
Marine sedang bersiap-siap karena sebentar lagi dia harus pergi ke perjamuan di rumah Abraham Archiles. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti kenapa harus diadakan perjamuan tapi karena ini undangan jadi dia harus menghadirinya. Rasanya jadi sedikit berbeda karena tidak ada William hari ini.
Biasanya dia selalu bersama dengan suaminya itu tapi hari ini cukup berbeda bahkan dia merasa gelisah dan tidak bersemangat. Mendadak dia merasa enggan pergi tapi Steve sudah datang sesuai dengan perintah William dan dia tidak bisa mengabaikan undangan yang dia dapatkan secara eksclusive. Marien masih memastikan penampilannya agar tidak memalukan. Bagaimanapun dia harus terlihat sopan agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.
William yang ingin tahu apakah Marien sudah siap atau belum menghubungi Marien, dia ingin istrinya berdandan dengan cantik malam ini karena tidak saja memberikan kejutan pada istrinya tapi kejutan itu pun diberikan untuk kedua orangtuanya juga.
Marien yang sedang merapikan rambutnya bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Senyuman menghiasi wajahnya ketika Marien melihat nama suami tertera. Padahal mereka baru tidak bertemu beberapa jam saja tapi dia sudah merasa sangat merindukan William.
"Apa kau belum pergi?" tanya William basa basi.
"Sebentar lagi aku akan pergi!" setelah mendengar suara William, sedikit semangatnya kembali.
"Nikmati waktumu, Sayang. Kita akan bertemu nanti," William sudah tidak sabar tapi waktunya belum tiba. Ayah dan ibunya pasti akan senang, semoga saja mereka tidak mogok bicara lagi dengannya setelah ini.
Silvia yang sedang sibuk membuat makanan sangat heran dengan permintaan putranya. Tidak saja Silvia, Abraham pun sangat heran karena permintaan putranya yang memintanya untuk mengundang rekan bisnis barunya hari ini. Sangat aneh, beberapa kemungkinan pun dia ambil. Bisa saja William memang sahabat Marien dan bisa saja Marien adalah sahabat istri William. Aduh, semakin dipikir, semakin membuat pusing dan anak itu belum juga pulang sedari tadi.
"Apa yang sebenarnya di rencanakan oleh putramu?" tanya Silvia pada suaminya.
"Entahlah, dia bilang ingin memberikan kejutan!"
"Tapi wanita yang kau undang itu? Siapa dia?" tanya Silvia penasaran.
"Rekan bisnis baru, aku haru saja menjalin kerja sama dengannya."
"Jika begitu kenapa William meminta kita mengadakan perjamuan ini dan mengundangnya?"
"Aku tidak tahu, saat dia kembali maka interogasi dia dengan benar. Jika dia tidak mau berbicara maka pukul saja sampai dia mau berbicara. Tapi aku suka dengan semangat Marien Douglas, aku bahkan sempat berpikir akan memperkenalkan William dengannya tapi putramu itu justru sudah menikah dan sayangnya, Marien Douglas juga sudah menikah sehingga aku tidak bisa mengenalkannya pada adik William!"
"Hei, pak tua. Kau benar-benar sudah sangat ingin menggendong cucu rupanya!" Silvia memukul lengan suaminya lalu melangkah pergi.
"Tentu saja!" Abraham yang merasa sudah tua tentu saja sudah sangat ingin memiliki cucu.
"Ck, sebaiknya segera hubungi William karena tamunya sebentar lagi sudah mau datang!"
__ADS_1
"Putramu benar-benar ingin diberi pelajaran. Dia yang memiliki rencana tapi dia juga yang tidak ada. Awas saja dia nanti!" Abraham berjalan pergi, sedangkan Silvia menggeleng. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh putranya?
Marien sudah hampir tiba, Mendadak dia sangat gugup. Entah untuk tujuan apa perjamuan itu, dia sangat penasaran tapi dia tidak bisa menolak sama sekali. Jika ada William mungkin dia tidak akan segugup itu tapi dia semakin gugup apalagi mereka sudah hampir tiba. Mendadak perutnya terasa mulas dan kepalanya pusing akibat terlalu gugup.
Tunggu, bagaimana jika perjamuan itu hanya sebuah jebakan? Sial, kenapa dia begitu bodoh mengiyakannya saja? Apa dia sudah masuk ke dalam jebakan dan jangan katakan jika dia akan dijual. Mendadak wajah Marian pucat, apa yang dia pikirkan saat ini tidak benar, bukan?
"Steve, apa kau mengenal Abraham Archiles?" tanya Marien. Mungkin Steve tahu sesuatu sehingga dia bisa waspada.
"Tentu saja, Nona. Mereka semua orang baik!"
"Mereka semua?" Marien mengulangi perkataan Steve. Dia hanya bertanya untuk satu orang tapi jawaban Steve justru untuk banyak orang.
"Benar, mereka semua jadi Nona tidak perlu khawatir!"
"Baiklah, kau seperti begitu mengenal mereka saja."
"Ti-Tidak, tentu saja tidak!" ucap Steve dengan cepat.
Rumah keluarga Archiles sudah terlihat, rumah yang begitu mewah. Marien kembali memeriksa penampilannya karena dia tidak boleh terlihat memalukan. Steve menghentikan mobil, Marien melihat rumah kediaman Archiles sejenak sebelum dia turun dari mobil. Sekarang dia sudah berada di sana dan tidak bisa mundur lagi.
Para pelayan menyambut kedatangannya, tidak ada siapa pun selain mereka. Jangan katakan kecurigaannya benar tapi ketika melihat Abraham Archiles bersama dengan istrinya, Marien berusaha tersenyum saat Abraham dan Silvia menghampiri dirinya.
"Selamat datang Nona Douglas, aku kira kau tidak akan datang," ucap Abraham basa basi.
"Aku tidak mungkin tidak hadir, Tuan Archiles. Terima kasih atas undangannya," ucap Marien.
"Wah, jadi kau rekan bisnis baru suamiku?" Silvia melihat Marien dari atas sampai ke bawah. Wanita yang cantik dan anggun.
"Salam kenal, Nyonya. Aku Marien, aku hanya pembisnis baru yang beruntung saja karena bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan kalian," Marien sedikit membungkuk, untuk memberi hormat.
"Tidak perlu terlalu sopan, tapi sesungguhnya yang mengundangmu bukan kami!" ucap Silvia.
"Apa? Jadi yang mengundangku?" Marien melihat ke arah Abraham lalu melihat ke arah Silvia lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, orang yang mengundangmu akan segera kembali. Masuklah, kita berbincang sebelum dia datang."
Marien hanya mengangguk, dia benar-benar tidak mengerti dengan perjamuan itu. Silvia dan Abraham tak melepaskan pandangannya dari Marien, kenapa mereka jadi curiga dengan perjamuan yang putra mereka inginkan dan tamu undangan yang tidak biasa itu?
"Aku dengar kau sudah menikah?" tanya Silvia yang semakin curiga.
"Yeah, tapi suamiku sedang sibuk dan tidak bisa datang. Maaf."
"Hm, siapa nama suamimu?" tanya Silvia lagi.
"Dia hanya orang biasa."
"Benarkah?" Silvia benar-benar curiga dengan rencana yang sedang putranya buat itu.
"Ya, nama suamiku?" ucapan Marien terhenti saat seseorang membuka pintu. Marien berpaling ke arah pintu, begitu juga dengan Abraham dan Silvia yang melihat ke arah pintu di mana putra mereka masuk ke dalam bersama dengan Steve.
"Namanya adalah Willam. Benarkan, Honey?"
"What?" Marien terlihat bingung begitu juga dengan Silvia dan Abraham.
"Kau terlihat luar biasa, Honey," puji William sambil memegangi tangan Marian karena dia sudah berada di sisi Marien.
"A-Apa maksudnya ini, Will?" Marien masih tidak mengerti.
"William Archiles, apa maksudnya ini?!" tanya kedua orangtuanya.
"Hah?!" mulut Marien menganga, ekspresinya menunjukkan jika dia tidak mengeri. Marien melihat William lalu melihat Abraham dan Silvia. Jangan katakan?
"A-Apa maksudnya ini, Will?" Marien kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Mereka orangtuaku, Sayang."
"Apa?" Marien terkejut lalu melihat ke arah Silvia dan Abraham. Tidak mungkin, mendadak perutnya kembali merasa mulas dan kepalanya pusing. Jadi suaminya benar-benar William Archiles putra dari orang terkaya di kota itu? Dia mengira semua lelucon. William pasti sedang bercanda, pasti bercanda dan karena shock serta akibat terlalu gugup membuat Marien lemas. William berteriak saat tubuh istrinya tumbang ke samping, sedangkan Steve sudah berlari untuk menangkap tubuh Marien yang pingsan. Kejutan yang luar biasa dan kejutan itu membuat Marien pingsan.
__ADS_1