, apa yang kalian bicarakan?" dia tahu perusahaan yang Marien sebutkan waktu itu karena perusahaannya pun menjalin kerja sama dengan perusahaan itu.


"Dia mengajak aku menjalin kerja sama dan ingin bertemu denganku malam ini. Bagaimana menurutmu, Will? Ini kesempatan bagiku tapi aku tidak begitu tahu perusahaan itu jadi aku butuh pendapatmu."


"Ini memang kesempatan bagus, aku tidak melarangmu untuk mengembangkan sayap. Kau bisa memanfaatkan kesempatan yang sudah ada jadi kau tidak perlu ragu untuk menjalin bisnis dengan perusahaan yang sudah memiliki nama karena semakin banyak kau menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha maka semakin cepat perusahaanmu berkembang."


"Terima kasih, Will. Sekarang aku tidak akan ragu lagi jadi malam ini aku tidak bisa pulang cepat dan menyiapkan makan malam. Aku harus menemuinya di restoran untuk menemui wanita itu."

__ADS_1


"Baiklah, katakan saja di mana tempatnya. Aku akan menjemputmu nanti dan kita bisa makan bersama di luar tapi kau harus ingat satu hal, jangan berjauhan dengan asistenmu."


"Tentu, aku akan mengabarimu lagi nanti!"


"Sekarang pergilah makan siang terlebih dahulu. Jangan sampai terjadi sesuatu pada lambungmu. Aku tidak suka kau melupakan makan hanya karena pekerjaan!" ucap William.


"Aku akan makan sebentar lagi. Bagaimana denganmu, apa kau sudah makan?"


"Tentu saja, Sayang. Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang bersama tapi ada rapat penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Jika aku tahu kau akan lupa untuk makan, aku sudah pergi ke kantormu untuk mengantarkan makanan," jika dia tahu sudah pasti dia lakukan.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Will. Tapi kita harus segera menyelesaikan pekerjaan kita agar kita bisa menikmati bulan madu kita nanti."


"Baiklah, tapi apa kau yakin hanya dua minggu saja? Apa itu cukup, Marien?"


"Apa kurang? Jangan katakan kau ingin kita berbulan madu selama satu bulan!"


"Aku memang ingin kita berbulan madu selama satu bulan, Sayang. Setelah pekerjaan kita yang banyak ini, kita perlu memanjakan diri kita dan menikmati waktu kita berdua apalagi kita pergi berbulan madu. Bagaimana?"


"Baiklah, aku akan mematuhi perkataan suamiku," ucap Marien. Dia tidak akan keberatan apalagi menghabiskan waktu bersama dengan suaminya.


"Bagus, sekarang pergi makan. Jangan menunda jika tidak maka aku akan menghukummu!"


"Segera!" ucap Marien. Dia tidak tahu jika jam makan siang sudah lewat. Marien meminta sekretarisnya membelikan makanan setelah berbicara dengan suaminya dan setelah itu dia kembali sibuk.


Sebuah pesan dikirimkan oleh Becky untuknya, pesan itu berisi alamat di mana mereka akan bertemu nanti malam. Bukan tempat yang asing, dia tahu restoran itu dan letaknya pun tidak jauh. Marien pun memberikan alamatnya pada William agar William bisa menjemputnya nanti namun tanpa mereka curigai apalago William tahu perusahaan yang dimaksudkan oleh Becky, sebuah rencana sudah menyambut Marien di pertemuan itu nanti.

__ADS_1


__ADS_2