Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Sorry


__ADS_3

Silvia yang sudah kembali tentu saja mendapatkan laporan dari pelayan jika William sudah lama tidak pernah pulang ke rumah. Mendapati laporan seperti itu tentu membuat Silvia semakin keheranan tapi tidak ada yang mengatakan keadaan William padanya karena para pelayan mengira jika Silvia  sudah tahu oleh sebab itu Silvia kembali untuk melihat keadaan putranya.


William yang sedang di perjalanan tentu saja sedang pusing. Dia harus mencari jawaban bagus untuk ibunya akan keadaannya saat ini. Mungkin dia bisa menyembunyikan pernikahannya dengan Marien tapi tidak dengan keadaan kedua kakinya.


Sepertinya dia harus membicarakan hal ini pada Marien. Seperti Marien yang jujur padanya, dia pun harus jujur dan dia yakin Marien pasti mau bekerja sama dengannya dan membantunya untuk menyembunyikan status sementara mereka. Hanya satu tahun saja, mereka pasti bisa menyembunyikan status mereka berdua dari ibunya.


"Steve, aku harap kau tidak menyinggung masalah pernikahanku dengan Marian di depan ibuku!" ucap William.


"Apa kau tidak mau Nyonya tahu, Sir?" tanya Steve sambil melihatnya dari kaca spion mobil.


"Tentu saja tidak, hubungan kami hanya satu tahun saja jadi ibuku tidak boleh tahu. Di keluargaku tidak ada yang mempermainkan pernikahan, kau tahu itu dan aku rasa kau tahu apa yang akan terjadi saat ibuku tahu jika aku menjalani pernikahan kontrak dengan wanita yang baru aku temui. Hubungan satu tahunku dengan Marien, bisa jadi permanen!"


"Bukankah itu sangat bagus, Sir. Apa kau tidak mau hubungan kalian menjadi hubungan jangka panjang? Aku lihat Nona Marien jauh berbeda dengan Nona Fiona juga dengan pera wanita yang selama ini dekat denganmu dan aku rasa kau paling tahu apa yang aku maksudkan," Steve merasa seperti itu karena siapa pun yang melihat pasti akan mengatakan hal yang sama seperti dirinya.


"Aku tahu, Steve. Bukannya aku tidak mau. Marien wanita yang sangat baik dan aku sangat beruntung bertemu dengannya tapi saat ini kami terikat dengan kontrak. Apa yang kami sepakati harus kami jalankan secara profesional. Aku pun tidak bisa langsung jatuh cinta begitu saja setelah pengkhianatan yang Fiona berikan. Aku ingin menikmati hubungan kami yang seperti ini terlebih dahulu karena jika sampai ada unsur paksaan atau apa pun, aku takut Marien justru menyudahi kontrak kami dan pergi menjauh. Lebih baik ibuku tidak tahu akan pernikahan kami untuk saat ini karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Apakah kami akan tetap bersama ataukah kami akan berpisah setelah satu tahun ke depan. Semua bisa saja terjadi oleh sebab itu, bantu aku merahasiakan hubungan kami dari kedua orangtuaku. Kau mengerti, bukan?"


"Baik, Sir. Aku akan membantumu untuk menyembunyikan pernikahanmu tapi bagaimana jika sampai Nona Fiona bertemu dengan Nyonya lalu membocorkannya?"


"Kau harus mencegahnya, Steve. jangan sampai ibuku bertemu dengan pengkhianat itu!"


"Baik, Sir!"


William menghela napas, masalah pernikahan benar-benar bisa dia sembunyikan tapi hari ini dia harus menghadapi amarah ayah dan ibunya karena keadaan kedua kakinya yang sudah lumpuh. William mengambil ponsel, rasanya ingin menghubungi Marien tapi tidak jadi dia lakukan karena Marien sedang sibuk.


Mereka sudah tiba, mobil yang dibawa oleh Steve pun sudah berhenti. William kembali menghela napas, hadapi saja meski ayah dan ibunya akan marah besar dan mungkin saja mereka akan kecewa padanya karena tindakan yang dia lakukan karena telah menyembunyikan keadaannya.


"Bantu aku, Steve. Mereka pasti sudah menunggu aku!"


"Baik, Sir!" Steve segera turun dan membantu William.


Silvia dan Abraham sedang makan malam saat itu, Mereka memutuskan tidak menunggu William karena mereka mengira William akan pulang sedikit malam. Suara pintu rumah yang terbuka, menarik perhatian Silvia. Dia bahkan beranjak dan meninggalkan makanannya.


"Ck, putramu sudah besar. Bukan anak kecil lagi!" ucap suaminya.


"Aku tahu! Kau duduk diam saja di sini!"


"Mom, Dad!" William berteriak memanggilnya.

__ADS_1


"Kau dengar, dia sudah pulang!" Silvia bergegas berlari keluar, Abraham menggeleng namun dia mengikuti istrinya untuk keluar.


"William, kenapa kau baru pulang?" Silvia melangkah cepat namun langkahnya terhenti melihat keadaan putranya yang sedang duduk di kursi roda. Abraham pun tampak terkejut, sepertinya istrinya, langkahnya pun terhenti melihat keadaan putranya.


"Hei, apa ini? Apa kau sedang ingin mengerjai Mommy dan Daddy?" tanya Silvia yang sudah melangkah mendekati William di mana dia seorang diri karena Steve sudah pamit pergi.


"Tidak lucu, William. Ini bukan bulan April jadi tidak perlu melakukan April mop!" ucap ayahnya. Dia dan istrinya menganggap jika William sedang bercanda dengan keadaannya yang sedang duduk di kursi roda.


"Mom, Dad. Sorry." ucap William.


"Apanya yang Sorry, jangan mengejutkan kami dengan berbuat seperti ini!" ucap ibunya.


"Mom, dengar. Aku mengalami kecelakaan beberapa saat yang lalu!" ucap William karena dia sudah tidak bisa menyembunyikan keadaannya itu pada kedua orangtuanya.


"Apa maksudmu, coba bicara yang jelas!" bentak ayahnya karena dia merasa William tidak sedang bercanda apalagi putranya memang bukan orang yang suka bercanda.


"Dad, maaf aku tidak mengatakan hal ini pada kalian. Aku tidak ingin membuat kalian sedih karena keadaanku ini apalagi kalian berdua sedang pergi berlibur dan menikmati waktu dengan kakek dan nenek!"


"Jadi kau tidak berbohong?" tanya ibunya.


"Apa?" ibunya terkejut dan tampak shock.


"Beraninya kau menyembunyikan hal ini pada kami, William!" teriak ayahnya marah. Kedua tangan Abraham mengepal erat karena dia sedang menahan amarahnya.


"Sudah aku katakan, kau tidak ingin mengganggu masa liburan kalian dan aku pun malu pada kalian berdua!"


"Malu kenapa, hah? Apa kau tidak menganggap kami ada?" teriak ayahnya lagi. Sungguh dia kecewa karena putranya menyembunyikan hal itu. Jika mereka tidak pulang hari ini, apakah putranya akan merahasiakan hal itu lebih lama lagi?


"Kenapa, Will? Tidak seharusnya kau menyembunyikan masalah besar ini pada kami. Kau masih memiliki orangtua jadi tidak seharusnya kau menghadapinya seorang diri."


"Terima kasih, Mom. Aku memilih merahasiakan hal ini karena aku malu pada kalian. Aku mengalami kecelakaan gara-gara ingin menemui Fiona dan ternyata, dia justru mencampakkan aku karena keadaanku yang seperti ini. Sungguh menyedihkan, bukan? Aku pun takut kalian menertawakan aku karena kebodohanku ini!"


"Tapi tidak sepantasnya kau?" ayahnya sudah terlihat akan kembali Marah namun Silvia menahan suaminya. Willian pasti malu karena wanita yang selalu dia perjuangkan selama ini hingga membuatnya mengalami kelumpuhan justru mencampakkan dirinya.


"Sebagai ayah dan ibumu, kami tidak mungkin menertawakan dirimu, William!" ucap ibunya.


"Sorry, Mom!"

__ADS_1


"Sekarang bagaimana, apa kedua kakimu tidak bisa digerakkan sama sekali?" tanya ibunya.


"Tidak!"


"Lalu bagaimana kau mandi dan sebagainya?"


"Aku sudah bisa melakukannya jadi tidak perlu khawatir!"


"Dengar, Mommy sangat ingin marah padamu karena tindakanmu ini tapi karena keadaanmu, Mommy tidak bisa membantingmu sampai puas. Jadi lain kali, jika ada rahasia lagi di antara kita, aku akan membantingmu sampai kau meminta ampun padaku!"


"Maaf, sesungguhnya aku tidak mau menyembunyikannya tapi aku terpaksa," semoga saja ibunya tidak tahu akan pernikahan rahasianya dengan Marien karena dia akan berakhir dengan badan remuk di atas lantai.


"Apa kau sudah mencari dokter untuk mengobati kedua kakimu?"


"Steve sedang melakukannya!"


"Kau benar-benar mengecewakan Daddy, Will."


"Sorry, Dad," hanya itu yang bisa dia katakan.


"Jika kau berani mengulanginya lagi, kau akan berakhir di tanganku!" ancam ayahnya.


"Hei, apa yang mau kau lakukan pada putramu sendiri?" tanya istrinya.


"Memukulnya sampai babak belur!" Abraham melangkah pergi, meski kecewa tapi mereka tidak bisa berbuat banyak.


"Kau dengar? Jadi pergi mandi dan setelah itu makan. Mommy akan mencari seorang pelayan yang bisa membantumu!" Silvia pun


"Tidak perlu, sudah ada!" ucap William.


"Oh, yeah?" Silvia menghentikan langkah dan berpaling ke arah putranya.


"Yeah, sudah tidak perlu karena sudah ada yang membantu aku."


"Baiklah, segera pergi mandi, Kami belum selesai denganmu!" ucap ibunya yang kembali melangkah pergi.


William mengusap dada, Belum selesai? Meski masih ada rahasia dan masih ada yang harus dia jelaskan tapi dia sangat bersyukur kedua orangtuanya tidak terlalu membuat banyak drama tapi seperti yang ibunya katakan, mereka belum selesai dan akan berlanjut karena setelah ini dia harus menjelaskan banyak hal. Tidak saja keadaannya tapi juga hubungannya dengan Fiona yang kandas namun satu hal yang tidak akan dia bahas yaitu hungannya dengan Marien.

__ADS_1


__ADS_2