Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Sudah Menjadi Besan


__ADS_3

Kabar yang disampaikan oleh Marien pada ayahnya jika kedua orangtua William hendak menemui dirinya tentu saja membuat Gavin Douglas melonjak girang. Dia masih tidak menyangka jika putrinya berhasil menikahi putra seorang konglomerat dan sekarang, Abraham Archiles dan istrinya akan datang untuk menemui dirinya tentunya bersama dengan Marien dan William.


Gavin memerintahkan para pelayannya menyiapkan makanan. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini. Bisa menjadi besan seorang konglomerat tentu saja diinginkan banyak orang dan dia sangatlah beruntung. Mulai sekarang, para pengusaha akan iri dan segan dengannya karena dia berbesan dengan seorang konglomerat. Dia akan mengambil keuntungan dari pertemuan ini karena dia bukan orang yang akan menyia-nyiakan kesempatan.


Sesungguhnya Marien enggan melakukannya. Dia lebih suka tidak mempertemukan ayahnya dengan kedua orangtua William karena dia malu tapi dia tidak bisa menghindarinya karena cepat atau lambat, orangtua mereka pasti bertemu.


Mereka belum berangkat, William sedang berbincang dengan kedua orangtuanya di luar sedangkan Marien berada di dalam kamar. Mereka menginap sesuai dengan permintaan Silvia dan sesungguhnya, masih ada sebuah kejutan yang belum William berikan pada Marien.


Setelah berbicara dengan kedua orangtuanya, William masuk ke dalam kamar untuk mengajak istrinya pergi. Marien duduk di sisi ranjang untuk menunggunya, senyuman menghiasi wajah ketika William menghampirinya.


"Apa kau sudah selesai? Jika sudah ayo kita pergi!" ajak William.


"Aku rasa sebaiknya tidak mempertemukan orangtua kita, Will," ucap Marien.


"Jangan khawatir, Sayang. Kedua orangtuaku tidak akan bisa dimanfaatkan oleh ayahmu!"


"Aku tahu, tapi aku malu dengan kelakuan ayahku nantinya."


"Tidak perlu dipikirkan untuk hal itu, Kau tidak perlu melihatnya jika malu!"


"Apa bisa?" tanya Marien.


"Marien, sebenarnya ada kejutan lain yang hendak aku berikan padamu. Setelah orangtua kita bertemu, bagaimana?"


"Wah, kejutan apa?"


"Kau akan tahu nanti oleh sebab itu, sekarang kita pergi untuk berbasa-basi dengan ayahmu dan setelah itu pergi denganku melihat kejutan lainnya."


"Baiklah, aku akan menebalkan wajahku sebentar dan aku harap tidak lama!"


"Jika begitu ayo kita pergi!" ajak William.

__ADS_1


Marien mengangguk, semoga saja tidak lama dan semoga tidak ada Alexa yang akan membuat ulah sehingga membuatnya semakin malu. Mereka berdua keluar dari kamar dan menghampiri Abraham dan Silvia yang sudah menunggu. Mereka sudah makan sebelumnya karena mereka tidak akan lama.


Gavin sudah menunggu dengan tidak sabar. Dia sudah mengatakan kabar itu pada beberapa sahabatnya jika dia berbesan dengan Abraham Archiles dan akan bertemu dengan mereka hari ini juga. Tentunya dia melakukan itu untuk pamer agar para sahabatnya iri.


Gavin melangkah mondar-mandir di depan jendela, menunggu kedatangan besannya dengan tidak sabar dan ketika sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, Gavin terlihat senang. Itu dia, pasti mereka sudah datang. Gavin memperbaiki jas dan dasinya lalu membuka pintu rumah untuk menyanbut tamu spesialnya.


"Akhirnya, kalian datang. Aku sudah menunggu kedatangan kalian dengan tidak sabar," ucap ayah Marien basa basi.


"Maaf jika membuatmu menunggu Tuan Douglas, tapi terimalah pemberian dari kami karena sewaktu William menikahi Marien, dia tidak memberikan apa pun oleh sebab itu kami membawanya hari ini dan mohon diterima," ucap Silvia. Mereka tentu tidak datang dengan tangan kosong. Layakya hendak melamar Marien, mereka membawa semua yang diperlukan.


"Tidak perlu repot, ha.. ha.. ha...!" ucap Gavin sambil tertawa karena dia sangat senang.


Marien sangat kesal melihatnya. Ayahnya semakin terlihat senang ketika melihat barang-barang yang dikeluarkan oleh supir pribadi Abraham dan Steve. Yang paling dia lihat di antara barang-barang mahal yang dibawa adalah setumpuk uang yang ada di dalam kotak kaca. Berapa kira-kira uang itu? Sepertinya dia mendapatkan mahar yang cukup besar.


"Mari masuk, aku sudah mempersiap jamuan untuk kalian," ucap Gavin.


"Kami tidak bisa lama, Tuan Gavin. Kami hanya sebentar saja karena kami ada urusan," ucap Abraham.


"Sangat disayangkan, sepertinya kita harus bertemu kembali agar kita bisa memiliki banyak waktu untuk berbincang," ucap Galvin. Ini akan menjadi kesempatan karena semakin sering mereka bertemu, semakin banyak keuntungan yang akan dia dapatkan.


Setelah mereka berada di ruang tamu, Marien pergi ke dapur sebentar untuk mencari seorang pelayan karena dia ingin tahu keberadaan Alexa. Dia memang tidak peduli tapi dia ingin tahu saja.


"Apa Alexa belum pulang?" tanya Marien pada seorang pelayan.


"Belum, Nona. Tapi sepertinya Tuan pernah berbicara dengannya satu kali di telepon."


"Baiklah, itu berarti dia masih hidup. Terima kasih," ucap Marien. Kini dia kembali ke ruang tamu namun langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan ayahnya.


"Kita sudah menjadi besan sekarang dan aku harap kita saling membantu di kemudian hari," ucap Gavin.


"Tentu saja, kau adalah ayah Marien. Sudah sepantasnya kita saling membantu jika ada masalah," ucap Abraham.

__ADS_1


"Aku senang mendengarnya. Jika begitu, aku rasa sudah saatnya kita berbisnis bersama," inilah yang dia inginkan. Marien memijit pelipis, lebih baik dia tidak menampakkan dirinya agar dia tidak malu tapi dia penasaran dengan jawaban dari ayah mertuanya.


"Maaf, tapi aku tidak berbisnis dengan anggota keluarga!" ucap Abraham.


"Apa?" air muka Gavin terlihat berubah.


"Selama kami berbisnis, kami memang tidak pernah melakukan bisnis dengan keluarga jadi maaf. Jika posisi waktu itu Tuan Gavin bukan besan kami, mungkin kami akan menerima tawaran ini!" ucap Abraham.


Marien tersenyum, bagus. Dengan begini tidak ada yang bisa dikatakan oleh ayahnya lagi dan dia harap ayahnya tidak mengatakan apa pun lagi mengenai bisnis karena sangat terlihat hanya itu saja yang diinginkan oleh ayahnya.


"Dad, bisakah kau tidak membahas bisnis terus menerus?" Marien melangkah mendekati mereka, dia tidak akan membiarkan ayahnya berbicara lebih jauh lagi.


"Seharusnya sebagai keluarga kita saling membantu, Marien."


"Cukup, Dad. Kami datang bukan untuk membicarakan bisnis tapi untuk bersilaturahmi saja dengan Daddy."


"Baiklah, bagaimana jika kita makan bersama sambil berbincang?" ajak Gavin. Menyebalkan, lain kali dia akan mencoba lagi karena ini kesempatan.


Karena tidak enak hati, Silvia dan Abraham menerima jamuan makan dari Gavin. Untuk pertama kali, Gavin bersikap baik pada putrinya dan begitu perhatian. Tentu saja semua itu palsu dan Marien begitu muak dengan sikap palsu yang ayahnya ucapkan.


"Sedari dulu aku sangat menyayangi kedua putriku dan aku tidak menyangka Marien bisa menikah dengan William. Tolong maafkan sikap tidak menyenangkanku selama ini, William," pinta Gavin. Mungkin Abraham menolak ajakan bisnisnya karena perlakuan tidak menyenangkannya pada William dulu oleh sebab itu dia harus mengambil hati William.


"Tidak perlu dipikirkan dan tidak perlu dibahas, ayah mertua!" ucap William.


"Marien putri kesayanganku, dia sudah tidak memiliki ibu sejak kecil jadi aku harap kau menjaganya dengan baik!" ucap Gavin.


"Dad, tidak perlu banyak bicara!" pinta Marien. William sudah tahu jika dia hanya putri tak dianggap begitu juga dengan kedua orangtuanya lalu untuk apa ayahnya berkata seperti itu?


"Kau selalu salah paham dengan Daddy, Marien. Daddy selalu menyayangimu dengan Alexa."


"Baiklah, baik!" Marien tidak mau memperpanjang percakapan tidak penting itu.

__ADS_1


Mereka menikmati makanan yang sudah terhidang, Gavin sudah tidak sabar menyebarkan momen itu meski tidak lama karena Silvia dan Abraham berpamitan pulang begitu juga dengan Marien dan William. Gavin mengantar mereka sampai di luar dengan ekspresi wajah berseri. Dia justru sudah tidak sabar mereka pergi karena dia sudah tidak sabar melihat apa saja barang-barang yang dibawa oleh Abraham dan istrinya sebagai mahar karena William sudah menikahi putrinya.


Dia tampak puas, uang yang cukup banyak dan beberapa barang mahal. Setidaknya Marien cukup berguna karena dia tidak mendapatkan itu saat Zack menikahi Alexa. Siapa yang menduga, pemuda yang dia anggap pecundang yang dinikahi oleh putrinya ternyata putra seorang konglomerat dan mulai saat ini, dia yakin bisa mendapatkan banyak keuntungan.


__ADS_2