
Marien pulang lebih cepat karena dia ingin menyiapkan makan malam untuknya dan William. Mereka akan memperbaiki makan malam romantis mereka yang batal waktu itu. Meski hanya di rumah tapi itu sudah cukup untuk mereka berdua.
Beberapa makanan sedang dibuat, makanan yang cukup sederhana. Steak dan salad, juga sebotol anggur yang belum mereka sentuh kemarin. Malam ini mereka akan membuat kenangan indah untuk mereka berdua karena mereka harus menciptakan kenangan yang tak akan dilupakan.
Marien melihat jam, sepertinya William sudah akan kembali. Sebaiknya dia mempersiapkan yang lain. Air mandi untuk mereka berdua oleh sebab itu, Marien pergi mengisi air bathtub dengan air hangat. Aroma terapi juga dituangkan, dia ingin menikmati kebersamaannya dengan William di dalam bathtub nantinya.
Saat Marien sedang berada di kamar mandi, William kembali. Aroma lezat makanan tercium, dia yakin Marien pasti sedang menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Bunga yang dia bawa sudah berada di atas pangkuan, William masuk ke dalam dan mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu malam romantis mereka berdua.
"Marien, aku pulang!" ucapnya sambil membawa kursi rodanya ke dapur.
"Marien?" William kembali memanggil karena Marien tidak ada di dapur.
"Coming!" terdengar suara teriakan Marien dari dalam kamar.
William tersenyum, bunga yang ada di atas pangkuan diambil. William menunggu Marien yang sedang melangkah menuju dapur. Marien pun tersenyum melihatnya, langkahnya terhenti karena dia jadi canggung.
"Kemarilah, apa kau tidak mau bunga ini?" tanya William.
"Tentu saja, aku tidak akan menolak!" Marien mengambil bunga yang diberikan oleh William dan menghirup aromanya sebentar.
"Mau mandi dulu atau makan terlebih dahulu?" tanyanya.
"Dua pilihan yang menggiurkan, Sayang. Tapi aku ingin makan denganmu terlebih dahulu barulah kita mandi bersama malam ini tapi tanpa bikini. Kau mau, bukan?" pinta William.
"Ta-Tapi aku?" tanya bikini? Walau mereka sudah melakukannya tapi waktu itu William sedang di dalam pengaruh obat.
"Ayolah, aku sudah pernah melihatny jadi tidak perlu malu."
"Ba-Baiklah, sebaiknya kita makan terlebih dahulu," ucap Marien.
Marien melangkah mendekati William lalu mendorongnya menuju meja makan. Bunga diletakkan ke atas meja dan setelah itu Marien mengambil makanan yang ada di dalam microwave. Dua porsi steak dan salad sayur, dia juga membuat sup untuk melengkapi makan malam mereka.
"Tidak begitu mewah tapi semoga kau suka," ucap Marien.
"Aku akan selalu suka dengan makanan yang kau buatkan."
"Thanks," anggur pun dituangkan ke dalam gelas untuk mereka berdua.
Makan malam yang sederhana namun sudah cukup untuk mereka. Mereka berbincang sambil menikmati makanan dan setelah itu Marien mendorong William masuk ke dalam kamar mereka karena mereka akan mandi bersama namun Marien jadi canggung akibat permintaan William yang memintanya untuk tidak menggunakan bikini.
"Bukankah kau berkata akan memberi aku hadiah?" Marien berusaha mengalihkan perhatian William dengan cara itu.
"Kau akan mendapatkannya nanti setelah berada di dalam kamar mandi!"
"Aku bantu kau masuk terlebih dahulu dan aku masuk belakangan."
__ADS_1
"Kenapa harus seperti itu?"
"Aku malu, Will. Bisakah menutup mata nanti?"
"Tidak perlu, Marien. Kau akan terbiasa nanti jadi tidak perlu malu. Lagi pula aku suamimu, cepat atau lambat aku pasti akan melihatnya."
"Hm, baiklah. Aku akan berusaha!" Marien membuka pakaian William terlebih dahulu dan setelah itu membantunya masuk ke dalam bathtub. Marien hendak beranjak namun William yang sudah tidak sabar menarik tangannya hingga Marien masuk ke dalam bathtub. Marien berteriak karena terkejut. Semuanya basah padahal dia hendak melepaskan bajunya.
"William, apa yang kau lakukan?" teriak Marien.
"Membantumu melepaskan bajumu!" jawab William yang sedang menaikkan baju Marien.
"Apa? Aku bisa sendiri!"
"Sekarang giliranku, Marien. Kau yang melepaskan bajuku setiap hari jadi sekarang giliranku!" baju Marien sudah diangkat dan dilepaskan lalu tangan William berpindah ke belakang Marien.
"Hei, yang ini aku bisa!" ucap Marien seraya mencegah tangan William.
"Aku juga bisa melepaskan bajuku tapi aku tidak keberatan kau melepaskannya setiap hari jadi sekarang giliranku!"
"Tapi, Will?"
"Kau tidak percaya denganku?"
"Kau harus membiasakan dirimu Honey, karena saat kedua kakiku sembuh maka aku akan membuka bajumu setiap hari jadi anggap kita sedang latihan."
"Apa?" Marien sedikit terkejut dengan wajah memerah.
"Hal itu tidak akan lama lagi, percayalah!"
"Benarkah? Apa kedua kakimu sudah bisa merasakan sakit?"
"Sudah terasa meski baru sedikit. Aku akan rajin menjalani terapi untuk menyembuhkannya dan aku berjanji padamu tidak lama lagi aku sudah bisa berjalan."
"Itu sangat bagus, aku sangat menantikannya!"
"Setelah kakiku sembuh. aku akan memberikan pernikahan yang sesungguhnya padamu, Marien. Aku akan merayakannya dan memperkenalkan dirimu pada semua keluargaku."
"Tidak perlu terlalu meriah, Will. Cukup yang sederhana saja."
"Tidak, aku ingin memberikan pernikahan yang megah untukmu karena kau pantas mendapatkannya apalagi saat kita menikah, tidak ada yang menyaksikannya jadi aku ingin memberikan pernikahan yang pantas kau dapatkan."
"Baiklah, semampu dirimu saja. Aku harap kau tidak memaksakan diri untuk memberikan aku pernikahan yang kau maksud!"
"Tentu saja tidak, berbaliklah dan tutup kedua matamu!" pinta William.
__ADS_1
"Hei, kapan kau melepaskannya!" Marien menutupi dadanya karena William sudah melepaskan bra yang dia kenakan.
"Untuk urusan ini, tangan pria lebih cepat!"
"Mesum!" Marien memukul bahu William namun dia berbalik. Celana yang dia kenakan dilepaskan, kini dia memakai celana bagian dalam saja. Marien sudah menutup kedua matanya, menunggu kejutan yang akan William berikan.
Sebuah kalung berlian bermata biru dilingkarkan ke leher Marien. Kalung itu dia beli saat pulang dari terapi. Tidak saja sebuah kalung, sebuah gelang pun melingkar di lengan Marien.
"Boleh aku membuka mataku sekarang?" tanya Marien.
"Tentu, bukan barang bagus tapi aku harap kau suka!"
Kedua mata Marien terbuka, tangannya pun diangkat untuk melihat gelang berlian yang melingkar di lengan lalu Marien melihat kalung yang melingkar di lehernya.
"Ini untukku?" tanya Marien.
"Yes, ini hadiah untukmu. Apa kau suka? Aku membelinya dengan terburu-buru tanpa bisa mencari yang lebih baik lagi."
"Ini sudah bagus Will, terima kasih. Padahal kau tidak perlu membelikan hadiah sebagus ini untukku."
"Ini hanya hadiah biasa, tidak perlu dipikirkan. Aku akan membelikan yang lebih bagus lagi di hari pernikahan kita."
"Terima kasih!" Marien berbalik lalu memberikan kecupan lembut di bibir William.
Mereka berdua saling pandang, tangan William berada di wajah Marien dan mengusanya dengan perlahan. Sekarang dia sudah memiliki yang berharga, sesuatu yang harus dia jaga sampai mati.
"I love you, Marien. Kau benar-benar sudah membuat aku jatuh cinta padamu dan kau tidak akan melepaskan dirimu."
"Aku tidak mengharapkan hal ini dari hubungan kita, Will. Tapi aku juga tidak bisa menolak apalagi cintamu padaku."
"Apa artinya perkataanmu ini?" tanya William.
"Aku?" Marien menunduk dan dengan wajah tersipu, "Sepertinya aku pun sudah jatuh cinta padamu dan perasaan ini datang tanpa aku undang," perasaan itu memang tidak pernah dia inginkan namun kebersamaan mereka telah membuatnya jatuh cinta pada suami bayarannya itu.
"Apa itu artinya kau juga mencintai aku, Marien?" William terlihat senang mendengar perkataan Marien.
"Begitulah!" Marien mengangkat wajah dan tersenyum.
"Oh Honey, aku sangat senang mendengarnya!" kedua tangan William sudah berada di pipi Marien.
"I love you," William mengucapkan perkataan cinta itu lagi dengan harapan Marien membalas perasaannya.
"Me too," Marien baru berani mengucapkan kata itu setelah dia memikirkannya perasaannya.
William mencium bibir Marien dengan penuh perasaan. Dia sungguh tidak menduga Marien membalas perasaannya begitu cepat. Malam ini Marien membelas perasaannya dan dia sangat bahagia karena hubungan mereka yang terjalin atas sebuah perjanjian kini sudah menjadi nyata.
__ADS_1