Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Menanggungnya berdua


__ADS_3

Kedua orangtuanya benar-benar marah karena William telah menyembunyikan pernikahannya dari mereka. Setelah berbicara dengan William dan mendengar kebenarannya, mereka mengabaikan William dan tidak mau berbicara dengan William meski William berbicara dengan mereka dan ingin berpamitan untuk pulang.


Ini kali pertama kedua orangtuanya marah seperti ini dan tidak mau berbicara dengannya. William hanya bisa menggeleng, tapi semua memang salahnya yang sudah menyembunyikan hal itu dari mereka. Memang dia tidak bisa menyalahkan siapa pun apalagi hal itu tidak bisa disembunyikan terlalu lama.


"Mom, Dad. Aku mau pergi," ucap William tapi kedua orangtuanya tidak mau menjawab sama sekali.


"Baiklah, aku minta maaf atas rahasia yang telah aku sembunyikan. Aku berjanji tidak akan ada rahasia lagi yang aku sembunyikan dari kalian dan ini yang terakhir kali," ucap William.


Kedua orangtuanya masih diam, tidak mau menjawab. William jadi merasa terabaikan tapi apa boleh buat, dia hanya bisa pergi. Dia yakin kedua orangtuanya hanya marah sesaat saja. Sepertinya dia harus berbicara dengan Marien agar mau bertemu dengan kedua orangtuanya.


"'Baiklah, aku pergi dan akan pulang dengan istriku nanti!" ucap William.


Silvia dan Abraham hanya bisa melihat kepergian putra mereka dalam diam. Sesungguhnya tidak tega tapi apa boleh buat, mereka melakukan hal itu untuk memberikan pelajaran pada William agar tidak menyimpan rahasia lagi dari mereka.


"Apa kau ingin aku menyelidiki siapa wanita itu?" tanya Abraham pada istrinya.


"Tidak, kita lihat saja nanti. Dia berkata akan menjadikan pernikahannya menjadi nyata maka kita lihat apakah dia akan membuktikan perkataannya atau tidak. Aku juga sangat ingin tahu tapi kita harus memikirkan posisi William. Jangan sampai rasa ingin tahu kita justru menghancurkan semua rencananya apalagi wanita itu yang menawarkan pernikahan padanya. Wanita yang sungguh berani tapi aku yakin jika wanita itu tidak tahu siapa William. Hal itu lebih baik dari pada putra kita tertipu dan dimanfaatkan lagi seperti Fiona memanfaatkan dirinya!"


"Bukankah kau berkata ingin membantingnya? Kenapa tidak jadi?" tanya suaminya lagi.


"Jika aku melakukannya, kedua kakinya akan patah dan dia akan lumpuh selamanya. Tunggu dia sembuh dan membawa wanita itu, aku akan menghajarnya sampai babak belur!" kepalan tangan sudah ditekuk sampai berbunyi. Jika menurut ego, putranya sudah pasti dia hajar tapi karena keadaan William membuatnya harus berpikir dua kali.


"Ya sudah, bagus jika dia sudah menikah. Dengan begini dia tidak akan menghabiskan waktunya lagi dengan wanita tidak jelas yang pada akhirnya menginginkan uangnya saja."


"Yeah, kita abaikan saja dan dengan begini dia tidak berani menipu kita lagi!" ucap Silvia.


"Ya sudah, setidaknya aku sudah memiliki menantu!" Abraham menggosok telapak tangan, dengan begini keinginannya untuk memiliki cucu akan cepat terwujud.


"Mendadak kau terlihat senang!"

__ADS_1


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar menggendong cucu!" Abraham mulai memperagakan sedang menggendong cucu. Mereka sudah tua, sudah saatnya bermain dengan cucu mereka. Awas saja William tidak segera memberikan apa yang dia inginkan, akan dia kirim ke Afrika selama dua tahun bersama istrinya dan boleh pulang setelah memiliki anak.


William kembali ke rumah dan tampak tidak bersemangat karena dia diabaikan oleh kedua oangtuanya. Mendadak dia jadi sedih karena selama ini kedua orangtuanya tidak pernah melakukan hal itu.  Memang dia yang salah tapi setelah ini dia tidak akan menyembunyikan apa pun lagi pada kedua orangtuanya.


Marien sangat heran karena William terlihat murung dan tidak bersemangat. Entah apa yang terjadi, William menatapnya tiada henti.


"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu pada kedua orangtuamu?" tanya Marien.


"Pernikahan kita, mereka sudah tahu kebenarannya," ucap William.


"Benarkah? Lalu bagaimana?" Marien pun terlihat cemas. Apa kedua orangtua William marah oleh sebab itu Willian terlihat tidak bersemangat?


"Seharusnya kau tahu, mereka marah padaku dan tidak mau berbicara denganku!"


"Semua gara-gara aku,  maafkan aku."


"Lalu bagaimana sekarang? Hubunganmu dengan kedua orangtuamu jadi tidak baik gara-gara pernikahan yang aku tawarkan padamu?" mendadak dia jadi tidak enak hati karena dia menghancurkan hubungan William dan kedua orangtuanya.


"Bodoh, mereka marah karena aku menyembunyikan pernikahan kita bukan karena pernikahan kita jadi jangan menyalahkan diri seperti itu. Mereka akan memaafkan aku dan berbicara denganku saat aku membawamu pulang. Jadi maukah kau ikut aku menemui mereka?"


"Aku mau, William. Aku tidak menolak tapi aku yang sekarang, sangat tidak pantas," ucap Marien.


"Apa maksudmu berkata demikian? Kedua orangtuaku tidak akan melihat kau dari keluarga mana dan memiliki banyak uang atau tidak. Asalkan kau setia padaku, itu sudah cukup."


"Aku tahu, tapi tolong berikan aku waktu untuk beberapa saat. Aku pasti akan menemui mereka tapi saat ini aku sedang banyak pekerjaan. Kau tahu aku baru mengalami masalah dan keadaannya belum stabil jadi aku butuh waktu."


"Baiklah, begini saja. Jika kau mendapatkan kerja sama itu dengan Abraham Archiles, kau mau ikut aku bertemu dengan kedua orangtuaku, bukan?"


"Kenapa harus bertemu dengan mereka setelah aku mendapatkan kerja sama itu?" tanya Marien curiga.

__ADS_1


"Ayolah, mau atau tidak?" ini kesempatan yang tidak boleh kita sia-siakan.


"Baiklah jika memang begitu. Tapi apa kau sudah makan?"


"Tidak, mereka mengabaikan aku karena marah padaku."


Marien terkekeh, pantas saja William terlihat murung dan sedih. Ternyata William diabaikan oleh kedua orangtuanya. Pasti tidak menyenangkan karena dia sudah merasakannya.


"Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu tapi dari mana kedua orangtuamu tahu akan pernikahan rahasia kita?" Marien mendorong William menuju dapur karena dia akan membuatkan makan malam untuk suaminya.


"Fiona, dia mendatangi ibuku."


"Oh yeah? Apa yang dia bicarakan pada ibumu?" pantas saja kedua orangtua William marah? Ternyata mereka harus mendengarnya dari wanita yang sudah memanfaatkan putra mereka.


"Entahlah, aku tidak menanyakan hal ini pada ibuku apalagi ibu dan ayahku tidak mau berbicara denganku."


"Baiklah, aku yang salah!" Marien melangkah ke depan dan berjongkok di hadapan Wiliam, "Aku yang menawari pernikahan ini padamu jadi aku akan bertanggung jawab. Aku yang telah membuat hubunganmu dengan kedua orangtuamu jadi tidak baik jadi aku yang akan menjelaskan pada mereka saat kami bertemu nanti agar semua kesalahan tidak kau tanggung sendiri. Bagaimanapun, aku harus ikut menanggungnya. Jika mereka marah padamu, mereka juga harus memarahi aku agar kita berdua merasakan amarah mereka bersama."


"Apa kau yakin? Ibuku tidak akan segan membanting aku ke atas lantai nanti."


"Be-Benarkah?" Marien terkejut mendengar perkataan William.


"Yeah, sekarang mereka hanya menunda tapi nanti, ayahku pasti akan memukul aku dan ibuku akan membanting aku seperti melempar sekarung jerami."


"Baiklah, aku tidak akan mundur. Satu pukulan kau dapat maka aku juga akan mendapatkannya dan jika kau dibanting, aku juga akan mendapatkannya. Kita akan menanggung hukumannya berdua."


"Kemarilah, Marien!" pinta William. Marien beranjak lalu duduk di atas pangkuan William seperti yang suaminya inginkan.


William mendekapnya erat, dia memang salah telah menyembunyikan pernikahannya dengan Marien tapi dia tidak menyesal karena Marien wanita luar biasa yang pernah dia temui. Ayah dan ibunya pasti akan beranggapan demikian saat bertemu dengan Marien dan dia pasti akan mempertemukan mereka dan dia pun akan membantu Marien mendapatkan kerja sama itu dari ayahnya karena ini adalah kejutan untuk ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2