Suami Cacatku Yang Sempurna

Suami Cacatku Yang Sempurna
Ide Cemerlang


__ADS_3

Gara-Gara permintaan ayahnya, Marien jadi tidak berkonsentrasi karena dia masih bingung bagaimana menyampaikan permintaan ayahnya pada William. Mendadak itu menjadi masalah yang sulit dia pecahkan apalagi selama ini dia tidak pernah mau menutupi apa pun dari William.


Seharusnya dia tidak menyetujui permintaan ayahnya tapi mau bagaimana pun, dia tidak bisa menolak apa yang ayahnya minta. Ibunya selalu berkata, seburuk-buruknya perlakuan ayahnya terhadap dirinya tapi dia tetaplah ayahnya. Tidak ada bekas orangtua apalagi di dalam nadinya mengalir darah ayahnya tapi karena dia tidak bisa menolak apa yang ayahnya inginkan meski dia tahu ayahnya membela Alexa, dia jadi bingung dan berada di dalam masalah.


Seharusnya sejak awal dia tidak datang. Padahal ayahnya sudah tahu jika Alexa yang salah tapi dia selalu membela Alexa. Tidak jadi soal ayahnya mau membela siapa, lagi pula dia sudah tidak tinggal dengan ayahnya lagi. Marien memikirkan hal ini cukup lama, tapi dia hanya bisa membicarakan hal ini pada William untuk memberi keringanan pada Zack agar Alexa tidak mendapatkan hukuman. Apa pun keputusan William, dia tidak akan ikut campur.


Kepala Marien jadi pusing gara-gara memikirkan hal itu padahal itu bukan urusannya. Mau Zack hancur atau tidak, itu bukan urusannya. Marien sudah berada di rumah dan sedang membuat makan malam. Pikirannya kacau oleh sebab itu ketika William kembali, mendadak dia jadi semakin pusing.


Marien membantu William membuka sepatu yang dia kenakan seperti yang biasa dia lakukan namun sikapnya yang tidak biasanya membuat William curiga. Tidak biasanya Marien bertingkah seperti itu. Pasti ada yang terjadi pada Marien, dia tahu itu.


"Kenapa terlihat tidak bersemangat seperti itu? Apa telah terjadi sesuatu padamu atau kau sedang sakit?" tanya William.


"Tidak, tidak ada!"


"Jangan membohongi aku, Honey," William meraih tangan Marien dan menggenggamnya, "Katakan padaku apa yang telah terjadi padamu? Apa telah terjadi sesuatu di rumahmu ataukah ada hal yang lainnya?" tanya William.


"Bukan begitu, Will. Aku bingung mau membicarakannya dari mana," ucap Marien.


"Kenapa? Apakah sulit untuk diucapkan?" William menatapnya dengan lekat dan dia semakin curiga dengan sikap yang Marien tunjukkan.


"Hm, apa sudah mau mandi?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sayang. Katakan padaku apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"


"Aku bingung mau memulainya dari mana, Will. Beri aku waktu sebentar, aku pasti akan mengatakannya padamu."


"Baiklah, ayo berendam denganku. Mungkin dengan demikian kau bisa mengatakannya dengan mudah."


"Tapi bukan hal yang menyenangkan dan aku harap kau tidak akan marah!"


"Aku tidak akan marah padamu, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak!"


"Baiklah," Marien sudah mendorong William menuju kamar tapi dia kembali memikirkan apa yang harus dia katakan. Apa dia harus langsung meminta William memaafkan Zack? Dia bisa mengatakan jika itu adalah permintaan dari ayahnya dan memang itulah yang terjadi. Baiklah, seperti ini lebih bagus. Lebih baik langsung to the poin. Padahal dia sudah memikirkan hal ini sedari tadi sekarang dia sudah tahu harus dari mana untuk memulai.


"Jadi, kau ingin membicarakan apa?" tanya William ketika mereka sudah berendam di dalam bathtub.


"Hm, aku harap kau tidak marah padaku," Marien sedikit menunduk.

__ADS_1


"Hei, kenapa seperti sesuatu yang sulit?" tangan William berada di punggung Marien dan memberikan usapan perlahan.


"Sesungguhnya hal ini tidak menguntungkan kita tapi aku tidak bisa menolak apa yang ayahku inginkan."


"Jadi kau pulang menemui ayahmu?"


"Yeah, aku diminta untuk ke rumah sakit. Karena ayahku terus mendesak jadi aku pergi meski aku tahu Alexa tidak suka padaku tapi ternyata ayahku meminta aku kembali untuk sebuah tujuan."


"Apa tujuan mereka? Apa mereka meminta sesuatu padamu?"


"Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku pergi kemarin tapi sepertinya Zack sangat murka pada Alexa sehingga dia meminta Alexa berlutut di bawah kakimu untuk meminta maaf padamu!"


"Wow, aku menantikannya!" ucap William.


"Apa kau ingin dia melakukannya?"


"Biarkan saja, dengan egonya yang selangit itu aku yakin dia tidak akan mau melakukannya!"


"Oleh sebab itu, Will. Kau tahu egonya tinggi, tidak mungkin Alexa mau melakukannya dan karena itulah ayahku ingin aku berbicara padamu dan membujuk dirimu. Aku sungguh tidak mau tapi aku tidak bisa menolak permintaan ayahku. Aku hanya ingin menyampaikannya padamu saja jika ayahku meminta kau bermurah hati pada Zack agar Alexa tidak perlu berlutut di bawah kakimu. Aku sudah menyampaikannya dan keputusan terserah padamu karena aku tidak akan membujuk kau untuk memberikan keringanan padanya!" ucap Marien. Beruntungnya dia bisa mengatakannya dengan baik. Sisanya terserah William.


"Ck, aku kira kau mau mengatakan apa!" William menarik mendekat lalu memeluknya.


"Kau terlalu banyak berpikir, Sayang."


"Tapi itu permintaan yang sulit karena aku tidak mau kau menganggap aku sedang memanfaatkan dirimu."


"Tidak sama sekali, bukan? Bukankah kau berkata keputusannya terserah aku? Itu berarti kau tidak meminta tapi kau hanya menyampaikan pesan saja!"


"Hm, sepertinya kau benar," ucap Marien.


"Itu karena kau terlalu lelah dengan pekerjaan. Bagaimana jika besok kita pergi jalan-jalan?"


"Boleh saja tapi apa kau mau memberi keringanan pada Zack?" bagaimanapun dia penasaran dengan keputusan William.


"Entahlah, bagaimana jika kita berpikir sebentar!"


Marien mengangguk dan bersandar dengan nyaman di dada suaminya. Meski tangan William tidak diam tapi tangannya tidak ke mana-mana selain area perut dan lengan saja. Bibirnya pun hanya bermain di leher dan wajah Marien saja. Tentunya William sedang menahan diri agar mereka tidak melewati batas. Mereka seperti itu untuk sesaat sampai akhirnya Marien memiliki sebuah ide cemerlang.

__ADS_1


"Aku tahu apa yang harus kita lakukan!" ucap Marien.


"Oh yeah? Katakan padaku apa yang harus kita lakukan?"


"Maukah kau memberikan kesempatan ini untukku, Will?" tanya Marien.


"Tentu saja, katakan!"


"Ayahku ingin kau memberikan keringanan pada Zack agar Alexa tidak berlutut di bawah kakimu dan aku menginginkan kebenaran!"


"Kebenaran apa?" kini William terlihat serius.


"Alexa membenci aku karena dia berkata ibunya bunuh diri karena ibuku. Aku yakin bukan itu yang terjadi dan aku rasa ada rahasia yang ayahku sembunyikan. Jika ayahku ingin menyelamatkan Alexa maka dia harus mengatakan kebenarannya pada kami agar aku tahu apakah yang dikatakan oleh Alexa benar atau tidak!"


"Jadi kau ingin melakukan pertukaran?" dia memang meminta Steve mencari tahu tapi tidaklah mudah mendapatkan informasinya karena ibu Marien dan ibu Alexa sudah lama meninggal dan semua yang terjadi adalah kejadian lama.


"Yeah, jika kau mau memberikan keringanan pada Zack maka aku akan memanfaatkan hal ini untuk mencari kebenarannya."


"Jika begitu kesempatan ini menjadi milikmu. Honey. Aku tidak jadi soal memberikan keringanan pada Zack. Lagi pula bukan berarti aku akan membantu perusahaannya atau terlibat dengannya jadi aku akan mengabulkan apa yang ayahmu inginkan asalkan dia mau mengabulkan apa yang kau inginkan!"


"Terima kasih, Will," Marien berbalik lalu mengecup bibir suaminya.


"Hanya ini?" tanya William.


"Apa ada yang kau inginkan?"


"Tentu saja!" Marien ditarik mendekat lalu bibir Marien dicium dengan dengan penuh na*su. Tangan William bergerak naik, menyentuh bagian yang tidak dia sentuh. Kedua mata Marien melotot, dia bahkan mendorong tubuh William hingga ciuman mereka terlepas.


"Apa yang kau pegang?" Marien sudah menyilangkan kedua tangan ke dada.


"Aku pegang sedikit," ucap William.


"Tidak boleh. Aku tidak mau berada di atas lagi atau kau mau bersolo karir?"


"Ck, baiklah!" sepertinya begitu kakinya sembuh, giliran Marien yang tidak bisa berjalan.


"Kemari!" pinta William.

__ADS_1


Marien mendekatinya, kali ini mereka berendam. Tadinya dia pikir William akan kecewa dan marah karena dia menyetujui permintaan ayahnya tapi dia tidak menduga dia bisa memanfaatkan hal ini untuk tahu penyebab kematian ibu Alexa. Semoga saja ayahnya tidak menyembunyikan kebenarannya nanti dan semoga saja apa yang dikatakan oleh Alexa selama ini mengenai kematian ibunya tidak benar sama sekali.


__ADS_2